
Didalam salah satu ruangan di penjara bawah tanah, Zhen sedang mendapat cambukan dari Jiafen. Wanita itu telah mencambuk Zhen selama beberapa jam. Tentu saja dengan cambukan selama itu darah menetes dari tubuh Zhen seperti air hujan.
Akhirnya setelah beberapa jam mencambuk, Jiafen menghentikan cambukannya. "Sekarang katakan, apa yang kau berjkan pada Jun'er?" Tanya Jiafen. Dirinya tahu jika Zhen diam diam memberikan kantung hitam pada Jun. Tapi karena dirinya sudah berjanji maka ia tidak ingin buka mulut.
"Itu… hanya… barang… biasa." Jawabnya dengan susah payah.
"Masih tidak ingin mengaku?" Jiafen mengambil kembali cambuknya dan mencambuk kembali Zhen.
Darah terciprat kemana mana. Rasa luar biasa sakit kembali setelah pergi. Zhen sendiri hanya bisa menahan rasa sakitnya dengan mengepalkan kedua tangannya dan mengeraskan rahangnya.
Sampai akhir Zhen tetap menutup mulutnya dan itu membuat Jiafen semakin kesal. Dia menghela nafas panjang meredakan kekesalannya. Lalu berjalan menuju Zhen dan memegangi kedua pipi pemuda itu. Wajahnya terlihat pucat dengan tatapan matanya yang sayu. "Zhen'er, kau tahu bukan? Aku melakukan ini demi kebaikanmu. Agar kau tidak menjadi anak yang nakal dan suka berbohong. Kau tahu bukan, kalau kau jadi anak yang nakal Jun tidak akan mau lagi bersamamu!?" Jiafen memperhatikan Zhen yang sepertinya mulai terpengatuh olehnya.
Wajahnya terlihat gelisah dan beberapa kali melihat ke arah lain. "Dengar,…" Ujarnya agar Zhen kembali menatapnya,"… Dia akan menjuhi menjauhimu jika kau suka berbohong." Bisik Jiafen tepat disamping telinga Zhen.
"A aku… aku tidak… berbohong. Kakak… tidak akan… menjauhiku." Ujar Zhen meyakinkan dirinya sendiri jika perkataan Jiafen tidak benar.
Jiafen menatap malas pemuda didepannya ini, "Dia akan!? Karena aku paling tahu sifat anakku sendiri. Jun'er paling tidak suka dengan orang orang jahat sepertimu!? Dia secara perlahan akan menjauh. Dan kau juga menyadarinya bukan? Semua orang ingin kau mati dan menjauh dari Jun'er. Buktinya mereka selalu memberimu racun ke makananmu, kan?" Ujar Jiafen. Dia melihat Zhen terlihat mulai percaya omongannya. Jiafen berbalik berjalan menuju pintu keluar. "Pikirkanlah jawabannya." Ujarnya untuk yang terakhir kali. Dan menutup pintu besi yang tebal.
Zhen memikirkanbapa yang dikatakan Jiafen. Berkali kali ia mengatakanbpada dirinya untuk tidak mempercayai omongan wanita itu. Tapi beberapa kalimatnya ada yang benar. 'Itu tidak boleh terjadi.' Pikirnya secara berulang ulang.
"Tuan!?" Panggilan bayangan hitam membuatnya kembali tersadar dengan lamunannya.
"Ada apa?" Tanya nya lesu.
"Aku sudah mendapatkan informasinya." Ujar bayangan hitam. "Itu adalah token dari Istana Suci."
Zhen merasa familiar dengan kata 'Istana Suci'. "Apa kau tahu tempat apa itu?"
"Maaf, aku tidak tahu." Jawabnya dengan senyuman diwajah yang sepertinya menyembunyikan sesuatu. "Apa wanita itu menyiksamu lagi? Dia tidak pantas disebut ibu. Wanita itu sungguh kejam. Orang orang juga kejam padamu. Akan lebih baik jika kau mem_"
"TIDAK!? Mana boleh aku melakukan itu?! Aku tidak boleh menjadi jahat." Pikirannya saat ini sedang kacau karena perkataan Jiafen. Zhen adalah seseorang yang mudah cemas dengan segala sesuatu yang belum tentu terjadi.
Bayangan hitam terus memperhatikan Zhen. Lalu dirinya tersenyum lebar hingga memenuhi sebagian wajah dan kemudian menghilang.
Tepat setelah bayangan hitam menghilang Zhen memikirkan kembali perkataan bayangan hitam, 'Setidaknya jika aku membunuh mereka, maka mereka harus menderita lebih dulu.' Pikirnya yang diakhiri dengan senyuman diwajahnya yang memperlihatkan giginya yang rapi.
...***...
Nie Fuwei dengan kelompoknya memasuki wilayah Raja Kucing Petir. Mereka ingin melakukan penaklukan pada wilayah itu. Tapi sesampainya disana, tidak seekorpun Kucing Petir yang terlihat. Tempat itu sangat sepi, "Kemana mereka semua pergi? Tempat ini terlalu sunyi." Ujar Nie Fuwei.
Dibeberapa bagian tempat ada beberapa bekas pertarungan. Nie Fuwei mengecek bekas bekas pertarungan tersebut dan memeriksanya. 'Sepertinya tempat ini sudah diserang oleh orang lain. Entah Ratu Kucing Petir masih hidup atau tidak, tapi sepertinya tempat ini sudah tidak berpenghuni.' Pikirnya setelah menganalisis. "Kita kembali." Ujar Nie Fuwei. Mereka kembali untuk melaporkan apa yang terjadi.
...***...
Didalam sebuah lorong gelap Zhen berjalan dengan salah satu kaki pincang. Tangan kirinya ditempelkan ke dinding yang tidak rata menelusuri tempok batu. Ini sudah seperti kebiasaannya jika mencari jalan keluar. Beberapa berada didalam ruangan mengerikan dengan ribuan cambukan. Tubuhnya dipenuhi darah yang belum kering dan yang sudah kering.
Dari sisi lain belokan lorong terdengar suara beberapa irang pria sedang tertawa. Ketika suara itu semakin mendekat dan Zhen yang semakin mendekat dengan belokan…
Zhen memperhatikan mereka satu persatu. Baju mereka hitam semua dilengkapi dengan penutup wajah. Dua orang dari mereka membawa tandu yang diatasnya ada seseorang yang sama dengan mereka. 'Ada bau gosong. Apa mereka telah bermain dengan petir?' Pikir Zhen.
"Heh, aku pikir siapa. Ternyata hanya anak buangan. Ayo kita lanjut!" Ujar satu orang didepan yang memimpin dua orang yang membawa tandu.
"Tunggu!?" Panggil Zhen pada mereka.
Mereka langsung berhenti dan berbalik melihat Zhen sembari menaruh tandu. "Ada apa lagi? Kau tidak lihat kami sedang sibuk? Jika kau ingin meminta bantuan untuk mencari jalan keluar maka carilah orang lain saja!?" Ujar seseorang dari mereka.
"Kalian, telah bertarung di wilayah mana?" Tanya Zhen tiba tiba.
Sontak mereka kaget mendengar pertanyaan Zhen. Pertanyaan itu benar benar tidak boleh dijawab oleh mereka, "Memangnya apa urusanmu menanyakan kami bertarung diwilayah mana? Sudahlah, kami tidak memiliki waktu untuk meladenimu!" Ujarnya kemudian mengodekan pada yang lain untuk lanjut perjalanan.
Zhen masih belum puas dengan jawaban mereka. Dia tiba tiba berlari menuju tandu dan membuka kain putih yang menutupi mayat diatas tandu tersebut. Saat dibuka Zhen sangat kaget karena mayat tersebut gosong dan memiliki beberapa jejak petir dibagian tubuhnya. Zhen melihat mereka bertiga dengan tatapan kaget.
Mereka bertiga menaruh tandu asal dan menjauh dari Zhen beberapa langkah. "Bagaimana ini? Sepertinya kita ketahuan." Salah satu pria berbaju hitam ke yang lain.
"Habisi saja dia, lagi pula tidak akan ada masalah jika kita membunuhnya." Saut yang lain.
"Itu… Baiklah. Kita habisi dia." Akhirnya mereka bertiga sepakat membunuh Zhen di tempat ini.
Salah satu dari mereka ingin menebaskan pedangnya ke leher Zhen yang menjadi target.
Grep
Tidak diduga Zhen langsung menangkap pedang yang menuju padanya. Darah mengalir dari tangannya yang tersayat. Tidak sampai disitu, ia mencekik leher orang yang akan membunuhnya dan mengangkat orang itu perlahan hingga kakinya tidak menapak.
Pria berbaju hitam yang dicekik lehernya berusaha memberontak. Naasnya nasibnya hanya sampai disini.
Krak
Zhen mematahkan leher pria itu, membuatnya tidak bernafas. Lalu menjatuhkan pria itu dan membuat dua orang tersisa kaget dibuatnya. "Akan kutanya sekali lagi, apa kalian menyerang wilayah Raja Kucing Petir dan membantai mereka?" Tanya Zhen disertai tatapan yang mengerikan.
Pertanyaan itu tidak langsung dijawab oleh mereka berdua. Tapi kebisuan mereka menjawab kalau mereka telah mrnyerang wilayah itu. Zhen tersenyum pahit memperlihat giginya. Senyumnya padar dan digantikan dengan raut wajah yang marah. Tiba tiba dalam sekejap dirinya sudah berada di hadapan kedua orang itu lalu mencekik mereka berdua.
"Aagghhh!?" Mereka berteriak karena Qi dalam tubuh mereka diserap oleh Zhen. Tubuh mereka berkobar api merah kehitaman. Perlahan tubuh mereka berdua menua sampai tulang belulang kemudian berubah menjadi debu. Yang tersisa hanyalah baju hitam yang keduanya pakai.
...~~~...
...-...
...-...
...SEMOGA SUKA...