I'M Zhen

I'M Zhen
Bab 49. Dilema



Mei Nian terus memperhatikan Zhen yang dari tadi hanya melamun menatap api. Dirinya penasara apa semua penjahat sering merenung sepertinya? Tapi dia rasa tidak. 'Beberapa hari kedepan dia akan membinasakan kami. Aku perhatikan dia sering menatap kosong ke udara. Apa yang orang jahat sepertinya pikirkan? Apa dia sedang berpikir untuk membunuh kami sekarang? Tidak tidak, aku tidak boleh menyimpulkan seperti itu dulu. Lebih baik aku mencoba bicara dengannya untuk mencari tahu apa yang dia pikirkan.' Pikirnya.


"Apa kau sedang memiliki masalah?" Tanya Mei Nian ramah. Tapi sepertinya Zhen masih dalam pikirannya sendiri hingga tidak mendengarkan apa yang orang lain katakan. "Hei?" Mei Nian mencoba menyentuh pundak Zhen.


Tiba tiba Zhen dengan cepat memelintir tangan gadis itu membuatnya sedikit berteriak, "Aahh!?"


Sontak semua prajurit dan kultivator yang menjaga Mei Nian melihat kearah mereka dan bersiap menyerang.


"Yang Mulia Putri!? apa anda tidak apa apa?"


"Berani sekali kau membuat Yang Mulia Putri celaka!? Kau harus mendapatkan pelajaran!?"


Segera Mei Nian menghentikan mereka yang ingin menyerang, "T tunggu!? Kami hanya main main, kalian tetaplah ditempat dan kembali ke aktifitas kalian!" Ujar Mei Nian sembari memegangi tangannya yang sakit setelah dilepas oleh Zhen.


"Tapi…"


"Aku bilang kembalilah!?" Ujarnya sedikit menekan. Mereka kembali setelah mendapat tekanan. Dia kembali melihat Zhen yang sudah tak melamun lagi, "Aku tahu kau tidak sengaja dan hanya kaget. Jadi aku akan melupakan itu." Ujarnya yang sebenarnya takut pada pemuda ini.


"Ada apa?" Tanya Zhen.


"Ah, a aku hanya bertanya apa ada masalah yang membuatmu melamun? Jika ada mungkin aku bisa memberimu solusi." Ujar Mei Nian segera mengatakan tujuannya.


Zhen menatap datar gadis itu. Dirinya tidak biasa menceritakan masalahnya pada orang lain. Tapi melihat cara bicaranya yang bijak mungkin saja dia bisa membantu sedikit. "Ini bukan masalahku, tapi masalah dia!?" Ujar Zhen sembari menunjuk gadis aneh yang tidak tahu apa apa. Mei Nian melihat gadis itu yang dari tadi hanya diam makan.


Karena sudah diberi kode oleh Zhen gadis itu segera mengangguk.


'Hah? Jika ini masalah gadis aneh itu kenapa malah dia yang pusing? Dan kenapa gadis itu menurut saja? ' Pikir Mei Nian bingung. Dia menghela nafasnya samar, dan kembali bicara dengan Zhen. "Jadi apa masalahnya?" Tanya Mei Nian.


"……" Untuk beberapa waktu Zhen diam sejenak. Lalu mulai mengarang agar tidak semua rahasianya terlihat, "Dia wanita yang malang, selalu mendapat siksaan sampai sekarang hingga membuatnya jadi jarang bicara." Zhen mulai bercerita sembari melirik gadis itu yang kemudian mengangguk dengan wajah serius untuk meyakinkan Mei Nian.


"Jadi itu sebabnya kau jarang bicara? Kau benar benar gadis yang malang." Dan dengan bodohnya Mei Nian percaya bualan itu.


Zhen tersenyum palsu untuk menambah suasana harunya, "Lalu aku berpikir untuk membantunya. Tapi kekuatanku masih kurang untuk membantunya, karena itu aku terpikir satu cara dengan mengorbankan orang lain!? Tapi aku masih khawatir jika nanti aku ketahuan membunuh seseorang oleh kakakku. Jadi, aku harus bagaimana?" Tanya Zhen sembari menatap Mei Nian dengan mata merahnya yang membuat gadis itu seketika merinding.


Dengan kegugupan dihatinya Mei Nian mencoba memantapkan dirinya untuk berani membuat pemuda itu tidak membantai kekaisaran. Meskipun melihat mata merahnya saja sudah membuat merinding. "Itu… tentu saja kau tidak boleh melakukannya!?" Ujarnya penuh ketakutan dibaliknya tapi masih ditutupi dengan senyum.


"Kenapa?" Tanya Zhen melihat dingin Mei Nian.


Glek


Mei Nian menelan ludahnya dengan paksa karena tatapan Zhen benar benar bisa membunuhnya, 'Kau harus tenang Mei Nian, aku harus berusaha membuat dia berpikir untuk tidak melakukan pembantaian itu.' Pikir nya. Dia menarik nafas dalam dalam lalu dihembuskan perlahan untuk menetralkan ketakutan, "Jika boleh tahu, orang seperti apa kakakmu?" Tanya Mei Nian.


Benar benar tak bisa dipercaya pemuda yang suatu hari nanti akan membantai kekaisaran berubah jadi bocah polos ketika membicarakan kakaknya. 'Dia kenapa sangat senang ketika membicarakan kakaknya? Tapi itu bisa kumanfaatkan.' Pikir Mei Nian.


"Waah, kakakmu benar benar hebat ya?" Sanjung Mei Nian yang disambut anggukan dan senyuman lebar oleh Zhen. "Kau sangat beruntung memiliki kakak yang hebat. Katamu dia juga baik? orang baik pasti tidak akan membunuh orang tidak bersalah bukan? Beda cerita dengan orang jahat yang hanya memikirkan diri mereka sendiri. Mengorbankan orang lain demi kepentingan pribadi, membuat masalah dimana mana. Mungkin sejak kecil mereka jahat jadi saat besar mereka juga jahat." Ujar Mei Nian tanpa sadar sudah bicara terlalu banyak.


"Kau juga pasti sebaik kakakmu kan, Zhen?" Tanya Mei Nian ingin semakin menyanjung Zhen.


Ketika pertanyaan dan kata kata Mei Nian muncul bukannya senang dengan senyuman, tapi malah senyum itu luntur dan berubah jadi sedih. Baik? Itu nama yang tidak cocok untuknya yang telah membunuh ribuan orang. Dengan darah ditangan dan mulutnya yang meminum darah mereka dengan senyuman, apa itu bisa dikatakan baik? Kata baik tidak cocok untuk dirinya yang kejam. Bahkan setelah membunuh ribuan nyawa dirinya tak merasakan apapun. Ia bahkan tak mengerti mengapa seseorang menangis ketika orang lain mati didepan mereka.


Karena itu dirinya ragu, apakah kata baik cocok untuknya? Tiba tiba Zhen bangun dan pergi dari tempatnya. Sepertinya mengatakan masalahnya pada orang lainpun tidak ada gunanya. Karena pada akhirnya mereka akan mengatakan sesuatu yang menurut mereka benar saja sesuai ego mereka.


"Ah, tunggu!?" Panggil Mei Nian. Tapi Zhen sudah terlanjur meninggalkannya entah kemana. Dirinya tidak mengerti, apa yang salah?


Sedangkan gadis aneh hanya menatap datar kepergian Zhen.


...***...


Tidak jauh dari perkemahan, Zhen bersender diatas pohon yang gelap. Suara keramaian dari perkemahan jadi meredub. Berada di tempat sunyi itu lebih baik dari pada dikeramaian menurutnya. Meskipun bagi mereka berada di tempat gelap dan sepi itu menyeramkan, tapi Zhen lebih menyukai sesuatu yang tidak disukai orang orang. Karena itu seperti menggambarkan dirinya yang tidak diinginkan siapapun.


Padahal dirinya paling takut jika harus sendirian dan tidak memiliki siapapun. Tapi anehnya jika berada di keramaian itu memuakkan.


"Jangan dengarkan omongan gadis itu!? Dia bahkan tidak tahu apapun tentang dirimu tuan. Yang dia tahu hanya keburukanmu dari kehidupan sebelumnya." Ujar kegelapan.


"Kehidupan sebelumnya?" Tanya Zhen tidak mengerti.


"Ya, gadis itu memiliki jiwa spesial yang membuatnya bisa bereinkarnasi satu kali. Kurasa dirinya mati ditangan tuan dikehidupan sebelumnya. Makanya dia berusaha untuk mencegah tuan membantai orang orang."


Zhen kendengarkan dengan seksama informasi dari kegelapan. Memang agak aneh bagi seseorang yang tiba tiba memberikan kebaikan begitu banyak padanya yang berpenampilan aneh dan gelap. "Kenapa dia ingin melindunngi orang orang? Bukankah dia tidak memiliki hubungan apapun pada orang orang itu?" Tanya Zhen penasaran.


"Kenapa lagi? Mereka adalah rakyatnya yang dibantai tentu sana dia akan melindunginya."


"Heh, melindungi ya? Naif sekali. Orang orang seperti itu yang berkedok melindungi tapi akhirnya keninggalkan sama saja dengan pembohong." Ujarnya yang teringat seseorang yang pernah mengkhianatinya dulu.


...~~~...


...-...


...-...


...SEMOGA SUKA...