
BEBERAPA SAAT YANG LALU
Ming Jia Jun berlajan menelusuri loring. Saat ini ia dalam perjalanan menuju tempat seseorang yang dimasa depan akan menjadi seorang penjahat besar. Tapi penjahat besar itu sekarang masih menjadi sebuah bibit. Jadi Jun saat ini dalam perjalanan untuk menghancurkan bibit itu agar tidak menimbulkan kekacauan dimasa depan nanti.
Jun bingung harus memulai percakapan dari mana. Sebelumnya ia tidak pernah menyangka kalau Zhen adalah adiknya. Sebelumnya tidak ada seorangpun yang memberitahu keberadaan Zhen selama ini. Mereka seperti berpura pura tidak tahu dan membohonginya. Tapi sekarang susah juga jika berdapan dengan anak kecil yang tidak tahu apa apa. 'Bagaimana ini? apa yang harus kukatakan? Apakah aku harus mengatak, hallo!? apa kabar, kau adikku kan? senang bertemu denganmu. Dan maukah kau mati ditangaku? Itu benar benar tidak mungkin kukatakan.' Pikir Jun kebingungan.
Dia sudah berada di depan pintu kamar calon penjahat. Saat ia ingin membuka pintu secara tergesa gesa, tiba tiba ia mendengar suatu suara tangisan anak kecil.
"Hiks… hik… " Suara itu benar benar suara anak kecil yang menangis. Dan suara itu berasal dari dalam kamar. Tidak mungkin kan calon penjahat kejam menangis sampat tersenggut senggut seperti itu? Makanya, Jun merasa ada yang aneh. Dia membukanya sangat pelan agar tidak membuat suara yang mengagetkan. Untuk memastikan yang menangis bukan calon penjahat kejam, Jun memberanikan diri masuk kedalam
Dan apa yang Jun temukn sangat membuatnya terkejut. Yang menangis adalah Zhen. Benar benar seorang calon penjahat kejam.
SAAT INI
Ini pertama kalinya bagi Zhen melihat anak ini. Sebelumnya tidak sekalipun ia melihatnya. Siapa dia sebenarnya dan mau apa? Itu yang selama ini berada dipikiran Zhen. Namun kata itu tidak pernah terucap di mulutnya.
Anak itu berlutut satu kaki untuk mensejajarkan tinggi mereka. Dia tersenyum ramah pada Zhen yang masih menatapnya heran dan penuh tanya. Tapi senyum itu berhasil membuatnya tersipu malu. Tidak pernah ada seorangpun yang tersenyum seramah itu padanya. Ini benar benar menyentuh hatinya yang selama ini selalu mendapatkan bentakan dan kemarahan orang orang.
"Kenapa kau menangis?" Tanya Jun sembari menghapus air mata Zhen.
Mendapatkan perlakuan lembut seperti ini sungguh membuatnya ingin mendapatkan lagi dan lagi. Zhen tidak peduli lagi dengan siapa anak sebenarnyanya. Yang ia inginkan sekarang adalah perlakuan lembut seperti ini. Karena firasatnya mengatakan kalau anak ini sepertinya adalah anak yang baik. Dia menundukkan kepalanya, "S siapa kau?" Tanya Zhen masih menundukkan kepalanya.
"Aku adalah kakakmu!? Ming Jia Jun." Perkenalan Jun membuat Zhen membelalakkan matanya dan menatap Jun kaget.
Zhen sangat tahu nama itu. Karena ibunya sering sekali mengatakan untuk jangan mendekati anak kesayangannya, yaitu Ming Jia Jun. Karena Jika sedikit saja Zhen menyentuh Jun, maka tangan atau kakinya akan dipatahkan. 'I ibu bilang jangan mendekati ka__ tidak, aku tidak boleh menyebutnya kakak dengan mulut kotorku. Tapi dia yang mendekatiku duluan. Aku tidak melakukan apapun seharian selain didalam kamar hari ini. Dia juga terlihat sangat baik, apa… apa aku boleh dekat denganya sekali saja? A aku rasa sekali saja tidak apa kan?' Zhen ingin mendapatkan perhatian seperti ini. Apapun akan ia lakukan meskipun harus mendapatkan hukuman nanti.
"Kau, benar benar kakakku?" Tanya Zhen dengan wajah lugunya.
"Sepertinya kau juga baru mengetahuinya ya? Kalau begitu sekarang kita sepakat sebagai kakak adik." Ujar Jun yang kini mengutuk didalam hatinya berkali kali. Bisa bisanya ia mengatakan sesuatu yang terdengar menggelikan di telinga calon penjahat kejam seperti itu. Tapi sekarang Zhen masih belum menjadi penjahat besar, daan terlihat sangat jelas kalau wajahnya sedang memerah seperti tomat dengan mulut yang menganga lebar. Sepertinya Dia sangat kagum dan terharu dengan kata kata Jun barusan. Melihat wajah lucu Zhen membuat Jun ingin tertawa. Tapi sedetik kemudian wajah lucu itu berubah menjadi penuh dengan air mata.
Mendengar sesuatu yang begitu baik, tidak baik untuk hatinya yang begitu rapuh. Zhen tidak tahan dengan haru yang begitu besar ini. "Hiks… hik… huaa…" Dia menangis sembari mengusap usap matanya yang tidak ingin berhenti mengeluarkan air mata. Jun tampak kepanikan melihat dirinya yang menangis tersedu sedu.
"J jangan menangis, ya?" Spontan Jun langsung memeluk Zhen dengan terpaksa. Dia menepuk nepuk punggung kecil bocah itu agar cepat berhenti menangis. 'Apavbenar dia calon penjahat kejam dan si penguasa kegelapan yang kejam itu? Melihatnya menangis tersedu sedu dipelukanku saja rasanya itu tidak mungkin. Tapi ia memiliki atribut kegelapan, jadi tidak salah lagi itu pasti bocah ini. Kalau begitu, aku harus cepat cepat membunuhnya sebelum dia semakin besar dan mengingat semuanya.' Pikir Jun, ia ingin mengeluarkan sesuatu dari cincin penyimpanannya. Tapi kata kata Zhen menahan tindakannya.
"Te terima, k kasih k ka kak!?" Ujar Zhen yang sesenggukan.
...***...
"A ha ha ha ha ha… Zhen, coba pakai ini!?" Jun memakikan mahkota bunga berwarna warni ke kepala Zhen. Dia terlihat seperti anak perempuan yang cantik sekarang. "Aku rasa kau lebih mirip putri dari pada pangeran." Ujar Jun sedikit menggoda Zhen.
Mendengar itu membuat Zhen mendengus kesal, "A aku adalah laki laki!?" Ujar Zhen sembari mengerucutkan bibir mungilnya.
Melihat Zhen kesal sangat lucu, apalagi bibir kecilnya yang sedang dimajukan. Jun mengelus atas kepala Zhen dengan gemas, "Iya iya, Zhen'er adalah laki laki." Ujar Jun yang diseryai senyum manisnya.
Mendapati kepalanya dielus oleh Jun membuat pipinya memerah. Niatnya ingin sekali saja untuk mendekati Jun. Tapi hasilnya ia sekali ingin dekat berkali kali. Dan sudah beberapa hari ini ia selalu bermain dengan Jun setiap hari. Rasa ingin mendapatkan perhatian seperti ini sama seperti nikotin bagi Zhen. Dia mulai kecanduan dengan kasih sayang yang diberikan Jun padanya. Biasanya ia tidak seperti ini. Tapi saat Jun memberinya perhatian, rasa sesak didadanya menghilang dan tergantikan dengan rasa senang akan kepuasan. Sama seperti orang orang disekitarnya yang terlihat sangat senang. 'Aku ingin merasakan sesuatu seperti ini setiap hari. Tidak ada yang mengganggu, mengusik, atau mencelaku. Aku ingin terus bersama kak__'
"Yang Mulia, anda dipanggil nyonya." Ujar seorang pelayan yang mengganggu kebersamaan mereka.
Tanpa sadar Zhen menatap pelayan itu tajam. Tatapannya seperti mengatakan 'Berani sekali kau mengganggu kesenanganku, sampah!?' tapi secepat mungkin ia segera membenarkan ekspresinya itu. Karena bisa bisa Jun menjauhinya jika ia terlihat menyeramkan.
"Zhen, aku akan segera kembali. Kau tunggu aku sebentar ya?" Ujar Jun memberikan senyumnya pada Zhen.
"Iya." Balas Zhen yang juga melontarkan senyum manis. Tepat setelah itu Jun pergi menemui Jiafen. Tidak lama setelah Jun pergi, pelayan yang melapor menendang Zhen dengan keras.
Duak
"Berani sekali kau bermain dengan Yang Mulia Jun kami. Apa kau pikir dirimu itu adalah peran utama? Jangan bermimpi sesuatu yang mustahil kau dapatkan. Kau akan tahu hukuman apa yang pantas kau dapatkan dari bermain dengan Yang Mulia. Sekarang kau harus menerima hukumanmu dari Nyonya!?" Oceh pelayan itu yang kemudian menarik tangan Zhen dengan kasar. Sepertinya ia ingin membawa Zhen ke suatu tempat.
Nyut
Zhen memegangi dadanya yang terasa sesak kembali setelah mendapatkan perlakuan seperti ini. Dia melihat pelayan perempuan itu dengan tajam. Zhen berharap perempuan itu cacat selamanya karena telah menendangnya.
...~~~...
...-...
...-...
...SEMOGA SUKA...