I'M Zhen

I'M Zhen
Bab 16. Ditinggalkan



Setelah beberapa jam Zhen baru berhasil keluar dari kediaman. Dirinya tidak menyangka kalau menggunakan langkah bayangan ini dapat menguras Qi nya. Itu wajar saja karena ia belum mempelajari versi akhir dari langkah bayangan. Jadi akan sangat menguras Qi. Karenanya Zhen melanjutkan langkahnya dengan berjalan kaki.


Setelah keluar dari Sapphire Radiant Palace, Zhen berlajan menuju Kediaman Jun yang juga tempat tinggalnya. Ruby Radiant Palace. Memasuki kediamannya Zhen disambut dengan tatapan sinis orang orang disana. Sudah pasti begitu, karena mereka mambenci dirinya menghirup udara yang sama. 'Abaikan saja mereka. Kata kakek Luan aku tidak boleh menunjukkan rasa takutku.' Pikir Zhen mengingat kata kata kakek Luan padanya.


Zhen berjalan dengan badan tegap dan ekspresi wajah yang tidak takut apapun. Memasuki taman yang sudah dekat dengan kamar Jun dirinya segera berlari tidak sabar untuk bertemu Kakaknya. Tiba tiba…


Swosshh


Serangan tiba tiba hampir mengenai Zhen kalau saja dirinya tidak menghindar dengan langkah bayangan yang baru saja dipelajari. Ketika melihat siapa orang yang menyerangnya ternyata dia adalah Liubai dan geng nya. 'Sial, kenapa malah bertemu dia?' Pikir Zhen kesal.


"Masih berani menunjukkan diri? Dasar pembunuh!?" Ejek Liubai dengan wajah jahatnya. Dua temannya yang lain juga memberikan kesan meremehkan pada Zhen.


Dipanggil pembunuh oleh Liubai membuat Zhen terkejut dengan ekspresi ketakutan, "A aku bukan pembunuh!?" Belanya pada diri sendiri sembari mengepalkan kedua tangannya.


Senyum mengejek terlihat diwajah gendut Liubai, "Hmph, kau pikir aku bodoh? Semua orang disini tahu kau membunuh anggota Klan sendiri. Jika tidak, kenapa Raja membawamu untuk menemui Raja Serigala Perak? Itu sudah jelas kalau kau pembunuh." Jelasnya yang semakin tersenyum mengejek. Terlihat Zhen semakin gugup dengan penjelasan Liubai. "Kalian, pegangi dia!" Perintah Liubai pada kedua temannya.


"Baik." Jawab keduanya bersamaan.


Mereka menghampiri Zhen ingin memeganginya untuk dipukuli. Namun mereka tidak tahu kalau Zhen sudah mempelajari ilmu baru dari Kakek Luan. Dengan lincah Zhen menghindari mereka berdua. Sontak ketiganya langsung kaget melihat Zhen yang sudah bisa mempelajari jurus peringan tubuh. "Kau!? Darimana kau mempelajarinya?" Liubai melotot tidak percaya kalau yang barusan menghindar adalah Zhen.


Senyum senang terlihat diwajah Zhen, "A…" Tiba tiba Zhen teringat dengan apa yang dikatakan Jiangwu dihari pertamanya menjadi murid. "Jika wanita kejam itu tahu anak itu sekarang adalah muridmu dia pasti tidak akan tinggal diam." Zhen merasa tidak boleh mengatakan apapun. Dia tidak ingin membuat Kakek Luan dalam masalah karena dirinya. "Aku mempelajarinya sendiri." Jawabnya dengan kegugupan.


Tapi kebohongannya itu dengan cepat diketahui oleh Liubai. "Kalian minggir!" Teriak Liubai sembari berjalan maju dengan dibarengi kedua temannya yang berjalan mundur. Dia mempersiapkan diri untuk bertarung dengan Zhen.


Glek


Zhen menelan ludahnya karena yang maju sekarang adalah Liubai. Dia adalah anak dari Tetua ketiga, Liu kun. Sebenarnya dia tidak tinggal disini, melainkan di Emerald Radiant Palace. Liubai pasti sudah dilatih oleh ayahnya. Karena dia adalah penerus Emerald Radiant Palace.


"Kenapa hanya diam? Kemana kesombonganmu barusan?" Liubai tersenyum meremehkan melihat Zhen. Dia menggunakan langkah petir yang telah diajari ayahnya. Meskipun masih lemah tapi diusianya dia cukup jenius. Seketika langkahnya bagaikan kilat dalam kedipan mata. Dalam satu langkah dia sudah ada didepan Zhen.


Untungnya refleksnya bagus, Zhen langsung menghindar menggunakan langkah bayangannya. Dirinya menghindar menyamping, namun Liubai dapat dengan mudah mengejar langkah Zhen menjadi sejajar.


Buk


Dengan sangat keras Liubai memukul ulu hati Zhen hingga terpental menabrak pohon. Senyum jahat terlintas diwajahnya yang berlemak. Dia menghampiri Zhen yang merintih kesakitan di bawah pohon. "Hanya itu? Hmph, tidak berguna!?" Liubai mengisyaratkan pada kedua temannya untuk menjagal Zhen tetap ditempatnya.


Langsung saja mereka berdua menginjak punggung Zhen dan menekan pundaknya dengan kayu tebal yang tidak jauh disana.


Ketika Zhen ingin menggunakan kemampuannya, ia teringat kalau dirinya tidak diperbolehkan. Karena jika ia tetap menggunakannya maka dirinya akan diseret kembali menantang maut. Dia mengepalkan kedua tangannya karena tak bisa membela diri sendiri.


Liubai berlutut satu kaki untuk lebih dekat dengan Zhen yang ditekan ke tanah, "He he he he… habislah kau Ming Jia Zhen!?" Teriak Liubai diiringi tawa jahatnya. Dia mencengkram atas kepala Zhen dan mengalirinya listrik hingga menyengat seluruh tubuh.


"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha…" Mereka bertiga tertawa senang melihat Zhen kesakitan.


Beberapa waktu berlalu…


Malam hari yang disertai hujan lebat. Zhen masih berada bawah pohon dengan guyuran air hujan. Seluruh tubuhnya mati rasa sehingga tak bisa digerakkan sampai malam tiba. Dia berharap ada seseorang yang menolongnya, namuntak ada satupun orang disana yang mempedulikan dirinya. Meskipun mereka tahu kalau Zhen sangat membutuhkan pertolongan namun mereka menutup mata dan bertingkah seolah tak terjadi apapun.


Perlahan Zhen dapat menggerakkan jari tangannya, lalu lengan, kaki, dan kemudian tubuhnya. Dirinya bangun perlahan dan masih kaku. Berusaha berdiri meskipun berat. Rencana untuk menemui Jun ia batalkan karena Jun sendiri tidak ada disini. Zhen mendengarnya dari geng Liubai kalau Jun berada di Moon Radiant Palace. Jadi lebih baik dirinya pulang dan menemui Kakek Luan. Karena ia sudah terlalu lama disini. Zhen berjalan dengan kaki pincang sembari memegangi dadanya yang masih terasa sakit.


Terlihat dari kejauhan dibawah payung merah yang dipegangi pelayan, Jiafen memperhatikan Zhen berjalan keluar dari sini.


"Apa perlu menahannya?" Tanya seorang pelayan yang memegangi payung Jiafen.


"Belum, ini belum di bagian paling menyenangkannya." Ujar Jiafen misterius.


...***...


Sapphire Radiant Palace


Sesampainya di kediaman Kakek Luan, Zhen berusaha mencari pak tua itu kemanapun. Namun tidak menemukannya selama apapun ia mencari. 'Kemana Kakek Luan?' Zhen berjalan menuju kamar Kakek Luan. Siapa tahu dia kembali ke kamarnya. Dirinya mengetuk pintu kamar. Tapi tak ada jawaban. Akhirnya ia masuk meskipun tidak sopan.


Didalam kosong tak ada seorangpun. Tapi ada beberapa buku diatas meja dan sepucuk surat. Buku buku itu adalah beberapa jurus yang ditinggalkan Kakek Luan. Termasuk versi akhir langkah bayangan. Zhen mulai mendapat firasat buruk tentang ini. Dia mengambil surat itu dan membacanya. Didalam surat hanya ada satu baris.


'Jaga dirimu baik baik.'


Zhen langsung membelalakkan matanya terkejut melihat isi surat.


"Dia membuangmu tuan! Orang tua itu benar benar membuangmu! Dia sudah tidak peduli padamu makanya dia membuangmu sekarang. Haaah, benar benar tidak dapat dipercaya. Sekali lagi tuan ditipu seseorang." Ujar kabut hitam mengelilingi Zhen saat ini.


Bruk


Zhen terduduk kebawah kehilangan tenaga untuk berdiri. "Bagaimana bisa dia membuangku begitu mudah? Aku bukan barang katanya? Lalu sekarang apa? Hah… ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha__" Dia berhenti tertawa dengan wajah yang menahan tangis.


...~~~~~...


...-...


...-...


...SEMOGA SUKA...