I'M Zhen

I'M Zhen
Bab 51. Diri yang lain



"Berapa banyak orang disini?" Tanya Zhen.


Wanita itu bingung dengan pertanyaan Zhen. Dia bingung harus menjawab apa, "Ehm, mungkin tiga ratus lebih? Kenapa tuan menanyakan itu?" Tanya wanita itu balik.


"Tiga ratus… masih kurang." Guman Zhen pelan.


"Apa? Apa yang kurang?" Tanya wanita itu sembari melihat wajah Zhen.


Zhen melirik wanita itu dingin, tatapannya benar benar berbeda dengan dirinya beberapa waktu lalu. Dia terlihat seperti orang lain sekarang.


Pemuda itu menggeser sedikit posisi duduknya dan menghadap wanita itu. Tangannya terangkat seperti mengelus pipi wanita itu dari atas ke bawah. Dengan cepat Zhen mencekiknya membuatnya sulit bernafas. Wanita itu berusaha memberontak dengan melepas tangan Zhen. Dengan ajaib lampu juga seketika mati membuat kamar itu gelap sepenuhnya, "Kau bertanya apa yang kurang bukan? Pengorbanan kalian masih kurang untuk memulihkan kekuatanku!?" Ujar Zhen semakin meremas leher wanita itu sampai tulangnya patah.


Akhirnya wanita itu mati dengan mata yang hampir keluar.


Setelah itu Zhen bangun sembari melihat keluar jendela. Ia melihat masih ada banyak orang berlalu lalang pada tengah malam. Tatapannya saat melihat mereka seperti melihat sekelompok semut. "Pergi dan hitung semua orang di kota ini!?" Ujar Zhen.


"Baik Tuan~" Ujar kegelapan. Setelah itu kegelapan pergi untuk menghitung semua orang yang ada di Kota Beimang.


"Aku yang sekarang seperti bocah naif." Ujarnya sembari berjalan masuk ke dalam. "Karena itu aku harus menghilangkan sifat pengganggu itu." Lanjutnya yang kemudian mengilang ke dalam kegelapan kamar.


...***...


Kegelapan menelusuri setiap tempat seperti angin untuk menghitung setiap orang di Kota. Sampai pada seorang gadis berambut putih dirinya berhenti ketika gadis itu menengok kepalanya ke belakang melihat dirinya. "Tidak~ tidak~, dia adalah penunjuk jalan. Jadi tidak boleh." Ujarnya sembari menghitung yang lain.


Sampai pada perguruan Macan Putih, tempat para tetua dan ketua.


Whussh


Seketika mereka merasakan ada yang melewati mereka, namun tak ada siapapun selain diri mereka sendiri.


"Apa ini hanya perasaanku atau memang ada sesuatu?"


"Entahlah, perasaanku juga tidak enak."


"Untuk berjaga jaga, ayo kita pasang pelindung disekitar perguruan!?" Ujar ketua Perguruan.


"Baik!?" Ujar semuanya bersamaan.


Sedangkan perhitungan sudah selesai, kegelapan kembali kepada Zhen yang juga telah selesai membunuh semua orang di rumah bordil.


"Kau kau J jangan mendekat!? Akan kuberikan berapapun yang kau minta asalkan jangan membunuhku!?" Ujar seorang pria dengan pakaian mewah. Dia adalah pria yang mengajak bicara Zhen didepan. Saat menyadari pemuda penuh darah itu adalah orang yang diajaknya bicara pria itu kaget, "B bukankah kau pria yang ada didepan? Kenapa kau membunuh semua orang disini?" Tanyanya heran dengan wajah ketakutan.


Akan tetapi sepertinya Zhen tidak mengenali pria itu. Ia hanya melihat pria itu bingung, "Aku tidak mengenalmu." Ujarnya.


"E eh, tapi__"


Sebelum selesai bicara kepalanya sudah terpenggal lebih dulu oleh Zhen. Kemudian menikmati darah yang keluar dari kepala pria itu. Disaat itu muncul kegelapan yang sudah menghitung semua orang di Kota. "Tuan~ Orang orang diseluruh Kota ada empat ribu lebih." Ujarnya.


"Bagus, itu cukup." Ujarnya dengan senyum senang. Dirinya keluar dengan membuat kepala ditangannya. Ia berdiri diatas atap rumah bordil.


Zhen melentangkan kedua tangannya menyebarkan Qi miliknya ke seluruh penjuru Kota. Qi hitam menyebar bagai listrik ke segala tempat. Seketika semua orang yang terpengaruh energi negatif dari Qi hitam berubah menjadi ganas seperti hewan buas yang kelaparan. Mereka menyerang satu sama lain dan membunuh sesamanya.


Setiap ada korban yang berjatuhan maka kekuatan Zhen akan meningkat.


Tampak senyum senang diwajahnya karena semuanya berjalan lancar. Kecuali satu hal, pelindung yang melindungi satu tempat itu membuatnya terganggu. Karena itu ia kini dalam perjalanan menuju pelindung yang dipasang seseorang itu dengan melincati setiap atap seperti bayangan.


Sesampainya disana, ternyata tempat yang dilindungi adalah perguruan Macan Putih. "Tidak ada satupun makanan yang bisa lepas dariku!?" Ujar Zhen dengan smirk diwajahnya.


Zhen menggunakan jurus Rantai Neraka bagian ke tiga, 'Genggaman'. Tangan hitam besar raksasa dengan gelang rantai ditangan besar tersebut muncul dari dalam tanah. Tangan itu menekan dan meremas pelindung berwarna Ungu hingga retak.


PRANG


Pelindung pecah yang membuat Zhen semakin senang. Dirinya masuk kedalam perguruan.


"Siapa kau?!" Tanya para murid perguruan sembari menodongkan pedang mereka.


Zhen melihat mereka satu persatu seperti mengingat sesuatu,


"Pergi!? Dasar iblis!?"


"Pergilah ke dunia bawah tempat asalmu!?"


"Kami tidak membutuhkan orang sepertimu!?"


"Melihat wajahmu saja sudah membuat ku mual!?"


"Tidak tahu malu."


"Orang sepertimu bahkan bermimpi menjadi bagian dari kami?"


"Pfft mimpi kok terlalu tinggi ha ha ha ha ha…"


"*Kalau mimpi, sebaiknya kau bangun dasar b*go*!?"


"Yah, mau bagaimana lagi~ dia kan t*lol memang kalau dari rahimnya saja pasti sudah t*lol!?"


"Sampah ya sampah, tempatnya ya ditempat sampah ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha…"


Zhen menggertakkan giginya mengingat semua hinaan orang orang dulu terhadapnya. "Diam!?" Gumannya menahan amarah. Semua suara suara itu masih terdengar ditelinganya.


Namun para murid itu tidak tahu apa yang Zhen gumankan. Mereka saling menatap satu sama lain. Salau satu orang disana mencoba mendekatinya, "Apa yang kau_"


"DIAAAM!?" Teriak Zhen sembari menutupi telinga dan matanya.


Disaat yang sama auranya mencabik cabik tubuh orang orang yang ada disekitar. Semuanya menjadi potongan tubuh dengan darah dimana mana. Barulah setelah semuanya meninggal semua suara yang didengarnya menghilang. Zhen menurunkan tangan dan melihat semua mayat disekitarnya. Entah mengapa ia terlihat kaget melihat semuanya telah menjadi mayat. Tapi kemudian terlihat senyum yang memperlihatkan gigi rapinya.


Tidak lama datang beberapa orang pria tua menuju kearahnya.


"Dasar iblis!? Kau membunuh semua murid muridku tanpa sisa!? Kau harus menanggung semua perbuatanmu!?" Ujar marah seorang pria tua.


"Ayo kita langsung habisi saja dia ketua!? Iblis sepertinya tidak akan memiliki rasa bersalah." Ujar tetua yang lain.


Mereka langsung bersiap menyerang Zhen dari segala arah. Zhen menghindari semua serangan mereka dengan mudah. Ia mengambil salah satu pedang murid lalu mengisinya dengan true Qi miliknya agar lebih memiliki kekuatan.


Dalam sekali tebas empat dari lima orang tua itu mati. Tebasan itu ternyta berefek pada bangunan dibelakang mereka yang mana langsung runtuh. Hanya tersisa ketua yang masih memiliki tangan kirinya.


Pria tua itu memegangi tangan kanannya yang tertebas pedang. Zhen mendekat ke pria tua itu untuk langsung membunuhnya.


"Agh?!" Tapi tiba tiba saja kepalanya merasa sakit luar biasa yang membuat celah untuk menyerang.


Pak tua itu menyerang Zhen disaat belum siap. Namun dengan mudah Zhen menangkap tangan pria tua yang ingin menembus tubuhnya. Akan tetapi bukan itu serangannya. Pria tua itu tiba tiba menggembung dengan garis garis berwarna api ditubuhnya.


'Dia ingin meledakkan diri? Sial!?' Pikir Zhen sembari ingin berlari dari tempat itu. Tiba tiba orang tua itu menarik jubah Zhen yang membuat pemuda itu kembali. Pria tua itu memeluknya agar mati bersama. "Dasar gila!? Jika kau ingin mati, mati saja sendiri!?" Teriaknya marah.


"He he he he he he he, sayangnya aku tidak bisa membiarkan iblis sepertimu berada diantara manusia!?" Ujarnya dengan senyuman senang diwajahnya meskipun akan mati.


DUAAARRR


...~~...


...-...


...-...


...SEMOGA SUKA...