I'M Zhen

I'M Zhen
Bab 34. Kualifikasi



Prajurit muda membawa Zhen ke tenda lain yang sudah disiapkan Jenderal Mu. "Kata Jenderal sekarang kau tinggal disini. Jika ada yang kau inginkan panggil saja aku, Namaku Li Meng dan… namamu?" Ujarnya memperkenalkan diri sembari bertanya disertai senyuman ramah.


Zhen mendingakkan kepalanya melihat ke sekeliling tempat yang akan menjadi kamarnya. Dia melihat Li Meng yang masih menunggu jawabnnya, "Zhen." Jawabnya singkat.


Dan Li Meng hanya memangut manggut mendengar namanya. "Kalau begitu, beristirahatlah." Ujar Li Meng. Setelahnya dia berjalan keluar tenda.


"Li Meng!?" Panggil Zhen belum lama.


Mendapat panggilan dengan namanya langsung membuat Li Meng merasa canggung. "Y ya?" Tanyanya yang entah kenapa jadi gugup.


"Aku lapar."


Jawaban yang keluar membuat Li Meng menghela nafas lega. 'Tapi tunggu, aku pikir dia baru saja makan. Diluar dugaan, ternyata makannya banyak.' Pikirnya.


"Baiklah, akan kubawakan makanan." Ujarnya dengan nada yang membuat hati senang.


Zhen melirik pemuda itu lama. Dia terlalu ceria sampai ingin dihancurkannya. Tapi akan sayang jika hal seperti itu dihancurkan.


...***...


Li Meng membawa makanan untuk Zhen. Tapi saat dalam perjalanan ke tenda dia dipanggil oleh dua orang temannya.


"Li Meng, sebaiknya kau jangan mendekati orang baru itu." Saran seorang prajurit muda, Bao Ji.


"Ya, aku lihat dia bukan orang baik. Lihat saja cara dia melihat kita, seperti melihat hewan buruan. Aku sangat tidak suka dengan mata merahnya itu." Ujar satu temannya lagi, Ba Chang.


Li Meng juga merasa tidak nyaman dengan cara Zhen menatapnya. Pemuda itu seperti ingin membunuhnya jika membuat satu kesalahan. Tapi meskipun begitu dirinya tidak bisa menilai seseorang tanpa mengenal betul orang itu. Tidak lama dia melihat Zhen berdiri dua meter dibelakang dua temannya. "Zh-Zhen?" Ujarnya tergagap.


Sontak dua orang itu langsung membalikkan badan mereka karena wajah Li Meng sangat panik. Mereka berduapun ikut panik saat melihat Zhen disana. "S sial sekali, apa dia mendengarnya?" Bisik Bao Ji pada Ba Chang.


"Semoga saja tidak." Balasnya juga berbisik.


Zhen menatap mereka tajam. Tentu saja ia mendengar semua pembicaraan mereka saat dirinya tidak sengaja tersesat mencari Li Meng. Semua uang mereka bicarakan itu tidak semuanya salah. Dirinya memang melihat mereka sebagai hewan buruan. Tapi karena mereka telah menolongnya jadi daftar menjadi buruan di coret.


Kakinya melangkah mendekati mereka. Ketiganya berkeringat dingin meskipun udara malam ini dingin. "Ayo ke tenda!?" Ujarnya pada Li Meng. Zhen memutuskan untuk mengabaikan omongan mereka.


"Ah i iya." Jawab Li Meng gugup.


Mereka berdua pergi, setelahnya kedua orang itu menghela nafas lega setelah Zhen pergi.


...***...


Kamp musuh


"APA KAU BILANG? SEMUA PRAJURIT KITA SEMUANYA MATI TANPA SISA?" Teriak marah seorang wanita cantik seksi, berambut coklat terang yang diikat, memakai zirah perak. Dia adalah pemimpin yang memimpin pasukan musuh, Wei Shujin.


Apa yang dikatakan Le Tuo ada benarnya. Pasukan Jenderal Mu hanya tinggal beberapa ratus prajurit yang masih bisa bertarung. Mana bisa melawan pasukannya yang lebih menang jumblah. Tapi meskipun begitu, kultivator mana yang sangat hebat bisa mengalahkan semua prajuritnya tanpa sisa?


"Baiklah, kau boleh keluar." Ujar Wei Shujin. Dia masih penasaran dengan kultivator mana yang bisa mengalahkan ratusan prajuritnya. Untuk memastikan ancaman kecil mana yang akan menjadi ancaman besar, "Sepertinya aku harus melihatnya sendiri." Ujarnya.


...***...


Beberapa hari ini Zhen tinggal bersama para manusia ini. Mereka tidak beda jauh dengan yang ada di hutan hitam. Saat ini ia sedang duduk diam memperhatikan latihan para prajurit yang akan berperang besok. Untungnya tidak ada yang terganggu dengan kehadirannya. Tentu saja tidak ada, karena ia memperhatikan mereka dari belakang dengan jarak yang cukup jauh.


Itu karena para prajurit disana merasa tidak nyaman jika diperhatikan oleh Zhen. 'Ternyata di luar hutan juga ada perebutan kekuasaan seperti ini. Mereka juga aneh, kenapa saling membunuh satu sama lain? Padahal spesies mereka sama.' Pikirnya masih melihat pelatihan. Matanya membulat ketika melihat mereka berhenti berlatih dan memberi hormat pada seorang pria tua namun masih dalam keadaan bugar. Zhen merasakan ranah orang tua itu berada di ranah inti Yuzhou tahap satu awal. Itu santapan yang cukup besar untuknya.


Zhen menginginkan orang tua itu untuk dilahapnya. Ia menjilati bibir bawahnya tidak sabar untuk perang besok.


"Kenapa kau tidak ikut berlatih?" Tanya seseorang. Zhen menengok ke samping arah orang yang bertanya padanya. Terlihat seorang perempuan yang berpakaian dapur menghampirinya.


'Apa didapur memang ada perempuan?' Pikirnya terasa janggal. Zhen pikir yang memasak disini adalah laki laki semua. Karena dia mencurigakan Zhen tidak menjawab pertanyaannya dan malah kembali melihat orang orang itu.


Perempuan itu mengernyitkan dahinya sebab Zhen tidak mempedulikan pertanyaannya. Dia tiba tiba duduk disamping Zhen untuk terus bertanya sampai dijawab. "Kenapa kau tidak menjawab? Apa, kau tidak bisa bicara?" Tanyanya yang mulai ingin memancing emosi Zhen.


Namun sayangnya pancingan seperti itu terlalu kuno untuknya. Zhen bahkan tidak merasa kesal atau marah mendengarnya. Karena dirinya sudah mendapat hinaan yang lebih parah dari itu.


Dia kembali mengernyit kesal, "Ah~ jadi kau benar bisu~ maafkan aku yang tidak tahu. Yah orang tuamu pasti sangat malu memiliki anak yang bisu~ Atau jangan jangan mereka juga bisu?" Ujarnya sembari melirik Zhen. 'Hmph, dia pasti terpancing kan? Mana ada yang tidak marah setelah orang tuanya diejek?' Pikir perempuan itu jahat, tapi malah dirinya yang kesal karena Zhen masih tidak terpancing. Bahkan tidak ada tanda tanda jengkel darinya. 'Apa apaan dia? Bagaimana bisa dia tidak terpancing sedikitpun? Apa dia anak durhaka?' Pikirnya sangat kesal.


Tentu saja tidak terpancing. Orang tuanya saja selalu menyiksa dan ingin membunuhnya, tentu saja tidak akan ada perasaan marah atau kesal saat mendengarnya.


Tidak lama pelatihan prajurit berakhir. Itu membuat waktu perempuan itu sia sia. Dia berdesis kesal karena usaha mencari informasi tentang Zhen gagal total. Perempuan itu tentu saja Wei Shuji yang sedang menyamar. Dia bangun dan ingin segera pergi dari sini sebelum ketahuan.


"Besok…" Ujar Zhen tiba tiba.


Mendengar itu Wei Shuji langsung menengok kepala ke belakang. Dia mendengar suara seorang bocah yang belum dewasa dengan seringai diwajahnya yang tertutupi tudung.


"…… Aku akan menikmatimu." Lanjut Zhen yang membuat Wei Shuji salah paham.


Terlihat matanya terbelalak kaget mendengar Zhen ingin menikmatinya. Pipinya memerah antara marah dan tersipu, "Heh, berani sekali bocah sepertimu berkata seperti itu. Lebih baik kau belajar menjadi anak baik." Ujar Wei Shujin lalu pergi dengan hati marah dipermalukan oleh pemuda yang lebih muda darinya.


Padahal maksud Zhen adalah ia ingin menyerap Qi perempuan itu. Tapi ya sudahlah, 'Lagi pula besok juga akan mati.' Pikirnya sembari tersenyum senang.


...~~~...


...-...


...-...


...SEMOGA SUKA...