
Saat membuka mata Zhen melihat ada didalam kereta kuda bersama dengan empat orang didalamnya. Mereka melihatnya dengan pandangan senang karena telah sadar. "Dimana ini?" Tanya Zhen sembari bangun dan memegangi kepalanya yang telah diperban.
"Kau ada dikereta kuda. Tenang saja, kami hanya menolongmu." Ujar salah seorang pria yang menolong Zhen. Namanya Wang Zhe.
"L luka lukamu juga a aku sudah mengobatinya." Sambung seorang gadis berwajah mungil dengan pipi yang merona, namanya Yu Yao. Dia memiliki kelainan dalam bicara.
Beserta dua orang lainnya seorang pria bernama Zhuo Di dan gadis lainnya yang bernama An Mian. Mereka adalah dua pelayan tuan dan nona muda Wang Zhe dan Yu Yao.
Zhen menatap mereka yang menatapnya dengan wajah penuh keramah tamahan. Saat ini ia sedang berpikir, apakah seharusnya ia mengatakan terima kasih? Atau tidak? Mereka telah menolongnya dari pingsan ditengah jalan. Mereka orang yang baik. Beberapa kali Zhen mendapati beberapa kereta berhenti karena dirinya ditengah jalan, tapi mereka hanya lewat dengan kata kata yang kasar. 'Kurasa aku harus berterima kasih.'
Padangannya berusaha diarahkan ke arah lain karena ia tidak biasa mengatakan kata kata terima kasih dengan leluasa, "Terima kasih." Ujarnya.
"Sama sama." Jawab Wang Zhe ramah. Dia membuka sedikit tirai kereta, "Ah, sepertinya kita akan segera sampai di ibu kota!? Kita akan segera pulang ke rumah!?" Ujar Wang Zhen terlihat senang.
"B benarkah?" Tanya Yu Yao senang sembari melirik Zhen, "Ehm, a apakah ada tempat yang ingin kau kunjungi? Bagaimana dengan rumahmu?" Tanya Yu Yao malu malu.
Zhen berpikir sebentar tentang ibu kota ini. Dirinya baru mendengar nama ibu kota. Ia penasaran dengan ibu kota, apakah itu adalah tempat menyenangkan? Pasti ada banyak orang disana. 'Ibu kota, manusia, darah, Qi kehidupan…' Pikir Zhen sembari menjilati bibir bawahnya. Terukir senyum kecil diwajahnya. "Aku tidak punya tempat tujuan, keluargaku baru saja di serang oleh orang tidak dikenal. Lalu aku melarikan diri dan begitulah kalian menyelamatkanku." Zhen mengarang semua itu secara mendadak.
Mereka yang mendengarnya merasa kasihan dengan Zhen. Terutama Yu Yao yang menaruh hati pada pemuda itu, "K kalau begitu, k kau bisa tinggal dirumah kami s sementara waktu. B benarkan?" Tanya Yu Yao pada Wang Zhe.
Wang Zhe hanya tersenyum canggung dengan adiknya yang memohon seperti ini. "Ya, kau bisa tinggal bersama kami sementara waktu. Aku akan membicarakannya dengan ayah." Jawab Wang Zhe membuat Yu Yao senang.
Zhen hanya tersenyum mendapatkan apa yang ia inginkan. Meskipun senyumnya palsu.
"Ah iya, aku lupa memperkenalkan diriku. Perkenalkan, namaku Wang Zhe dan ini adikku Yu Yao. Mereka adalah Zhuo Di dan An Mian pelayan kami." Ujar Wang Zhe memperkenalkan orang orang yang ada didalam kereta. "Dan siapa namamu?" Tanyanya kemudian.
"Zhen." Ujarnya singkat.
"Aku periksa kau pingsan karena kelaparan, bagaimana jika kita mampir ke tempat makan lebih dulu?" Tawarnya pada Zhen. Tidak lama senyumnya yang palsu berubah jadi senang.
"Makan?" Tanyanya dengan mata berbinar binar.
"I iya makan." Jawab Wang Zhe jadi gagap. Entah kenapa suasananya jadi berubah dengan senyum polos Zhen. Mereka juga tiba tiba jadi ikut senang.
Tidak lama mereka berhenti ke kedai makan terdekat. Mereka turun dari kereta kuda dan berjalan menuju ke dalam. Saat memasuki kedai makan Zhen melihat ke sekeliling. Dimana mana ada banyak orang makan disetiap meja. Disisi lain juga ada pertunjukan seseorang memainkan alat musik petik kecapi untuk menghibur para pelanggan agar tidak bosan.
Yu Yao yang berjalan disamping Zhen selalu memperhatikannya. Dia heran melihat Zhen yang tampak asing dengan semua orang disekitar. "A ada apa?" Tanya Yu Yao gagap.
Zhen melihat gadis muda setinggi bahunya ini, "Tidak, bukan apa apa." Jawabnya bohong. Ia sebenarnya penasaran kenapa ada tempat makan seperti ini? Kenapa mereka tidak makan dirumah saja? Mereka juga kelihatan seperti meminum sesuatu yang membuat kepala mereka mabuk.
'Benda apa yang diberikan Zhuo Di padanya sampai sesenang itu? Apa benda kecil itu bisa dimakan? Jika aku bertanya mereka bisa curiga aku berbohong. Lupakan saja, lebih baik aku makan.' Pikir Zhen.
Di sisi meja lain…
Ada dua orang pria dan wanita yang sedang membicarakan sesuatu yang penting. Wanita yang menutupi wajahnya dengan caping berkain hitam berbicara serius dengan seorang pria berpakaian mewah.
"Adik, sebenarnya kenapa kau bisa berakhir seperti ini? Kau terlihat lebih tua dariku." Ujar seorang pria yang memanggil si wanita adik.
Brak
"Ini semua gara gara bocah iblis itu!? Dia mengambil daya hidupku hingga membuatku tua lebih cepat?!" Ujarnya marah.
"Bocah iblis? Siapa yang kau maksud? Kultivator alirah hitam mana yang bisa menggunakan jurus sejahat ini?" Tanya pria itu. Mereka adalah kakak beradik dari keluarga besar di Kekaisaran Tang. Pria itu bernama Wei Dingyu dan wanita yang bersamanya adalah Wei Shuji. Wei Dingyu kepala keluarga Wei saat ini sedangkan adiknya adalah salah satu Jenderal di kekaisaran.
"Dia adalah…" Wei Shuji menggantung kata katanya ketika melihat Zhen sedang duduk makan bersama beberapa orang yang lain. Sontak dia langsung bangun dan mundur dengan ekspresi ketakutan. 'B bagaiamana dia bisa ada disini? Apakah dia mengikutiku hingga ke sini? Aku tidak boleh tertangkap olehnya.' Pikirnya ketakutan. "K kakak, ayo kita cari kedai lain saja. M makanan disini tidak enak." Ujarnya ketakutan.
Wei Dingyu mengernyit heran mengapa Wei Shuji tiba tiba ketakutan seperti ini. Dia melihat kearah mana adiknya ketakutan. Matanya melihat seorang pemuda berjubah hitam yang sedang makan dengan empat orang lainnya. 'Kenapa Shu'er ketakutan melihat bocah itu?' Pikir Wei Dingyu heran.
Akhirnya mereka pergi dari kedai ini dengan Wei Shuji yang berusaha menutupi wajahnya. Mereka turun dari tangga dengan langkah yang terburu buru.
Bruk
"A ah, m maaf!?" Ujar Yu Yao tidak sengaja menabrak Wei Shuji.
"Iya." Jawabnya singkat.
Zhen melirik si pemilik suara ini. Dari balik Caping Wei Shuji juga melirik Zhen. Tanpa diduga pemuda itu tersenyum kecil melihatnya. Itu langsung membuat wanita itu tambah panik dan segera ingin pergi sebelum nyawanya melayang.
Yu Yao melihat heran wanita yang ditabraknya. "S sepertinya dia w wanita yang sibuk."
...~~~~...
...-...
...-...
...SEMOGA SUKA...