I'M Zhen

I'M Zhen
Bab 50. Karena ilusi



Keesokan harinya, Mei Nian dengan rombongannya bersiap siap untuk berangkat melanjutkan perjalanan. Namun saat dia bangun, Zhen dan gadis aneh itu sudah tidak ada. Mereka menghilang begitu saja tanpa pamit. Itu membuat Mei Nian khawatir karena dirinya belum memastikan apakah pemuda itu benar tidak akan melakukan pembantaian atau tidak.


Tapi sebentar lagi mereka akan sampai ke Kota Beimang. Tujuannya disana ingin memberikan buah tangan ke perguruan Macan Putih, yaitu tempat ia belajar saat ini. Dan para kultivator yang saat ini mengawal juga dari perguruan tersebut. "Semoga aku bertemu dengannya di kota." Ujarnya penuh harap.


"Siapa?" Tanya pelayan yang duduk dihadapan Mei Nian, bernama Lin.


"Kau tidak perlu tahu." Jawab Mei Nian jutek.


Semalam dirinya terus memikirkan tatapan Zhen padanya tadi malam yang seperti kecewa dengan apa yang dia katakan. 'Apa aku telah salah bicara? Dia melihatku seperti aku yang salah. Benar benar menyebalkan jika dipikirkan lagi. Padahal dia yang akan menjadi pembunuh beberapa hari lagi. Apa aku ada melewatkan sesuatu di masa lalu?' Pikirnya sembari memikirkan ulang kehidupan sebelumnya.


Ketika memikirkannya ulang Mei Nian teringat detail kecil, yaitu ekspresi Zhen saat melihat korban korban yang disebabkan olehnya. Dia segera bertanya pada pelayannya yang juga ada didalam kereta. "Lin, menurutmu apa arti dari tatapan yang kosong?" Tanyanya pada gadis pelayan bernama Lin.


"Kenapa Putri menanyakan itu?"


"Jawab saja!?"


"Aku tidak tahu jawaban ini bisa memuaskan atau tidak karena ini menurutku sendiri. Orang yang biasanya memiliki tatapan kosong memiliki kehidupan yang lebih pahit dari pada orang lain. Karena orang orang yang selalu menolak keberadaan mereka membuat mereka bisa menjadi penjahat. Biasanya hati mereka juga kosong, karena itu orang orang seperti itu sulit untuk membedakan berbagai hal." Jawab Lin.


Setelah mendapatkan jawabannya membuat Mei Nian sedikit mengerti kenapa Zhen menatapnya seperti itu. Mungkin karena Zhen merasa kalau Mei Nian tidak menginginkan keberadaannya. Itu ada benarnya, karena Mei Nian merasa orang orang seperti Zhen hanya akan menjadi pembuat masalah. Tapi sepertinya dirinya yang lebih membuat masalah. "Aku harus bertemu dengannya!?" Ujarnya.


"Apa pria tampan yang tadi malam?" Tanya Lin.


Mei Nian membelalakkan matanya karena Lin ternyata tahu, "Bagaimana kau tahu?" Tanya Mei Nian.


"Semalam Putri selalu menempel padanya, bagaimana aku tidak tahu?" Ujar Lin, "Oh iya, aku hampir lupa pagi pagi sekali pria tampan itu sempat mengatakan sesuatu untuk Putri melalui ku." Lanjut Lin teringat pesan lisan yang dikatakan Zhen.


Mei Nian langsung bersiap mendengarkan perkataan pelayannya itu, "Apa katanya?" Tanya Mei Nian tidak sabar.


"Katanya dia tidak akan melakukan apa yang Putri khawatirkan selama Putri tidak ikut campur apa yang terjadi nanti." Ujar Lin mengatakan apa yang Zhen katakan untuk Mei Nian. Sebenarnya dia tidak tahu maksudnya, mereka bukannya belum lama bertemu kenapa Zhen tahu apa yang dikhawatirkan majikannya?


Mei Nian mematung ditempat mendengar pesan itu. Dia tak menyangka jika Zhen tahu kalau dirinya pernah mereinkarnasi. 'Siapa sebenarnya orang itu?' Pikir Mei Nian.


...***...


Zhen dan gadis aneh sampai di kota Beimang. Ada satu tempat yang menarik perhatian Zhen saat ini yang pasti bukan kedai. Yang membuat Zhen tertarik karena ia melihat beberapa pria keluar dari tempat itu dengan senyuman diwajah mereka. Akhir akhir ini dirinya masih dibuat bingung dengan keputusan yang harus dibuat. Jadi Zhen ingin membuat dirinya senang dengan mencoba masuk ke sana. Itu adalah tempat penuh mewangian, dimana pria dapat memuaskan hasrat mereka jika masuk kedalam.


Tidak lama datang seorang pria tampan dengan kuda coklat juga berhenti didepan rumah bordil tersebut. Pria itu berpakaian mewah, tampaknya dia berasal dari keluarga ternama di kota Beimang. Dia menghampiri Zhen yang masih berdiri didepan, "Jika kau hanya ingin berdiri didepan tanpa ada niatan masuk lebih baik kau pergi. Apa kau tidak sadar sudah menakuti para gadis?" Ujar pria itu sembari menunjuk lantai atas yang memperlihatkan beberapa gadis berbisik mengenai Zhen.


Pria itu semakin mendekat dan memperhatikan penampilan Zhen dari atas sampai bawah. "Apa kau baru pertama kali ke tempat ini?" Tanya pria itu. Tapi Zhen seperti tidak mempedulikan ucapannya. "Yah, acuhkan saja aku. Sebenarnya aku juga baru pertama kali ini masuk ke tempat seperti ini. Jika kau mau kita bisa masuk bersama." Ujarnya.


"Tidak." Jawab Zhen.


Zhen berbalik dan melihat gadis aneh, "Kau harus menungguku disini, mengerti?" Tanyanya dengan disambut anggukan dari gadis itu.


Lalu Zhen berjalan masuk kedalam. Saat telah masuk ke dalam langsung disambut dengan wangi yang menyengat dihidungnya yang sangat sensitif. Tanpa sadar ia menutupi hidungnya. Mewangian ini membuatnya sedikit pusing. Bagaimana bisa kereka tahat dengan wangi yang menyengat ini?


"Ada yang bisa dibantu tuan?" Tanya seorang wanita cantik menghampiri Zhen.


Sontak Zhen langsung kaget dengan kemunculan wanita ini tiba tiba. Itu karena ia melihat kalau wanita itu adalah sosok Wei Shuji yang telah mati penuh darah ditubuhnya. Tidak lama tempat ini juga mengalir darah dari atas atap. "Ah, itu, tempat…" Dirinya mulai panik disaat seperti ini.


Dimatanya senyuman wanita itu tampak seperti seringaian, "Ah~ maksud tuan kamar? Kami akan mengantar tuan ke kamar khusus~" Ujarnya sembari mengeluarkan pisau. Tentu saja itu semua hanya ilusi yang Zhen lihat.


Wanita itu menuntun Zhen ke salah satu kamar. Zhen masuk kedalamnya diikuti dengan pintu yang ditutup. Kamar yang penuh darah dimana mana. "Mereka, kenapa membawaku ke sini?" Ujarnya panik. Tentu saja apa yang ia lihat semuanya hanya ilusi belaka. "Apa mereka ingin membunuhku diam diam? Seperti yang mereka lakukan padaku di hutan hitam?" Ujarnya penuh kepanikan.


Sreek


Dari ambang pintu terlihat seorang wanita cantik berambut hitam bermata merah menghampiri Zhen dengan cambuk ditangannya. Membuat Zhen berjalan mundur dengan wajah tak percaya. Wanita itu adalah Jiafen, dia berjalan mendekat padanya dengan senyum jahat khas darinya. "Berani sekali, Zhen'er kabur dariku. Malam ini, kau harus mendapatkan hukumannya!?" Ujar Jiafen.


Brak


Zhen menabrak beberapa barang di kamar itu dan menabrak dinding, "TIDAK!? JANGAN MENDEKAT!?" Teriaknya sembari menutupi wajah. Sepertinya rasa takut yang ditanamkan Jiafen pada dirinya masih ada.


"T tuan? Kenapa anda tiba tiba berteriak? Apa anda baik baik saja?" Tanya seorang wanita yang kini penampilannya berbeda jauh dengan Jiafen. Tampak wanita itu panik karena Zhen seperti ketakutan dengan dirinya.


Saat di lihat kembali ternyata bukan Jiafen. Zhen menengok ke kanan dan ke kiri. Tidak ada wanita itu disini. "A aku, aku baik baik saja." Jawab Zhen gugup.


"Tenanglah tuan~ ayo lakukan pelan pelan saja." Ujar wanita itu sembari menarik tangan Zhen untuk duduk bersama.


Zhen pikir, ini tempat apa sampai bisa membuat mereka sesenang itu. Ternyata ini tempat para wanita menggoda pria. Wanita disampingnya terus bicara untuk tidak membuat suasana canggung. Sedangkan Zhen tampak tidak mendengarkan apa yang dibicarakannya. Ia hanya menatap kosong udara. Tiba tiba saja ia seperti menyadari sesuatu…


"Berapa banyak orang disini?"


...~~...


...-...


...-...


...SEMOGA SUKA...