
"Teman? Aku tidak membutuhkan hal yang seperti itu. Silahkan saja jika kau ingin mengatakannya pada mereka. Aku tidak peduli." Ujar Zhen acuh tak acuh.
Mendengar jawaban yang tidak diinginkannya membuat Nie Fuwei harus memutar otak. "Baiklah aku menyerah, apa yang harus kulakukan agar kau membiarkanku menjadi temanmu?" Tanyanya gang akhirnya menyerah karena tidak bisa berpikir lebih keras lagi.
Zhen tersenyum samar karena akhirnya jebakannya berhasil. "Apapun?" Tanya Zhen memastikan.
"Ya, apapun."
"Besok, kita akan menyerang wilayah Raja Kucing Petir. Aku ingin kau menyelamatkan mereka!" Ujar Zhen disambut pelototan dari Nie Fuwei.
"Apa?! Tapi itu perintah Raja. Kita tidak bisa membantahnya, a apa tidak ada permintaan lain?" Tanyanya, permintaan Zhen benar benar tidak terduga bagi Nie Fuwei. Mengubah apa yang telah diperintahkan Ketua Klan itu tidak mudah. Bahkan hanya 0.01% baginya untuk berhasil.
"Tidak, jika kau tidak bisa maka lupakan saja. Sekarang pergilah dan kembali ke rumahmu!" Ujar Zhen langsung mengusir wanita cantik didepannya tanpa basa basi. Tidak peduli lagi dengan wanita itu Zhen berjalan ke arah rak buku untuk membaca beberapa buku.
Tapi Nie Fuwei tidak pergi dan masih berdiri ditempatnya. Dia benar benar bimbang dengan apa yang hatus dilakukan. Melawan perintah Raja itu tidak diperbolehkan didalam klan. Disisi lain dirinya juga tidak ingin menjauh dari Zhen. Entah dirinya disihir atau tidak, tapi dia sama sekali tidak bisa melupakan pria itu. "B baiklah!?" Ujarnya sembari berbalik menghadap Zhen yang tengah membelakanginya membaca buku ditempat. "Aku akan melakukan apa yang kau inginkan. Tapi aku tidak janji akan berhasil. Dan jika aku berhasil maka kau harus menepati ucapanmu!?" Ujar Nie Fuwei yang kemudian berjalan keluar.
Zhen tersenyum senang karena Nie Fuwei menyetujui keinginannya.
Nie Fuwei keluar dengan raut wajah gelisah apakah dirinya akan berhasil atau tidak.
Bruk
"Akh, m maaf!?" Ujar seorang pria dengan suara lembut.
" Ah, Tidak apa apa." Jawab Nie Fuwei. Saat melihat siapa yang ditabraknya ternyata itu anak pertama Ketua Klan, Ming Jia Jun. Melihat Jun yang sepertinya bungung kenapa Nie Fuwei keluar dari kamar Zhen, dia langsung berlari menjauh dari Jun.
Sedangkan Jun sendiri masih bertanya tanya ada urusan apa anak tetua ke-2 Nie Fuwei sampai datang ke kamar Zhen. Nie Fuwei adalah gadis tercantik di Klan, dan Zhen adalah pemuda yang sering menyendiri. Laki laki dan perempuan dalan satu ruangan? 'Apa mungkin mereka memiliki hubungan?' Pikir Jun sembari senyam senyum memikirkannya. Dia melanjutkan langkahnya untuk enemui Zhen.
Tok tok tok
"Zhen, ini aku! apa boleh aku masuk?"
"Ah, iya tunggu sebentar!?" Terdengar suara langkah kaki dari dalam. Pintu terbuka yang memperlihatkan seorang anak laki laki bermata merah terang saat malam.
Sejujurnya Jun tidak pernah terbiasa dengan mata Zhen yang terbilang menyeramkan. "Kakak akhirnya datang!?" Ujar Zhen dengan senyuman senangnya meskipun lebih terlihat seperti senyum jahat.
Mereka masuk ke dalam ruangan, "Apa yang ingin kau tunjukkan padaku sampai tidak boleh satupun orang yang tahu?" Tanya Jun. Dirinya diminta untuk datang secara rahasia tanpa seorang pun yang tahu oleh Zhen. Sepertinya ini adalah sesuatu yang sangat penting.
"Ini!!" Zhen menyodorkan sebuah kantung.
Jun langsung mengambil kantung hitam yang diberikan Zhen. Dia membukanya karena penasaran dengan isinya. Saat dibuka Jun kaget dengan isi kantung tersebut. "Ini, dimana kau mendapatkannya?"
Melihat reaksi Jun yang tampak serius nampaknya benda didalam kantung hitam bukanlah barang biasa. "Aku mendapatkannya dari seseorang yang diam diam mengawasiku. Dia kabur saat bertarung denganku dan menjatuhkan ini." Jelas Zhen. Sebenarnya dirinya membunuh orang yang diam diam mengawasinya dan tidak membiarkannya kabur. Namun ia berpikir jika Jun mengetahui dirinya membunuh seseorang maka ia akan dijauhi oleh Jun. Itu adalah minpi terburuknya.
Ini pertama kainya Jun meminta sesuatu seperti janji padanya, "Iya, tentu saja. Aku tidak akan memberitahu siapapun." Ujar Zhen langsung menyetujuinya tanpa berpikir panjang.
"Bagus kalau begitu. Aku akan kembali ke kediamanku." Ujar Jun sembari membawa kantung hitam ditangannya.
Ketika Jun akan pergi Zhen masih penasaran dengan benda yang ia berikan pada Jun. "Itu, sebenarnya apa itu?" Tanya Zhen.
Langkah Jun berhenti ketika pertanyaan ini akhirnya muncul. Dia berbalik dan memberikan senyuman pada Zhen untuk tidak membuatnya salah paham, "Ini hanya barang milik dunia luar hutan. Bisa bahaya jika ini diketahui orang lain. Makanya harus disembunyikan." Ujar Jun.
Sebenarnya alasan yang diberikan Jun sedikit tidak masuk akal. Zhen tidak sebodoh itu untuk dibohongi dengan kebohongan yang sangat jelas. Tapi meskipun begitu, "Jadi begitu. Kalau begitu hati hati saat kembali." Ujar Zhen sembari tersenyum manis. Jun keluar dan kembali ke kediamannya. Seketika senyumnya langsung pudar dan diganti dengan wajah dingin. "Pergi dan cari tahu benda apa itu! Dan jangan sampai Kakak tahu!?" Ujar Zhen pada elemennya sendiri yang.
"Baik, tuan~"
Setelahnya kabut hitam perlahan menghilang.
...***...
Pagi hari…
Zhen tetap berada dikamar dan membaca buku. Apa yang dirinya baca bukanlah buku biasa, melainkan buku jurus penakluk monster yang ditinggalkan Kakek Luan. Ini seharusnya jurus untuk elemen pemanggil. Namun entah kenapa Kakek Luan meninggalkan jurus ini. 'Mempelajarinya sama sekali tidak sulit, hanya saja aku tidak memiliki elemen pemanggil. Tapi, bagaimana jika aku menjadikan jurus ini menjadi jurusku sendiri dengan mengubah beberapa bagian didalamnya yang memerlukan pemanggil monster.' Zhen tersenyum jahat memikirkan bagaimana ia akan mengubah jurus penakluk monster yang awalnya untuk elemen pemanggil menjadi elemen kegelapan.
"Akan jadi seperti apa ya~ Ha ha ha ha ha ha__" Tiba tiba Zhen berhenti tertawa. Ia sendiri tidak tahu kenapa dirinya tertawa. Apalagi tawanya terdengar jahat, ini jadi seperti dirinya adalah penjahat. Karena seharusnya ia jadi orang baik, bukannya penjahat. 'Kenapa aku malah tertawa? Tidak tidak, orang baik tidak boleh tertawa jahat seperti ini. Seharusnya aku tersenyum seperti orang baik saja.' Pikirnya. Zhen tersenyum seperti orang baik yang ia pikirkan. Namun senyum yang terlihat diwajahnya adalah senyum licik orang jahat.
"Apa yang kau senyumkan?" Tanya Nie Fuwei yang tiba tiba berada di luar jendela tepat di samping Zhen. Dia bersender sembari memperhatikan Zhen yang sedang tersenyum seperti orang jahat.
Zhen terkejut dengan kedatangan wanita ini. Jika diperhatikan sepertinya dia ingin menyampaikan sesuatu pada Zhen. "Ada apa kau kesini?" Tanya Zhen dingin.
"Aiss, kenapa kau dingin sekali? Padahal aku sudah bersusah payah melakukan apa yang kau inginkan. Seharusnya kau mengatakan terima kasih jika tidak kau harus menyambutku dengan ramah dan senyuman." Ujar Nie Fuwei sembari mengerucutkan bibirnya. Lama lama dirinya kesal karena pria ini sama sekali tidak memiliki hati dan perhatian padanya.
Meskipun tidak bersimpati dengan kesalnya Nie Fuwei taoi Zhen tetap harus mengatakannya, "Ada apa nona Fuwei kemari?" Tanya Zhen dengan senyuman ramah yang Nie Fuwei harapkan. Kalau saja Zhen tidak mengandalkan Nie Fuwei untuk menyelamatkan wilayah Kucing Petir dirinya tidak akan mau melakukan ini.
Seperti disihir, jantungnya jadi berdetak kencang ketika Zhen tersenyum padanya. Itu terlihat jelas di pipinya yang merah merona.
...~~...
...-...
...-...
...SEMOGA SUKA...