
Yu Yao yang ditemani An Mian pelayannya mengajak Zhen jalan jalan keluar. Mereka akan ke festival lampion malam ini. Karena tertarik dengan namanya, Zhen langsung mengiyakan sekalian melihat lihat seperti apa kehidupan di luar hutan.
Sampai diluar lampion merah dimana mana dan berada disepanjang jalan. Memang sangat indah jika dilihat dari lensa keindahan orang normal. Namun beda lagi jika dilihat dari pandangan Zhen, "Apa disini telah terjadi perang?" Tanya Zhen sembari melihat ke sekeliling kebingungan.
"A apa?" Kaget Yu Yao dan An Mian bersamaan. Tentu saja mereka kaget mendengar pertanyaan Zhen yang tidak masuk akal. Kekaisaran Tang memang sedang berperang melawan kerajaan Xiling. Tapi buat apa perang diadakan di ibu kota? Itu tidak masuk akal. "T tidak terjadi a apa apa disini." Jawab Yu Yao.
Jawabannya membuat Zhen terkejut. 'Berarti ini ilusiku?' Pikir Zhen. Ilusinya memperlihatkan lampion merah ini adalah lampion dipenuhi darah. Makanya ia bertanya seperti itu. "Kalau begitu kita akan kemana?" Tanya Zhen.
"A ayo kita beli m manisan dulu!?" Ajak Yu Yao sembari menarik tangan Zhen dengan penuh semangat. Dia membeli tiga manisan bersama An Mian. Karena An Mian adalah pelayan sekaligus teman masa kecilnya.
'Apa ini?' Tanya Zhen dalam hati membolak balik tanghulu yang keras. Karena terus dibolak balik manisan itu lepas dari gagangnya. Dan membuatnya menjadi kotor karena tanah.
"Ah, j jatuh? A aku akan belikan lagi." Ujar Yu Yao sembari ingin membeli lagi.
"Tidak, tidak usah. Aku tidak suka makanan asin. Ayo ke tempat lain!?" Ujar Zhen kemudian diiyakan oleh Yu Yao.
'Tapi ini manisan, bukan asinan.' Pikir si penjual tanghulu.
Mereka bergi berkeliling berbelanja ini itu. Pelajaran yang Zhen dapat dari berkeliling adalah uang. Mereka menukarkan barang dengan barang lainnya untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Dan uang adalah perantaranya. Sepuluh koin tembaga sama dengan satu perak dan seratus perak sama dengan satu koin emas.
"Z Zhen, bagaimana jika k kita naik perahu ke d danau?" Tanya Yu Yao dengan pipi merona.
"Danau?" Tanya Zhen dijawab anggukan dari Yu Yao. Lalu ia melihat ke danau yang dipenuhi lampion merah. "Tidak, aku tidak suka berada di tengah air. Kau naik dengan An Mian saja." Ujarnya menolak permintaan Yu Yao yang ini. Dirinya benar benar tidak suka dengan air. Karena dulu pernah dibuat tenggelam oleh Jiafen di danau teratai biru. Jadi sekarang ia tidak ingin berurusan dengan danau, sungai, atau laut dan tempat yang bisa membuatnya tenggelam.
"T tapi…" Yu Yao ingin naik berdua dengan Zhen di malam lampion ini.
"Aku akan menunggu disini." Ujar Zhen.
"B baiklah…" Jawab Yu Yao tidak bersemangat. Dia pergi bersama An Mian untuk menaiki perahu.
Lagipula Zhen heran, bagaimana bisa mereka memuaskan kesenangan mereka hanya dengan naik perahu? 'Membunuh lebih menyenangkan daripada perahu.' Pikirnya suka suka sendiri. Lalu matanya melihat seorang nenek penjual buku dibawah pohon besar. Buku buku itu disusun rapi diatas alas.
Zhen mengambil salah satu buku siapa tahu isinya jurus hebat. Tapi saat ia membuka buku, bukan jurus yang terlihat melainkan kata kata manis penuh khayalan didalamnya. "Kenapa kau menjual buku tidak berguna seperti ini?" Tanya Zhen heran, kata kata kasarnya menarik perhatian beberapa orang yang lewat. Seorang pemuda tampan berkata kasar pada nenek tua? Ck ck ck, sangat tidak sopan. Tapi jika mereka tahu Zhen lebih tua dari si nenek mereka akan melongo.
"Jadi kau ingin beli atau tidak?" Tanya nenek tua bertubuh agak gemuk dengan tompel dipipi kiri dan gigi ompong sana sini. Dia sekitar berusia tujuh puluhan.
"Aku ingin bertanya sebelum membeli." Ujar Zhen meskipun ia tidak punya uang.
Nenek tua itu hanya bisa menggeleng, "Aku tidak mengira akan ada pelanggan semenyebalkan dirimu. Buku ditanganmu adalah novel yang dikarang oleh beberapa orang. Tidak ada jurus atau tehnik rahasia didalamnya. Itu hanya cerita yang dikarang seseorang." Jelas nenek tua itu.
"Buku yang tidak berguna!? Kenapa mereka mau membaca buku tidak berguna seperti ini?" Ujar Zhen tidak mengerti.
Nenek tua itu melihat Zhen dalam, "Entahlah, kenapa mereka mau membacanya. Tapi terkadang seseorang lebih membutuhkan cerita manis penuh khayalan untuk menutupi kenyataan hidup mereka yang pahit." Ujar nenek tua itu.
Kata kata nenek tua itu seperti ditujukan pada dirinya yang memiliki kehidupan yang pahit.
"Jadi apa kau ingin membelinya?" Tanya si nenek dengan senyum memperlihatkan gigi ompongnya.
"Aku tidak punya uang." Ujar Zhen.
Senyum nenek itu pudar mendengar Zhen tidak punya uang. Lalu untuk apa dari tadi dia bertanya tapi tidak punya uang. "Haah, sudahlah. Ambil saja buku itu untukmu!? Anggap saja aku memberikannya sebagai hadiah." Ujarnya setelah memperhatikan pakaian Zhen seperti orang susah meskipun memiliki wajah yang tampan.
Buk buk buk
Diujung jalan sempit tampak seorang pria dipukuli babak belur oleh tiga orang berpakaian merah. Pria itu juga memakai pakaian yang sama dengan mereka, tapi sepertinya mereka membulinya.
"Kau berani melawan kami hah? Kau berani?" Bentak salah satu pria ditengah.
"Ayo kita bunuh saja dia!?"
"Lagipula sampah sepertinya pantas mati!?"
Mereka terus menerus memukuli pria itu sampai membuatnya sekarat.
Duk
Tiba tiba sebuah buku jatuh tepat ke kepala salah satu dari mereka. "Siapa kep*rat yang melempar buku ke arahku?" Tanya orang yang ditengah marah.
Mereka mencari lalu salah satu temannya menemukan orangnya, "Itu dia!? kep*rat itu diatas!?" Ujar temannya itu sembari menunjuk le atas pohon.
Mereka belihat atas pohon dan melihat seorang pemuda bermata merah sedang menatap mereka dari atas.
"Turun kau kep*rat!? Jika kau berani lawan kami." Ujarnya sombong.
Setelah itu Zhen turun yang…
Duak!? Duak!? Duak!?
Kakinya yang tak memakai apapun menginjak wajah ketiga orang itu bergiliran. Lalu mengambil bukunya yang merupakan hadiah nenek tua. "Aku tidak sengaja menjatuhkan buku ku, kenapa kau semarah itu?" Ujarnya sembari menyimpan buku itu ke sakunya.
"Kep*rat ini…" Mereka tampak geram setelah diinjak oleh Zhen.
"T To long!?" Pinta seseorang sembari memegang kaki Zhen. Saat melihat siapa yang berani memegang kakinya terlihat orang yang mereka pukuli sedang meminta tolong padanya.
"Berani sekali kau mengabaikan kami. Ayo serang dia!?" Terial yang ditengah. Mereka bertiga akan menggunakan tehnik andalan mereka, namun sebelum bisa menyerang Zhen mengulurkan tangannya yang ajaibnya ada perisai angin hitam menahan pergerakan mereka.
Sedangkan Zhen sedang saling bertukar penawaran dengan si peminta tolong. "Apa yang bisa kau berikan padaku jika aku menolongmu?" Tanya Zhen.
"A apa pun yang kau minta." Ujarnya pasrah.
"Baiklah!?" Ujar Zhen lalu membuat perisai angin hitam semakin besar yang kemudian melahap mereka bertiga menjadi tulang belulang.
Pemuda dibawah Zhen terbelalak kaget melihat Zhen begitu hebat.
...~~~...
...-...
...-...
...SEMOGA SUKA...