
Di tenda Jenderal Mu terlihat seorang orang tua yang masih bugar dengan tubuhnya yang kekar. Dia sedang berdiskusi dengan Mu Kong, Jenderal yang memimpin jalannya perang. "Mu Kong, ada yang ingin aku tanyakan padamu." Ujar orang tua itu.
"Ya? Apa yang ingin senior tanyakan?" Tanya Mu Kong, sepertinya mereka memiliki hubungan yang baik.
"Aku lihat dibelakang para prajurit berlatih duduk seorang berjubah hitam. Apa dia adalah orang yang menolongmu?" Tanya Fang Yuan, nama orang tua tersebut. Dia adalah Jenderal tertinggi di kerajaan Xiling.
Mu Kong tersenyum pahit mendengar kalau Zhen menolongnya. Dirinya tidak tahu harus senang atau sedih karena cara Zhen membunuh musuh itu tidak manusiawi. Bahkan setelah membunuh banyak orang dirinya masih bisa melihat Mu Kong dengan wajah polosnya. Entah dirinya memang polos atau tidak, tapi sejujurnya Mu Kong merasa takut dengannya. "Ya, dia memang membantuku. Tapi sebaiknya kita tidak perlu meminta bantuannya lagi." Ujar Mu Kong menyarankan.
Tentu saja itu membuat Fang Yuan heran mendengar Mu Kong tidak ingin mendapat bantuan dari orang kuat. "Kenapa kau tidak ingin bantuannya? Apa karena dia dari aliran hitam? Kau tenang saja, aku tidak akan membiarkan dia berbiat seenaknya."Ujar Fang Yuan meyakinkan. Dirinya memang datang membawa bala bantuan. Tapi bantuan Zhen itu masih diperlukan.
Mu Kong menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku tidak masalah dia dari mana. Tapi yang menjadi masalah adalah kepribadiannya. Dia terlalu aneh dan mencurigakan. Caranya membunuh sama sekali bukan seperti manusia, itu lebih mirip monster. Takut takut dia malah menyerang kita balik. Bahkan orang orang dari aliran hitam tidak sekejam cara membunuhnya. Aku sangat tidak suka jika dia ikut, lebih baik kita berperang tanpanya saja." Jelasnya.
"Lalu kenapa kau tidak mengusirnya?"
"Bagaimana bisa aku mengusir pemuda itu, sedangkan dia bisa saja membunuhku kapan saja." Lanjut Mu Kong.
Di luar tenda…
"Ehm Zhen, aku ada urusan sebentar dengan perutku. Kau bisa kembali ke tenda sendiri bukan?" Tanya Li Meng sembari memegangi perutnya yang melilit.
"Ya." Jawab Zhen singkat.
Setelah itu Li Meng pergi dengan cepat. Zhen yang buta arah tidak tahu harus kemana. Dirinya mengatakan iya karena merasa Li Meng akan mengeluarkan sesuatu dari jalan belakang jika tidak mengijinkannya. Akhirnya ia pergi mengikuti kakinya saja.
Tepat berada di tenda Jenderal Mu, ia mendengar sesuatu yang tak ingin didengarnya.
"Baiklah, kalau begitu kita tidak perlu membawanya."
Zhen menaikkan alisnya mendengar seseorang dari dalam tenda Jenderal Mu mengatakan tidak akan membawa sesuatu. 'Apa yang tidak ingin mereka bawa?' Tanya Zhen dalam hati. Karena penasaran dirinya ingin berjalan masuk, namun terdengar suara lagi…
"Apapun keputusannya terserah dirimu. Oh ya, namanya Zhen bukan? Kurasa memang ada yang aneh darinya."
"Asal senior tahu, dia bahkan meminum darah para prajurit musuh. Wajar saja aku tidak ingin membawanya."
Zhen membelalakkan matanya mendengar kalau mereka tidak ingin membawanya. Tidak, ini tidak boleh terjadi. Dirinya harus ikut dalam perang. Karena ini adalah salah satu cara terbesar mencari korban tungku untuk dirinya sendiri. "Tidak boleh!? Ini tidak boleh terjadi!? Mereka tidak boleh membuangku!?" Gumannya panik. Zhen mengigiti kukunya sendiri berusaha tetap tenang karena dirinya mudah panik.
Akhirnya tercetus sebuah ide gila dipikirannya, 'Bagaimana jika aku membunuh mereka? Dan menyerang pasukan musuh. Dengan begitu aku bisa mendapatkan lebih banyak tumbal!? Lalu aku bisa segera bertemu kakak!?' Zhen tersenyum senang memperlihatkan giginya yang rapi.
"Siapa yang akan kau buang?" Ujar Zhen sembari masuk kedalam tenda.
Kedua orang itu langsung kaget mendapati Zhen mendengar percakapan mereka. Dilihat dari reaksinya saat ini sepertinya dia sangat marah. Tapi kata kata buang terdengar aneh ditelinga mereka. " Zhen akan kujelaskan, kau tidak perlu ikut dalam perang kali ini. Aku sudah mendapatkan bala bantuan dari Jenderal Fang. Terima kasih atas bantuanmu beberapa hari yang lalu." Ujar Mu Kong dengan wajah serius dan tangan yang memegang gagang pedang erat erat.
Zhen tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Itu memang penolakan yang halus dan tepat karena orang tua yang dipanggil Jenderal Fang ini membawa dua ribu pasukan. "Itu masih kurang?!" Ujar Zhen.
Kedua Jenderal itu saling adu tatap. Mereka bingung dengan kata kata Zhen yang mengatakan pasukannya kurang. Memang pasukannya sedikit, tapi itu cukup untuk bertempur. "Apa maksudmu?" Tanya Fang Yuan bingung.
Zhen mendongakkan kepalanya dan memperlihatkan seluruh wajahnya. Terlihat dari matanya yang berwarna merah kalau saat ini ia sedang marah. "Tungku ku masih kurang!?" Ujarnya sekali lagi.
Kedua orang itu langsung menarik pedang mereka setelah menyadari kalau Zhen berniat menjadikan mereka tumbal.
Trang
Serangan mereka mengenai barang lain sedangkan Zhen sudah menghindar. Tanpa ada suara sedikitpun tiba tiba Zhen sudah mencekik leher mereka berdua. Cengkramannya sangat kuat, meskipun keduanya berada di ranah yang tinggi tapi tubuh mereka tidak bisa bergerak ketika Zhen mencengkramnya.
"AARRGGHH!?!?"
Bruk
Zhen melepaskan cengkramannya setelah mereka tidak berguna lagi. terlihat senyum kecil diwajahnya. Lalu melentangkan kedua tangannya membuat pelindung hitam mengelilingi kamp.
Seluruh kamp prajurit tertutupi pelindung berwarna hitam. Mereka merasa panik dengan adanya pelindung ini. Hati mereka merasa khawatir dengan apa yang akan terjadi. Tak lama kekhawatiran mereka terjadi. Seluruh tubuh merasa panas seperti terbakar api. Teriakan mereka memenuhi pelindung, sedangkan Zhen menikmati teriakan mereka. Ia berjalan keluar mengelilingi tempat yang penuh teriakan ini. Meskipun bibirnya tidak tersenyum, tapi wajahnya menunjukkan kalau dirinya sedang senang.
Ditengah tengah orang yang meminta tolong padanya dengan penampilan seperti mayat hidup, Zhen mengabaikan mereka. Dirinya tetap berjalan sepanjang jalan dengan setiap orang mendekat meraung kesakitan. Baru kemarin orang orang itu mengatakan tidak menyukai dirinya. Sekarang mereka meminta tolong padanya.
Di luar kamp masih ada prajurit yang keheranan dengan kubah besar berwarna hitam ini. Sejak kapan mereka memasang hal yang seperti ini?
Tidak lama kubah terbuka dan memperlihatkan hal paling mengerikan yang pernah mereka lihat.
"To lo ng!?" Permintaan tolong datang dari bawah kaki mereka.
"Hwaaa!?"
Duak
Sontak salah satu dari mereka menendang orang yang meminta tolong. Mereka segera mundur menjauh. Karena seseorang yang meminta tolong seperti mayat hidup yang akan mati.
Mayat yang ditendang sampai ke kaki Zhen yang saat itu pas sekali menemukan jalan keluar kamp.
"To lo ng!? A ku!?" Pinta mayat tersebut.
Zhen berlutut satu kaki lalu mengelus pipi kering mayat itu. Bibirnya tersenyum samar melihatnya. Kemudian ia bangun dan…
Jrat
Kakinya yang biasa tak memakai apapun menginjak kepalanya hingga hancur. Setelah itu ia berjalan menuju prajurit yang tersisa dengan tapak kaki penuh darah.
Mereka sangat ketakutan ketika Zhen berjalan kearah mereka. Jumlah mereka kira kira ada lima puluh orang.
"Kenapa… kenapa kau mengkhianati kami?" Tanya marah seorang prajurit pada Zhen. Dia menatap marah Zhen yang membinasakan seluruh kamp tanpa sisa.
Namun keberanian prajurit itu hanya sampai disini karena Zhen menatapnya datar. "Aku tidak mengkhianati kalian, tapi pemimpinmu yang mengkhianatiku." Ujarnya yang kemudian menyulut amarah mereka.
Tidak lama mereka menyerang secara urak urakan. Hal itu tentu membuat pekerjaan Zhen mudah tanpa harus mendekati mereka lebih dulu.
Setelah membunuh prajurit yang tersisa Zhen kembali berjalan tanpa arah. Mulut dan lehernya dipenuhi noda darah. Begitupun dengan kakinya yang memiliki tapak berdarah juga jubahnya yang terus menetes cairan berwarna merah.
Dalam perjalanannya yang tanpa arah ini ia bertemu dengan Li Meng yang telah melakukan panggilan alam.
Li Meng terbelalak kaget melihat Zhen yang dipenuhi darah. Untungnya panggilan alamnya berhasil menyelamatkannya dari amarah Zhen beberapa saat yang lalu.
...~~~...
...-...
...-...
...SEMOGA SUKA...