I'M Zhen

I'M Zhen
Bab 17. Waktu yang berlalu



Crat!?


Tubuh beberapa monster berhasil tertebas menjadi beberapa bagian oleh seorang pemuda yang berpakaian hitam yang menutupi sebagian wajahnya dengan masker kain hitam yang diikatkan disebagian wajah. Rambut panjangnya yang diikat membuatnya menawan diantara para mayat. Darah menciprat ke wajahnya yang tertutup sebagian. Disekitarnya juga ada banyak potongan potongan tubuh monster dimana mana.


"Hei, bed*b*h?! Apa kau sudah selesai di wilayah ini?" Tanya seorang pemuda gemuk, bermata sipit, bibir kecil, dan ada banyak lemak di pipinya. Pemuda itu juga memegang daging panggang ditangannya. Dia dengan beberapa puluh orang yang lain berada dibelakangnya. Mereka terlihat mengenakan pakaian hitam yang sama persis dengan pemuda yang membunuh monster. Namun pakaian mereka semua terlihat sangat bersih sehingga tak terlihat sudah membunuh monster.


Tak!?


Pemuda gemuk itu melempar daging panggangnya ke kepala pemuda yang membunuh monster dengan sengaja. Dia menghampiri pemuda ramping dan bermasker itu dengan mengepal kedua tangannya, "Jika ditanya kau harus menjawabnya, bukan? Berani sekali kau tidak menjawabku. Kau itu hanya anjing suruhan yang dikirim oleh Raja!?" Ujar pemuda gendut itu menunjuk nunjuk pelipis kepala pemuda itu dari samping.


Grab


Sontak pemuda itu mencengkram tangan pemuda gendut dengan sangat keras. Hingga membuat pemuda gendut berteriak kesakitan, "Aaghh aagghh!? Apa yang kau lakukan? Apa kau sudah gila? Lepaskan! Lepaskan aku!?"


Mata pemuda itu semakin merah terang melihat pemuda gendut itu kesakitan. Dari balik kain hitam yang menutupi wajahnya tercetak senyum samar dibaliknya. Lalu dirinya melepas tangan pemuda gendut itu sembari tersenyum ramah tiba tiba, "Ah~ maafkan aku Liubai, terkadang membutuhkan kepastian untuk mengetahui mereka sudah mati atau belum. Karena saat kubunuh mereka tidak berteriak sedikitpun. Jadi untuk memastikannya aku melakukannya padamu. Kau tidak marah, kan?" Ujar pemuda itu menatap dalam pemuda bernama Liubai dengan mata merah darahnya.


Pemuda gendut bernama Liubai ini menggertakkan giginya sembari melihat jengkel pemuda didepannya. "Cih, ayo kita pergi dari sini dan melaporkannya ke Raja." Ujar Liubai pada bawahannya yang dibelakang. Dia berbalik pergi meninggalkan pemuda serba hitam itu.


Ketika pemuda itu akan ikut bersama dengan rombongan mereka…


"Eh eh eh, mau apa kau?" Tanya Liubai yang merasa pemuda itu mengikuti rombongan.


"Tentu saja pulang."


Terlihat senyum sombong diwajahnya, "Heh, lihat kekacauan di sekitarmu! Kau harus membereskan saudara saudara menjijikanmu itu untuk dibawa pulang ke Klan!" Liubai menunjuk nunjuk semua mayat monster yang dibunuh oleh pemuda itu. Setelahnya ia pergi bersama rombongan.


Pemuda itu membulatkan matanya ketika ia harus mengumpulkan semua jasad monster yang ia bunuh. Apalagi yang ia bunuh itu tidak sedikit.


"Tuan muda, apa anda yakin ingin meninggalkannya disini? Aku dengar Yang Mulia kedua buta arah, jika…"


Greb


Liubai tiba tiba menarik kerah baju bawahan yang berkata sebelumnya. Dia memelototi bawahan tersebut hingga membuat gemetar ketakutan. "Jika kau berkata seperti itu lagi maka aku tidak akan segan segan membunuhmu!? Mengerti?!" Ujar Liubai membentak bawahannya tersebut. Tentunya bawahannya itu langsung menjawabnya dengan pasti. Barulah setelah itu ia melepas kerah baju yang ditarik. "Dia sudah mempermalukanku barusan, si brengsek itu pantas mendapatkannya!?" Senyum licik tercetak diwajahnya yang gemuk.


Seperti yang diperintahkan, pemuda itu mengumpulkan jasad jasad monster didalam cincin penyimpanannya. "Si gendut sialan!? Dia sengaja menahanku disini padahal dia tahu aku buta arah." Umpat pemuda itu yang tak lain adalah Ming Jia Zhen. Sekarang tingginya sudah bertambah banyak dan tidak kecil lagi seperti dulu. Karena beberapa tahun telah berlalu yang membuatnya tumbuh besar.


Krasak krasak


Tiba tiba terdengar suara berisik dari balik pohon, "Siapa?" Tanya Zhen memastikan. Keluar seekor kucing petir tingkat 11. Kucing petir adalah salah satu monster yang ramah jika tidak diganggu. Ciri cirinya sama seperti kucing biasa, namun ada benerapa jejak seperti petir di bulunya yang hitam. Dan jejak itu bercahaya sehingga mudah dikenali.


"T tolong jangan bunuh aku!? A aku akan mengantarmu kembali ke asalmu asalkan kau tidak membunuhku." Mohon kucing tersebut berharap.


"Baiklah, antarkan aku!" Jawab Zhen tanpa pikir panjang. Lagi pula ia tidak ditugaskan untuk membunuh di wilayah Raja Kucing Petir. Jadi tidak ada salahnya jika menerima bantuan yang mendadak ini.


"B benarkah?" Tanyanya ulang namun pertanyaannya itu disambut pelototan dari Zhen yang mengisyaratkan untuk tidak bertanya lagi. Bagai secepat kilat seperti namanya Kucing Petir dalam sekali langkah langsung ada di depan Zhen. "K kalau begitu aku akan mengantarmu!?" Kaki kecilnya berjalan menuntun Zhen untuk pulang.


Dalam perjalanan, terasa hawa dingin dari belakang yang mencekam. Kucing kecil itu merasa merinding disetiap langkah. 'Meskipun dia tidak menggunakan kekuatan aslinya tapi tetap saja terasa bawa dingin darinya miaong. Sangat sangat sangat menyeramkan miaong~ Untung dia menerima bantuanku untuk menuntunnya ke wilayahnya. Lagian dia sangat aneh miaong, memiliki kekuatan yang mengerikan tapi buta arah. Tapi kasihan juga, mereka memperlakukannya dengan tidak adil miaong! Kalau beginikan aku tidak bisa membencinya miaong~' Pikir Kucing Petir kecil yang kasihan pada Zhen.


Ketika Kucing petir menengok ke belakang sekilas, tampak tatapan mata merah yang kosong. Tapi sesaat kemudian mata itu menatap Kucing Petir balik dengan intimidasi yang mengerikan. Kepalanya langsung memutar kembali melihat jalan. 'Lupakan saja, mungkin dia pantas mendapatkannya miaong~' Pikirnya makin ketakutan.


Namun sepertinya Zhen berpikir lain tentang penolongnya ini, 'Aku dengar Kucing Petir adalah monster yang ramah jika tidak diserang. Ternyata itu benar.' Pikir Zhen sembari menatap intens kucing didepannya. Inilah kali pertama Zhen menyukai kucing.


"Kita sudah sampai." Saut Kucing Petir memberitahu Zhen dibelakangnya. "Kalau begitu aku pamit miaong!?" Ujarnya lagi yang ingin cepat cepat pergi dari Zhen.


"Tunggu!" Panggil Zhen dengan nada dinginnya.


Kucing Petir berbalik gemetar, "A ada apa?" Tanyanya takut.


Zhen melempar sekantung batu spiritual monster yang diambilnya dari para monster yang ia bunuh. "Untukmu." Kemudian dia berbalik dan memasuki wilayah Klan Guaiwu.


"T tapi…" Kucing Petir seperti ingin mengatakan sesuatu namun Zhen sudah pergi lebih dulu. "Tapi ini terlalu banyak." Lanjutnya. Dia menatap bungkusan penuh batu berkilau, "Y yah, sepertinya dia orang yang sedikit baik miaong." Ujarnya lalu menggigit bungkusan itu dan pergi dengan kecepatan kilatnya yang menjadi andalan Kucing Petir.


...~~...


...-...


...-...


...SEMOGA SUKA...