I'M Zhen

I'M Zhen
Bab 53. Persiapan ritual



Zhen menutup matanya memulai memasuki ingatan pria itu. Sedangkan pria itu mulai kesakitan ketika Zhen memasuki kesadarannya dengan paksa.


Beberapa saat setelah Zhen melihat ingatan pria itu, ia melepas tangannya. Ketika sudah selesai membaca ingatan Pria itu ternyata dia sudah mati dengan darah keluar dari setiap lubang wajahnya dan mata yang sudah putih semua. "Aku pikir saat orang tua itu melakukannya padaku, aku baik baik saja. Kenapa sekarang malah mati? Aku rasa ada sedikit kesalahan yang kubuat." Ujar Zhen.


Sekarang ia sudah mengetahui apa yang akan mereka lakukan dalam waktu dekat ini.


Ritual Chang Shi


Itu adalah ritual yang dilakukan setiap seratus tahun sekali. Tujuannya untuk membuat pelindung wilayah klan tidak bisa ditembus atau dilihat ancaman dari luar. Karena pelindung itu kian melemah maka dilakukannya ritual ini.


Zhen tersenyum karena ketika ritual itu dimulai adalah saat mereka lengah karena hanya berfokus pada jalannya ritual. Terlihat senyum licik di wajahnya. Tapi tiba tiba senyum itu hilang ketika menyadari sesuatu, 'Tunggu, jika aku membunuh mereka dan kakak malah membenciku bagaimana? Tapi aku mengumpulkan begitu banyak tumbal bukannya untuk membunuh orang orang jahat itu? Bukannya kerja kerasku tersesat di luar hutan akan sia sia? Tidak tidak tidak, kerja kerasku tidak boleh sia sia!? Kakak juga tidak boleh membenciku!? Untuk jaga jaga, aku harus menyamar.' Pikir Zhen kembali tersenyum licik.


...***...


Malam Ritual


Didalam sebuah aula terbuka yang luas terlihat ada banyak dekorasi dan tujuh mangkuk darah yang diletakkan diatas altar yang juga ada tiang besar berwarna merah ditengah altar tersebut. Mereka mempersiapkan begitu banyak persiapan untuk ritual pembaruan pelindung kuno.


Ritual tersebut biasa dilakukan di Amber Palace, yaitu kediaman keenam. Ritual akan dilakukan pada malam hari, tepatnya pada tengah malam ketika bulan purnama muncul.


"Ibu!? Bagaimana persiapannya? Apa kau yakin tidak ingin kubantu?" Tanya Jun pada seorang wanita berparas cantik bagai bidadari, Jiafen.


Jiafen mengelus pipi Jun dengan lembut juga dengan senyuman seorang ibu, "Tidak perlu. Aku dengar kau sudah sangat sibuk dengan semua tugas yang ayahmu berikan. Lagi pula ibu sudah biasa melakukannya sendiri. Kau lakukan saja tugas yang ayahmu berikan." Ujar Jiafen dengan penuh keramahan.


"Nyonya!?" Panggil seorang pria dari belakang yang tak lain adalah Shuwei.


Jun sedikit mengernyitkan tengah alisnya melihat kedatangan pria itu.


Shuwei membisikkan sesuatu ke Jiafen yang kamudian membuatnya tersenyum samar. Setelah itu dia kembali memperhatikan Jun, "Jun'er, hati hati diluar!?" Ujar Jiafen kemudian membuat Jun bingung. Jiafen mengatakan itu seperti akan terjadi sesuatu.


"Kenapa tiba tiba mengatakan itu?" Tanya Jun sedikit penasaran.


"Tidak, hanya saja Shuwei bilang padaku monster di sekitar wilayah ras naga sangat kuat. Jadi aku hanya ingin kau berhati hati meskipun kau sangat kuat." Jelas Jiafen. Meskipun mungkin bukan itu alasan sebenarnya.


Jun hanya tersenyum Jiafen begitu mengkhawatirkannya. "Tentu saja, aku akan segera kembali." Ujarnya.


"Ya, cepatlah kembali." Balasnya seperti ada maksud lain dibelakangnya.


Setelah itu Jun pergi bersama beberapa orang yang terpilih untuk pergi ke wilayah ras naga. Seperti namanya, ras naga. Disana memang benar ads naga, namun mereka sangat pandai menyembunyikan diri sehingga sulit untuk menemukan satu dari mereka. Bukan karena takut, tapi itu memang sudah sifat alami mereka menyembunyikan diri. Satu hal lagi, ras naga sangat bermusuhan dengan klan Guaiwu.


"Apa persiapannya sudah selesai?" Tanya Jiafen pada Shuwei yang masih ada dibelakangnya.


"Ya Nyonya, semuanya sudah selesai." Jawabnya dengan senyum ramah.


"Bagaimana dengan Raja?" Tanyanya.


Tampak senyum senang diwajah Jiafen. "Ya, pergilah." Setelah itu Shuwei pergi setelah sedikit membungkuk pada Jiafen. Dia kini hanya memperhatikan mereka mempersiapkan semuanya. Terlihat diwajahnya senyum yang tak bisa diartikan. 'Sudah sangat lama orang itu tidak ada tapi kau masih saja melihat dia. Aku sudah bersabar begitu lama, namun yang kudapat hanya sikap dingin darimu. Kalau begitu, kenapa kau tidak mati saja? Lagi pula aku masih memiliki Jun'er. Aku tidak membutuhkan apapun lagi selain Jun ku.' Pikirnya dengan mata yang sedikit berair.


...***...


Di sebuah lorong terlihat Nie Fuwei sedang berjalan terburu buru menuju aula tempat ritual. Dia adalah salah satu yang menjalankan jalannya rutual tersebut. 'Aku harus cepat, kalau tidak_' pikir Nie Fuwei yang tiba tiba ada yang menyekapnya dari samping.


"Sssttt!?" Bisik Zhen sembari menyembunyikan dirinya dan Nie Fuwei kedalam salah satu kamar. Lalu ia menutup pintu kamar agar mereka tak ketahuan.


Nie Fuwei terbelalak kaget ketika mendapati Zhen ada didepan matanya. 'Dia, apa yang dia lakukan disini?' Pikir Nie Fuwei terkejut melihat Zhen. Ia juga merasakan ada yang berbeda dari pria ini.


Setelah gadis didepannya mulai tenang Zhen melepas tangannya.


"Kau, masih berani kembali kemari setelah menghilang begitu lama?" Tanya Nie Fuwei sedikit meninggikan suaranya.


Ucapan Nie Fuwei sedikit membuat Zhen bingung. Seharusnya untuk seseorang yang mereka bunuh beramai ramai bukan seperti ini pertanyaannya. "Apa maksudmu?" Tanyanya heran.


"Heh, kau berpura pura lupa ingatan atau apa? Setelah kabur dari pertarungan dengan Raja Ular Emas, kau mempertaruhkan nyawa anggota klan sendiri dan kau masih berani datang kemari? Jika itu aku, maka aku tidak akan berani lagi untuk kembali." Ujarnya sembari melipat kedua tangan dan melengos ke arah lain.


Terlihat Zhen yang sedang mencerna penjelasan Nie Fuwei. 'Jadi itu alasan yang digunakan untuk menyingkirkanku? Hah, benar benar rendahan!? Mereka semua memang pantas untuk mati.' Pikir Zhen sembari tersenyum miring. Zhen melirik gadis didepannya yang memakai pakaian yang tak biasa. Dia memakai jubah merah dengan beberapa rumbai. "Apa yang kau pakai?" Tanya Zhen.


"Hmph, jika kuberitahu kau ingin apa?" Tanya Nie Fuwei balik.


Zhen menatap tajam gadis itu yang membuat Nie Fuwei merinding. "A aku memakai jubah merah untuk menjalankan ritual." Jawab Nie Fuwei tanpa sadar. Dia langsung menutup mulutnya ketika menyadari kalau sudah menjawab pertanyaan Zhen. 'Gawat, kenapa aku menjawab pertanyaannya? Apa yang ingin dia lakukan?' Pikir Nie Fuwei. Terlihat senyum licik diwajah Zhen yang membuat Nie Fuwei merasa khawatir.


AULA RITUAL


Terlihat sudah ada banyak orang yang berkumpul. Ada enam orang berjubah merah mengelilingi tiang besar, di kanan kiri barisan juga ada banyak orang yang hadir untuk membantu jalannya ritual.


"Dimana satu orang lagi?" Tanya salah seorang berjubah merah.


Semua orang mengedarkan pandangan mereka mencari satu orang lagi yang menjalankan ritual.


Kreeet


Tidak lama seorang berjubah merah membuka pintu kayu secara bersamaan menarik perhatian orang orang yang melihatnya. Orang itu tersenyum ketika semua orang sudah menantinya.


...~~~...


...-...


...-...


...SEMOGA SUKA...