I'M Zhen

I'M Zhen
Bab 5. Bukan anak jahat



Kakek Luan adalah guru dari Jiangwu. Awalnya yang ditugaskan disini hanyalah Kakek Luan, tapi ksrena ia memiliki murid yaitu Jiangwu maka ia mengajarkan semuanya kepada Jiangwu termasuk bagaimana mengurus tempat terpencil ini.


"Kenapa yang mulia bisa ada disini?" Tanya Jiangwu heran. Pasalnya ini adalah tempat yang jarang diketahui semua orang. Dan hanya beberapa orang yang tahu tentang tempat ini. Sekalinya masuk ke sini maka tidak akan ada yang bisa keluar kembali. Tapi, dirinya dan Kakek Luan berbeda. Mereka ditugaskan khusus di ruang bawah tanah untuk mengurus tahanan di sini. Bisa dibilang mereka penghuni penjara bawah tanah.


Untuk menjawab pertanyaan Jiangwu itu cukup sulit. Karena ibunya bilang tidak boleh memberitahu siapapun jika Jiafen dan dirinya melakukan hukuman itu. Zhen adalah anak yang sangat penurut. Dia tidak ingin membuat ibunya semakin merasa kecewa padanya. "Aku dipukuli oleh anak anak nakal diluar. Lalu aku melarikan diri dan tidak sengaja menemukan tempat ini." Ujar Zhen asal mengarang cerita. Tidak tahu mereka akan mempercayai kata katanya atau tidak.


"Yah, apapun itu mari kita keluar terlebih dulu." Ujar Kakek Luan. Dia dan Jiangwu bangkit dari duduknya.


Begitu pula dengan Zhen yang berusaha bangun. Untungnya ada mereka yang membantunya keluar dari tempat menyeramkan ini. Jika tidak, ia mungkin akan tersesat untuk selamanya. Untuk memastikan jika ia tidak tersesat lagi i haris membuat tanda arah. Karena tidak ada sesuatu yang pas untuk membuat tanda, ia menggunakan darahnya sendiri. Jika sempat Zhen akan membuat tanda yang lebih jelas. Segera Zhen membuat tanda dengan darahnya di beberapa tempat untuk menuju jalan keluar. Takut jika Jiafen membawanya kesini lagi, dirinya bisa keluar melalui tanda yang dibuat. Entah kenapa Zhen memiliki firasat jika ia akan sering datang ke tempat menyeramkan ini.


Setelah keluar dari penjara bawah tanah ternyata ini sudah malam. Tepatnya malam ini adalah malam bulan purnama yang indah.


"Baiklah, kurasa kami hanya bisa mengantar sampai disini karena beberapa pekerjaan yang belum selesai. Kau bisa pulang sendiri bukan?" Tanya kakek Luan.


"Iya." Jawabnya singkat.


Kakek Luan tersenyum tipis pada Zhen yang kemudian pergi bersama Jiangwu. Kini ia hanya sendirian. Karena ini sudah malam dirinya harus cepat cepat pulang. 'Mungkin dari sini ke kamarku hanya beberapa belokan.' Pikir Zhen yang awalnya mengira kamarnya dekat.


Tapi setelah satu jam kamarnya belum juga ditemukan. Lokasinya saat ini malah semakin jauh dari kamarnya. "Lain kali aku harus memberi tanda disetiap tempat." Ujar Zhen yang sudah lelah berjalan. Tapi kabar baiknya ia menemukan danau teratai biru. Zhen segera berlari ke arah danau, tepatnya ke gazebo yang ada disana. "Aku akan tidur saja disini. Besok baru mencari kamarku." Ujar Zhen sembari tidur di dalam gazebo.


Meskipun dingin itu lebih baik dari pada tidak ada atap.


...***...


Cip cip cip


Terdengar suara burung berkicau diatas pagar pagoda yang dari terbuat dari kayu tebal. Kicauan itu membuat Zhen terbangun dari tidurnya. Sinar matahari menyinari bola mata merahnya yang seperti batu ruby. Dia bangun dan sedikit menutupi matanya karena terlalu silau. Semua lukanya tidak terasa sakit lagi, sepertinya obat itu benar benar manjur. 'Syukurlah, ternyata masih ada beberapa orang disini yang baik.' Pikir Zhen sembari tersenyum samar. Zhen bangkit dari duduknya kemudian berjalan mencari kamarnya.


"Tolong… tolong aku…" Terdengar dari kejauhan suara rintihan seseorang meminta pertolongan. Orang itu terdengar sangat kesakitan.


Zhen mencari keberadaan orang itu melalui bau darahnya. Tidak membutuhkan waktu lama dia menemukan seorang pria yang sedang tergeletak dengan penuh luka di dekat hutan. Karena danau teratai biru dan hutan saling bertetangga jadi kemungkinan besar orang itu terluka akibat monster yang tinggal di hutan.


Pria itu melihat ke arah Zhen seakan meminta pertolongan. "Kau?! Jangan hanya diam seperti orang bodoh!? Panggilkan… seseorang untuk menolongku!?" Ujar pria itu sembari mengulurkan tangannya untuk meminta tolong.


Zhen melihat pria penuh darah itu dengan datar. Rasanya seperti ada yang berbeda dalam dirinya. 'Aku ingat dia, pria itu pernah menceburkanku ke dalam danau bersama dengan para anggota klan yang lain. Karena dia aku jadi membenci air. Kenapa juga aku harus menolongnya? Lebih baik aku membunuhnya saja sekalian. Disini juga tidak ada siapa siapa, jadi akan sangat bagus membunuhnya dalam keadaan penuh luka seperti ini.' Pikir Zhen sembari tersenyum licik.


"Kenapa hanya diam? Cepat panggilkan bantuan! Jika tidak aku akan menceburkanmu lagi ke danau itu!!" Teriak pria itu kesal.


Zhen memasang wajah lugunya seperti takut akan ancaman yang diberikan pria itu padanya, "B baiklah." Seperti kata pria itu, Zhen berlari untuk mencari seseorang agar membantu pria itu. Langkahnya memang seperti berlari, tapi sebenarnya ia jalan kaki. Saat jaraknya cukup jauh dari pria itu mulutnya berguman, "Bunuh dia!?" Tepat setelah itu Kegelapan mempengaruhi monster yang ada didekat hutan. Monster itu mulai mendekati pria itu dan…


"AAGGRRHH!?" Teriak pria itu.


Mendengar teriakan itu benar benar berbeda rasanya. Zhen tidak bisa menahan senyum yang akan keluar. Tapi jika dia tersenyum sama saja menjadi anak nakal. 'Pria itu tidak mati ditanganku, dia mati dimulut monster. Aku hanya mencari bantuan seperti yang dia katakan. Jadi, aku masih lah anak baik.' Zhen tetap memasang wajah lugunya yang ketakutan, tapi didalam hatinya dia sangat senang.


Setelah jauh dari pria itu, Zhen melanjutkan pencarian kamarnya. Mu Pei, wanita gendut yang melayani Zhen pasti sudah menaruh beberapa roti kering di meja. Akhirnya dia menemukan kamarnya. Seperti dugaannya, ada roti kering dimeja. Tanpa pikir pandang Zhen langsung mengambil roti kering dan memakannya. Rasanya tawar dan tidak enak. Tapi mau bagaimana lagi, mereka menyembunyikan semua makanan enak untuk diri mereka sendiri. "Tidak apa apa, Zhen anak baik. Aku bisa makan apa saja yang diberikan." Ujar Zhen pada dirinya sendiri.


Saat Zhen masih menikmati makannya, beberapa orang berlari seperti penasaran akan sesuatu. Dia berusaha mencari tahu mengapa mereka berlarian seperti itu. "Ada apa?" Tanya Zhen pada salah satu pelayan.


"Minggir!?"


"Akh…"


Bruk


Pelayan itu mendorong Zhen hingga jatuh menabrak tiang.


"Huh, jangan menghalangiku!? Aku harus cepat cepat melihat ke arah danau apa yang terjadi." Ujar pelayan itu yang kemudian pergi begitu saja tanpa kata maaf yang terucap dari tindakannya.


'Danau? disini hanya ada satu danau dan itu danau teratai biru. Dan disana ada mayat pria itu, pasti mereka ingin melihat mayat pria itu. Sepertinya akan ada perselisihan dengan para monster.'


...~~...


...-...


...-...


...SEMOGA SUKA...