I'M Zhen

I'M Zhen
Bab 2. Teman kecil



Zhen mencari cari dimana asal suara itu. Ternyata suara itu beradal dari dalam semak semak. Didalamnya terlihat ada seekor burung kecil berwarna biru yang terluka. Zhen langsung mengambil burung kecil itu dengan hati hati. "Sayapmu terluka!? Tapi kau tenang saja, Zhen pasti akan menolongmu!?" Ujar Zhen dengan percaya diri.


Dia mengigituung jarinya hingga keluar darah, lalu meneteskannya ke luka burung biru itu. Perlahan luka burung itu sembuh. Dia mmencoba menerbangkan burung yang ia tolong. Burung itu mengepakkan sayapnya dengan riang sembari berkicau nyaring. Zhen tersenyum senang melihat burung itu bisa terbang lagi.


Setelah puas terbang burung itu seperti akan mendarat, Zhen segera menadahkan tangannya untuk pendaratan burung kecil itu. Karena Zhen telah menolongnya burung itu seperti ingin mengatakan terima kasih dalam bahasa burung. "A apa kau ingin mengatakan terima kasih?" Tanya Zhen dengan wajah yang memerah, dia tidak pernah mendapatkan ucapan terima kasih. Tapi sekarang ada yang mengatakannya meskipun itu burung. "S sama sama." Zhen sangat senang. "Ah, benar iuga. Bagaimana jika aku menjadi temanmu? Kau mau kan? Jika kau mau jawablah!?" Tanya Zhen dengan wajah riang.


Cuit cuit cuit


Burung itu membalas dengan kicauannya.


Senyum senang terukir diwajah Zhen. Akhirnya setelah sekian lama ia bisa memiliki teman. "Baaiklah, sekarang kita teman."Ujarnya senang. Tapi senyuman itu luntur ketika teman kecilnya tiba tiba diserang oleh seseorang yang beratribut angin. Burung itu terpental oleh serangan kecil seseorang.


Melihat burung yang ditolongnya terluka parah akibat seseorang membuat Zhen marah. Wajahnya seperti akan menangis sekarang. Dia ingin melihat siapa orang jahat yang mencelakai teman burungnya.


Terlihat seorang anak gendut dengan beberapa temannya dibelakang. Dia tersenyum menyebalkan seperti penjahat. Mereka adalah anak anak nakal yang selalu mengganggu Zhen. Dan anak yang memimpin mereka adalah Liubai.


"Kenapa kau menyerang temanku?" Tanya Zhen marah.


"Teman? Heh, orang sepertimu tidak pantas mendapatkan teman. Aku suka melihatmu menderita karena itu aku menyerangnya. Kenapa? Marah? Coba saja pukul aku kalau kau bisa. Kau hanya pangeran terbuang yang dikucilkan semua orang. Tidak akan ada yang membelamu meskipun kau marah padaku." Liubai menenteng kedua tangannya dengan sombong. Dia selalu mengganggu Zhen karena ingin terlihat hebat. Toh tidak akan yang melarangnya jika dia mengganggu Zhen. Karena semua orang di sana menggapnya malapetaka. Jadi mau dia diganggu orang atau mati kelaparan itu bukan urusan mereka.


Zhen meremat erat tangannya menahan amarah. Dia tak bisa membalas perkataan Liubai. Karena apa yang dikatakannya benar. Dia tidak bisa membalas perbuatan jahat anak itu. Karena raja tidak membiarkannya menggunakan kekuatan.


Liubai melirik teman temannya yang siap meneriba perintah darinya. Mereka mengangguk dengan senyuman jahat diwajah mereka.


Greb


Toba tiba saja kedua tangan dijaga oleh dua orang, dan belakangnya dijaga satu orang. "A apa yang ingin kalian lakukan? Lepaskan aku!?" Ujar Zhen sembari memberontak.


Duak Buk buk


Tanpa aba aba Liubai memukul Zhen dengan keras. Dia sangat suka memukul seseorang yang lebih lemah darinya. "Bagaimana? Apa kau suka dengan pukulanku? Kurasa aku akan jadi pahlawan jika terus memulmu yang pembawa bencana. Kau harus berterima kasih karena dipukul olehku. Ha ha ha ha ha ha ha ha ha……" Liubai terus mengoceh sambil memukul Zhen tanpa henti.


Setelah puas memukulnya mereka melepaskan tangannya dan membiarkan Zhen tergeletak penuh luka. Belum selesai dengan memukulnya Liubai menjambak rambut Zhen dan membuatnya melihat dirinya. "Sampai kapanpun kau tidak akan pernah bisa melawanku, mengerti?" Ancam Liubai pada Zhen. Dia ingin melihat wajah ketakutan diwajah bocah itu. Tapi yang ia dapat adalah tatapan mata semerah darah yang dingin.


Zhen merintih kesakitan meskipun lukanya bisa cepat sembuh, tapi rasa sakitnya tetap ada. "Ah, burung kecil itu!?" Dengan tubuh kecil yang terluka Zhen masih mengkhawatirkan teman burungnya. Dia mengambil burung itu yang untungnya masih hidup, namun terlihat jelas kalau dia sekarat. "T tunggu, aku akan memberimu darahku!?" Zhen sekali lagi menggigit jarinya untuk memberikan darahnya pada burung yang sekarat itu.


Namun baru saja ingin diberikan burung itu sudah tidak bernyawa. Darahnya memang bisa menyembuhkan luka, tapi tidak bisa membuat hidup kembali. "H hei, bagunlah!? Bukankah kita teman?" Ujar Zhen dengan mata yang berkaca kaca. Tapi teman burungnya tidak akan bangun meskipun dia menangis darah sekalipun.


"Ck ck ck, apa dia mati? yah, mau bagaimana lagi. Teman kecil tuan memang tidak bernasib beruntung. Kalau saja anak anak jahat itu tidak menyerang teman tuan, mungkin teman tuan masih bisa hidup dan bermain dengan tuan. Bukankah perbuatan jahat ini harus dibalas?" Ujar kabut hitam yang lagi lagi muncul.


Saat Zhen ingin menjawab kabut hitam, tiba tiba seseorang muncul. "Apa kau baik baik saja?" Tanya orang itu. Dia adalah seorang pria berambut pendek sebahu dan bermata merah pudar. Sosok itu mirip dengan seseorang yang Zhen kenal. Seseorang yang selalu menatapnya dingin setiap kali bertemu dan orang yang telah melarangnya untuk menggunakan kekuatannya.


Tubuh kecilnya gemetaran melihat pria didepannya.


Entah kenapa ia merasa kalau anak kecil didepannya ini ketakutan melihat dirinya. Karena itu dia mencoba untuk mencairkan suasana. Pria itu melihat burung yang ada di tangan Zhen. "Emm, aku bisa…" Tepat sebelum orang itu selesai bicara Zhen berlari menjauh darinya. "… Membantumu." Lanjutnya. Orang itu melihat kepergian Zhen yang begitu cepat, "Kenapa tiba tiba lari?" Tanya'nya keheranan.


"Ada apa Jiangwu?" Tanya seseorang dari belakang pria itu. Nama pria itu adalahZhang Jiangwu. Dia adalah satu dari dua pria berambut putih yang mirip dengan raja. Dan seseorang yang mengajaknya bicara adalah Ming Jia Jun. Seseorang yang sangat disayang oleh seluruh anggota klan.


"Ah, aku hanya ingin membantunya sebentar. Tapi sepertinya dia tidak suka ditolong." Ujar Jiangwu.


"Hmm…" Jun terus memperhatikan Zhen dari belakang. Dia menyipitkan matanya ketika melihat ada bayang bayang hitam samar ditubuh Zhen. 'Aku harus waspada terhadapnya, bisa jadi dia memiliki atribut kegelapan.' Pikir Zhen sembari meningkatkan kewaspadaannya. "Tapi, siapa dia? Aku belum pernah melihatnya."


Jiangwu sekilas mengalihkan pandangan matanya. Sepertinya dia ragu memberitahukannya pada Jun. Jiangwu ragu karena Yang Mulia Jiafen melarang semua orang memberitahu Jun kebenarannya. Tapi sejujurnya Jiangwu merasa sangat kasihan pada Zhen yang selau dikucilkan. Tapi kemudian Jiangwu meyakinkan dirinya sendiri, "Dia, adik anda Yang Mulia." Ujar Jiangwu sejujur jujurnya.


Mata Jun langsung terbelalak kaget mengetahui bahwa ia memiliki adik. Dia seperti akan berteriak kaget namun ditahannya didalam hati. Jadi saat ini ia kaget tanpa suara. "O oh, begitu." Ujar Jun setelah mencerna semuanya. 'Gawat.'


...~~...


...-...


...-...


...SEMOGA SUKA...