I'M Zhen

I'M Zhen
Bab 33. Kemenangan yang tak diharapkan



Prajurit muda itu mengantar Zhen sampai ke hadapan pasukan musuh, "D disini, mereka ada dua ratus meter didepan kita." Ujarnya gugup. Tidak tahu kenapa dirinya harus gugup pada seseorang yang tidak dikenalnya ini. Padahal pemuda ini kelihatan tidak bisa bertarung.


"--------------------- Kau boleh pergi!? Kembalilah kesini setelah matahari terbenam!?" Ujar Zhen dengam kata kata pertama yang samar. Dirinya pergi menuju musuh yang juga sedang menuju padanya.


Prajurit muda itu menggaruk tengguknya yang tidak gatal, "Apa barusan dia bilang terima kasih? Atau aku salah dengar, ya?" Prajurit muda itu terus memikirkannya, "Ah sudahlah, mungkin aku salah dengar." Ujarnya kembali. Dia kembali seperti yang dikatakan Zhen.


Waktu saat ini adalah sekitar jam lima sore. Membunuh mereka sebelum matahari terbenam adalah waktu yang cukup. Tepat dihadapan mereka, Zhen berhenti begitu pula prajurit musuh. Zhen menfongakkan wajahnya melihat mereka. "Apa kalian pasukan musuh?" Tanyanya memastikan.


Terluhat seorang, pria tinggi kurus dengan wajah tua, dia adalah pemimpin mereka saat ini, Chong Shi. "Heh, apa apaan ini? Kenapa hanya ada bocah suram sepertinya yang datang? Kemana pemimpinmu?" Teriaknya marah.


"Dia sibuk. Tenang saja, kalian tidak akan bosan denganku." Ujar Zhen singkat.


"Tch, apa maksud_" Sebelum bisa selesai merangkai kata katanya Pemimpin mereka Chong Shi, sudah putus kepalanya.


Zhen meminum darah yang keluar dari leher Chong Shi. Bibirnya menyeringai senang, "Tenang saja, kalian tidak akan bosan denganku!?" Ujarnya melihat mereka dengan mulut dan leher yang dipenuhi darah.


Para prajurit itu mundur satu langkah ketika mereka bertemu dengan monster. Zhen berjalan mendekati mereka, namun mereka mundur seperti magnet yang bertemu sisi yang sama. Mata merahnya menatap mereka satu persatu seperti menghitung jumlah mereka. Kira kira semuanya ada lima ratus prajurit. 'Kurang, masih kurang.' Pikirnya.


Kepala Chong Shi yang masih dipegangnya ditempeli mantra olehnya lalu dilempar ke tengah tengah prajurit. Seketika kepala itu meledak dengan ledakan asap hitam pekat yang membuat semua prajurit sesak nafas. Tanpa membuang Waktu lagi Zhen langsung menyerang mereka dengan tangannya yang telah berubah menjadi tajam sekuat hewan buas. Zhen merobek dan mengoyak prajurit prajurit itu yang kemudian meminum darahnya. Ini adalah salah saju teknik kultivasi yang muncul tiba tiba dikepalanya, tehnik ini hanya perlu meminum darah manusia. Secara drastis kultivasi akan naik.


Entah memang karena dirinya aneh atau apa, rasa darah yang diminum sama dengan arak yang manis.


"AAGGHH!?"


"T TOLONG!?"


"AARRGGHH!?"


Mereka berteriak dan menjerit kesakitan. Masih ada seratus dua ratus prajurit yang tersisa. Zhen mendekati mereka yang memasang pelindung spiritual untuk diri mereka yang sadar tidak bisa mengalahkan Zhen.


Tepat didepan pelindung itu ia menyentuhnya. Tangannya terasa seperti disengat ribuan lebah. Namun ia tetap memegangnya yang kemudian membuat tangannya berdarah.


Beberapa prajurit yang berada didepan Zhen merasa heran dengannya, "Apa dia gila langsung memegangnya?" Ujar salah satu prajurit.


Tidak lama disekitar pelindung mereka muncul pelindung lain berwarna hitam yang melahap pelindung warna biru. Sontak mereka yang ada didalam langsung ketakutan setengah mati.


Krak


Pelindung warna biru mulai retak dan pecah berkeping keping. Pelindung berwarna hitam menutupi mereka. Namanya memang pelindung, tapi sebenarnya itu hanya alat penguras Qi kehidupan mereka.


"AARRGGHH!?"


"AARRGGHH!?"


Bibirnya tersenyum mendengar teriakan mereka. Entah mengapa itu membuatnya senang. Tapi Zhen menyadari kalau ia seharusnya tidak tersenyum mendengar teriakan mereka. Matanya terbuka dengan tagan yang sudah diturunkan, "Tch, aku tidak boleh tersenyum." Ujarnya memperingati diri sendiri. Dirinya berbalik dengan pelindung yang sudah mulai terbuka dan memperlihatkan para prajurit yang sudah mulai menjadi mumi.


Zhen berjalan mencari mayat yang sekiranya 'utuh' untuk diduduki. Ketemu satu mayat yang utuh. Namun Zhen bisa merasakan nafas darinya. Artinya dia masih bernafas dan banya berpura pura mati. Zhen sangat tidak suka dibohongi seperti ini. Jadi, dia menginjak kepala mayat itu lalu…


Jrat


Kakinya yang tidak memakai apapun alias nyeker dipenuhi darah dari kepala seseorang yang 'sudah' menjadi mayat. Zhen duduk diatas tubuhnya kemudian memandangi semua korban korbannya. Waktunya ia habiskan untuk melihat mereka sembari menunggu Prajurit muda menjemputnya.


Setelah membunuh orang sebanyak ini perutnya lapar lagi. Tidak apa apa, lagi pula sekarang ia bisa memakan sebanyak apapun yang ia inginkan. 'Saat aku pulang nanti, aku akan membawakan beberapa makanan manusia pada kakak. Dia pasti akan suka, karena makanan mereka enak.' Pikirnya yang senyam senyum sendiri sembari menjilati jarinya yang penuh darah.


Matahari sudah terbenam, mulai terdengar suara langkah seseorang. Namun sepertinya lebih dari satu orang.


"A apa yang terjadi?" Tanya Mu Kong dengan wajah kagetnya melihat banyaknya prajurit musuh yang mati mengenaskan oleh satu orang.


Prajurit muda yang awalnya mengantar Zhen sudah pucat pasi melihat mayat mayat sebanyak ini dalam keadaan tercabik. "Hum!? Huek!?" Karena tidak tahan dengan semua anggota tubuh mereka yang terpisah pisah sampai ada yang hancur membuatnya mual. Dia muntah mengeluarkan semua isi perutnya yang baru saja diisi. Dirinya memang sering berada dimedan perang dan melihat mayat, tapi tidak dengan keadaan saat ini. Kalau ini lebih mirip seperti tempat penyiksaan.


Zhen bangun karena penjemputnya sudah datang. Dirinya memutar kakinya ke belakang menghampiri dua orang yang seharusnya satu. "Semuanya selesai. Kita menang!?" Ujarnya pada Mu Kong. Bukannya senang Mu Kong malah terlihat seperti agak takut melihat Zhen. Tidak, bukan reaksi yang seperti ini yang diinginkan Zhen. Dirinya ingin pujian dan sanjungan karena berhasil mengalahkan musuhnya. Tapi kenapa malah rasa takut yang ia dapatkan?


Tanpa mengatakan apapun Mu Kong pergi, 'Aku telah menemukan monster!?' Pikirnya.


Zhen menatap datar kepergian Mu Kong. Ia tidak mengerti mengapa Mu Kong tidak terlihat senang dengan kemenangan ini. Padahal semua musuhnya telah mati tanpa sisa. Apa yang salah? Lupakan tentang itu. Lebih baik ia memikirkan bagaiman membuat Prajurit muda ini tenang agar bisa membawanya pulang ke kamp. "Apa kau baik baik saja?" Tanya Zhen.


"Ah, iya aku baik baik sa… ja?" Prajurit muda itu membuat tanda tanya melihat ada banyak darah di mulut dan leher bocah itu. 'Seharusnya kau tanyakan itu pada dirimu sendiri.' Pikir Prajurit muda.


Zhen memegang mulutnya sendiri, "Ini bukan darahku." Ujarnya menjawab pertanyaan Prajurit muda.


"O oh, begitu. Baguslah kalau begitu. Ayo kembali!?" Ujarnya sembari mengalihkan pandangan lalu segera membawa Zhen kembali. Jujur, dirinya sangat merinding berada didekat pemuda ini.


...~~~~...


...-...


...-...


...SEMOGA SUKA,...