
Ruby Radiant Palace, adalah tempat berbau darah. Palace ini bertugas sebagai penjara bagi para tahanan. Atau tempat para eksekusi para pengkhianat Klan Guaiwu. Tempat paling kejam dan penuh darah dari seluruh kediaman yang ada. Meskipun terlihat indah di bagian luar, namun tidak di dalamnya. Ciri khas paling menonjol dari Ruby Radiant Palace adalah banyaknya bunga mawar dimanapun. Seseorang yang memgelola tempat itu adalah Ming Jiafen. Itu juga tempat tinggal Zhen.
Didalam salah satu ruangan, terlihat seorang wanita yang berparas cantik sedang melihat butung didalam sangkar. "Zhen ada di Sapphire Radiant Palace? Bagaimana bisa anak sialan itu berakhir di tangan Tetua Luanzi?" Tanya Jiafen masih kaget dengan Zhen yang ada di kediaman Kakek Luan.
"Hamba tidak tahu rinciannya, tapi dari yang saya dengar Tetua Luanzi menolong Yang Mulia Zhen dengan keadaan terluka parah dari dalam hutan. Sepertinya setelah pertarungan dengan Raja Serigala Perak Tetua Luanzi menolong Yang Mulia Zhen ke kediamannya untuk diobati." Jelas seorang pelayan yang ditugaskan sebagai mata mata di Sapphire Radiant Palace.
Jiafen terdiam sejenak mendengar laporan yang diberikan pelayan tersebut. "Baiklah, kau boleh pergi dan terus awasi anak itu!" Ujar Jiafen. Pelayan itu pergi setelah memberi salam. Jiafen tersenyum licik seperti merencanakan sesuatu, "Mencoba mencari perlindungan, ya? Aku akan membuatmu menyesal telah mencoba melawanku. Akan kubuat kau tidak bisa lepas dariku dan akan terus terikat denganku hingga membuatmu putus asa." Jiafen tersenyum jahat sembari merencanakan sesuatu yang jahat.
...***...
Halaman belakang, Sapphire Pavilium.
Kakek Luan mulai mengajarkan ilmu peringan tubuh pada Zhen. Yaitu Langkah Bayangan. Ini adalah jurus yang ia ciptakan sendiri. Ada dua versi dalam Langkah bayangan. Versi pertama adalah tingkat dasar yang sedang dipelajari Zhen, dan versi kedua adalah tingkat akhir yang akan dipelajari selanjutnya setelah tingkat dasar. "Dalam llangkah bayangan, ada lima puluh langkah. Tugasmu adalah kau haru menghafalkan lima puluh langkah ini." Ujar Kakek Luan sembari memberikan buku tipis berwarna biru. Di covernya tertulis Langkah bayangan - tingkat dasar.
Sembari menunggu Zhen menghafal semua langkah langkah bayangan, Kakek Luan ingin bermain dengan cucunya yang ada kursi bawah pohon. Belum ada satu menit dan Zhen sudah datang.
"Aku sudah menghafal semuanya!?" Ujarnya singkat.
"Apa?" Tanya Kakek Luan tidak percaya.
"Aku sudah menghafalnya." Jawabnya ulang.
Terlihat jelas kalau Kakek Luan tidak percaya, 'Kenapa dia sangat cepat mengingat sesuatu? Memiliki murid jenius ternyata menyusahkan juga. Aku jadi tidak bisa bermain dengan Yueyin kecilku.' Pikir Kakek Luan menahan jengkel. "Oh? Kalau begitu tunjukkan padaku hafalanmu!" Ujar Kakek Luan menahan kekesalannya dengan senyum.
"Baiklah!?" Jawab Zhen bersemangat ingin menunjukkan pada Kakek Luan hafalannya. Ternyata dirinya memang sudah hafal seluruh langkah bayangan. "Aku sudah hafal, kan?" Tanyanya dengan senyum ceria. Dia sudah melakukan yang terbaik untuk menghafalnya dan sudah melakukan semua yang dikatakan Kakek Luan. Zhen berharap ia mendapat pujian karena berhasil menghafal semuanya dalam waktu singkat.
'Dia, benar benar haus dengan perhatian. Bagaimana ya jadinya jika aku tidak menghargai kerja kerasnya?' Pikir Kakek Luan mulai keluar kekanak kanakannya. "Itu masih kurang!? Kau kurang cepat menghafalnya. Seharusnya kau menghafalnya dalam sedetik!" Ujar Kakek Luan tegas. 'Kita lihat bagaimana reaksinya.' Kakek Luan tersenyum jahat dalam hati. Tapi beberapa detik kemudian wajahnya kaget melihat reaksi Zhen.
Zhen terlihat menundukkan kepalanya dengan pandangan yang menyeramkan. Dia mengepalkan kedua tangannya. Meskipun samar di sekeliling tangannya seperti ada asap hitam. Kakek luan merasa akan bahaya jika tidak menghentikannya sekarang.
Tiba tiba ada yang mengusap kepala Zhen yang ternyata Kakek Luan.
Seperti tidak pernah terjadi apapun wajah Zhen langsung berubah menjadi ceria kembali dengan senyum manis di bibirnya yang merah jambu.
Dalam hati Kakek Luan bersyukur selamat. Seharusnya ia tidak mempermainkan bocah yang sudah tidak normal ini lagi. "Baiklah, sekarang aku akan me nambahkan Qi dalam langkahku. Perhatikan baik baik!?" Kakek Luan berjalan ke tengah tengah halaman. Dia terdiam sejenak dan kemudian mulai memperlihatkan jurus langkah bayangan. Semua gerakannya bagaikan bayangan hitam yang tidak dapat dikejar. Setelah menunjukkan Kakek Luan kembali pada Zhen dengan langkah bayangan lagi. "Apa kau sudah paham?"
"Sudah!?" Jawab Zhen percaya diri. Meskipun dirinya tidak tahu cara mengelirkan Qi ke kakinya, tapi dengan alami cara mengalirkan Qi ke kakinya muncul. Dia tidak tahu kenapa tapi ini mungkin hal yang bagus baginya. Setelah dicoba ternyata langsung bisa. Zhen langsung menghampiri Kakek Luan lagi untuk meminta pujian.
Kakek Luan sendiri merasa sedikit kurang nyaman dengan sikap Zhen yang kurang normal ini. 'Mau dipikirkan bagaimanapun, bukankah ini sedikit aneh? Sejenius apapun orang itu pasti tidak akan langsung bisa hanya dalam waktu satu menit. Ditambah lagi gerakannya tidak ada kesalahan sedikitpun.' Pikir Kakek Luan merasa Zhen terlalu aneh. Karena orang jenius saja membutuhkan proses. "Kerja bagus. Sekarang kita istirahat saja dulu dibawah pohon." Ujar kakek Luan, untuk sementara ia tidak mau memikirkan hal rumit sepertiini. Karena ia sudah tidak sabar menggendong cucunya.
Dibawah pohon ada satu meja dan dua kursi yang biasa untuk minum teh di halaman belakang. Kakek Luan duduk diatas kursi sedangkan Zhen duduk dibawah. "Kenapa kau duduk dibawah?" Tanya Kakek Luan kebingungan. Melihat Zhen yang juga kebingungan menjawabnya, Kakek Luan menghela nafas. "Duduklah di atas!" Ujar Kakek Luan. Sebelum anak itu menjawab ia sudah mengerti alasannya.
Setelah itu Zhen duduk di atas kursi. Dia sesekali melirik Yueyin yang bermain dengan Kakek Luan. Meskipun Kakek Luan saja yang bermain, bayi itu hanya berwajah datar diajak bermain dengan Kakeknya. Entah ini jahat atau tidak, tapi Zhen ingin berada di posisi Yueyin.
"Bocah, aku ingin memberi saran padamu!" Ujar Kakek Luan tiba tiba. Dia menatap Zhen yang sudah siap mendengarkan, "Kau sebaiknya menghilangkan sifat obsesimu terhadap perhatian. Karena itu bisa mencelakakanmu suatu hari nanti." Ini adalah saran yang bisa diberikan kakek tua ini pada bocah yang memiliki bibit penjahat dalam dirinya. Dia tidak bisa membiarkan anak sepolos ini menjadi penjahat dunia.
Namun kata kata Kakek Luan terdengar berbeda di telinga Zhen. Ralat, Zhen salah mengartikan kata kata Kakek Luan. Dia menganggap kata kata Kakek Luan itu akan membuang dirinya jika tidak diperlukan lagi. Dia turun dari kursi dan menghampiri Kakek Luan, "A apa aku melakukan kesalahan? Aku minta maaf jika aku salah." Zhen benar benar salah mengartikan kata kata Kakek Luan padanya. Dia benar benar menganggap kata kata Kakek Luan adalah omelan untuknya karena melakukan kesalahan.
Kakek tua ini benar benar tercengang dengan salah paham bocah dihadapannya. 'Bagaimana bisa kata kataku berakhir sebagai omelan padanya?' Pikir Kakek Luan tidak habis pikir. Melihat Zhen yang kini menatapnya dengan gelisah mengira dirinya akan dibuang, benar benar membuat Kakek Luan pusing di buatnya.
Kakek Luan menghela nafas panjang, "Kau bukanlah barang, bagaimana bisa aku membuangmu? Sudahlah, aku yakin kau akan mengerti maksud dari kata kataku suatu hari nanti." Senyum seorang Kakek tua yang menenangkan membuat hati Zhen kembali tenang. "Ini waktunya istirahat, bermainlah kemanapun kau suka." Lanjutnya setelah melihat Zhen yang sudah tidak salah paham.
"Baiklah!?" Jawab Zhen antusias senang. Dia senang karena ternyata Kakek Luan tidak berniat membuangnya. Kakinya yang kecil dan pendek berlari menggunakan langkah bayangan sekalian melatihnya. Zhen ingin pergi menemui Jun dan menunjukkan padanya kalau sekarang dirinya sudah memiliki guru. Dan juga ingin menunjukkan pada Jun jurus pertama yang dia dapat. Zhen tersenyum senyum sendiri memikirkannya.
...~~...
...-...
...-...
...SEMOGA SUKA...