I'M Zhen

I'M Zhen
Bab 20. Satu pukulan, satu teman



Dimalam hari yang diterangi cahaya bulan, Zhen berkultivasi disebuah gazebo dekat danau biasa dia sendiri. Tingkatannya pada saat ini sudah melebihi immortal dan mendekati Yuzhou. Dalam waktu singkat ia mencapai ranah terakhir.


Namun dirinya masih belum mengerti mengapa rasanya sangat mudah dalam penerobosan. Padahal yang lain lebih dulu berkultivasi darinya tapi malah dirinya yang lebih dulu mengungguli mereka. Kalau bakat sudah pasti ia berbakat, namun bakatnya ini terlalu aneh jika disebut berbakat. Masa satu hari kultivasi penuh sudah bisa menerobos satu tingkat. Terkecuali dulu dirinya pernah mengalami tingkatan seperti itu dan turun kembali. Dan saat dirinya berkultivasi kembali barulah bisa menerobos satu tingkat penuh.


Sekarang Zhen benar benar bingung mengapa ada banyak keanehan dalam dirinya. Dia juga tidak tahu apakah orang lain pun bisa berbicara dengan kekuatannya sendiri atau tidak.


Perlahan Zhen membuka matanya karena sekarang sudah berada di ranah Yuzhou. Tapi anehnya ia tidak bahagia dengan itu. Dirinya merasa masih ada yang kurang dari kultivasi. Tapi apa? Dirinya merasa seperti ada sesuatu yang menahan dirinya untuk tahu. "Apa ya, yang kurang?" Tanyanya pada dirinya sendiri. Tapi sebanyak apapun ia berusaha mengingat tapi tetap saja tidak ada hasil. "Sudahlah, mungkin itu tidak penting." Ujar Zhen sekali lagi.


Dia menyender pada tiang gazebo sembari melihat danau. Sejak kecil sampai sekarang hanya ada satu pertanyaan dibenaknya, kenapa nasibnya bisa sejelek ini? Apa yang dirinya lakukan dikehidupan sebelumnya hingga bisa jadi seperti sekarang?


Danau yang ada banyak bunga teratai mengingatkannya pada mimpi aneh saat masih kecil. Mimpi yang yang didalamnya adalah seorang pria pucat dengan lubang besar didadanya. Disekitarnya juga ada banyak bunga teratai. "Siapa pria itu?" Ujarnya sembari melihat bayangannya sendiri didanau. Kalau diperhatikan lagi ternyata wajahnya sama dengan pria yang ada didalam mimpi, hanya saja wajahnya sekarang masih belum dewasa. 'Lupakan saja. Sekarang aku harus memikirkan bagaimana caranya menyelamatkan kucing kucing itu.' Pikir Zhen kembali ke permasalahan awal.


Blub blub blub


Gelembung udara keluar dari dalam air danau yang sontak membuat Zhen kaget. Dia segera waspada dengan makhluk yang ada didanau. "Siapa itu?" Tanyanya pada seseorang yang mungkin ada di dalam danau. Tapi tak ada jawaban sedikitpun. Karena itu Zhen berusaha mengintip kedalam danau. Pelan pelan dia mengintip siapa yang bersembunyi didalam air.


Byurr


Tiba tiba muncul kepala seseorang dari dalam air.


Buk


Refleks Zhen langsung memukul kepala yang muncul dihadapannya. Dia sangat kaget hingga tanpa sadar tangannya sudah bergerak memukul.


"Aawh… bagaimana bisa kau memukul wanita cantik sepertiku???" Tanya Nie Fuwei yang ternyata bersembunyi didalam danau. Pipinya memar karena ditonjok keras oleh Zhen. Masih terasa bagaimana pria itu menonjoknya.


Sedangkan Zhen masih terbelalak kaget, ternyata yang bersembunyi adalah Nie Fuwei. "Kau, kenapa bisa ada disitu?" Tanya Zhen ingin meluruskan kebingungannya.


"Aku…" Sepertinya Nie Fuwei kesulitan menjawab pertanyaan Zhen. Tidak lama terdengar suara langkah kaki dan beberapa orang yang mendekati danau. Dirinya langsung panik ketika orang orang itu semakin mendekat. Dia langsung bersembunyi lagi kedalam air namun kali ini ia tidak masuk kedalamnya. Melainnya bersembunyi dibalik kayu kayu besar gazebo. "Sstt!?" Kodenya untuk tidak mengatakan apapun.


Awalnya Zhen kebingungan namun ia perlahan mulai mengerti ketika beberapa krang datang dan menanyakan beberapa pertanyaan pada Zhen.


"Apa kau melihat nona Nie didekat sini?" Tanya salah seorang dari mereka.


Zhen melirik Nie Fuwei yang melihatnya dengan penuh harap. 'Tidak ada alasan bagiku untuk menolongnya. Tapi sepertinya dia bisa dimanfaatkan.' Pikirnya sembari tersenyum samar yang membuat Nie Fuwei bingung. Lalu ia kembali melihat beberapa orang yang terlihat bingung mengepa Zhen diam saja. "Aku melihatnya, dia pergi kearah sana!?" Ujarnya sembari menunjuk arah Emerald Palace.


Pernyataan Zhen membuat orang orang itu saling pandang. Mereka kemudian pergi tanpa mengatakan apapun lagi menuju tempat yang ditunjuk Zhen. Selepas kepergian mereka yang sudah cukup jauh, Zhen mengulurkan tangannya pada Nie Fuwei untuk keluar dari air.


Uluran tangan Zhen yang tidak.disangka oleh Noe Fuwei sendiri membuatnya kaget. Dirinya tidak menyangka jika pria dingin ini membantunya dalam situasi sulit.


Segera Nie Fuwei meraih uluran tangan itu dan keluar dari dalam air. Seluruh tubuhnya basah dan terlihat sangat jelas bentuknya. Semua pria yang melihat itu pasti merona. Nie Fuwei yang melihat Zhen terus memperhatikannya ingin menggodanya sedikit, "Apa, kau ingin menyentuhnya?" Tanyanya dengan suara seksi menggoda. Dia juga mendekatkan diri pada Zhen.


"Menyentuh dada besarmu?" Tanya Zhen langsung membuat Nie Fuwei merona malu. Ditambah lagi dengan senyum yang lebih menggoda milik Zhen.


Segera Nie Fuwei langsung menarik kembali tubuhnya dari pria yang lebih menggoda ini. "Dasar mesum!?" Gerutunya sembari mengerucutkan bibirnya.


Tidak lama Zhen bangun sembari berjalan ke depan. 'Jika dugaanku benar dia pasti akan mengikutiku.' Pikir Zhen yang ternyata…


"Tunggu, aku ikut!?" Ujar Nie Fuwei sembari bangun dan mengikuti Zhen dari belakang.


...***...


Mereka berdua sampai di kamar Zhen. Disana Nie Fuwei mengganti pakaiannya yang basah dengan yang baru. Dia melihat sekeliling, kamar yang kecil dan juga barang barang yang sangat sedikit. Disana hanya ada beberapa barang pokok. Namun ada banyak sekali buku di dalam rak. "Apa kau tinggal disini? Aku pikir kau akan tinggal di tempat yang cukup besar melihat kau adalah anak kedua Ketua Klan." Ujar Nie Fuwei memecah kesunyian.


Zhen hanya diam saja mendengar ucapan gadis itu. "Jika kau sudah selesai berganti pakaian maka pergilah dari sini." Ujarnya dingin sembari menyalakan lampu kamarnya sendiri. 'Nie Fuwei, dia adalah gadis yang akan terus mendekat jika terus menerus mendapat tolakan dari seseorang. Melihat posisinya yang tinggi dia mungkin bisa membantuku.' Pikir Zhen merencanakan sesuatu didalam kepalanya.


"Kenapa? Apa kau tidak suka ditemani gadis cantik sepertiku?" Goda Nie Fuwei kembali. Dirinya masih tidak terima jika Zhen menggodanya balik saat di danau. 'Aku tidak percaya dia tidak tergoda olehku! Apapun caranya aku harus menggodanya balik.' Pikirnya yang kekanak kanakan.


"Apa tujuanmu terus mengikutiku?" Tanya Zhen sembari berbalik melihat Nie Fuwei yang berdiri menyender dengan kedua tangan menyilang.


Gadis itu terlihat kaget ketika Zhen mengetahui dirinya terus mengikutinya sampai bersembunyi didalam danau, "Aku tidak memiliki maksud apapun. Aku hanya penasaran kenapa kau sering sendiri dan bicara sendiri." Ujar Nie Fuwei memberikan alibinya. Sebenarnya ini hanya alasan untuk mendekati Zhen. Tapi ini juga salah satu alasannya mengapa ia terus mengikuti pria itu.


Awalnya ia mengira kalau Zhen itu pria yang tidak suka bicara, tapi anehnya dia lebih banyak bicara saat sendirian. 'Jujur saja, awalnya aku mengira dia gila dan aneh. Apalagi dia anti sosial pada yang lain. Semua orang pasti akan berpikir hal yang sama denganku jika melihat dia bertengkar pada dirinya sendiri.' Pikir Nie Fuwei. Meskipun hanya berguman dan tidak terlalu terdengar tapi ia tahu kalau Zhen sering bicara pada dirinya sendiri.


"Kau, mendengarnya?" Tanya Zhen malu karena Nie Fuwei mengetahui dirinya sering bicara sendiri. Sangat sulit untuk tidak bicara sendiri karena biasanya ia selalu sendiri dan yang selalu mengajaknya bicara adalah elemennya, kegelapan.


"Benar. Apa? Kau malu? Aku tidak akan membeberkannya, tapi sebagai gantinya biarkan aku menjadi temanmu." Ujar Nie Fuwei sembari berjalan mendekati Zhen. Dan tepat didepannya dia tersenyum menggoda.


...~~...


...-...


......-......


...SEMOGA SUKA...