
Dimalam hari Zhen tengah membersihkan dirinya dengan berendam di sungai air terjun di hutan terdekat Kekaisaran Tang, Hutan Rupa. Ditemani gadis aneh yang duduk dibalik pohon menunggunya. "Apa menurutmu yang kulakukan jahat?" Tanya Zhen pada gadis itu.
"Ya." Jawabnya singkat dan jelas.
Jawaban gadis itu benar benar membuat Zhen tertusuk. Dia menjawabnya tanpa ragu sedikitpun seakan tahu kalau Zhen tidak akan membunuhnya. ''Kau bahkan mengatakan kalau yang kulakukan jahat. Sebenarnya apa yang salah? Mereka duluan yang ingin mengingkirkan dan membunuhku. Kenapa aku tidak boleh melawan balik? Memangnya itu salah?" Ujar Zhen meluapkan seluruh kekesalannya.
Senyaaap sekali.
Tidak ada respon sedikitpun dari gadis itu. Dia hanya diam ketika Zhen bicara padanya. Itu membuat Zhen khawatir apa gadis itu masih ada atau tidak. "Apa kau masih ada disini?" Tanya Zhen memastikan.
"Ya." Jawabnya membuat Zhen bernafas lega.
"Kau tidak akan pergi, kan? Aku masih membutuhkanmu untuk sampai ke hutan hitam. Jika kau pergi tanpa izin dariku maka aku akan membunuhmu!?" Ancamnya agar gadis itu tidak pergi meninggalkannya.
"Ya." Jawabnya lagi dengan jawaban yang membosankan.
"Bagus!?" Ujarnya puas dengan senyum senang. Setelah semua darah ditubuhnya bersih, Zhen mengambil baju dalamnya dan beranjak naik ke atas. Setelah selesai berpakaian dia berjalan mendekati gadis aneh. Disana dirinya mendapati gadis itu sedang memakan daging buruan mentah mentah. Lama kelamaan tingkah gadis itu semakin aneh. Membuat Zhen tidak habis pikir dengan sikapnya. "Apa yang kau lakukan?" Tanya Zhen heran.
Gadis itu menatap Zhen balik dengan mulut penuh darah hewan, "Makan." Jawabnya singkat.
Seumur hidup baru kali ini Zhen melihat ada orang yang memakan hewan mentah mentah. "Kau seperti rubah." Ujar Zhen. Ia melihat hewan buruan yang ditangkap gadis itu cukup besar. "Aku memberimu lima menit untuk mandi dan bersihkan darah di mulutmu." Gadis itu segera menuruti perkataan Zhen.
Dia membuka pakaian luarnya didepan Zhen, lalu beralih ke pakaian dalam?
"Eh eh eh, apa yang kau lakukan?" Tanya Zhen ketika menyadari gadis itu melepas pakaian didepannya.
"Lepas baju." Ujarnya penuh kepolosan.
"Lakukan disana!?" Dengan wajah tegasnya Zhen menunjuk air terjun. Gadis itu pergi menuju air terjun menuruti Zhen. Setelah itu ia membersihkan bulu hewan buruan gadis itu untuk nantinya dipanggang.
Sesaat kemudian gadis itu menghampiri Zhen setelah seluruh tubuhnya bersih. Dia duduk disamping pria itu yang sedang memanggang daging rusa yang diburunya. Gadis aneh mencoba untuk diam diam mengambil daging yang belum matang.
Plak
Zhen segera menepak tangan gadis itu yang tidak sabar. Dirinya juga ingin makan, bisa bisa semua daging ini habis oleh gadis itu seorang. Disaat Zhen melamun, gadis itu diam diam menggeser bokongnya untuk semakin dekat dengan Zhen. Satu geseran belum disadari. Beralih kedua geseran, masih belum disadari juga. Pelan pelan tapi pasti, gadis itu semakin dekat. Saat ingin bersender ke pemuda itu, tiba tiba saja Zhen bangun dan beralih tempat duduk.
Gadis itu diam tanpa ekspresi diwajahnya. Tampaknya rencana gadis itu untuk mendekat diam diam gagal total.
Zhen kembali tenggelam dalam pikirannya. Ia masih memikirkan perkataan Wei Shuji yang mengtakan, "Kau mengatakan kami jahat seakan apa yang kau lakukan bukanlah kejahatan!? Benar benar lucu sekali." Pikirnya yang terus teringat dengan kata kata wanita yang sudah mati. 'Aku tidak mungkin salah, Itu tidak mungkin.'
"Kau bersalah!?" Ujar seorang wanita yang memegangi pundak Zhen dengan tangan yang berlumur darah. Zhen tahu itu hanya ilusi, jika bukan sudah pasti gadis aneh didepannya akan bertindak atau melihat wanita itu juga. Wanita itu adalah Wei Shuji. "Kau pria munafik yang menganggap dirimu paling benar!? Padahal didalam lubuk hatimu kau tahu bahwa apa yang kau lakukan salah. Kami memang jahat padamu, tapi kami setidaknya tidak sekejam dirimu!? Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha…" Wanita itu berbicara tepat disamping kepala Zhen dengan tangan yang sudah memeluk dari belakang.
Tidak lama tambah ilusi orang orang yang pernah dibunuhnya. Mereka mendekati Zhen dan mengutuk dirinya.
"Dasar munafik!? Orang sepertimu tidak pantas untuk hidup."
"Bertingkah seakan kau orang baik, tidak tahu malu!?"
"Semoga kematianmu lebih buruk dan lebih menyakitkan dari kami!?"
"Matilah dalam lautan kutukan!?"
Tangannya gemetar mendengar mereka mengutuk dirinya. Seandainya itu bukan ilusi maka Zhen akan membunuh mereka untuk kedua kalinya.
"Padahal aku percaya kau tidak akan melakukan hal buruk seperti itu. Tapi melihatmu membunuh orang orang tidak bersalah sepertinya aku telah salah menilaimu." Ujar ilusi yang memperlihatkan Jun. Terlihat dari wajahnya kalau Jun sangat kecewa terhadap Zhen.
Seketika raut wajah Zhen yang tadinya biasa saja mendengar semua kutukan, berubah menjadi takut karena Jun berkata seperti itu. Dirinya berdiri dengan berkata, "M maafkan aku!? Aku janji tidak akan membunuh lagi!?" Tanpa sadar ia mengatakannya dengan kencang.
Gadis didepannya menatap Zhen datar yang sebenarnya dirinya heran mengapa Zhen berkata seperti itu dengan ekspresi ketakutan. "Apa?" Tanya gadis itu segera membuat Zhen tersadar.
"Ah, tidak, bukan apa apa." Ujarnya sembari duduk kembali. "Ini untukmu semua, setelah makan tidurlah. Aku akan menjagamu." Ujarnya tiba tiba berubah baik sembari menyodorkan daging yang sudah matang.
Gadis itu mengambil daging panggang yang diberikan Zhen untuknya, "Ya." Jawabnya singkat. "Makan?" Tanya gadis itu sembari menyodorkan makanannya pada Zhen.
Zhen menggeleng ditawari makan, "Tidak, kau saja yang makan." Jawabnya.
"Sakit."
"Aku tidak akan sakit hanya karena tidak makan." Ujar Zhen tiba tiba mengerti semua yang diucapkan si gadis aneh.
...***...
Malam yang panjang berlalu berganti pagi. Mereka melanjutkan perjalanan menuju hutan hitam. Berjalan mengikuti jalan setapak hutan. Tidak lama ada rombongan datang. Mereka sepertinya rombongan para kultivator yang tengah melakukan perjalanan mengawal salah satu bangsawan. Rombongan mereka tak sedikit. Ada banyak barang bawaan mereka di belakang dan didepan.
Kereta kuda yang terlihat mewah melintas melewati Zhen dan gadis itu. Dari balik tirai jendela tampak seorang gadis yang memperhatikan mereka, lebih tepatnya Zhen. Segera dia memanggil penjaganya yang menaiki kuda mengawal disamping kereta. Dia berbisik pada seorang pria yang mengawalnya.
Tidak lama pria itu mengatakan, "Berhenti sebentar!?" Ujarnya pada seluruh orang. Kemudian turun dari kuda berjalan menuju Zhen. "Kemana tuan akan pergi?" Tanya kultivator itu sembari memperhatikan penampilan Zhen. Dari matanya terlihat kalau kultivator tersebut meremehkan Zhen yang memiliki penampilan gembel.
Zhen sendiri tidak tahu kemana gadis itu membawa dirinya. Tapi menilik dari pertanyaan tersebut apakah mereka ingin memberikan tumpangan?
"Ke hutan hitam." Ujar Zhen.
Seketika mereka kaget mendengar jawaban Zhen. Bagi mereka hutan hitam bukanlah tempat bermain anak anak, melainkan tempat paling berbahaya. "Apa kau kesana ingin bunuh diri? Atau hanya ingin berlaga seperti orang kuat? Jangan banyak gaya ingin pergi ke hutan hitam. Kultivatir kuat seperti kami saja masih harus berhati hati masuk ke pinggirannya." Ujar kultivator tersebut meremehkan Zhen.
Langsung saja orang orang yang disana menertawakan dirinya yang ingin pergi ke hutan hitam.
Omongan pria itu benar benar membuat kesal. Beruntung sekali dia karena Zhen ingin mencoba tidak membunuh lagi. "Apa yang ingin kau katakan?" Tanyanya dingin.
"Heh, berani sekali kau tidak sopan pada senior!?" Bentak salah seorang yang berdiri dibelakang Zhen.
Kultivator itu mengkat tangannya ke samping mengisyaratkan untuk diam. "Aku hanya ingin mengatakan kalau Putri Mei Nian ingin memberimu tumpangan."
...~~~~...
...-...
...-...
...SEMOGA SUKA...