I'M Zhen

I'M Zhen
Bab 31. Haus darah



Bruk


Dua orang berbaju hitam membuang mayat seseorang yang dipenuhi, anak panah dan satu pedang kedalam lubang penuh mayat. Mayat mayat itu adalah mayat orang orang yang berperang di luar hutan. Ada rumor yang beredar kalau di luar hutan sedang terjadi peperangan besar. Dan mereka membuang mayat para prajurit ke perbatasan hutan sebagai kuburan mereka.


"Para manusia itu, mereka membuang mayat seenaknya kesini. Apa mereka pikir hutan ini tempat pembuangan?"


"Sudahlah jangan banyak bicara, ayo cepat pergi!? Disini sangat bau!?" Ujar salah satu dari mereka.


Mereka pergi setelah membuang mayat seseorang.


Mayat yang baru saja dibuang adalah Zhen. Tidak lama setelah orang orang itu pergi kabut hitam berkumpul mengelilingi tubuhnya. Dia masih belum mati, tapi dalam keadaan setengah mati.


Didalam alam bawah sadarnya, Zhen tengah duduk dengan kaki ditekuk keatas didalam kegelapan sembari menutupi telinganya. Disekelilingnya ada banyak sosok hitam yang mengerubunginya. Mereka mengatakan semua kekhawatiran Zhen dan ketakutannya.


"Apa lagi yang kau tunggu, bunuh saja mereka semua."


"Bunuh saja semuanya tanpa sisa."


"Bunuh mereka!?"


"Bunuh!?"


"Bunuh saja!?"


"Jangan ragu ragu!?"


"Mereka pantas mendapatkannya!?"


"Ayo bantai semuanya!?"


"Jangan menahannya lagi!?"


"Aku tahu kau selalu ingin menghancurkan mereka!? Sekarang saatnya."


"Mereka mencoba memisahkanmu dengan Jun."


"Lagipula Jun juga pasti akan bangga padamu jika membunuh semua penjahat itu."


Mendengar nama Jun disebutkan Zhen menurunkan tangannya. Jika dirinya mati disini, maka ia akan mati sendirian tanpa diketahui oleh Jun. "Aku, tidak boleh mati!?" Ujarnya.


"Tentu saja!? kau tidak boleh mati!? Jun pasti akan sangat sedih jika kau mati."


Zhen memandangi mereka semua, "K kakak pasti akan sangat sedih kan? Aku tidak boleh membuatnya sedih." Ujar Zhen dengan wajah khawatir.


"Ya, akan sangat sangat sangat sedih!? Kau tidak boleh membiarkan orang baik sepertinya sedih, bukan?"


"Dia itu tidak menyukai orang jahat dan mereka telah jahat padamu. Jadi jika kau membunuh orang orang jahat itu bukankah itu artinya kau orang baik?"


Terlihat senyuman senang diwajah Zhen yang memperlihatkan giginya yang rapi. Kepalanya mengangguk angguk seperti menyadari sesuatu, "Benar, Bukankah mereka itu jahat? Mereka membunuhku dengan kejam, kenapa aku tidak membunuh mereka balik saja? Ha ha ha ha…" Tapi senyumnya pudar saat menyadari sesuatu yang lain. "Bagaimana jika, setelah aku membunuh mereka Kakak tidak menyukainya dan malah menjauhiku?" Tanyanya khawatir.


"Itu tidak mungkin. Jika dia menjauhimu dan marah karena perbuatanmu, artinya dia juga orang jahat!?"


Zhen melihat marah bayangan yang mengatakan Jun orang Jahat. Tangannya langsung mencengkram leher bayangan tersebut dengan mata yang memerah. Bayangan itu hancur menjadi asap. "Jika ada yang mengatakan itu lagi, maka akan kuhancurkan kalian!" Ujarnya dengan ekspresi marah.


Di luar alam bawah sadarnya,…


Seorang pemuda penjarah mayat sedang memeriksa satu persatu mayat. Hidungnya ditutup karena bau busuk yang keluar dari tubuh para mayat. Dia mengambil senjata senjata yang masih bagus dan baju zirah yang masih bisa digunakan untuk dijual kembali. "Hari ini lumayan, besok aku akan datang lagi." Ujarnya dengan hati senang.


Tapi saat ingin pergi, dia melihat pedang yang cukup bagus menusuk seorang mayat. Karena tertarik dia mencoba mengambil pedang itu. Dia berjalan menghampiri mayat tersebut dan mengambil pedangnya dari belakang. Menariknya sedikit susah karena tersakut diantara tulang rusuk mayat tersebut. "Astaga, orang yang menusuknya pasti memiliki banyak dendam!?" Gerutunya pada orang yang menancapkan pedang ini.


Bruk


Pemuda itu memperhatikan wajah Zhen yang masih bersih dan terlihat tidak membusuk. "Jika diperhatikan mayat ini cukup rupawan, bahkan sangat. Jika aku membersihkannya dia akan sangat cantik. Dan aku bisa menjualnya ke pedagang mayat. Mereka selalu mencari mayat yang cantik seperti ini." Ujar pemuda itu sembari tersenyum licik. Pemuda itu menepak nepak pipi Zhen dan berkata, "Tenang saja, kau masih berguna bahkan saat menjadi mayat!? Ha ha ha ha ha ha ha…"


Zhen tiba tiba membuka matanya yang berwana merah vertikal membuat pemuda yang memegang pipinya ketakutan. "HWAAAA!? WWAAA!? TOLONG AKU!?" Teriak pemuda itu ketakutan saat Zhen tiba tiba terbangun dan langsung mencengkram tangannya. Ia bangun di antara tumpukan mayat dan menggigit leher pemuda di samping. Pemuda itu mati karena darahnya habis oleh mayat yang dikiranya sudah mati. Zhen yang masih setengah sadar menjilati jarinya yang ada darah pemuda itu.


Tubuhnya yang dipenuhi beberapa anak panah masih menancap. Tanpa berteriak maupun kesakitan ia mencabut satu persatu anak panah yang ada ditubuhnya.


Setelah semua benda asing dibuang, ia bangun mencoba berdiri. Terlihat gerakannya kaku seperti robot. Itu karena beberapa senjata melukai organ dalamnya. Ditumpukan mayat ini dirinya merasakan kebencian mereka. Zhen melentangkan tangannya dan mengumpulkan energi negatif dari semua mayat ini.


Tidak lama energi hitam keluar dari mayat mayat tersebut dan mengalir seperti air menuju Zhen. Kekuatan yang begitu besar dirasakannya. Seiring dengan penyerapan energi ini terdengar raungan dan lolongan dari semua monster diseluruh hutan. Mereka meraung dan menggeram seperti melihat sosok jahat yang akan muncul.


Setelah semua energi terserap Zhen menurunkan tangannya. "Ini masih kurang." Ujarnya pelan. Kemudian Zhen berjalan menginjak mayat mayat dibawahnya. Ia pergi ke tempat lain untuk mengumpulkan kekuatan yang lebih besar. Agar bisa membunuh mereka sekaligus. Karena kekuatannya saat ini tidak akan mampu menghadapi mereka semua.


...***...


Didalam suatu ruangan besar terdapat beberapa orang didalamnya. Mereka adalah Ketua Klan, Jiafen dan Shuwei. Tetua keempat, Shuwei berada ditengah melapor tugasnya, "Lapor Yang Mulia, aku sudah menyelesaikan tugasku!?" Lapornya.


"Bagaimana dengan mayatnya?" Tanya Tiannzhi.


"Aku sudah membuangnya ke tempat yang jauh. Tidak akan ada yang bisa menemukannya." Ujarnya disambut senyuman dari Rajanya.


"Bagus, bagus sekali. Kau boleh pergi!?"


Shuwei bangun dan akan pergi, sebelum dia pergi matanya sempat melirik Jiafen. Setelahnya Jiafen tersenyum samar.


...***...


Beberapa minggu kemudian…


Seorang wanita sedang mencari keberadaan seseorang. Dia mencari ke segala tempat dimana orang yang dia cari biasa ada disana. Namun tidak juga dia temukan orang itu. "Dimana pria itu?" Ujarnya.


"Untuk apa kau mencarinya? Toh dia tidak akan kembali selamanya." Ujar seseorang tiba tiba datang menghampirinya.


"Apa maksudmu gendut?" Tanya Nie Fuwei bingung.


"Fuwei'er, dia itu pengecut yang lari saat menghadapi musuh. Disaat kita semua dalam bahaya dia lari ketakutan dan meninggalkan kelompokku dan yang lain dalam bahaya. Tentu saja pengecut itu tidak akan berani datang kesini lagi." Ujar Liubai dengan ektingnya.


Mendengar itu Nie Fuwei tidak percaya. Mana mungkin Zhen lari meninggalkan mereka. Tapi dendamnya pada mereka yang selama ini dikuburnya bisa saja itu mungkin. "Kau jangan mengada ada!? Zhen tidak mungkin lari ketakutan dan membiarkan kalian dalam bahaya." Belanya yang masih sedikit mempercayai Zhen.


Liubai tertawa lucu mendengar ucapan Nie Fuwei, "Mengada ada? Apa kau pikir anak buangan itu tidak memiliki dendam pada kita? Kita semua sudah mengabaikan dan membulinya puluhan tahun, tentu saja itu mungkin untuknya meninggalkan kelompoknya sendiri. Fuwei'er, asal kau tahu!? Dia hanya berpura pura baik tapi sebenarnya sangat pendendam. Kalau tidak, mengapa dia tidak kembali sampai sekarang?" Tanya Liubai sembari melihat Nie Fuwei licik.


Sedangkan Nie Fuwei sedang memikirkan perkataan Liubai tentang Zhen. Nie Fuwei beberapa kali kerap melihat Zhen ingin sekali membunuh semua orang disini bahkan pria itu menatap dirinya seperti musuh.


Tiba tiba Liubai meraih tangannya, "Fuwei'er jangan sedih lagi!? Ayo kita pergi rayakan kemenangan kita saja." Ujar Liubai.


Nie Fuwei langsung menampik tangan itu, "Jangan memegangku!? Aku bisa berjalan sendiri." Ujarnya yang kemudian pergi.


Masih ditempatnya Liubai menggerutu, "Dasar gadis jal*ng!? Suatu hari nanti kau pasti akan terpikat dengan ketampananku!?" Ujarnya dengan percaya diri lalu menyusul Nie Fuwei.


Dari balik pohon ternyata seseorang mendengar percakapan mereka. 'Jadi pria sombong itu lari saat pertarungan? benar benar pengecut!? Pantas saja dia tidak kelihatan akhir akhir ini. Semoga saja dia mati oleh monster yang lebih kuat dari Raja Ular Emas.' Pikir Shu Jiujiu dengan raut kesal. Kemudian pergi menuju pesta kemenangan telah menaklukan sepertiga hutan hitam.


...~~...


...-...


...-...


...SEMOGA SUKA...