
Di bawah pohon besar Zhen mengubur teman kecilnya yang bernasib naas. Akhirnya ia memiliki teman, tapi temannya tidak berumur panjang. Zhen menangis tidak ada henti hentinya dibawah pohon. "Hiks… hiks… " Zhen mengusap air matanya yang selalu keluar.
"Cup cup cup, tuan jangan sedih lagi. Tuan masih bisa mencari teman lain."
"Tapi… hiks… siapa yang… hiks… ingin menjadi temanku?" Ujar Zhen masih sesenggukan.
"Bagaimana denganku? aku ingin menjadi teman tuan."
Zhen hanya terdiam mendengar jawaban kabut hitam ini. Memang hanya kabut hitam saja yang mau mengajaknya bicara dan ingin menjadi temannya. Tapi sekali berteman dengannya maka nyawa akan melayang. "Tidak." Jawabnya dengan tegas. Setelah memakamkan burung kecil itu, Zhen pulang kekamarnya.
Sesampainya disana terlihat seorang wanita cantik berambut hitam dengan pakaian mewah yang juga berwarna hitam. Wanita itu melihat kedatangan Zhen dengan mata merah cantiknya. Melihat Zhen mengingatkannya pada seseorang. Sayangnya seseorang itu adalah seseorang yang ia benci. Tatapannya berubah menjadi tatapan sinis yang menunjukkan tidak suka.
Melihat wanita itu membuat langkahnya berhenti. Wanita itu adalah ibunya, Ming Jiafen. Zhen terlihat senang Jiafen mengunjunginya. Terakhir kali ia bertemu dengan ibunya adalah beberapa tahun yang lalu. "Ib__"
"Kemana saja kau pergi? Bukankah aku sudah bilang untuk tetap dikamarmu dan jangan pernah keluar?" Tanya Jiafen sembari bangun dari duduknya dan berdiri tepat dihadapan Zhen.
Zhen meremas ujung pakaiannya dengan tangan yang gemetar. Dia takut kalau ibunya akan semakin membenci dirinya. Meskipun ia tidak tahu apa masalah yang ia berbuat dari keluar kamar. Kepalanya terus menunduk kebawah dengan hati gugup. "A aku hanya pergi mencari makan sebentar. Aku tidak pergi ke tempat yang ramai__"
"Aku tidak butuh alasanmu!? Aku dengar kau juga bertemu dengan Jun'er, apa kau tidak bisa berhenti membuat masalah?" Tanya Jiafen dingin.
Zhen merasa janggal dengan perkataan Jiafen. Dirinya tidak pernah bertemu dengan Jun apalagi bicara dengannya. Melihatnya saja tidak pernah apalagi bertemu. Zhen langsung mendongakkan kepalanya melihat Jiafen untuk menjelaskan kejadian sebenarnya. "Tidak, aku tidak bertemu dengan kak__"
"JANGAN MEMANGGILNYA KAKAK DENGAN MULUT KOTORMU!?" Bentak Jiafen disertai tatapan marah.
Bentakan itu membuat Zhen kaget dan tak bisa mengedipkan mata sesaat. Jiafen berlitut satu kaki dan memegangi kedua pipi Zhen. "Zhen'er, kau telah menjadi anak nakal. Dan ibu tidak suka dengan anak yang nakal sepertimu. Jadi, kau ingin menerima hukumanmu kan?" Tanya Jiafen dengan senyumannya.
Zhen tahu hukuman yang dibicarakan Jiafen adalah hukuman yang itu. Dia agak ragu untuk menjawab iya meskipun itu hanya satu kata.
Lama tidak mendengar jawaban, Jiafen membuat wajah dingin kembali. "Mana jawabanmu?"
"Iya… ibu." Jawab Zhen dengan berat.
Seketika wajah dingin Jiafen berubah menjadi ramah kembali, "Anak baik~" Ujarnya sembari mengusap atas kepala Zhen.
Penjara bawah tanah
Cet`er… cet`er… cet`er…
"Agh… agh…"
Didalam ruangan yang gelap yang hanya diterangi satu cahaya lilin ada suara cambukan dan suara seseorang yang dicambuk. Suara itu sudah berlangsung lama selama setengah malam.
Di luar ruangan ada dua orang penjaga yang menjaga di luar. Mereka menjaga agar tidak ada seorangpun yang mengganggu proses hukuman. "Hei, bukankah ini sudah berlangsung sangat lama?" Tanya seorang penjaga.
"Ya, ini sudah berlangsung lama. Kurasa anak itu sudah membuat kesalahan besar kali ini."
"Tapi dia kuat juga, ya? Sudah setengah malam dicambuk tapi masih bisa bertahan."
"Karena itu jangan pernah meremehkannya meskipun pembawa bencana itu masih kecil."
Kreet
"Baik, nyonya." Mereka pergi sembari memberi salam.
Untuk sesaat Jiafen melamun di luar ruangan. Kemudian dia pergi tanpa berkata apapun.
Didalam terlihat Zhen yang dirantai sana sini dengan luka cambukan dan darah dimana mana. Darah keluar dari luka cambukan. Inilah hukuman yang dimaksud. Luka itu semakin perih saat angin dingin berhembus meniup lukanya. Meskipun ini adalah ruangan bawah tanah tapi ada lubang kecil dari atap langit langi. Sepertinya itu sengaja dibuat.
Tes tes tes
Darahnya menetes dari kepala. Itu bukan luka cambukan. Tapi luka yang disebabkan oleh benda tumpul.
"Kejam sekali~ Apa tuan masih tidak ingin menggunakan kekuatan tuan? Coba lihat semua luka ini, aduh duh~ kejamnya~ " Ujar kabut hitam yang mulai membentuk sebuah tubuh yang abstrak. Tangan hitam meraba semua luka Zhen begitu juga luka yang ada di kepala. "Hm~ hm~ sepertinya kepala tuan dipukul dengan sangat keras ya? Kalau begini gawat sekali."
"Ke… napa?" Tanya Zhen sembari melihat Kabut hitam didepannya samar samar.
"Soalnya, urat kecil didalam kepala tuan ada yang putus. Tapi ini bukan masalah besar. Tidak mengancam nyawa juga. Jadi tuan bisa tenang." Ujarnya sembari tersenyum lebar dan menyeramkan. "Hanya saja…"
"A…pa?"
"Hi hi hi hi hi…apa tuan begitu penasaran?" Goda Kabut hitam.
Zhen menatapnya dingin dengan kedua mata merahnya.
Tangan kabut hitam mengusap pipi Zhen dekat matanya, "Oh~ Mata tuan aku sungguh menyukainya~ begitu dingin dan kejam. Itu sangat membuatku takut hingga membuat merinding. Tuan akan tahu suatu hari nanti khi khi khi khi khi…" Kabut hitam perlahan menghilang. Kebrisikannya akhirnya senyap.
...***...
Sudah tiga hari Zhen dikurung dan tidak diberi makan. Dia terlihat sangat menyedihkan. 'Aku lapar, sangat lapar. Aku juga ingin makan itu!' Pikir Zhen, dia seperti melihat halusinasi. Dia sampai lupa kalau saat ini ia masih didalam ruangan bawah tanah.
Tap tap tap
Akhirnya seseorang datang dan melepaskan rantai ditangannya. Itu membangunkannya dari halusinasinya.
Bruk
Begitu lemas dan tidak bertenaga. Orang yang melepaskan rantainya pergi begitu saja tanpa membantu Zhen berdiri atau kembali ke kamarnya. Entah Zhen masih hidup atau sudah mati, tapi dia tidak bergerak sedikitpun. Tatapan matanya kosong seperti orang mati.
"Ah, benar. Aku masih disini." Baru tersadar dari lamunannya dia berusaha bangun dari posisinya saat ini. Dengan tangan dan kaki yang bergetar, Zhen bersaha berdiri dan berjalan keluar ruangan ini. Saat berusaha keluar ia menemukan dua jalan yaitu kiri dan kanan. Dia memegangi kepalanya yang merasa pusing dengan arah jalan ini. Entah kenapa kedua jalan ini terlihat sama dimatanya. "Emm, aku rasa yang kanan." Diaberjalan ke arah kanan tapi beberapa saat kemudian ia malah kembali ke tempat awal. Lalu dicobanya jalan arah kiri tapi dia malah menemukan ruangan yang lain. 'Gawat, aku tersesat.' Pikir Zhen.
...~~...
...-...
...-...
...SEMOGA SUKA...
Tolong komennya supaya author semangat 😩😩😩
Author juga manusia😌😌😌