I'M Zhen

I'M Zhen
Bab 22. Tidak boleh bahagia



Nie Fuwei tersenyum senang karena Zhen memberinya senyuman ramah. Dari tadi dirinya hanya senyam senyum sendiri dan belum mengatakan apa urusannya ke kediaman Zhen.


"Apa kau kesini hanya untuk senyum selama dua jam dan tidak ingin mengatakan apapun?" Ujar Zhen menatap datar gadis dihadapannya. Mereka duduk berhadapan dengan meja bundar sebagai penengah.


"Ah, benar?! Aku ingin mengatakan kabar gembira untukmu!?" Ujarnya yang langsung tersadar dengan tujuan awalnya mengunjungi Zhen.


"Kabar apa?"


"Penyerangan ke wilayah Raja Kucing Petir diganti dengan kelompokku. Jadi aku bisa berpura pura mengalahkan Raja Kucing Petir dan bernegosiasi dengannya. Dengan begitu aku memiliki kesempatan menyelamatkan mereka!?" Jelas Nie Fuwei.


Saat Nie Fuwei menjelaskan tentang rencananya Zhen benar benar mendengarkan. Matanya berbinar binar mendengar Nie Fuwei memiliki kesempatan menyelamatkan para kucing itu. Saking senangnya Zhen meraih tangan Nie Fuwei, "Terima kasih!? Terima kasih banyak!?" Ujar Zhen sembari tersenyum. Kali ini senyumannya tulus dari hati.


Itu membuat Nie Fuwei segera menarik tangannya. Dia benar benar tidak bisa mengontrol jantungnya. "I iya, sama sama." Jawabnya dengan senyum canggung. Tapi, Nie Fuwei sebenarnya sangat penasaran kenapa Zhen sangat peduli pada kucing petir. Setahunya, Zhen selalu berada di kamarnya dan membaca buku. Yah, itu yang selalu diperhatikannya. "Kenapa kau sangat peduli dengan mereka?" Tanya Nie Fuwei untuk memuaskan rasa penasarannya.


Zhen masih tersenyum lega mendengar kabar baik ini. Saat pertanyaan Nie Fuwei ditanyakan padanya senyumnya memudar. "Salah satu dari mereka pernah menolongku. Selain itu mereka juga monster yang baik. Aku tidak ingin melihat kedamaian para monster baik itu hancur." Ujar Zhen menjelaskan.


Nie Fuwei memperhatikan dengan jelas, 'Astaga~ dia baik sekali. Dia juga sangat lucu.' Pikir Nie Fuwei tidak mendengarkan secara jelas. Yang dia perhatikan adalah wajah Zhen yang menjelaskan dan dimatanya itu terlihat lucu.


"Jika sudah selesai kau boleh pergi." Ujar Zhen tiba tiba.


"A apa? Kau mengusirku begitu saja? Tidak ada tanda terima kasih atau semacamnya?" Tanya Nie Fuwei kecewa campur syok.


"Bukankah aku sudah mrngatakan terima kasih? Dan lagi kau belum menyelamatkan mereka sepenuhnya. Jadi berhasil atau tidaknya belum jelas." Ujar Zhen menjelaskan.


Nie Fuwei tampak kesal mendengar itu. Tapi menyebalkannya omongan Zhen benar. Dirinya belum bisa dibilang berhasil jika apa yang direncanakan belum terwujud. "Baik!? Aku akan pergi. Tunggu dan lihat bagaimana aku akan berhasil." Ujar Nie Fuwei bercampur kesal. Dia keluar sembari membanting pintu tua yang sebentar lagi akan rusak.


"Hmph, menyebalkan!? Apa dia pikir dirinya adalah bos? Mengatur seenaknya!?" Gerutunya setelah keluar dari kamar Zhen. Dia sangat kesal karena hati pria itu sangat keras seperti batu dan sangat dingin seperti es abadi. Dan jika didekati maka akan ada tembok besar sebagai pembatas.


Tapi satu hal yang disadari Nie Fuwei dan tidak ingin dipercayanya karena hal ini adalah yang terburuk dari pria itu. 'Meskipun aku baru bertemu dengannya tapi aku sangat pandai menilai hati seseorang. Dan dia, sudah memiliki ruang hampa dihatinya. Meskipun sudah membangun tembok besar yang menjadi pembatas, tapi sebenarnya tak ada apapun didalamnya.' Pikirnya yang sudah menjauh dari tempat Zhen.


Memikirkan itu membuat rasa kesalnya berubah manjadi kasihan melihatnya.


Nie Fuwei tidak tahu, kalau selama ini ada yang mengawasinya keluar masuk dari ruangan Zhen. Dan orang itu segera melapor pada seseorang yang menyuruhnya.


...***...


"Menyelamatkan wilayah Raja Kucing petir? Kenapa anak itu ingin menyelamatkan mereka?" Tanya seorang perempuan berambut hitam dan memiliki mata merah darah. Wajahnya hampir sama seperti Zhen hanya saja dia adalah perempuan. Ditambah lagi dengan pakaiannya yang serba hitam yang membuatnya persis mirip dengan Zhen. Dia adalah Ming Jiafen.


"Saya tidak tahu Nyonya. Tapi kata Yang Mulia kedua, dia menyukai mereka." Kata seorang pria berbaju hitam dan memakai penutup wajah.


"Siap, Nyonya!?" Pria bernama Shuwei menghilang begitu cepat.


"Bahagia?! Aku tidak akan pernah membiarkanmu bahagia meskipun itu sedikit. Dan jangan pernah berharap kau bisa mendapatkan itu dari Jun ku!?" Ujar Jiafen yang memperlihatkan tatapan kebencian pada seseorang yang tidak ada kehadirannya.


...**...


Di wilayah Kucing Petir…


"Ggrrrr… " Mereka bertarung dengan sekelompok orang yang memakai pakaian serba hitam dengan penutup wajah yang menutupi sebagaian wajah.


Ada banyak mayat kucing dimana mana karena dihabisi tanpa ampun oleh kelompok tersebut. Dari sekian banyaknya kucing petir, hanya ada satu yang masih bertahan dan berdiri tegak dengan banyaknya luka di tubuhnya. Itu adalah Ratu Kucing Petir. Dia melihat para anggotanya bergeletak tanpa nyawa. "Kalian… HARUS MEMBAYARNYA!?" Teriak Ratu Kucing Petir marah. Ekor dan seluruh bulunya berdiri layaknya kucing yang marah. Bulunya bersinar berwarna putih seperti petir dengan mata yang seluruhnya putih. Gigi taringnya yang tajam terlihat siap mengoyak. Dan tubuhnya yang dari awal sebesar harimau semakin besar sebesar gajah.


Jeder!? jeder!?


Petir menyambar dimana mana. Salah satunya menyambar salah satu orang berpakaian hitam. "ZUOFAN!? SIAL!? SEMUANYA KEPUNG DIA DARI SEGALA ARAH DAN JANGAN BIARKAN DIA MELANCARKAN SERANGANNYA!?" Teriak Shuwei pada anggota kelompoknya.


Mereka menyebar mengelilingi Ratu Kucing Petir dan menyiapkan tali untuk melumpuhkannya. Mereka melempar tali keatas Ratu Kucing Petir dan kemudian menekannya untuk tunduk.


"Gggrrr Roarrr!?" Ratu Kucing petir mengayunkan cakarnya dan dan menggagalkan serangan mereka. Dia memukulkan satu kakinya ke yang kemudian sengatan listrik menyambar mereka dalam jarak lima meter.


Tubuh mereka seketika mati rasa selama tiga detik. Tidak disangka ternyata kekuatan Ratu Kucing Petir sangat kuat. Padahal dia berada di rank ke lima puluh. Setelah tubuh mereka bisa digerakkan kembali Shuwei memutuskan untuk kembali, "SEMUANYA MUNDUR!?" Teriaknya kencang.


Setelah mendengar aba aba dari pemimpin mereka, satu persatu lari dengan terpogoh pogoh. Shuwei sendiri membawa salah satu anggotanya yang mati mendapat serangan ganas dari Ratu Kucing Petir.


Semua orang berbaju hitam sudah pergi dan Ratu Kucing Petir kembali ke wujudnya semula. Warna bulunya kembali berwarna pink bersinar dengan bagian bawah berwarna putih. Ada juga beberapa bercak darah disekujur tubuh karena luka dari orang orang berbaju hitam. Matanya yang sudah kembali seperti semula memiliki warna berwarna biru kelabu vertikal. Dia menatap sedih anggota rasnya. Untungnya dia sudah mengevaluasi beberapa anak anak.


Kemudian dia berjalan dengan satu kaki belakang yang pincang menghampiri mayat mayat anggota rasnya yang mati. Satu persatu dikumpulkan dengan air mata yang menetes.


...~~~...


...-...


...-...


...SEMOGA SUKA...