
Saat membuka mata terlihat Kakek Luan yang sedang menikmati makanannya dimeja makan bersama Yueyin di pelukannya. Zhen segera bangun dari tidurnya. Tidak terasa kalau dirinya sudah terlalu enak tidur. Rencananya ia ingin pergi diam diam setelah Kakek Luan datang. Tapi malah ia tertidur disamping bayi berlendir itu.
"Oh, kau sudah bangun? Sepertinya kau tidur sangat nyenyak hingga air liurmu ke mana mana."Ujar Kakek Luan dengan nada jail nya.
Zhen tidak pernah berliur saat tidur. Dia ingat tadi malam bayi itu menepuk nepuk pipinya dengan tangannya yang penuh liur. "Ini bukan air liurku! Ini air liurnya!?" Ujar Zhen membela diri. Dia benar benar tidak terima jika harus dibilang berliur saat tidur. Sedangkan yang memberinya air liur sedang enak enak meminum susunya.
"Baiklah baiklah, aku percaya. Sekarang, cucilah wajahmu dan kita makan bersama!?" Ujar Kakek Luan.
Setelah membersihkan wajahnya yang penuh air liur Yueyin, Zhen tampak ragu untuk bergabung.
Sepertinya Zhen masih ragu dengan makanan yang ada di meja makan. Dia tidak tahu apakah makanan itu beracun atau tidak. Bukan keinginannya untuk berpikiran negatif seperti ini, tapi setiap pelayan memberinya makanan itu akan selalu beracun. "Aku, aku akan makan nanti." Ujar Zhen sembari menundukkan kepalanya.
Kakek Luan tahu apa yang dipikirkan Zhen saat ini. Wajar saja jika dia selalu waspada, karena semua orang disini selalu mencari kesempatan untuk membunuhnya. "Kau tenang saja, makanan ini tidak mengandung racun didalamnya. Mereka tidak akan berani menaruh racun dimakanan ini. Karena tidak akan ada yang berani meracuni tetua kuat sepertiku." Ujar Kakek Luan menjelaskan pada Zhen.
Mendengar kata tetua membuat Zhen kaget dengan ucapan Kakek Luan. 'Pria tua itu adalah Tetua klan guaiwu? Kalau dia tetua sudah pasti tidak ada yang berani padanya kecuali orang itu. Berarti aku tidur di kamar tetua?' Zhen semakin sibuk dengan pikirannya sendiri. Hingga panggilan Kakek Luan tidak dihiraukannya sejak tadi. Tiba tiba saja ada yang menarik tangan kecilnya membuat Zhen terjengat kaget. Tapi saat ia melihat siapa itu ternyata Kakek Luan yang menariknya.
"Sekarang makanlah!?" Ujar kakek Luan sudah menarik Zhen ke depan meja makan.
Tepat dihadapan Zhen ada banyak makanan enak. Zhen menelan ludahnya sendiri melihat banyaknya makanan. Dirinya tidak pernah merasakan makanan enak seperti ini. Setiap hari yang dimakan hanya roti kering yang terkadang berjamur. Karena sepertinya tidak akan terjadi apa apa, Zhen duduk di kursi yang sudah ada dengan canggung.
"Kenapa kau hanya melihatnya? Cepat dimakan!" Ujar Kakek Luan mempersilahkan Zhen makan.
"Ah i iya!?" Sesuai apa kata kakek Luan, Zhen memakan makanan yang tersedia. Ternyata rasanya benar benar enak. Entah karena ia lapar karena belum makan berhari hari atau karena ini pertama kalinya seseorang mengundangnya makan bersama. Tapi yang pasti rasanya benar benar enak. Kalau tidak ada Kakek Luan disini mungkin Zhen sudah menangis karena makanan ini terlalu mewah di lidahnya. Sekarang saja ia menahan tangisnya di tenggorokan.
"Bagaimana? Enak, kan?" Tanya Kakek Luan.
"Iya, ini enak." Terlihat senyum kecil di wajahnya yang sudah lama tidak tersenyum sebahagia ini.
Setelah selesai makan beberapa pelayan datang untuk mengambil piring kotor. Zhen kelihatan minder ketika beberapa pelayan yang melihatnya dengan sinis.
"Apa yang kalian lihat?" Tanya Kakek Luan sembari mengeluarkan aura menekannya.
Sontak para pelayan itu langsung menundukkan kepala mereka takut dengan kemarahan Kakek tua itu. Mereka langsung terburu buru pergi selesai berkemas.
Kakek Luan memperhatikan baju yang dikenakan Zhen. Baju itu adalah baju masa kecil anaknya yang telah meninggal. Melihat itu pas di tubuh Zhen mengingatkannya pada anaknya. "Jangan takut pada orang orang yang merendahkanmu. Mereka akan lebih berani jika kau menunjukkan ketakutanmu pada mereka." Ujar Kakek Luan memberi saran pada Zhen.
Kakek Luan tersenyum senang melihat Zhen dengan polosnya membuat janji. Dia jadi ingin mengajarkan sesuatu pada Zhen. "Boleh aku memeriksa nadimu?" Tanya Kakek Luan yang langsung disambut oleh Zhen yang menyerahkan tangan kirinya tanpa ragu. 'Penurut sekali. Dia bahkan tidak memiliki kecurigaan sedikitpun.' Pikir Kakek Luan sembari menekan pergelangan dalam tangan Zhen. "Apa kau tidak curiga aku mengapa apakan dirimu?" Tanyanya ingin menjaili Zhen.
"Tidak, aku yakin orang yang menolong ku dan memberiku makanan enak adalah orang yang baik." Jawabnya langsung tanpa kecurigaan sedikitpun.
Pria tua itu hanya bisa tersenyum canggung mendengar keyakinan bocah ini yang kelewat positif. "Dengar, tidak semua orang yang menolong dan memberi makanan enak adalah orang baik. Bisa saja mereka memiliki maksud tersembunyi. Kau harus selalu waspada." Ujar Kakek Luan selesai memeriksa nadi spiritual Zhen.
"Baiklah." Senyum ceria terus menghiasi wajahnya. Dia seperti tidak mendengarkan apa yang baru saja dikatakan Kakek Luan.
'Sudahlah, nanti juga dia mengerti maksudku.' Pikir Kakek Luan asembari menghela nafas pelan. "Aku terkejut setelah memeriksa nadi mu. Bakatmu tidak jauh berbeda dengan kakakmu. Dan sepertinya kau tahu cara berkultivasi." Ujar Kakek Luan memberi penjelasan pada Zhen setelah memeriksa nadinya. Dia merasakan ada Qi yang mengalir meskipun sedikit. 'Tidak ada yang mendekatinya, orang orang juga membencinya, dari mana dia mempelajari teknik berkultivasi? Apakah kakaknya? Sepertinya tidak mungkin. Lalu siapa?' Pikir Kakek Luan.
"Kultivasi? Apa itu?" Tanya Zhen tidak mengerti.
Terlihat kerutan didahi Kakek Luan, dia terkejut mengetahui Zhen tidak tahu apa itu kultivasi tapi bisa melakukannya. "Kau benar benar tidak tahu atau pura pura tidak tahu?" Tanya Kakek Luan masih terkejut.
Namun Zhen hanya menggelengkan kepalanya tidak tahu. Dia bingung mengapa reaksi Kakek Luan terlihat terkejut mendengar pertanyaannya.
"Baiklah, akan ku jelaskan apa itu kultivasi. Aku akan mulai dari Qi. Qi adalah energi kehidupan yang ada disekitar kita. Dan cara kita mengolah Qi menjadi kekuatan spiritual adalah dengan berkultivasi. Ada berbagai maacam teknik kultivasi di dunia ini. Salah satunya adalah yang kau gunakan." Jelas Kakek Luan singkat. Sebenarnya jika dijelaskan secara mendetail itu akan memakan waktu. Jadi dia menyingkat penjelasannya menjadi sesingkat mungkin agar bisa dipahami Zhen. "Jika boleh tahu, dari mana kau mendapatkan teknik kultivasi itu?" Tanya Kakek Luan mulai menggali lebih dalam.
"Aku tidak tahu." Jawab Zhen langsung.
"Apa?"
"Tiba tiba saja teknik ini muncul dikepalaku. Jadi aku melakukannya saat bosan." Jelas Zhen sejujur jujurnya.
Melihat dari ekspresi dan ketenangannya menjawab sepertinya Zhen berkata jujur. Tapi mana ada hal seperti itu terjadi. Kakek Luan semakin penasaran dengan anak kedua ketua klan ini.
...~~...
...-...
...-...
...SEMOGA SUKA...