I'M Zhen

I'M Zhen
Bab 11. Psikopat



Didalam kamar yang gelap dan hanya diterangi satu lampu lilin, terbaring tubuh kecil dengan balutan perban membungkus luka didada dan juga kepalanya. Lukanya sangat parah disertai demam tinggi. Tapi ditengah kesadarannya yang belum sepenuhnya sadar, Zhen mendengar suara tangisan bayi di samping tempat tidurnya. Dia membuka sedikit matanya dengan nafas yang tidak teratur.


OOAAA OOAAA


Zhen melihat ada tempat tidur lain yang lebih kecil. Dan disanalah asal tangisan itu berasal. "Hah…hah… berisik…" Guman Zhen tidak suka dengan kebisingan dari bayi tersebut. Zhen berusaha bangun meskipun dalam kondisi lemah. Dengan susah payah ia berjalan dalam keadaan sempoyongan menuju tempat tidur bayi itu menangis.


Dia memegangi kepalanya yang semakin pusing mendengar tangisan yang tidak ada henti hentinya ini. "Diam…" Zhen sudah tidak kuat lagi mendengarkan tangisan bayi itu yang tidak juga kunjung berhenti. 'Benar benar sangat berisik, aku akan membuatmu diam selamanya.' Tangannya ingin meraih bayi kecil yang masih menangis tersebut. Untuk beberapa alasan mata merahnya terlihat menakutkan.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya seorang pria tua diambang pintu. Kakek Luan menutup pintu itu kembali dan menghampiti bayi yang tengah menangis itu. Dia menggendong bayi kecil itu dipelukannya sembari menenangkan tangisan bisingnya. Seketika bayi tersebut diam setelah digendong oleh Kakek Luan.


Setelah bayi itu diam Kakek Luan melihat Yohan yang kini sedang menatapnya tajam seperti tatapan seorang pembunuh. "Yang Mulia, jika anda ingin membuat bayi diam anda harus menggendongnya dengan lembut seperti ini. Dan… anda tidak boleh membungkam mulutnya." Dengan sabar Kakek Luan menasehati anak kecil yang berbahaya ini.


"Kenapa?" Tanya Yohan tidak suka dengan saran yang diberikan Kakek Luan. Padahal membungkam mulut bayi itu adalah cara tercepat untuk membuatnya diam.


"Jika anda tanya kenapa, tentu saja jawabannya bayi ini bisa mati. Bukankah anda adalah anak baik? Anak baik tidak boleh membunuh bayi yang tidak bersalah, bukan?" Jelas Kakek Luan sembari memberikan senyuman ramah meskipun sebenarnya licik. Dia tahu kalau Zhen sangat terobsesi menjadi anak baik meskipun perilakunya lebih mirip psikopat.


Seketika Zhen tersadar kalau dirinya hampir saja menjadi anak nakal. "Benar, Zhen adalah anak baik… Zhen adalah anak baik… " Gumannya pelan untuk mengingatkan pada dirinya sendiri kalau ia baik.


Kakek Luan tersenyum canggung melihat bocah yang ditolongnya ternyata tidak normal lagi. 'Bagaimana bisa bocah ini jadi begitu kacau setelah tidak bertemu beberapa hari? Apa seharusnya aku tidak menolongnya? Tidak tidak, bagaimanapun dia masih anak anak. Saat dewasa nanti aku yakin dia bisa berubah menjadi lebih baik.' Pikir Kakek Luan sembari duduk. "Ehm, Yang Mulia, apa anda ingin melihat cucuku? Dia sangat cantik loh!?" Tawar Kakek Luan pada Yohan yang masih berbicara pada dirinya sendiri.


Tawaran Kakek Luan tidak buruk juga. Tadi Zhen tidak melihat jelas wajah bayi yang membuatnya sakit kepala karena tangisannya yang berisik. "A apa boleh?" Tanya Zhen sedikit gugup berbeda dengan beberapa saat yang lalu ingin membunuh bayi itu.


"Tentu saja, lihatlah sepuas anda!" Kakek Luan memperlihatkan bayi cantik berambut putih dengan mata merah besar. Bayi itu melihat Zhen dengan mata besarnya yang berkilau. Tangan kecilnya mencoba meraih Zhen yang saat ini mrlihatnya dengan takjub.


Saat tangan kecil itu ingin menggapai Zhen, seketika Zhen mundur beberapa langkah kebelakang. Wajahnya seperti orang kaget setelah diserang.


"Hm, anda kenapa?" Tanya Kakek Luan kebingungan.


"B bayi itu dia ingin menyerangku!?" Dengan wajah kagetnya Zhen sangat panik.


Kakek Luan hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya melihat sikap Zhen yang berlebihan hanya karena seorang bayi ingin meraih wajahnya. "Sebenarnya dari mana pikiran itu datang? Yueyinku hanya ingin meraih wajah anda." Jelas Kakek Luan dengan sabar.


"Kenapa iuga dia ingin memegang wajahku?"


Lama lama berbicara dengan Zhen benar benar membuat kakek Luan kehilangan kesabarannya. "Sudahlah, anda cari tahu saja sendiri." Ujar Kakek Luan dengan senyum menahan kesal.


Pelan pelan Zhen mendekat dan melihat kembali bayi kecil yang dilihatnya. Bayi itu meraih wajah Zhen dan mengelusnya dengan senyuman diwajahnya. Setelah merasakannya wajah Zhen memerah merasa senang mendapat elusan kecil dari seorang bayi. 'Ternyata, dia tidak berbahaya.' Pikir Zhen setelah memperhatikan lama.


Zhen mendongakkan kepalanya melihat kakek Luan yang kini tersenyum ramah padanya, "Yueyin? Itu namanya?" Tanya Zhen memastikan.


"Ya, cucuku bernama Yueyin Zhu. Anda bisa memanggilnya apapun yang anda sukai." Ujar Kakek Luan.


"Tapi…" Zhen menggantung ucapannya sembari memperhatikan Kakek Luan. Sedangkan kakek Luan sendiri bertanya tanya mengapa Zhen melihatnya seperti itu. "Kau siapa?" Tanya Zhen yang membuat Kakek Luan kaget.


"Anda, tidak mengenal saya?" Tanya Kakek Luan ditanggapi gelengan kepala dari Zhen. 'Ada apa ini? Kenapa ingatan bocah ini sangat buruk? Apa karena lorong itu terlalu gelap sehingga wajahku tidak terlalu jelas dimatanya? Tapi tetap saja dia seharusnya mengenal suaraku kan? Seperti ada yang aneh.' Pikir Kakek Luan. "Namaku Yi Luan, kau bisa memanggilku Kakek Luan." Perkenalan diri yang berulang.


"N namaku Zhen, dan… K Kakek Luan bisa bicara santai denganku." Ujar Zhen dengan malu malu. Ini pertama kalinya ia bicara dengan orang lain dengan tenang.


Kakek Luan melempar senyum ramah pada Zhen sehingga tidak membuat nocah itu waspada padanya seperti biasa. 'Sepertinya memang ada yang aneh.' Pikir Kakek Luan. Dia meletakkan cucunya di tempat tidur, "Zhen, aku masih ada pekerjaan di ruang bawah tanah. Apa kau bisa menjaga Yueyin sebentar?" Tanya Kakek Luan.


"Menjaga gumpalan daging ini?" Ujar Zhen sembari menunjuk cucu Kakek Luan yang tertidur.


"Segumpalan daging? Ha ha ha ha kau benar benar unik dalam mengibaratkan sesuatu. Ya, tolong jaga Yueyinku dengan baik. Dan jangan mencoba membungkamnya lagi! Jika tidak, kau akan menjadi anak jahat. Kalau dia menangis lagi kau bisa menggendongnya seperti yang kulakukan." Ujar Kakek Luan memperingatkan Zhen.


Kemudian dia memperhatikan wajah Zhen yang memerah karena deman dengan nafas yang tidak teratur. Luka di dadanya mungkin yang menyebabkannya demam. "Dan kau masih dalam kondisi sakit. Istirahatlah disamping Yueyin sambil menjaganya." Ujar Kakek Luan sembari mengelus kepala Zhen.


Kepalanya masih pusing sehingga tidak begitu mendengar apa yang dikatakan Kakek Luan. Pandangannya juga mulai buram tidak jelas, tapi tiba tiba ada yang mengelus kepalanya membuatnya tersadar kembali.


"Aku akan segera kembali." Ujar Kakek Luan sembari memberikan senyuman ramahnya.


"I iya." Sautnya pelan karena senang mendapat perhatian dari orang lain. Mungkin tidak harus dari Jiefan atau Jun, Zhen harus mendapat perhatian. Ternyata dari orang lain seperti Kakek Luan juga bisa.


Kemudian Kakek Luan keluar dari ruangan itu dan meninggalkan Zhen dengan cucunya. Meskipun dalam hatinya ia masih ragu meninggalkan mereka berdua dalam satu tuangan melihat Zhen yang beberapa waktu lalu ingin membungkam Yueyin. Tapi, Kakek Luan berusaha percaya dengan Zhen sebisanya.


Zhen duduk disamping Yueyin sembari menjaganya seperti yang dikatakan Kakek Luan. Dia memperhatikan cucu Kakek Luan yang kini tengah tertidur pulas. 'Dia sangat kecil, mudah sekali untuk dibunuh.' Pikir Zhen sembari memperhatikan bayi kecil yang tertidur lelap. Tangan seperti ingin meraih leher kecil bayi itu tapi seketika berhenti karena teringat teguran Kakek Luan. "Tidak, lupakan saja." Zhen menarik kembali tangannya dan lebih memilih tidur disamping bayi kecil itu sembari memperhatikannya.


...~~~~...


...-...


...-...


...SEMOGA SUKA...