
dia memegang tangan gue menuntun mendekati ranjang dan gue mengikut dari belakang "sekarang apa yang Lo mau gua lakuin." tanya Timon.
"simpel, hanya bermain dan berbaring saja di kasur."
gue yang mendengar lalu otak gue mencoba menjadi munafik menebak apa yang mau di lakukan bocah ini.
apa yang mau si bodoh ini lakukan? pasti akan melakukan yang sama ia lakukan terhadap gue di hotel.
gue menurut,bagi gue sama saja, apa bedanya sekarang sama kemarin. toh juga pernah melakukannya dengannya walaupun gue tidak mau namun juga agar waktu cepat berlalu. yang penting sekarang gue ikutin aja maunya setelah itu bebas deh gue.gini amat jalan ninja gue. huhuhu....
setelah gue berbaring,dia langsung berganti pakaian santai didepan gue. gue melihat langsung sekali lagi lekukan tubuhnya tapi pura pura sedikit menutup mata.sedangkan Nikita tersenyum melihat gue. "dasar pria munafik." ucapnya lalu berbaring di sebelah gue.
"gua gak polos, inget gua udah 22 tahun dan lebih tua lima atau enam tahun dari lo." dia bersender menyamping pada tubuh gue dan memainkan jarinya membentuk lingkaran di dada gue.
"nggak kok,aku bukan bilang om."senyumnya mengejek gue.
"dan lagi, gue bukan om lo. sekarang apa?"tanya gue yang sudah mulai tidak sabaran.
"cium."
"maksudnya."
"kamu pura pura bego atau bego beneran sih? cium ya cium.emang ada apa lagi? "
gue menurut. 'cup' cium gue di pipi.
wajahnya sekilas menunjukkan rasa kesalnya lalu kemudian pipinya berubah kemerahan.
"e...e...peluk."
"oke." gue menurutinya lagi.
"sekarang apa?"
"gak ada,hanya tidur." pintanya seolah menyuruh peliharaannya untuk tidur.
"oke.nama Lo Nikita,kan?Lo kok bisa tau nomor gua."bisik gue masih memeluknya.
"rahasia."
"oh."
panjang lebar pembicaraan sampai dia terlelap dalam pelukan gue. dan gue yang emang masih gak tenang untuk tidur berdua dengannya cuma bisa merenungkan apesnya nasib gue karena nolongin cewek gak tahu berterimakasih.
tanpa bergerak sedikitpun gue masih setia memeluknya kayak anjing bersama tuannya hingga dia merasa sesak lalu terbangun. matanya yang tertutup menatap mata gue setelah menguceknya lalu mengecup lembut bibit gue.
"selamat malam." bisiknya mendekati pipi gue dan pipinya.
"sekarang apa lagi?" gue menahan jidatnya dengan telapak tangan.
"balas."
"balas? apa yang perlu dibalas."
"ini" cewek gila itu menunjuk bibirnya sembari senyum.
"gue lakukan,tapi setelah ini gue pergi dan Lo gak gangguin hidup gue lagi, ingat janji Lo saat itu,setelah ini gue gak akan lagi terganggu oleh lo."
"gak janji." katanya kemudiam langsung menciumi bibir gue lagi.
"nggak. salah sendiri,emang kamu gak pernah dengar 'jangan menganggap serius pembicaraan saat diranjang'."
"maksud Lo?."
"aku gak serius ngomong gitu." lalu ia menekan wajah gue dengan kedua tangannya.
"oh...jadi gini cara Lo membodohi gue. oke....sekarang lo jangan tahan gua lagi,atau gue gak akan menahan diri lagi!!!." teriak gue meninggikan nada suara setelah melepas pelukan dengannya.
"coba aja kalau bisa."
"jadi gini cara elu berterima kasih sama gua yang udah nolongin Lo? CEWEK GILA!!!"
gue membuka pintu namun masih terkunci dari luar kemudian mendobrak paksa tapi hasilnya tidak ada yang berubah, pintunya terlalu kokoh untuk hancur akibat dobrakan badan gue.
"BUKA,BUKA...WOI ANJING BOCAH SMA, BUKAIN,SEBELUM AKAN TERJADI APA APA DENGAN DIA." teriak gue mengancam sampai membuat cewek gila itu tersentak.
pintu terbuka dan gue langsung mengambil ancang ancang sembunyi di balik pintu. satu bodyguardnya masuk untuk mengecek bocah itu yang masih bengong menatapi gue membuat mereka tahu gue sembunyi di balik pintu. segera mungkin gue langsung keluar namun ternyata mereka sudah menebak pergerakan gue dari luar kamar dan menutupnya dengan tubuh mereka.
"minggir lo."
"maaf tuan,itu butuh persetujuan nona."
"oke,fine,kita selesaikan dengan fisik!!."teriak gue dan melancarkan pukulan keras ke wajah salah satu bodyguard itu. lalu memukul yang satunya.tiba tiba tanpa sadar dari belakang,tangannya sudah tidak bisa bergerak karena ditahan bodyguard yang mengecek keadaan Nikita tadi lalu mereka membalas gue hingga terkapar lemas. bagaimanapun gue kalah jumlah dan tinggi badan.
"BERHENTI." teriak nona gila itu mereka."kalian berhenti,jangan pernah pukul dia lagi,sekarang bantu bawa dia ke rumah sakit."
mereka menggandeng gue dengan kasar lalu memasukkan ke dalam mobil dan melaju menuju rumah sakit.
"kalo nanti terjadi apa apa dengan dia,kalian bertiga yang harus tanggung jawab." bentaknya pada tiga bodyguardnya kayak anak anjing yang sudah ngerusak sepatu kesayangannya.
"maaf nona." serentak mereka bertiga.
gue dan dia berdua menunggu dokter memeriksa.15 menit kemudian,dokter keluar dan mengajak dia ke ruangannya,dari belakang mereka mengekor.
tidak lama dari rasa sakit yang gue tahan dia kembali lagi mendekati gue.
"puas Lo buat gua terus begini? sekarang Lo jangan pernah dekatin gua,kalau lo tetap melakukannya jangan berharap gak gua abaikan."
"maaf...,aku gak tau akan terjadi seperti ini."ucapnya serasa tulus sambil memegangi tangan gue.
" lo kira gue peliharaan lo? seenaknya aja mempermainkan gue mentang mentang orang tua lo kaya?"
tak ada balasan.ruangan hening seketika. "kamu sudah diperbolehkan pulang,kalian bertiga siapkan mobil dan bantu dia." perintahnya pada mereka memecah suasana.
lalu salah satu dari mereka bertiga pergi ke parkiran, dan yang duanya menggotong gue berdiri.
"lepas...Lo gak usah urusin hidup gua,gue bisa balik sendiri. biaya rumah sakit gak usah Lo bayar,biar gua aja." gue melepaskan keempat tanggan bodyguardnya.
"bawa cepat,tapi hati hati."tanpa mempedulikan perkataan gue dia masih terus memerintah mereka.
"Lo kok susah amat sih...apa yang Lo mau dari gua?gua gak punya apa apa,kenapa nahan nahan gua?"
dia mengabaikan gue lagi dan mereka tetap membawa gue keluar. dari lorong rumah sakit sudah terlihat mobilnya menunggu di depan lobby. gue dipapah masuk kemudian kemudian kembali lagi ke rumah cewek sinting yang bisanya memaksa kehendak dan jika tidak mengikutinya dia memakai segala cara untuk tercapai.
seharusnya ketika di lobby rumah sakit tadi gue langsung kabur, namun begitu kaki gue ingin melangkah ternyata salah satu dari mereka sudah berjaga jaga menahan jaket gue dari belakang dan tersenyum seolah mengejek nasib sial yang gue alami karena menjadi target tuannya. mereka bukan anjing biasa dari nona sinting mereka, mereka ternyata sangat terlatih dalam kewaspadaan.