I'M YOUR MAN

I'M YOUR MAN
I'AM YOUR MAN 66



sekilas gue melihat Nikita dari gerbang luar rumahnya.menatap punggungnya yang tidak kunjung berbalik melihat gue.dan yang lebih gobloknya gue malah mengharapkannya.


hati tak menentu.


kebodohan menguasai gue.


rasanya ingin menggapai,tapi tak pasti.


memilih antara melanggar atau mematuhi yang sebenarnya sudah terlanjur.


gue tau jelas apa yang dimaksud 'tanggung jawab' oleh bokapnya Nikita,si tua sialan.adalah bukan hanya semacam menjaganya dan menempatkan di sisi gue seumur hidup.tapi juga melayakkan diri gue tanpa bantuan siapapun.


walaupun enggan gue mengakuinya,bisa di bilang sejak pertama kali gue ketemu dengan di tua sialan,gue sudah mempunyai rasa akrab dengan sifat satu sama lain kami dalam pemikiran.makanya itu gue tau jelas.ucapan tanggung jawab bukan sebuah persetujuan darinya atau lebih jelasnya adalah dia menganggap remeh gue dan menginginkan gue gagal kemudian menjungkirbalikkan kehidupan gue,membuktikan kepada Nikita bahwa gue hanya sebuah sampah.


sebenarnya,hari itu gue terpaksa mau gak mau harus menyetujuinya demi menjaga harga diri gue.bukan bermaksud memang benar benar menginginkannya,sekedar pembelaan mengembalikan harga diri.hasilnya?fantastis! gue di buat berantakan.tapi hari itu anggapan gue sementara,sekaranglah kehidupan gue jadi lebih kacau.


walaupun gue di beri tempat secara paksa,bukanlah yang paling gue inginkan sebelumnya.karena dengan begitu,otomatis itu masih ada sangkut pautnya dengan Nikita.dan sekarang,kehidupan gue setelah minggat sudah terlanjur dengan keterbiasaan oleh kerepotan yang ada karena Nikita,agak sedikit khawatir.


antara memilih keinginan dibanding ucapan yang sudah terlanjur.mencari atau menunggu,mungkin sebaiknya,melupakan.ucapan ucapan dulu seharusnya tidak gue keluarkan kepada yang tidak pasti.masalahnya dia terlihat sangat tulus tanpa terlihat memiliki akal bulus.


sebagai laki laki gue memilih perkataan yang telah gue janjikan.


dan,


sebagai seorang yang mempunyai hati mengarah pada hasrat.


kebegokan gue dulu salah satu penyebab.merasa bisa melaluinya setelah banyak ketidakadilan tanpa harus waspada pada kelemahan gue,rasa terhadap seorang asing di tatapan pertama.sungguh naif.


°


°


°°°


kafe mulai berjalan seperti biasa.tidak ada yang spesial diantara pelanggan selain seorang cewek berpakaian rock n roll duduk di meja paling ujung di dekat jendela dan di belakangnya tergantung sebuah gitar yang sengaja di gantung Alex di situ.gue sih gak tau apa manfaatnya kalo di letak di situ.katanya biar terlihat keren aja.


pelanggan tidak terlalu banyak.mungkin memang seperti inilah sulitnya menarik pelanggan.terutama orang seperti gue,belum memiliki berpengalaman sama sekali di bidang beginian.tapi apa boleh buat,sudah terlanjur.


sulitnya berbisnis kecil kecilan gini aja gue udah letoy banget.gimana nanti kalo berbisnis yang lebih besar.benar kata Bernard,kawan gue kecil dulu dan sekarang dia udah gak tahu lagi dimana."pengalaman lebih baik dari pada jadi kutu buku".buktinya,gue.sering kali tuh suka bacain buku buku yang sering buat gue berimajinasi liar awalnya doang.tapi pas di lakuin gak sesuai ekspektasi.sama halnya seperti dipikiran bakal menolak tegas, nyatanya ketika berhadapan langsung perasaan enggan dan ketidak-enakan muncul dan keberanian yang telah terkumpul seketika hilang dari pikiran.


"kak..."seketika kuping gue berdengung oleh suara dari telepon barusan yang gue angkat.sebenarnya malas banget gue ngangkat telepon dari nih anak.kalo sosoknya sempat aja muncul di hadapan gue,pasti bakal terjadi hal bodoh darinya.


"hmm..."


"kak,nanti sore kakak ke rumah,ya.papa ngajak kakak.katanya sih makan malam keluarga."


"jam enam sore,kak.soalnya Chelsea juga kangen.oke,kak."


gue berjalan menjauh dari meja ke belakang."gue bukan bagian dari keluarga Lo."teriak gue keras lalu matikan ponsel gue.


makan malam keluarga apaan.sejak tragedi ibu gue,tidak ada lagi kata keluarga dalam hidup gue.selama bertahun tahun gue di neraka dan menghabiskan hari hari dengan semua omong kosong belaka itu,gue bertahan dengan siksaan yang begitu tidak gue hiraukan adalah untuk menyelidiki siapa pelakunya.dan sekarang mereka bilang makan malam keluarga?bullshit!!


tidak sesederhana makan malam biasa.gue sudah terlalu hapal semua sifat biadab mereka.tidak pernah bakal ada kata keluarga bila gue hadir di tengah-tengah mereka.dengan kata lain,punya maksud tertentu.


"kak....,"suara yang benar benar terlalu akrab di kepala gue kembali bergentayangan.hati gue jadi cenat cenut, bawaannya pengen ilang aja langsung biar gak ketemu sama dia.


"kak..."seluruh tubuhnya terlihat jelas begitu pintu kembali tertutup dengan tampilan celana jeans dan atasan kaus oblong super besar. make up-nya tebal.


gue cepat cepat langsung nutup muka pake papan menu.ya,walaupun gak guna guna amat.


"kakk....."sekali lagi dia teriakin gue di kafe berpelanggan.suara yang ketiga kalinya membuat beberapa pelanggan mulai gak nyaman setelah gue lihat lihat dan di tatap balik sama mereka.dua orang pelanggan.


"paan..."kata gue malas sambil membalikan badan membelakangi Chelsea setelah dia mau meluk gue dan gue tahan jidatnya sama telapak tangan.


"ayah nyuruh kakak pulang."


"terus...."balas gue tanpa mempedulikan dia di belakang gue.


"ngajak makan malam keluarga."


"itu aja?"


"iya, emang ada apa lagi?"


"bodoh...gue tau Lo itu bukan cewek bego dan Lo juga tau,kan maksud tersiratnya.lagian gue bukan keluarga kalian."


"iya...sih.tapi,kan gak ada salahnya kita berharap."


"lagian, Lo tau dari mana gue ada disini?"


"kak...Alex."jawabannya spontan,lalu memelototkan matanya.tanpa sadar dia keceplosan tapi gak berani buka suara lagi.


gue langsung menghubungi Alex beberapa kali baru dia mau ngangkat.


"wah...sialan Lo Lex.gue,kan udah bilang paling anti sama nih kuman satu,Lo malah bilang di dia gue disini."gue langsung ngedumel sama nih sama satu anak yang kerjaannya suka banget jadi biang kerok.mendenger Omelan gue meluap luap gue diw cuma ha-ha-ha-hi-hi... disana.


"ye...Lo kira gue mau apa ngasih tau.kuping gue juga sakit disini.jadi gue bantu dia ke tempat kakak tersayangnya.udah Mon,itu aja.oke gue tutup ya.."


si ******....suka suka dia aja maen tutup telepon.nih karna dia kebiasaan nongkrongnya sama walang sangit makanya begini.