
seketika,saat itu juga semua tenaga,ambisi dan kepercayaan diri gue ludes.semuannya yang ada ternyata hanya karena kenikmatan sementara dan seharusnya dari awal gue bisa menahan itu seperti gue sebelum sebelumnya dan berpikir panjang tanpa memprioritaskan kesenangan daging.
\*\*\*\*\*
alarm dia ponsel gue udah berbunyi, menunjukkan jadwal yang gue atur sebelumnya.gak terasa waktu termenung gue yang di penuhi kekosongan berlalu terlalu cepat rasanya.
"kak...masih ingat,kan?"suara teriakan dari Chelsea di telepon.gue sering tuh bertanya tanya kenapa dia selalu aja kalau ngomong sama gue mesti teriak teriak.telinga gue juga bisa sakit terus menerus mendengar setiap kali dia bicara,dianya aja yang gak tau.
dari sini gue pesan ojek online ke rumah yang tidak gue anggap lagi.alasannya karna tidak ada satupun diantara mereka menginginkan gue pulang kecuali ada maunya doang.setiap kali begitu ketika gue dulunya punya masalah dan memutuskan pergi,tapi pada akhirnya selalu ada alasan untuk membuat gue tinggal.
begitu ada kabar dari driver ojek online bahwa dia sudah sampai,gue langsung keluar meluaskan pandangan mencari kendaraan berpelat sama dengan aplikasi tapi yang malah gue temuin pertama kali cewek bego yang beberapa jam lalu sudah menatap gue di depan mobil hitam dan di dampingi Rey berdiri di seberang jalan.
"masuk."
"ada apa?nanti aja,ya.gue sekarang ada urusan."kata gue menahan rasa jengkel.tapi mengingat kegelisahan gue tadi siang,emosi gue kian gue turunkan.
"Gue-ikut-sama-Lo."
"aku?"gue menunjuk diri gue sendiri sambil bertanya dan dia betul mengiyakan."emang Lo tau gue mau kemana?"
"ayo."tanpa menjawab gue dia langsung masuk aja gitu.
hidup gue sejak ketemu dia jadi serba lebih gak mudah dari sebelumnya.dari pertama kali ketemu,memaksa gue,lalu datang lagi bokapnya yang lebih mempersulit gue.walaupun tidak bisa dipungkiri juga ada kebaikannya,belum cukup sampe disitu datang lagi masala yang lebih-lebih parah lagi,dia hamil, Nikita.
ludes,deh hidup gue.serba terkekang.gak ada enak enaknya diposisi kayak gini.dia sih enak,gak bisa gue ikut campur tentang apapun yang berkaitan dengannya.lah,gue?jadi boneka,bisa dia kendalikan.kekuatan benar benar segalanya.
begitu kami jalan,tanpa bertanya atau apapun.salah satu dari orang orang yang semuanya udah kayak patung,diver-nya.nyetir arah yang sama dengan rumah mereka,Chelsea.seperti memang sudah hapal.gue gak heran.lagian mana mungkin Nikita gak nyelidiki gue,bokapnya aja bisa otomatis dia juga bisa.
"Mon."
"hmm.."gue ngelirik sedikit kearah Nikita.
"gue mau cium Lo.boleh?"
lha?napa tiba tiba lembut.mukanya juga sedikit berharap ke gue.padahal masih baru beberapa hari lalu dia sangat kekeh gak mau ketemu sama gue.
"kenapa?"
"mau aja.boleh?"
gue menghela nafas dulu sebelum bergerak cepat gue yang duluan cium dia di pipi.
jujur, sebenarnya gue pengennya itu seharusnya di bibir.bisa di bilang sedikit tergoda mengarah ke situ.kalo diingat ingat udah berapa hari gue tidak pernah lagi merasainya.tapi jantung gue aja yang gak bisa diajak kompromi dan itu malah mengingatkan gue untuk ngendalikan diri gue saat ini.
gak terasa perjalanan yang sudah hampir sudah setengah jam itu sama sekali gak terasa di gue karena kegugupan gue tadi.waktu dihabiskan otak gue untuk berpikir keras apa yang selanjutnya bakal gue lakuin.pertanyaannya bagaimana nanti?gimana kalau?apa yang akan?semuanya muncul terus-menerus gak membiarkan gue tenang.gue ingatin sekali lagi,ini bukan yang pertama kalinya gue ngelakuinnya sama nih bocah,bahkan pernah lebih dari sekedar cium.tapi ini yang pertama kalinya gue rasakan.
"apa? terkejut?"kata Nikita berharap gue seperti perkiraan dia.
"sama sekali tidak."balas gue lalu mendahului dia.
ketika sampai pas di depan pintu gue berhenti.kembali menatap kearah Nikita lalu bertanya."Lo ikut masuk?."
"oke."dia langsung menghampiri gue,tepat di sebelah gue dia menarik tangan gue ke dekapannya.
aneh,tapi itu sanggup menenangkan pikiran liar gue.ada seseorang yang berada di samping itu memang menyenangkan.seakan akan yang dilakukan Nikita itu memberi gue kepastian semuanya akan baik baik saja.
satu tarikan nafas lalu mengetuk pintu dan masuk.ada beberapa orang yang sama sekali tidak gue kenal berada di ruang tamu,dari situ sudah terlihat tempat yang dari dulu tidak berubah.meja makan dan dapurnya,tiga orang keluarga yang sangat cocok dengan kepribadian masing masing juga juga dihadiri tiga orang lainnya yang tidak gue kenal.mungkin orang yang sama dengan orang orang yang di rumah tamu.
"Timon...ngapain kamu disitu.cepat kesini.ada yang mau dibahas."sambutan hangat kepura-puraannya orang tua sialan ke gue.
"ya."gue menurut,berjalan tanpa menghiraukan orang di ruang tamu bersama dengan Nikita yang masih tetap menggandeng gue ke meja makan.
"duduk.sekarang kamu duduk di bangku utama.tapi tempatnya gak cukup untuk teman kamu,atau teman kamu gabung aja di ruang tamu.iya situ aja.ini urusan keluarga."sekarang giliran nenek tua ini yang berbicara,ibu Chelsea.
gue melepas tangan Nikita lalu duduk di bangku utama lalu menarik tangannya ketika Nikita mau pergi.memangkukan dia duduk di di paha gue.
"dia bukan teman."ucap gue tanpa memperhatikan semua ekspresi keenam orang yang di hadap gue.
"jadi,apa yang mau dibahas sampe-sampe undang orang asing ini ke tempat ini."
"sebentar,jawab dulu,ini siapa Timon.pacar?"
"bukan,Timon gak pernah nembak saya.tapi saya istri dia."tiba tiba Nikita masih asal ceplas mengentikan gue bicara.gue mau bilang iya,tapi Nikita malas sesukanya bilang dia istri gue.oke,gue biarin dulu.toh juga gak masalah di gue.
ada sedikit rasa kaget yang terlihat di wajah mereka berenam.khususnya tiga orang lainnya yang kalo dipandang bisa langsung di mengerti kalo mereka ayah-anak-ibu.tebakkan gue mungkin juga benar,mereka mau menjodohkan seperti kebanyakan orang orang pengusaha lainnya.mengorbankan anak demi kemajuan usahanya.tapi gue berbeda.sejak memutuskan melawan mereka,gue bakal gak segan segan mempermalukan mereka.
"TIMON...!siapa yang nyuruh kamu menikah tanpa persetujuan ayah?"
"sepertinya lidah anda terpeleset.pertama,kita bukanlah keluarga."gue menatap sinis ke nyokapnya Chelsea."kedua,anda jangan salah menyebut,anda bukan orang tua ku.kalo gak ada yang mau di bicarakan lagi,aku pamit."gue berdiri bersamaan dengan Nikita dan pergi dari hadapan mereka.