
Nikita meredam seluruh wajahnya dalam dekapan gue. dia masih saja tidak berhenti menangis sambil mengutuk bocah laki laki itu. sesekali memukul bantal yang gue pakai hingga kain kasa yang membalut seluruh tubuh gue menjadi basah menembusnya.
"hahaha....kenapa harus lo yang nangis,gue yang terluka. lagian gue masih hidup. atau lo suka sama gue." kata gue bercanda agar menghentikan tangisannya.
"emang iya,kok kamu tau." seketika ekspresinya berubah seratus delapan puluh derajat menjadi ceria. memamerkan gigi putihnya di depan muka gue.
Ahh...sial! kenapa harus pertanyaan itu yang keluar dari mulut gue. jelas jelas itu pertanyaan yang seharusnya tidak gue keluarkan di hadapan mahkluk astral yang pikirannya selalu menerjemahkan perkataan gue tidak sesuai apa yang gue mau.
setelah mendengar bertanya begitu,gue menutup mata hingga mencapai kegelapan yang begitu gelap dan tidak lagi berbicara sampai seseorang mengetuk pintu memecah keheningan.
orang itu masuk membawakan makanan yang gue minta sebelumnya lalu Nikita menerima lalu dia keluar di suruh nona nya.ternyata dia salah satu bodyguardnya, rekan Rey.
"mau di suapi?" matanya berbinar binar memiliki maksud tersembunyi. gue tahu apa yang akan dia katakan selanjutnya adalah mengenai syarat jika gue mengiyakannya. seseorang sepertinya selalu mempunyai maksud tersembunyi saat memekarkan senyum tanpa alasan.
"iya." jawab gue lesu.
"hehehe....cium aku dulu."
sudah gue duga. pasti meminta syarat lagi. entah apaan isi otaknya selalu saja mencuri kesempatan.
"bukannya lo bisa melakukannya sendiri." balas gue pasrah.
"tapi itu berbeda...aku mau kamu melakukan sendiri."
"terserah.kemari, gue udah lapar." dia langsung menyodorkan wajahnya tepat di depan muka gue dan gue langsung menciumnya.
"puas?" tanya gue lalu ia mengangguk. "cepetan...suapi. gue udah lapar."
sesekali dia menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri sambil menyuapi gue. untungnya waktu gue minta minum dia tidak membicarakan syarat anehnya. gue akhirnya makan dengan tenang tanpa gangguan hingga habis tak bersisa. walau tepatnya kami berdua yang makan.
"gue masih lapar." kata gue begitu menyadari kalau dia memang sengaja membeli satu makanan saja agar bisa makan di sendok yang sama. gue tidak tahu entah apa komposisi otaknya hingga berpikir begitu padahal dia masih terlihat lapar. gue yakin dia belum makan pagi sejak jam delapan pagi tadi perutnya sudah berbunyi dan sekarang juga sudah jam dua belas siang.
senyum di pipinya mengembang kemudian bergegas meminta makanan bodyguardnya lalu kembali berbaring memeluk gue.
"lo gila ya?! badan gue masih sakit,bodoh. turun lo" cerocos gua.
heran gue sama nih bocah, tingkahnya selalu saja lengket memeluk gue jika gue berdua dengannya. bahkan saat gue sakit pun tidak tidak memperdulikan itu.
"hahahaha..,biariiin. emang kamu bisa apa."katanya meremehkan gue yang memang tidak bisa berbuat apa apa saat ini ini. dia mengangkat kepalanya lalu tertawa saat gue sangat kesal.
"hei...Nikita,gua mau bicara serius. lo dengerin."
"ini...," gua sedikit was-was. berjaga jika nanti setan dalam tubuhnya seketika menggila. "lo sekarang gak pake daleman? dada lo terasa kenyal" kata gua sedikit penasaran.
"hahahaha....aku kira apaan. hahaha...kamu ngomong gitu ngapain takut-takut gitu. hahhahah....,dasar cowok bodoh." katanya terbata bata karena tertawa. "iya,emang kamu mau ngerasain pakai tangan.ini aku kasih semua sama kamu." tangannya menjulur ingin mengangkat tangan gue.
"ehh...Lo gila. tangan gua masih sakit,bego."omel gua kesal.
sial benget kalo terus sama cewek ini.bawaannya gua akan terus tersiksa. bukan karena hal seperti kemarin,namun karena kelakuannya yang menyiksa gue. padahal sudah jelas keadaan gue sudah sekarat gini.
"oh...jadi kalau gak sakit lagi,kamu mau ngeraba. oke sih.tapi...kalau aku kasih kamu rasain di muka boleh kalo kamu mau atau mau sekarang?." katanya sebelum akhirnya langsung memeluk gue dan menimpakan dadanya.
"oi...wooo dooo goooollo yoo(woiiii Lo dah gila ya)." gue mengoceh tidak jelas karena mulut gue juga di timpa. padahal kepala gue sudah di gerak-gerakan agar bisa mengambil napas namun tetap saja susah jika dia memeluknya erat.
"haha..lembut gak? enak kan." katanya mengatakan spesifikasi miliknya. "hah? kamu bilang apa? gak jelas tahu." katanya lagi sambil tertawa senang mempermainkan gue.
Bangs*t memang cewek yang satu ini. ada saja kelakuan anehnya yang selalu tidak terbayangkan.emang sih,sejujurnya pada bagian itu sangat lembut rasanya saat menempel di wajah. apa lagi saat hanya di halangi kaos tipis yang ia kenakan.
untuk pertama kalinya dia merebut keperjakaan gua yang selama ini sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh gue untuk melakukannya.sekarang dia dengan leluasanya mempermainkan gua.
sudah saatnya kayaknya gue mengubah metode lagi cara berurusan dengan dia. liat aja Lo nanti,kejadian ini bakal gua balas.pasti akan ada titik terang setelah gelap.
terlalu lama bagi gue untuk tidak bisa bergerak hingga angka bulanan. bisa bisa gue sudah mati duluan karena tersiksa kesakitan dari setiap kelakuan bocah SMA ini. pokonya gua gak mau hanya tinggal diam saat dipermainkan oleh wanita yang lebih mudah dibandingin gue. gue menggerakkan lagi muka gue mencoba menggigitnya.
"ahahahaha...bodoh,woi geli tau! ahaha...aku tahu kamu pasti mau juga kan. gimana,nikmat gak?." dia tertawa geli kemudian melepas pelukannya lalu menurunkan tubuhnya hingga dimana mata kami saling bertatapan.
"bisa gak sih jangan jadikan gue objek seksual lo." tanya gua asal karena sangking kesalnya terus menerus di permainkan dan di perlakukan sesukanya.
seketika ruangan menjadi sunyi saat dia terdiam cukup lama. ruangan hening dan kemudian menatap gua dari tadi yang juga menatap matanya. dia terlihat sedang menimbangnya. matanya kembali menjelajahi seluruh ruangan.tapi juga gelisah tampak dari raut wajahnya.
"Lo yakin mau denger cerita aku?"tanyanya balik dengan ekspresi serius.
hmm...cukup meyakinkan jika dia mau cerita yang sebenarnya. tidak ada salahnya untuk gue dengerin. selain penasaran ini juga gue lakukan agar mendapat jalan untuk mengakhiri semua ini.jadi untuk apa menolak.
"gue dengarkan."ujar gua setelah mengerutkan kening lalu kembali menatap ke arahnya. gue tau dari mimik wajahnya seperti sulit untuk menceritakan cerita yang bakal panjang baginya,apa lagi jika gue orang asing.
"oke,aku akan ceritain semuanya sama kamu.tapi biarin aku sambil tiduran di dada Lo,dan Lo harus dengerin aku bicara." ucapnya lembut lalu membaringkan tubuhnya di atas dada gue.
"hooos....terserah Lo aja. yang penting lo mau cerita."kata gue pasrah. toh juga jika dia menceritakan alasan dia seperti ini sama gue. setelah nanti gue tahu alasannya selalu begitu gue bisa mencari cara agar menyingkirkan makhluk ini biar tidak nempel dan menggoda gua terus. gini gini gua juga manusia. mana tahan sama godaan.apalagi yang tipe-nya kayak gini.bisa bisa tenaga gue habis semua hanya untuk itu.