
gue meninggalkan hotel masih dalam keadaan kesal sama tuh bocah menjengkelkan. kelakuannya adalah hal ternekad untuk bocah sma seperti dia.
perlahan otak gue sudah kembali ke jalurnya.berpikir normal dan kembali sadar bahwa hal yang barusan kami berdua lakukan yang paling bodoh. disini ada dua pihak yang akan di rugikan,antara dia gan gue. dia yang pasti kehilangan keperawanannya dan gue berkemungkinan seperti kata dia tadi, 'kita bakal bertemu lagi.' yang berkemungkinan sel tahanan menanti karena dia sudah berpikir gue sudah menodainya.
bisa dikatakan secara mata telanjang dia tidak lagi perawan saat kami berdua melakukannya tadi,tapi banyak kemungkinan bahwa selaput dara bisa saja robek oleh banyak hal tanpa hubungan intim seperti pernah cedera akibat jatuh. walaupun gue juga masih mengharapkan bahwa tadi bukanlah pertama kalinya ia melakukan hubungan intim.
menuju pada halte di sisi bagian kanan hotel gue memakai telepon umum menghubungi alex kembali.
panggilan tersambung "Lex,dimana Lo sekarang?gue di halte nungguin elo."
"lha? tapi kata lo balik sendiri? gue gak jadi pergi,ada kerjaan." ucapnya setelah menguap.
"oh..oke oke.pesenin dah gue ojek online.kagak ada handphone gue."telepon gue tutup begitu dia mengiyakannya.
selesai berbincang dengan Alex,gue langsung memasang posisi duduk dengan ekspresi muka sedikit khawatir lalu berangkat begitu abang ojol menjemput.
selama perjalanan gue hanya melamun tentang kejadian brengsek tadi yang memaksa birahi gue keluar dan beratraksi semaunya. jelas hal yang paling membingungkan sesaat adalah kenapa ini abang ojol menggaruk kepala gue dah?
"ada apa bg?" tanya gue menahan rasa ingin memukul kepalanya.
"oh...maaf mas,tak kira kepala saya."balasnya nyengir sambil meraba kepalanya memastikan kali ini tidak salah punya.
absurd banget dah hidup gue gue hari ini. pagi tadi diperkosa sama bocah SMA, sekarang kepala gue di grauk sama driver ojol karena kepalanya gatal.
beberapa kali ia mengajak berbincang,beberapa kali juga ia ketawa ketawa sendiri dengan ucapannya sendiri. gue tidak mendengarnya karena suaranya pelan banget kayak semut bisik-bisik ditambah gangguan suara angin menerpa.
gue langsung masuk ke rumah ketika sampai mendapati Alex sedang sibuk sama game onlinenya.
"main game aja lo,gak sibuk?" gue langsung menyenggol kesibukan yang ia katakan tadi sehingga tidak bisa menjemput gue.
"mon,semalam siapa cewek yang lo bawa? masih SMA lagi? masih berjiwa bocah lo?" matanya menyipit tajam mengarah pada gue tanpa menghiraukan sindiran gue tadi.
sial,begitu cepat dia bisa tahu informasi yang sudah gue waspadai agar tidak ketahuan terutama oleh dia. begitulah alex,selama gue bergerak asal ada sangkut-pautnya alex pasti selalu ketahuan.
"jadi waktu Lo dikamar berdua sama tuh cewek,ngapain aja Lo berdua?" kepo alex mulai keluar. ia menghentikan gamenya lalu meloncat tepat dihadapkan gue.
gue terpaksa menjelaskannya namun tidak sampai pada kegiatan perkembangbiakan tak jadi gue. meladeni berbagai pertanyaan alex lagi dan lagi yang terus menerpa gue adalah sesuatu yang gawat,jika nih anak tapal kuda keceplosan sama adik gue hancur hidup gue.
"hahaha...." dengan riang tanpa sedikit rasa bersalah menertawakan gue selepas mungkin.
kami berdua sudah biasa begini,gue hapal sikap dia bagaiman kalau lagi bosan suka gangguin kegiatan hidup gue,beberapa kali saat dia kesal dilimpahkan ke gue, bagaimana kelakuan otak kopongnya kambuh yang sialnya itu selalu menjadi bencana untuk gw.
"lain kali Lo pokoknya harus cerita kejadian Lo semalam." ujar alex kemudian kembali pada kegiatannya tadi.
rasa ngantuk tidak tidur semalam dan rasa lelah gue akhirnya menyebar pada seluruh tubuh menyiratkan ini saatnya gue bobok siang dulu.
"mon...Mon..Mon bangun lo,Lo mimpiin apaan sih...sampe ngigo segala.." lagi lagi dan lagi,alex selalu saja mengganggu ketenangan gue. nih anak apaan sih masalahnya sama gue???
"Mon..bangs*t bangun lo,woi!....bangun kampret." teriak Alex dengan cengiran jahilnya.
gue masih terus mencoba tidur sambil mencari posisi menutup telinga dengan bantal hingga suara alex tidak terdengar lagi.
"Albert nikah woi!! lu gak mau datang emang?"
seketika mata gue membelalak lalu melepaskan kuncian bantal yang sebenarnya tidak berguna juga menghalau suaran alex.
"hah...buset tuh orang dah nikah aja,beda sama lo,boro-boro nikah pacar aja gak punya,hahaha.." ejek gue.
"B"ngke. lo juga jomblo bego,"Alex mukul gue pelan. "sama aja,b*ngke." sambungnya lagi.
perlahan gue bangkit setelah meregangkan otot otot yang sebenarnya masih lelah, tapi mau bagaimana lagi, gue setidaknya harus datang walaupun tidak bakal banyak bicara.
"lex gua dah siap nih, giliran lo noh mandi." pinta gue setelah keluar dari kamar mandi.
"oke..oke..,siap selesai-in ini aja."kata Alex yang terlihat fokus dengan komputernya.
"Lex jam berapa emangnya dimulai?"
"jam 3 siang."
"YEEE KENAPA ANDA CEPAT SEKALI LO NGAJAK GUE WAHAI MUKA TAPAL KUDA?!!!"
sambil menunggu ratusan menit, waktu gue luangkan buat tidur sejenak agar kembali fit lagi tigak kayak alex, muka sama badannya selalu lusuh kayak pakaian gak di setrika.
Nit..nit....Nit..nit....
alarm berbunyi tepat pada pukul dua siang membangunkan gue kemudian berusaha mengumpulkannya nyawa sembari mengingat apa yang harus gue lakukan sekarang. sesaat teringat Albert dan sesaat lagi teringat tingkah lakunya saat sekolah dulu.
Albert dulunya dia seorang 'banci playboy' kami sebut. untuk urusan nyali dia ciut namun dalam hal mendekati cewek adalah keahlian dia. padahal bagi gue itu dua hal yang mustahil.
untuk mendekati lawan jenis harus memiliki keberanian dan rasa percaya yang tinggi, sedangkan dia terlihat santai dalam hal itu. entahlah,mungkin keberanian memiliki banyak cabang lagi.
"Mon,ayok gua udah siap.Lo cepat siap-siap,gih" kata Alex tanpa menatap, gue langsung menghentikan searching hal yang berkaitan tentang apakah wanita memiliki nafsu?
aneh kan? gue yang sudah hidup puluhan tahun tidak tahu wanita juga mempunya gairah?
gue yang dulu kehidupannya serba ada dan jarang pernah keluar rumah ataupun kalaupun keluar,waktunya paling banyak gue habiskan bersama Alex. sekarang setelah benar-benar sudah terbebas dari tekanan baru bisa merasa satu persatu kenyataan hampir diketahui.
"mon, ayo peak. ngapin lu ngelamun?" alex dari luar sudah menyalakan motornya membuyarkan keheningan yang membuat gue bego sesaat.
"iya,..iya tapal kuda." gue menghampirinya setelah memakai sepatu.