
"gue udah membantu lo.jadi,apa yang mau Lo balas?"
"makasih.tapi itu Lo sendiri yang ngomong.bukan gue."ucap gue cuek masih terus berjalan dan melewati mobil Nikita tanpa berpikir bahwa dia tidak semudah bakal biarin gue pergi. menyuruh Rey menahan gue dan alhasil kita pergi ke rumahnya yang lama. tempat dimana pertama kali gue terpaksa tinggal dan mengalami banyak hal hal gila dan kali ini mau gak mau gue harus dengan sukarela nurutin apa mau dia dulu.
memang,dalam ucapan dia waktu di kafe tadi,dia gak nyebut gue harus ngelakuin apa yang dia mau.gue juga bebas. yang menjadi persoalan,bakalan ada masalah jenis apa lagi yang akan datang kalau tidak di turuti.pokoknya cari aman aja dulu sampe gue-nya bisa cari cara buat ngatasin problem yang kalau dipikir pikir juga seperti jalan buntu.
"kenapa?gak suka?kita bisa pindah rumah kalo Lo gak suka."
"enggak.gue mau beda kamar aja sama Lo.bisakan?kita ini bukan orang yang punya hubungan asmara ataupun suami istri.jadi itu hal yang tabu buat gue kalau satu kamar dengan cewek.apa lagi itu Lo."kata gue tanpa mempedulikan dia yang lagi telanjang bulat didepan cermin dengan santainya lalu berbalik memamerkan lekuk tubuh tanpa busananya.
mungkin gue emang gila.segampang itu bisa mengabaikan lekuk tubuh mempesona dan wajah manisnya tanpa ada sedikit reaksi apa apa.tidak seperti sebelum sebelumnya yang terjadi belakangan ini.atau mungkin bisa disimpulkan sudah terlalu terbiasa melihat penampilan yang sejenisnya.
"oke,terserah.itu hak Lo.gue gak bakal larang,bukan anak kecil juga.terserah."
gue memilih pergi setelah dia selesai pakai baju. pokoknya sebisa mungkin gue harus menghindar dari hal hal yang berpotensi memancing hawa nafsu gue.kan,sia sia jadinya meditasi gue selama ini kalau waktu gue mau keluar tapi dipanggil dia dan Nikita malah ngelakuin hal gak bener lagi.iya,gue bisa nolak.tapi apa bisa gue yakin tidak tergoda sama ************ gue yang selama ini susah amat di kendalikan.intinya gue ogah.
begitu keluar gue langsung ketemu sama pelayan baru yang belum pernah gue jumpai sebelumnya.tapi udahlah,bukan urusan gue juga.gue bertanya sama dia kalo gue orang yang bakal nginep di sini mulai sekarang,sesuai kesepakatan gua sama Nikita.bibinya langsung ngerti lalu mengarahkan gue ke kamar yang sudah di persiapkan untuk gue.
begitu masuk,gue di hadapkan sama kamar super luas yang gak kalah luasnya sama kamar Nikita.di sudut kanan ada komputer yang ditutupi kain putih tipis dan juga kamarnya bersih banget.beda sama kamar gue dulu,berantakan karna jadi sarang nongkrong gue sama Alex.
sekedar merasakan,gue menjatuhkan badan gue di atas kasur super empuk dan nyaman,gue aja sempat hampir tertidur sebelum akhirnya teringat jam segini masih bisa untuk gue buka kafe lagi.sayang kalo cepat cepat tutupnya.kalau perlu gue mau buka sampai tengah malam Kalau tidak karena kesepakatan gue sama Nikita.
gue langsung ngecek ponsel buat pesan ojek online,tapi saldo gue maupun uang tunai tidak mencukupi karena semuanya udah gue belanjakan untuk semua keperluan kafe.apes banget gue.oke,kali ini gue pinjam lagi aja sama Alex.gue chat Alex sudah lebih lima menit belum di balas.gue telepon langsung dengan potongan pulsa tersisa sedikit juga tidak di angkat,mungkin ada kepentingan kali dia.tersisa satu jalan lagi,Nikita.
Tok...tok...tok.....
gak lama pintu kamar Nikita langsung kebuka.masih sama dengan pakaian tembus pandang yang tadi tetap sampai sekarang masih buat gue greget sendirian.
"itu,motor yang Lo bilang dulu untuk gue bisa gue pinjam sekarang?" gue mengarahkan pandangan ke tempat lain.pokoknya jangan sampai lihat ke dia,deh.
"oh,itu.ada di bagasi. kuncinya ada sama satpam."
"bisa gue pinjam?"kata gue lagi.
"bisa....tapi cium gue dulu."
"gak jadi."gue pergi dengan tidak berniat lagi mau banyak bicara sama dia.gue sudah memikirkan dengan baik baik untuk tidak banyak berbicara dengan Nikita.kalau tidak itu bakalan jadi kenyamanan tersendiri buat gue dan akhirnya semua sia-sia.
"tunggu."
gue berbalik dan melihat dia melihat ke kiri kanan lalu maju melihat ke bawah lalu nyuruh gue masuk ke kamarnya.
"gue mau cium Lo sekarang.tapi Lo harus masuk dulu."katanya membuka pintu lebar lebar seperti mempersilahkan gua masuk.
"tapi ini terserah gue mau melakukan apapun sama Lo,kan. lo pacar gue." balas dia sedikit menaikkan kedua ujung bibirnya dengan licik.
sial!!gue lupa kalau kami berdua sudah sepakat hampir sebagian kebebasan gue untuk menolak direbut Nikita dan gue tidak bisa bilang tidak sama Nikita apapun yang mau dia lakukan.
dengan berat kaki gue melangkah masuk ke kamarnya sambil menepuk kepala gue yang pelupanya sudah di taraf tak wajar, sering banget lupa sama hal hal penting dan harus dihindarkan. memang, seharusnya tadi gue gak ke sini dan malah memancingnya.
dia menutup pintunya.dan gue berdiri lalu dia menghampiri.
"sabar.gue punya pertanyaan sama,Lo."kata gue menghentikan Nikita.
"apa."
"apa manfaatnya Lo menargetkan gue.gue ini gak punya uang dan Lo juga kaya,gue juga gak punya apa apa..... selain muka gue aja yang ganteng.kenapa gue?"gue mengubah nada gue menjadi serius.ini adalah tebakan terspesifik yang paling memungkinkan gue saat ini bisa berada di posisi ini.
"jadi Lo udah tau."
"iya."
"Lo tau gue siapa?"
"Nikita."balas gue lagi.
"huh...dasar,polos.jawabannya karena gue suka sama Lo."jawabnya terlihat lega lalu mencium gue.seperti yang gue tebak,gue sama sekali tidak bisa menolak hal menggoda itu.
dia melakukannya dengan agresif dan gue terpancing.bagaimanapun gue juga memiliki hasrat yang harus dilepas.gue mengikuti permainannya dan menggiring Nikita ke atas kasur, melahap setiap tubuhnya dengan gila.gue benar benar tidak tahan sebelum akhirnya teringatkan oleh dia hamil.
"sudah puas? sekarang gue bisa pergi,kan."
"Mon, gue mau Lo sekarang.bisa gak."katanya masih terbaring dia atas ranjang.
"gue punya urusan."
"tapi Lo harus tanggung jawab.gara gara Lo terlalu rakus tadi gue jadi semakin terpancing.bisa gak?" katanya.
"...."
"atau Lo bisa tinggal sebentar peluk gue sampai tertidur aja.cukup itu aja yang gue minta."sambungnya lagi.
dengan alasan tidak ingin dipaksa karena kesepakatan yang kalo gue sekarang memilih pergi tapi tetap di hadapkan pembicaraan kesepakatan dan mau tidak mau harus gue lakukan,gue akhirnya memilih melakukannya.
"cukup peluk."tekan gue lalu menutup kembali pintu dan berbalik ke arahnya.