I'M YOUR MAN

I'M YOUR MAN
I'AM YOUR MAN 12



"hei,kamu cepetan bangun..."


seberkas sinar matahari melewati cela gorden jendela menyilaukan mata gue. tubuh gue seperti terikat tidak bisa bergerak yang ternyata sedang di peluk bocah berpakaian lengkap anak SMA.


"bisa gak sebentar saja jangan ganggu gue waktu tidur? gue ngantuk." gue kembali memejamkan mata lalu tidur lagi.


"bangun,hari ini aku sekolah...." dia beranjak dari badan gue kemudian menarik narik tangan gue.


"lalu? gak ada hubungannya sama gue kan?"


"anterin aku...."


"hah? lo punya supir, dimana mereka?"


"aku suruh mereka pergi."


"bodyguard?"


"semua."


"kalo lo tau mau sekolah kenapa lo suruh pergi?!" balas gue malas meladeni lalu menelungkupkan badan sambil menutup telinga dengan bantal.


"supaya kamu yang ngantar aku...om."


"hah?!!" sontak gue bangkit menggoyang goyang kedua pundaknya. "lo sakit? lo menyuruh mereka pergi dan mengganggu tidur gue? bodoh....mau lo apa sih gangguin gue mulu."


"kamu!!"


"antar aku ke sekolah."


"pokoknya kamu." dia mengoceh memaksa gue.


"oke.terserah...gue mau siap siap dulu."


senyumnya seketika melebar di wajahnya lalu pergi dengan riangnya kayak anak SD yang di bolehin makan permen.


sebelum berangkat gue membasuh muka, mengenakan jaket lalu menuruni tangga menuju teras yang sudah ada bocah gila duduk senyum senyum sendiri.


"ayo." tangannya membimbing gue menuju sebelah rumah yang menghadap langsung pada gerbang.


"pakai apa?"


"di gendong kamu."


"gak lucu. gue serius...."


dia melepas genggamnya "tadah." secara bersamaan menarik cover hitam yang ternyata menutupi sebuah motorcross yang juga berwarna hitam lengkap bersama kuncinya lalu ia tersenyum pada gue.


"ini?"


"iya...ini juga hadiah untuk kamu." senyumnya masih melebar seolah gue akan berterimakasih akan pemberiannya namun gue mengabaikannya memilih menyalakan motor dari pada harus mengatakan sesuatu.


"ayo."


mendadak senyumnya menjadi lesu lalu segera duduk di belakang memeluk gue.


"gue gak butuh pemberian lo." ucap gue lalu menarik gas setelah gue rasa cukup memanasi motor.


dia tidak lagi bersuara,tidak berbuat aneh aneh lagi. dan gue sadar itu karena gue sudah mematahkan semangatnya namun ini harus gue lakukan sebelum dia semakin lengket dengan gue dan berakhir pada kehidupan yang tidak gue inginkan dia ada. gue membenci seseorang yang berharap pada gue, gue benci pada seseorang yang selalu ingin menempel bagai parasit pada kehidupan gue yang seharusnya tanpa bebas, gue membenci seorang penghianat, gue juga benci jika seseorang merasa terbiasa dengan gue. maka dari itu sebelum dia atau gue memiliki salah satu hal itu gue harus mengecewakannya.


"SMA CITRA BANGSA.tau nggak?" ujarnya memecah kesunyian.


"nggak." jawab gue singkat.


"gak tahu. kasih tunjuk jalannya."


"dasar,pria bego." dia mulai menggerutu mengatai gue ya pria bodoh lah, tidak tahu apa apa dan lagi ia mempertanyakan apakah gue ini seorang pria atau tidak.


perjalanan menuju sekolahnya cukup lama diakibatkan macetnya kota dan ia berangkat kesiangan dimana ini adalah jam jam jalanan kota dipenuhi kendaraan dengan asap yang bertebaran di udara.kurang apa lagi,bahkan masih banyak kendaraan tak terawat berasap hitam tebal,semakin membuat risih pernafasan.


"lain kali gak usah naik motor,banyak asap.nanti wajah Lo hitam."


"jadi,kamu bilang aku cantik." senyumnya kembali mekar terpantul dari kaca spion, pelukannya semakin erat.


"gue gak pernah bilang cantik,bodoh."balas gue.


"terserah,yang penting aku cantik."


"nafas gue sesak, bisa lepasin gak?!"


"gak mau." dia tetap kekeh tidak mau melepasnya.seakan-akan dia sedang memeluk seseorang yang sangat dia rindukan sepuasnya supaya tidak lagi resah.


cepat banget cerianya ini bocah hanya karena hal sepele. buyar lagi dah rencana gue.


"oke,udah sampai. sekarang Lo bisa turun kan.gue udah nganterin lo sampe depan gerbang. Lo dari sini bisa jalankan.atau perlu gue gendong sampe kelas?" kata gue menyuruhnya turun.


"boleh, gak apa apa kok." jawabnya antusias kemudian ia melingkarkan kedua tangannya seolah gue beneran akan menggendongnya hingga sampai kelas.


"turun, bodoh!."


"hadeh...isi pikiran Lo itu apaan sih." gue frustasi kalau lama lama sama ini bocah peak. gue segera menghadap belakanh membukakan helmnya ."lo-bisa-turun-sekarang-sekarang-cewek-bodoh." gue mengejanya memegangi helm yang ia kenakan.


"galak banget. yah...gak jadi dong." ucapnya menurut dengan wajah pasrah. "tapi nanti jangan lupa. jemput aku jam lima pas.pokoknya harus tep-at wak-tu."


"emang gua tukang o...,"


"makasih."ucapnya menyalib perkataan gue sebelum mengecup bibir gue langsung kabar menuju gerbang sekolah. ya itu juga bukan lagi masalah besar rasanya mengingat dia sudah terlalu sering berbuat seenaknya pada gue.


waktu yang gue tunggu tunggu akhirnya datang juga. waktu di mana gue bisa bebas melakukan apapun tanpa harus berada di dekat cewek SMA itu. saatnya gue pergi menuju rumah alex sambilan menunggu waktu jam kerja. walau gue yakin kebebasan gue saat ini hanya sementara tapi ini lebih baik sebelum pekerjaan yang sudah alex berikan menjadi kacau jika gue di pecat.


jam masih terlalu pagi untuk pergi ke bar,waktu gue luangkan buat menutupi jam tidur gue yang sudah terganggu tanpa menyapa alex begitu sampai. gue malas kalau harus menjawab bermacam macam pertanyaan kepo alex jika bertemu dia, semacam gue menghindari masala dari masalah dari alex.


Drrtttt....drrtt...


entah sudah ke berapa kalinya dering handphone menggangu tidur gue sebelum akhirnya gue angkat namun terputus. bodo amat, gue tidur lagi.


Drrtttt....drrtt...


"siapa sih?"


"ini aku,kamu nanti jangan lupa jemput jam 5 ya." ujar suara si cewek SMA.


"hahaha...gak mungkin gue begitu bodoh terjebak lagi sama cewek peak kayak elu setelah gue bisa bebas, bodoh."


"jemput!" paksanya.


"bodo amat!"


"aku nungguin sampe kamu datang!" ucapnya bernada seperti ngambek.


dasar cewek pemaksa. mana mungkin gue mau bertemu dengan dia lagi setelah semua penderitaan dan kesewenang-wenangannya pada diri gue. dari awal dia lah yang memaksa bercinta dengannya, kemudian mengurung gue di rumah brengseknya lalu menghubungi gue dengan percaya diri akan gue jemput? jangan harap gue bakal bertindak bodoh lagi setelah dia mengingkari janjinya.


setelah panggilan tersebut berakhir gue memutuskan tidak kembali tidur dan menemui alex. tidak seperti biasanya dia tidak kepo setelah semalaman gue tidak kembali namun ini situasi yang bagus. jadi gue tidak harus pusing memikirkan alasan bodoh lainnya. gue membahas hal seputar pekerjaan dan alex sebagai seorang yang lebih paham dalam hal minuman beralkohol memberi gue beberapa tips dari kesalahan gue hingga sore gue pamit sama alex berangkat ke bar.