
gue masih disibukkan dengan pelanggan, sedangkan anhar terlihat santai mengobrol dengan beberapa pelanggan lainnya. setelah kesibukan gue usai, gue berjalan mendekati anhar untuk menanyakan apakah ia bisa memberi izin gue dan menggantikan pekerjaan gue sementara.
"har,gua bisa izin gak?"tanya gue sedikit ragu. gimana tidak ragu? ini adalah pekerjaan pertama gue yang sudah capek capek di usahain alex dan gue malah berulah.
"emangnya mau kemana Mon?inikan hari pertama Lo kerja." anhar mengernyitkan jidatnya kemudian meneguk habis wine pelanggan dengan leluasa.
"tiba tiba gua ada urusan mendadak,boleh nggak? itu yang Lo tanya tadi gua kenapa gua kesal,itu urusannya. sebenarnya gua juga gak mau tapi kayak mana lagi, mendesak....kalau di tunda hancur gue."jelas gue meyakinkan.
"Ooo...,tapi,Mon nanti urusannya sama bang Iqbal mau gimana?"
"kalo dia tau Lo bilang aja,gua ada urusan mendadak.pokoknya kalo hari ini aman,gaji pertama gua traktir elu sama alex makan,deh." ujar gue menawarkan kesepakatan.
ntah makhluk apa yang tiba tiba merasuki anhar,tapi setelah mendengar ucapan gue mentraktir, wajahnya langsung memamerkan senyum yang terlihat seram seketika. "oke oke,gua pastikan elo aman lah pokoknya. tapi khusus hari ini aja,ya."
"oke thanks ya,gua cabut dulu." ucap gue lalu langsung buru buru keluar.
"Mon," panggil anhar yang membuat langkah Timon berhenti di pintu masuk. "jangan lupa ya." kata anhar dibarengi senyum terbentuk di wajahnya.
"oke." sahut gue dari pintu bar.
dan disini lah hal yang membuat gue tidak jelas mau kemana. bahkan gue sama sekali tidak tahu dimana gue harus menjumpai cewek sialan itu.
gue merogoh kantong, menyalakan handphone yang terdapat dua puluh lima panggilan tak terjawab dari nomor yang sama satu jam yang lalu. kalau begini mana mungkin dia menghubungi gue lagi. gue juga tidak bisa menghubunginya, alasannya gak punya pulsa.
"gila...banyak bener." gumam gue. mungkin saja saat ini dia lagi menggila bahkan sudah mengerahkan para anjingnya mencari gue.
"tuan,mohon maaf." suara familiar tiba tiba mengagetkan gue dan menghantam keras punggung gue.
benar saja, gue dibawa paksa lagi.
gue terduduk di sofa,perlahan mengedip mata mulai sadar,dengan satu mata terbuka sedikit cipit. setelah sadar ternyata gue sudah ada di ruangan putih dalam keadaan terbaring di kasur tapi kali ini gue tidak bisa bergerak.
pemandangan yang pertama kali gue lihat adalah badan gue sedang di sedot sedot sama cewek gila yang membuat hidup gue jadi ribet. gue memilih menutup mata lagi karena gak gunanya gue sadar toh kaki tangan gue terikat dan gak bisa bergerak sama sekali.
"oh..,Lo sudah sadar." gumamnya pelan tapi tetap kedengaran sama gue. ya...ampun,dari mana sih,nih makhluk tahu kalo gue sudah sadar. apa mungkin nenek moyangnya penyihir makanya dia bisa tahu apa yang ada dalam hati gue sedang komat Kamit gak jelas.
entah mungkin memang dia tau gue lagi pura pura masih pingsan,kecupan berpindah ke bibir gue secara perlahan.jujur,rasanya nikmat banget.kalau bukan gue bisa nahan diri dari hal beginian, bibir gue yang dulunya liar pasti ikut bergerak juga. lalu kemudian kecupannya berpindah mengecup-ngecup leher gue hingga kesakitan, mungkin sudah memerah.
gue sebenarnya merasa geli saat ciumannya berpindah ke leher,untungnya sudah berpindah lagi dari leher tapi tetap aja ciumannya masih berlanjut di bibir gue,dan kali ini lebih membuat bibir gue dan bibirnya yang menyatu menjadi lebih panas. rasanya gue gak tahan lagi seiring ganasnya dia. semakin menggila dia,semakin muncul keraguan gue mau mempertimbangkan membalasnya atau tidak.
ciumannya semakin lama semakin membuat gue hampir di luar kendali dan itu sudah benar benar di akhir puncaknya gue saat ini. mau tidak mau gue akhirnya harus sadar sebelum otak gue pasrah dengan nafsu. oke, begitu sadar gue menghentikan semuanya.
saat gue membuka mata bibirnya berpindah lagi ke bibir gue. kalau begini gimana gue mau ngomobg sedangkan bibir gue saat ini dibawah kendali penuh Nikita dan gue gak bisa bergerak.
"oh....udah sadar rupanya."kata Nikita saat melihat mata gue ketahuan terbuka,tapi tetap melanjutkan melahap lagi bibir gue lalu mengalungkan tangannya dileher gue.seolah sengaja tak membiarkan gue berkata sepatah kata pun.
jika begini adegan ini terus berlanjut lebih lama gue tidak bisa lagi mengendalikan nafsu gue. gue merasa di permainkan bocah SMA yang mana itu membuat gue memberinya tatapan kesal.
******...******. muka sepolos ini orang orang mana bisa membedakan kalau dia ternyata cewek gila.
"Lepasin..," belum lagi menyelesaikan kalimat gue diserang kembali,kini lebih dan lebih panas.seolah sedang mempermainkan gue agar tidak bisa berkata.
"kenapa?sepertinya ada yang salah dengan om, terlihat begitu kesal." ucapnya lalu memajukan wajahnya untuk mengendalikan gue kembali,gue masih tidak mau menyerah langsung menutup bibir gue rapat rapat, sehingga menghentikan kendalinya terhadap bibir gue.
"buka." bisik Nikita lembut,lalu berpindah menciumi leher gue.
"Lo bisa berhenti nggak,dan ngapain ngikat ngikat gua,lepasin!!!" tekan gue setelah lepas dari kendalinya baru bisa bicara.
"susssst...,diam dulu." ucap Nikita sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir gue.
gue gak bisa berbuat apa apa,hanya bisa mengatur rencana untuk memikirkan cara bersiasat "oke...oke,gua turutin kemauan lo.tapi Lo harus lepasin gua dulu."
"kalo om nanti kabur gimana?" balasnya lagi lagi dengan tampang polosnya.
"tergantung,gua sabar sama elo atau enggak."
"aku gak percaya sama mu."
gue diam sejenak serta memikirkan cara melepas ikatan yang menghalangi gue ini. "elo punya bodyguard diluar."
"tapi itu gak menjamin."balasnya cepat.
"oke,oke terserah lo aja.gua hanya gak mau dikendalikan sama cewek gila aja. tapi asal lo..,"seketika bibir gue di kecup dan di peluk dari depan untuk melepas ikatan tali ditangan dan membiarkan gue melepas ikatan di kaki sendiri.
setelah ikatan terbuka,gue menegakkan badan. "kali ink gue percaya sama om." kata Nikita lalu mengecup bibir gue.
"apa mau Lo." tangan gue menjauhkan wajahnya.
"om."sambil tersenyum dia memeluk gue.
"om?"
gue langsung beranjak dan mengenakan pakaian atasnya yang terbuka sejak tadi lalu berjalan meninggalkan dia. "kalau itu gua gak bisa penuhi. karena...gue gak ada waktu buat ngurusin lo" berjalan membelakangi Nikita
"oh,lupa ya?didepan ada tiga bodyguard."
gue membuka pintu,tapi tak bisa lalu membalik badan menatap kesal matanya.
dia tersenyum "kenapa om,berubah pikiran?."
gue berpikir sebentar mempertimbangkan sambil mengernyitkan dahi."oke,lo menang untuk hari ini."
"tidak hanya hari ini,tapi seterusnya." senyumnya puas mengikuti langkah kaki gue lalu berjalan mendekati gue dan mengecup bibir gue. "ayo ke situ." ajaknya.gue menurut aja kayak anak SD di tuntun masuk kelas.