I'M YOUR MAN

I'M YOUR MAN
I'AM YOUR MAN 27



dari semua kebingungan masih terus terngiang-ngiang dalam pikiran pikiran gue,cuma satu kata saja yang ingin gue tanyakan. APAKAH TIDAK ADA SATU ORANGPUN YANG NORMAL DARI KELUARGA MEREKA?!!


Nikita memaksakan kehendaknya dan memperkosa gue! abnormal bukan? Neneknya bahkan berusaha menjodohkan gue dengan cucunya yang masih Bocah dan dia tahu kalau gue berusia dewasa. emang dia tidak berpikir bahwa gue akan *** dengan cucunya? lebih parah lagi om nya, dia menebaknya dengan benar namun masih tidak masalah? dasar manusia manusia gak masuk akal.


kreek...


pintu kamar tiba tiba terbuka. gue langsung gugup berbalik pergi sebelum terlihat Nikita.


"woi,mau kemana Lo?ayo masuk "


sial, gue lupa kalau di kamar ini yang disebutkan oleh om nya. gue malah main masuk saja ketika di suruh neneknya. ini keluarga apaan sih maksudnya?!!


"ruang tamu." ucap gue asal. situasi gue benar benar berubah menjadi canggung.


"mau ngapain? tidur diruang tamu? om....udah bilangin sama kamu kan?"


"kalian gak masuk akal, gue gak mau."


"terus mau tidur di ruang tamu?"


"gak,gak jadi. mau ke atap gue." ucap gue buru buru lalu langsung pergi. cepat atau lambat gue pasti tetap berbagi kamar dengan Nikita ketika melihat sofa ruang tamu di penuhi barang barang entah daru mana. setidaknya gue harus menunggu sampai Nikita tertidur baru gue kembali.


"dasar! kita'kan udah pernah tidur sama. kenapa harus gugup kayak baru pertama kali aja." Nikita berlari kecil mengejar gue.


gue berhenti,gue pegang mukanya dengan kedua tangan sambil menatapnya. dia malah senyum senyum. "Wei,bekicot sawah. lo kira ini rumah lo,lo kira cuma kita berdua aja disini.lo kalo ngomong bisa tenang banget lo ya." ujar gue memasang tampang galak lalu jalan lagi ke atas atap.


"hei." ucapnya lembut setelah menang dalam pemaksaannya bersandar di bahu gue.


"hmm.."


"hubungan kita udah kaya orang pacaran aja,ya."


"nggak."jawab gua singkat.


"Mon.....lo punya mantan nggak?"


"nggak."


"kalo orang yang mau Lo jadiin pacar?"


"nggak "


"kalo misalnya kita pacaran gimana?"


"nggak."


"lo rela kalo misalnya gue pacaran sama orang lain?"


"nggak," ucap gue kebablasan dijebak sebelum mengganti ucapan gue."rela."lanjut gue lagi lalu menatapnya kesal.


sekilas senyum yang barusan muncul langsung memudar."ihh...,Timon! lo brengsek.ngacurin suasana aja." dada gue di pukul dan lepas dari bahu gue dengan wajah cemberut.gue hanya bisa senyum menahan gemasnya wajah Nikita.


suasana kembali lagi menjadi sunyi.seperti yang gue harapkan,ketenangan. suasana yang begini memang cocok sama orang tipe seperti gue,bisa lebih fokus berpikir dengan rileks.


"hah....hah...,lo setan ya? lo bergerak gak ada hawanya." tanya gue sekalian ngambil nafas setelah cukup lama ciuman itu berlangsung.


"udah,ayo tidur."Nikita langsung beranjak pergi dari pangkuan gue.


gila,gila bener. masih terasa sampai sekarang nikmatnya bibir bocah itu. hanya sebuah ciuman mampu membuat gue langsung bergairah dan ingin terus melanjutkannya bila mengesampingkan akal sehat.


gue putuskan pergi langsung ke kamar,sampai di depan pintu,gue mengetuknya dan langsung masuk. ternyata tidak di kunci. setelah terbuka lebar,Nikita sudah ada di dekat pintu. seperti mau membukanya.


"oh,lo."


"Nikita."panggil gue saat dia hendak berbalik.


"apa." bibir gue segera mendominasi dalam ciuman kami berdua dan mendorongnya jatuh ke ranjang.


"woi...Timon brengsek! lo apa apaan. lo gila ya?"Nikita memaksa lepas dengan mendorong gue."ha-ha,Lo kenapa sih."bukannya menjawab,gue menyerang lagi bibirnya dengan agresif.


"tapi,lo suka'kan?"tanya gue disela sela ciuman.


"suka kepala Lo,sesak bego."


"oh,sesak? jadi,Lo mau yang gimana."gue melanjutkan lagi turun ke leher. tidak peduli apapun ucapan yang dari mulutnya. semua juga karena dia,dia yang membangkitkan gairah gue,jadi dia juga yang harus tanggung jawab. gue juga tidak tahu kenapa,padahal hanya sebuah ciuman seperti biasanya,tapi kenapa menggairahkan? entahlah, gue tidak lagi memperdulikan itu.


"lo bisa berhenti nggak."sebentar gue melihat ke wajahnya yang serasa ingin mengerang hebat tapi berusaha menahannya.


"ini imbasnya lo bersikap sembarangan sama laki laki. jadi lo juga harus tanggung jawab.ok?" gue lanjut melucuti satu per-satu pakaiannya hingga yang tersisa hanya dua helai dalemannya lalu membenamkan kepala kedalam pelukannya. tangannya melingkar di leher gue dan menarik rambut gue.


"hei,boleh?" tanya gue meminta persetujuannya yang sudah memerah di wajahnya sebelum mencapai tahap terakhir.


"umm...ya." Nikita menyetujuinya. bersamaan dengan setujunya Nikita,kepala gue kembali terlintas tentang apa prinsip gue,dan juga tentang sudah diketahuinya oleh om Nikita apa yang telah kami berdua perbuat. om iman memang tidak mengatakan bahwa gue tidak boleh melakukannya lagi dengan Nikita,tapi dari setiap kata yang keluar dari mulutnya menunjukkan bahwa dia percaya sama gue atau mencoba menguji pengendalian diri gue.


gue langsung kembali tersadar dan melepaskan diri dari tubuh Nikita sebelum sampai ke tahap akhir.


"Lo kenapa?" gue tidak menjawab,tapi Nikita terlihat seperti menahan sesuatu. mungkin ini ekspresi gairah,sama seperti laki laki.


"Lo kenapa? ayo cepat! lanjutkan." wajah Nikita semakin memerah menahan gairah. tanpa menjawab,gue langsung mengangkat tubuhnya dengan kedua tangan gue menuju kamar mandi dan meletakkannya di dalam bathtub sebelum mengisinya dengan air dingin lalu pergi meninggalkannya.


sial rasanya.gue tidak bisa melakukannya pada tahap terakhir dan..sekarang malah menahan rasa gairah yang sulit terkendali. sangat tidak enak menahan di tengah tengah, tapi gue takut semua ini semakin di luar kendali.


"Mon...woi,brengsek.sini lo. lo bilang gue harus tanggung jawab,tapi apa? lo yang gak tanggung jawab."teriak Nikita dari kamar mandi.untungnya ini kamar bisa menahan suara dari dalam dan luas,kalo nggak pasti terdengar sama orang yang di ruang tamu.


tapi Nikita kuat juga tubuh tuh anak,udah dimandiin pakai air dingin tetap aja masih gairah.


setelah gue cukup tenang dan bisa kembali mengendalikan diri,gue masuk ke kamar mandi mengecek Nikita. seperti biasa,tubuhnya sangat indah untuk ukuran bocah.


gue berjalan mendekati Nikita tanpa bicara,Nikita juga tidak bicara dan tidak menatap gue tanpa ekspresi. mungkin dia ngambek selayaknya anak kecil.ya,dia masih kecil,wajahnya juga manis.


"kalo udah siap lo langsung keluar,nanti masuk angin." ucap gue basa basi sambil berjalan keluar kamar mandi.


"brengsek!" gumamnya kecil tapi masih terdengar oleh gue lalu tersenyum membayangkan betapa bodohnya kejadian barusan.


setelah keluar,gue kembali lagi masuk ke dalam kamar mandi saat dia tidak juga keluar. mendekati bathtub tempatnya sekarang tapi dia tetap tidak menghiraukan atau melirik gue,juga tidak sadar kalau gue masuk dengan telanjang. dia sadarnya setelah gue masuk ke dalam bathtub yang sama di belakang tubuhnya.