
beberapa hari tinggal di rumah bocah SMA itu sama sekali tidak ada ketenangan. setiap kali gue bangun pagi,dia selalu terlihat sudah bangun lebih dulu dari gue lalu menempelkan bibir mengerucutnya di pipi gue dan berpura pura tidur saat gue membuka maya.
gue tidak habis pikir dengan tingkah anehnya setiap pagi, kadang dia berpura pura banyak gerak saat tidur dan tidur memeluk gue dari atas. yang tidak habis pikir ialah saat kebiasaan bodoh saat tertidur muncul secara tiba tiba mengigo hal aneh sambil tangannya bergerak mencengkram bagian bawah gue. gue yang syok saat tertidur refleks melompat dan jatuh ke lantai, badan gue kembali seperti semua. sakit semua. padahal masih belum sembuh.
beberapa kali gue sudah mengatakan kalau tidur jangan seranjang, gue tidak mau ketika semua orang yang ada di rumah ini mulai resah dan menuduh gue biang keroknya membuat bocah ini menjadi seperti sekarang dan segera melapor pada bos-nya. namun alasannya tetap sama, tidak ada kamar tamu yang kosong dan saat gue ngecek ternyata ada lebih dari sepuluh kamar kosong.
tidak sampai di situ saja perjuangan gigih gue agar mendapatkan kamar yang berbeda dengannya. gue beralasan bahwa dia masih di bawah umur, tidak seharusnya tidur dengan pria lain, apalagi harus melakukan hubungan badan lagi. tetap percuma, gue tidak bisa menghalanginya bahkan saat gue menyuruh Rey untuk memindahkan gue di kamar sebelah, dia-nya malah ikutan tidur di situ dan membawa perlengkapan mandinya.
setiap kali sebelum tidur, gue selalu menepuk jidatnya setelah mencium gue di waktu yang tidak bisa gue prediksi. tempat dan waktunya berbeda beda. seringkali dia akan melakukannya saat ingin tidur,lalu saat gue mengiranya sudah tidur ternyata dia berpura pura lalu mencium gue begitu mata gue tertutup. kadang juga saat di kamar mandi bahkan ada satu kali dia lari lari dari belakang gue dam mencium bagian pipi.
saat selesai sarapan dan ingin berangkat ke sekolah bahkan gue yang jelas jelas masih sakit di paksa untuk ikut ke mobil mengantarnya sekolah. tibanya di sekolah dia berpura pura ingin berbicara dari luar dan memasukkan seluruh kepalanya lewat kaca mobil langsung mencium gue lama.
berhari hari gue melewati dengan penuh kejengkelan akan tingkah anehnya. untungnya selama masa penyembuhan dia tidak pernah melakukan berhubungan badan selain hari pertama masa penyembuhan.
beberapa kali tingkahnya yang paling membuat gue jengkel adalah saat seharusnya masih jam pelajaran sekolahnya, dia menghubungi telepon rumah yang terletak di kamar berkali kali. saat gue mengangkatnya dia cuman mengatakan hal hal bodoh seperti biasanya.
"Timon,aku kangen lo, lama banget sekolahnya."
"bodoh!"
titt...
gue langsung menutupnya setelah mengumpat. jika di Hitung dalam satu hari di jam sekolah, dia menelepon dua puluh kali dan cuma sekali gue angkat setiap harinya.
"lo kesepian gak, aku juga nih."
titt....
"guru sialan aku gak mau ngerti, padahal aku mau pulang biar di peluk lo."
titt...
"aku gak semangat, datang ke sekolah sama Rey cium cium aku dong."
titt...
ada saja yang selalu dia ucapkan ketika gue mengangkatnya. pernah ada sekali saat gue lagibfi luar dan mendengar suara telepon dari kamar gue menyuruh Rey yang mengangkatnya. begitu Rey turun dia jantungan di marahi Nikita.
"kenapa Rey." tanya gue sudah menebak apa yang terjadi.
"kaget. nona ngomong 'guru penjas aku resek,dia sesukanya menyentuh murid cewek, untung dia gak sentuh aku,padahal aku milik lo. besok aku suruh ayah memecatnya. lo yang gantiin aku senam saat sembuh ya. lo bebas kok sentuh aku.' begitu selesai saya bilang kalau itu saya, Rey."
"saya di marahi nona. katanya saya akan di hukum nanti pas pulang sekolah, apalagi kalo saya sampe bilang ke bos... habis hidup saya."
"hahaha..." gue tertawa puas mendengarnya.
saat ini dia pasti lagi kesal dan malu saat tahu dia ngomong begitu blak-blakan di telepon dan ternyata Rey yang mengangkatnya.
betul saja, saat tiba di rumah Rey di hukum jadi tukang kebon untuk cabut rumput di belakang halaman satu satu pakai tangan, padahal ada mesin pemotong rumput. Rey tetap menuruti perintah nona nya, katanya walaupun dia di pekerjakan oleh orang tua Nikita, tapi tugas dia juga memastikan keadaan Nikita dan membuatnya puas akan permintaannya. begitu ucapnya.
"puas lo? Rey sampe tahu apa yang aku omongin yang seharusnya itu sama lo. aku malu tau...." dia memukul pelan dada gue pelan. wajahnya yang malu di dekamnya sekuat kuatnya dalam dada gue.
"aku mau kamu cium aku sampe puas, kalo nggak aku tambahi hukuman Rey." katanya mengancam gue.
"lah... hubungan sama Rey apa? kan gue yang lo minta."
"gara gara dia aku masih malu sampe sekarang. aku mau kamu nenangin aku."
mau tidak mau gue menurutinya karena rasa bersalah dengan Rey. tugasnya seharusnya hanya memastikan kondisi Nikita, tapi kali ini dia apes jadi tukang kebon di terik matahari akibat gue. jika sampai hukumannya di tambah karena gue lagi, kasihan sam Rey. hehehe maaf Rey, gue tidak tahu kalau nona lo kejam.
"hah...hah...puas?" kata gue melepaskan ciuman yang berjalan begitu lama namun melihatnya, dia masih saja bersemangat. kali ini gue yang harus terima apes karena mengerjai dia.
"lagi...aku gak puas. atau kita melakukannya aja?"
seketika bulu kuduk gue berdiri mendengar ucapannya. segera gue langsung melanjutkannya lagi kali ini gue tidak berhenti sampai dia yang menghentikannya. gue mengambil napas lewat hidung di sela sela kelonggaran. tangannya mulai merayap meraba keseluruhan tubuh gue, satu persatu kancing baju sekolahnya ia lepaskan.
"jangan." kali ini gue bisa menahan hasrat. menahan tangannya saat hendak ingin membuka resleting celana gue.
"kenapa, aku menginginkannya. aku juga udah seperti ini, lo juga begitu."
"gue masih sakit, terlalu gila rasanya kalo melakukan itu lagi. jadi jangan sekarang. gue mau cepat sembuh biar gak menanggung rasa nyeri lagi. setiap kali gue bergerak, selalu nyeri." balas gue beralasan.
dia beranjak dari pangkuan gue tampak kesal.
"yaudah. aku nurut. tapi lain kali lo gak akan aku lepasin." ucapnya sambil memakaikan baju putih besar tanpa celana lalu menarik tangan gue menuju kasur.
"aku lelah. mau tidur di samping lo. kali ini gak boleh nolak." ia tertidur memeluk gue erat yang perlahan mengendor setelah mengecup bibir gue.
"oke, gue gak akan bergerak." ucap gue ikut tertidur di sebelahnya.