I'M YOUR MAN

I'M YOUR MAN
I'AM YOUR MAN 28



cukup lama suasana kamar mandi hening.kami berdua terus diam tanpa sedikitpun bergeming.tangan Nikita dari tadi sibuk memainkan sabun untuk mempersempit rasa canggungnya.sedangkan gue terus tersenyum karena tingkah darinya.


sebenarnya sewaktu gue masuk kedalam bathtub,dia langsung mau menghindar dari gue,namun segera tangan gue langsung memeluk pinggangnya dan menekan bahunya dengan dagu. rasa seperti ini sangat nyaman,seperti mempunyai kekasih atau lebih tepatnya istri. rasanya tidak mungkin bagi gue untuk menghindari kenyamanan seperti.ah sudah lah,lamunan gue lama kelamaan semakin menggila.


"Lo bisa lepasin aku,nggak? aku mau tidur, ngantuk,tau nggak." Nikita terus menggeliat agar bisa terlepas dari dekapan gue,tapi tetap gue menghiraukan. "brengsek! lo dengar aku nggak?!"


"Lo masih SMA,kenapa lo hari itu mau melakukannya sama gue?" suasana kembali hening. dia tidak lagi menggeliat atau memaki,justru dia menunduk saat gua juga diam menunggu jawabannya.


"Lo sama sekali nggak ingat ya?"


"apa?"


"oh,berati Lo memang nggak ingat sama sekali ternyata.ya...udah,gak perlu diingat lagi. "Nikita kembali menegakkan kepalanya ."lo udah bisa lepasin aku sekarang,nggak?"


"nggak." ucap gue menghiraukannya. karena saat ini gue sedang dalam keadaan nyaman dan tenang. memeluk tubuhnya seakan terus membuat gue semakin ketagihan.


dia kembali lagi menggeliat tapi kali ini supaya pelukan dan dagu gue lepas dari dia,bukan ingin pergi. "Lo lagi menggoda gue,ya? lo kalo gerak bikin gue nafsu."setelah mendengar ucapan gue,dia berhenti seakan ucapan gue mengancam nyawanya.


"Hei..."


"hmm...."


"Lo pernah mukul wanita?"


"kenapa nanya gitu?"


"nggak apa apa,hanya pengen tau."


"nggak."


"kalo misalnya ada cewek yang nggak lo suka yang mukul lo, lo balas mukul gak?"


"pertanyaan lo aneh. emang lo mau pukul gue,kan nggak mungkin cewek ka...." tiba tiba sesuatu yang keras menghantam perut gue. "woi bego! lo gila ya? tiba tiba main pukul gue." gue meringis kesakitan akibat pukulan dari Nikita.


"apa yang bakal Lo balas ke aku?."


setelah memukul gue,dia masih tenang menanyakan apa yang akan gue lakukan untuk membalas. sekarang gue mengerti apa tujuan dia menanyakan pertanyaan aneh barusan.gue tersenyum licik tanpa disadarinya. "kalo pukulan begini untuk apa dibalas? biasa aja." kata gue memancingnya.


"oh." ia menanggapi singkat dan langsung melancarkan kembali sikutan nya tepat di dada gue. "sekarang gimana?"


"cuman segitu?" ledek gue menahan sakit, dan membuatnya semakin kesal. kalau misalnya ada orang yang masuk,kami pasti terlihat seperti dua orang yang bertengkar seperti anak kecil dalam bak pasir.


Nikita memukul gue lagi,kali ini lebih kuat. gue sudah tidak bisa nahan rasa sakitnya. "cukup-cukup,sakit tau?" ucap gue menahan tangannya.


"sekarang apa yang bakal Lo balas ke aku?" gue tersenyum menempel di pipinya,kali ini lebih lebar,tapi Nikita tetap tidak menyadari rencana gue.


"Lo mau gue balas?"


"iya."


"sini Lo balik badan.gue paling nggak senang kalau misalnya ada orang sinting memukul gue."


tubuhnya gue putar sehingga kami saling berhadap depan-depanan. gue melihatnya jelas begitu juga dengan dia.


"asal Lo tau,gue ini orangnya pendendam.gue gak akan biarin orang yang udah nyakitin gue gak menerima balasan." gue langsung mendekap erat pinggangnya, memangkukannya di paha gue dan langsung menciumnya dengan nafsu yang sudah gue tahan sejak tadi,tapi bedanya kini gue tidak segila tadi dan tidak akan melakukannya sampai tahap akhir. sekedar mencium dan mendekap erat tubuhnya.


gue benar benar gila kali ini.gue sendiri yang berinisiatif kepada Nikita. pikiran gue yang selalu terjaga bersih akan hal itu kalah melawan tubuhnya. jika di pikir pikir,bukan Nikita yang pertama kali menggoda gue,tapi anehnya tubuh gue hanya betul betul beraksi padanya.


jujur,saat ini tentang perasaan,gue tidak tahu apa itu. entah nafsu atau menyukainya. sejujurnya apa itu cinta pun gue juga tidak tahu jelas.


"ngapain keluar? kalo udah masuk,masuk aja. masuk dulu lagi, aku mau pakai baju." ucapnya ketus setelah melihat gue handuk kan keluar dari kamar mandi.


"ye...ganti ganti aja,ngapain gue harus masuk?"


"terserah Lo aja,aku gak peduli!" dia membalikan badan membelakangi gue sambil mengancingkan Daleman atasnya. gue berjalan mendekatinya lalu membantunya mengancing nya.


"Lo ngapain? gue bisa sendiri! minggir."Nikita melangkah mundur dengan wajah memerah.


"Lo kenapa? tiba tiba berubah gitu.kesambet?"


"bukan urusan lo?!"


"oh...,sekarang setelah gue begini lo gak mau tanggung jawab?"


"emang aku harus tanggungjawab kenapa?"


gue mendekatinya lagi dan memojokkan Nikita berjalan mundur sampai lemari. memajukan lagi muka dan hidung gue hingga bersentuhan dengannya.


"kenapa Lo bilang?"gue ngeluarin tampang pura pura galak menggodanya.


"jangan mulai lagi. aku mau tidur." Nikita mengusap rambutnya dengan handuk dan bergeser pergi menjauh dari gue.


nafsu gue kembali keluar saat Nikita berjalan mengenakan pakaian dalam sebelum akhirnya gue membuang pikiran pikiran itu. gue mengalihkan itu berjalan cepat mengikutinya dan langsung menggendong tubuh mungilnya.


"brengsek!! lo mau ngapain? turunin aku,cepat turunin gue." teriaknya keras saat kaget,tapi gue tidak peduli sebelum sampai di ranjang dan menaruhnya duduk.


"oke,udah sampe. lapi suara Lo kecilin sedikit,nanti kita ketahuan sama nenek Lo,oke?" gue merebut handuknya dari tangan Nikita.


"Lo ngapain lagi?aku...- -."gue memutar badannya tiba tiba dan dan langsung mencium bibirnya.


"sekali lagi lo bawel,gue cium lo sampe pagi." ucap gue membuatnya diam.


"biarin gue yang lakukan,jangan bawel." kata gue mulai mengeringkan rambutnya perlahan. sesekali gue curi curi cium pipinya,kadang juga mencium rambutnya.


"udah selesai.ayo tidur." ajak gue yang sudah langsung melompat di kasur kanan.


"Lo ngapain?"


"tidur."


"di?" Nikita mengancingkan kancing bajunya satu per-satu.


"sini." tunjuk gue dengan telunjuk ke arah bawah.


"enak aja.aku gak mau tidur sama lo.lo tidur di sofa.geser Lo."Nikita mendorong gue menjauh dari ranjangnya.


"lha? kenapa di sofa?kan ada ranjang?"


""gue gak mau tau.Lo!di sofa!"tekan Nikita sekali lagi sambil menelentangkan seluruh tubuhnya memenuhi kasur.


"terserah Lo dah." nada pasrah gue. lihat aja saat lo nanti tidak waspada,paling gue kesitu lagi. "gue matikan lampu ya."


"hmm..."


gue duduk di sofa setelah mematikan lampu .ruangan tampak gelap tapi masih bisa melihat bentuk tata letak barang barang yang ada di ruangan berkat cahaya bulan yang lagi terang. setelah cukup lama,sepertinya kewaspadaan Nikita berkurang.gue diam-diam mengendap naik ke ranjangnya dan langsung tidur memeluk erat tubuhnya.