
"itu buktinya."
ucapan lantang itu masih terus berdengung di kepala gue. padahal ini memang rencana awal yang sudah gue siapkan untuk mempermainkan Nikita didepan neneknya.tapi kenapa malah gue yang jadi gugup.
sial! gimana gue tidak gugup coba? kita ber-lima makan di meja yang sama dengan tatapan terpelongo bersatu menatap gue,sedangkan Nikita masih terkejut seolah tidak percaya dengan yang barusan terjadi.
"hahahaha." suara tawa pecah. "tidak usah malu,Mon. kita ngerti kok." ucapan pamannya Nikita itu memang bagus bila di ucapkan pada orang yang tepat. tapi tidak untuk gue.yang malah terdengar dia masih menganggap gay gue.
keadaan gue kembali canggung lagi.
"awwww." ringis gue pelan dan langsung melirik tajam arah datangnya cubit itu.disamping gue,wajah Nikita terlihat kesal dengan mata dengan penuh tanda tanya.
"apaan sih Lo di depan keluarga gue!"
"siapa suruh Lo nuduh gue."
"ha-ha-ha. anak muda jaman. sekarang malu-malu."
...----------------...
bener sesuai dugaan gue. kunjungam ini pasti membosankan. gue dengan bosan menikmati sore ditambah seduhan kopi,padahal gue pikir mungkin tidak masalah bisa menikmatinya dengan tenang. tapi khayalan itu dirusak oleh suara gelak tawa Nikita yang semakin lama semakin menjengkelkan. dia datang sebagai tuan rumah dan bebas melakukan apapun.sedangkan gue? menunggu kayak anak Curug diantar pulang.
DAN
tadinya Nikita yang pengen gue kerjain kemudian membuat semua orang dalam ruangan yang sama menjadi canggung malah kena senjata makan tuan.
untungnya ada neneknya Nikita,dia banyak bertanya tentang seputar identitas gue,ya...gue kasih jawaban separuh benar.
"lo bosan ya?" tiba tiba Nikita datang menduduki kursi disebelah gue.
"menurut lo? banyak tanya!"
"yaudah,udah gelap. kita pulang sekarang ya.pamit dulu tapi"
"terserah sama lo dah. keluarga keluarga lo, lo aja yang atur.gue malas gerak."
"berdiri,malas juga harus gerak."
"huhh,ribet banget urusan sama Lo." gue mendengus kesal.
setelah bangkit,gue pun pamitan sama neneknya. sialni kita berdua dipaksa nginap dengan alasan audah gelap lah,masih mau ngobrol lah,masih rindu lah,dan segala macam alasan yang membuat kami harus nginap. kekesalan gue masih belum selesai sampai di situ. entah bodoh atau lupa ada gue,Nikita malah main setuju setuju aja tanpa meminta pendapat gue.
"oh,jadi begitu nek. kalau gitu Nikitanya tinggal disini aja. Timon pamit ya nek,om--."
"kamu juga sekalian aja nginap Mon,sudah gelap ini,lagi pula mana ada kendaraan umum yang lewat di sekitar sini."sela om-nya Nikita.
"Mon,om juga mau bicara sama kamu. jarang jarang loh om ada teman bicara." yakinkan dia lagi.
akhirnya dengan penuh keterpaksaan gue menyetujui bermalam disini juga. memang benar apa kata om Nikita,daerah sekitar sini tidak bakalan ada kendaraan umum, pasalnya ini villa jauh dari daerah perkotaan. kalaupun ada angkutan umum,paling tidak jaraknya empat kilo meter.bodoh rasanya kalau gue jalan menuju angkutan umum di lihatin mereka hanya karena mau pulang. gue juga tidak bisa beralasan melakukannya.
...----------------...
tidak nyangka,gue udah selama ini pergi dari kediaman yang sudah lama yang memuakkan itu. walaupun dulu hidup gue termasuk sangat berkecukupan tapi tetap saja tidak sempurna bila masih satu atap dengan wanita gila dan anaknya yang munafik. lebih baik rasanya sengsara di luar dibandingkan hidup dalam penekanan. itulah ekspetasi gue sebelum membuat keputusan mutlak angkat kaki. tapi siapa sangka setelah bertemu seorang bocah SMA yang gak tau kemasukan arwah apaan terus mengekang gue dengan bantuan bodyguard-bodyguardnya.
rasanya hidup begini juga ada enaknya.selama Nikita mengekang gue,gue gak pernah berkekurangan makanan. kadang kalau dia lagi kumat,kita berdua sama sama saling menikmati tubuh satu sama lain. gue tahu itu tidak sepantasnya,apalagi dia masih anak SMA dan masih belum pantas. tapi,tubuh gue selalu sulit untuk menolaknya.
seperti sekarang ini,gue bukan di rumah sendiri tapi rasanya tenang.menikmati secangkir kopi di atap sembari merasakan sejuknya angin malam.
"Mon,kamu mikirin apa toh?rumah?" suara yang terdengar tidak lagi asing,Om Nikita. tiba tiba muncul dan langsung duduk disebelah gue.
"iya.sekalian merilekskan pikiran aja om.rasanya tenang kalau setiap malam begini."
"kamu orangnya suka ketenangan rupanya. sama,kayak om." dia menstabilkan posisi duduknya. "kamu tau nggak,air yang tenang artinya dalam.tapi ada juga air yang tenang,bisa jadi ricuh hanya karena ada angin kencang yang lewat,penyebab lainnya adalah tergantung mahkluk jenis apa yang hidup di dalamnya. om rasa kamu ini tipe orang sejenis ini."
"jadi maksud om,aku...- -."
"om ini udah hidup belasan tahun jadi pengusaha.berbagai manusia udah pernah om temui. tidak sedikit dari mereka yang mirip seperti kamu,tapi banyak diantara mereka jatuh dalam keputusan yang mereka buat. om harap kamu ini berbeda." kalimat gue yang belum selesai langsung di selanya.
"kenapa om bilang begitu sama aku?"
"Om lihat kayaknya Nikita suka sama kamu,tapi kamu-nya gak tertarik sama tuh anak,tapi dia bisa bawa kamu sampai kesini itu udah hebat.makanya itu om bisa langsung berharap sama kamu."
"maksudnya om?"
"om tau,kamu gak sebodoh itu untuk tidak mengerti maksud om." om iman berdiri lalu menghadapkan badan didepan gue yang masih bingung sama orang ini,seberapa besar pengalamannya sampai sampai dia bisa melihat orang pada pertemuan pertama. "kamu cepat tidur,ya." om iman melangkah pergi.
"Mon,kamu tidur satu kamar sama Nikita aja. om udah bilangin ke Nikita tadi."
"eh." sontak gue kaget sama ucapannya. tidak menyangka seorang sepertinya yang barusan ngobrol dengan gue ini malah menyuruh gue tidur berbagi kamar dengan keponakannya. tidak takut apa kalau gue macam macam sama keponakan lo yang masih bocah SMA itu?
"loh,kok-om...ehm..." gelagapan gue kumat lagi setelah mendengar kalimat barusan keluar dari mulut om nya Nikita sendiri.
"saya tau kalau kalian juga pernah melakukannya." keringat gue langsung bercucuran banyak. dalam sekali pertemuan om Iman udah bisa tahu banyak. yang membuat lebih memalukan lagi, gue sudah pernah bercinta dengan Nikita dia sudah tahu. walau sebenarnya bocah itu yang memancing gue.
"jadi.....,tentang ini....apa tanggapan om."gue berdiri dan memalingkan badan dibelakang om iman.
"no coment." gila bener punya om yang beginian. dia terlalu tenang dalam menanggapi hal apapun.terlihat dari situasi ini, padahal keponakannya masih bocah.