
jika disuruh memilih gue lebih baik sama sekali tidak pernah ketemu sama ini bocah sinting.terlihat jelas kehidupan gue sekarang dikekang seperti anak manja oleh ayahnya. yang terlebih parahnya gue di kekang sama bocah yang masih SMA sedangkan umur gue jauh lebih tua dari dia.
ruangan sunyi,gue tidak mengeluarkan suara sedikitpun sejak tadi untuk meminimalisir kemungkinan percakapan panjang yang tidak ada habisnya dan gue berkemungkinan ditahan lebih lama lagi.
keadaan hening adalah situasi favorit gue namun kali ini bukanlah hal yang mengenakan. gue merasa harus segera menghilangkan kesunyian namun sekali lagi, gue tidak tahu harus di mulai dari mana lalu pertama tama mencoba melihatnya yang ternyata sudah gue mendapatinya sudah menatapi gue tanpa berpaling sedikitpun. rasanya sedikit canggung entah mengapa entah karena saat mata kami saling bertemu.
dia tersenyum manis yang gue yang gue akui caranya tersenyum sangat menggemaskan. tiba tiba dia mendekati gue dengan setengah berdiri dan mencium bibir gue dengan lembut.
"ehh..Lo gila?sakit? sebentar bentar mencium. suka suka Lo aja sama gue."ucap gue kesal menjauhkan wajahnya.
"nggak ada apa apa. bibirmu agak belepotan,cuma tenang aja udah aku bersihkan."dengan santainya dia beralasan. sungguh sangat terlatih.
"Lo kan bisa bilang. lalu kenapa harus pake mulut, bodoh? ." gue sangat mengesalkan kelakuan bodohnya. namun bukan sejak kapan gue bisa marah mendengarkan jawabannya yang sudah terlatih.
"nggak apa apa,bukan masalah besar." dia kembali tersenyum puas setelah melihat wajah kesal gue.
BAPAK LO BUKAN MASALAH, YANG MEMPERMASALAHKANNYA DISINI ADALAH GUE!!!
gue cepat cepat menghabisi makanan yang ada di piring gue lalu beranjak pergi ke kamar setelah menghabisinya. walaupun perut gue pengen minta tambah tapi gue lebih ogah berlama lama dengannya berdebat.
"ehh....woi kalo elo disitu,gua tidur dimana?!!" gue berteriak kepadanya begitu sadar kalau dia mengikuti gue lalu berlari memasuki kamar dan berbaring di atas ranjang.
"masih gak tau,ha...? kemari biar tau." dia berlari lalu menarik tangan gue menuju ranjang.
"maksud Lo kita tidur bareng." gue menatapnya berganti pada ranjang.
"itu tau."
"ha..?lo gila,kita bukan suami istri,mana bisa begini."
"oh,jadi kamu maunya kita nikah dulu baru boleh.aku sih mau tapi aku masih sekolah,gimana kalo kita nunggu sampai aku tamat." dia tersenyum menggoda gue.
gue yang malas untuk berdebat ditambah dengan tubuh yang lelah menutup pembicaraan dengan diam dan tidur di sofa yang menghadap ke jendela mengesampingkan kasur
"kok disitu? kemari...."
"nggak."singkat gue membalas cepat.
"yaudah,kalo gitu." dia berdiri menghampiri gue dan ikut tidur juga di sofa memeluk gue. tadinya dia memuatkan tubuhnya di samping gue tapi sofanya hanya cukup untuk ditiru satu orang dia menimpa gue lalu melengketkan bibirnya pada pipi gue.lebih persis di bilang mencium gue lalu langsung tertidur.
ini bukan pertama kalinya. beberapa kali saat gue tidur dia juga melakukan hal yang sama namun gue mengabaikannya karena gue terlalu malas untuk meladeninya disaat gue sangat ngantuk.kali ini juga begitu, gue mengabaikannya toh juga kalau gue berpindah kemanapun hasilnya tetap tidak akan berubah jika kegilaan tetap bersemayam pada dirinya.
"ini milikku, terserah aku mau dimana." dia membisikkannya di telinga gue.
"jika lo begini,bisa jatuh tau......" ahhhhh....ngomong apa gue bisa bisanya mengkhawatirkan bocah ini???!
"terserah elo." lanjut gue cepat menutup kalimat goblok gue.
"hhmm..."
"berarti,kalau kamu Timon dan aku nikita,berarti anak kita nanti namanya,hmm....apa...ya...."
gue menghadapkan kepala gue ke atas lalu menepuk jidatnya. "Apaan maksud Lo nama bayi? hah? ...Lo hamil? gak mungkin,kan."tanya gue panik memastikan.moga-moga pikiran seketika gue tidak benar.
"kamu pengen aku hamil?tapi aku masih sekolah,gimana dong." lagi lagi dia mengecup bibir gue.
"beneran gak hamil?" sekali lagi gue memastikan.
"belum,tapi kalau kamu mau,bisa kok setelah aku tamat."
"huh..syukur lah." akhirnya jawabannya melegakan hati. untungnya dia tidak hamil. kalau itu benar terjadi, bisa bisa gue harus tanggung jawab seumur hidup.
perlahan dia tidur dengan kesesakan nafasnya karena memeluk erat gue dan berakhir tangannya terjepit dengan badan bagian belakang gue lalu segera gue melepaskannya agar dia bisa tidur dengan tenang. bukannya gue mengkhawatirkanya, namun lebih ke gue yang tidak bisa tenang jika dia terbangun dan melakukan hal hal aneh.
hingga m tengah malam ia kembali terbangun mengangkat sedikit kepalanya sesaat menatap gue lalu mencium bibir gue.
"kamu punya pacar?." tanya dia berbisik dengan halus.
"hmm..?"balas gue malas.
"kamu...,punya pacar atau nggak?!" tanyanya sekali lagi menggigit telinga gue.
"sakit bodoh. nggak."jawab gue sekenanya.
"Oo...bisa kita tidur selalu begini?"
gue m tadinya hampir tertidur tapi melihat dia terbangun gue tidak jadi. gue takut jika saat gue tidur hal hal aneh apa lagi yang akan dia perbuat.
secara inisiatif sendiri gue memeluk tubuhnya dengan satu tangan lalu menahan kepalanya dengan tangan lainnya dan menciumnya. dia membalas lebih agresif hingga kami berdua kehabisan nafas.
"gue punya kehidupan pribadi sendiri, gue memiliki pekerjaan, gue juga memiliki masalah gue sendiri. bisakah lo jangan menggangu hidup gue? gue berkata jujur, saat itu gue sama sekali tidak melakukan apapun seperti yang lo pikirkan, sekalipun gue melakukannnya bukankah juga udah terlambat? kita sudah melakukannya berkali-kali dan itu selalu inisiatif lo. gue sangat membenci semua hal yang telah terjadi sejak gue terjerat dengan lo. gue bisa memenuhi apapun permintaan lo selama tiga hari, tapi bisa gak setelah itu jangan mengganggu gue lagi?"
panjang lebar gue berbicara untuk meyakinkannya namun tetap saja mustahil untuk lepas dari bocah SMA ini. dia mengabaikan perkataan gue lalu mencium bibir gue tanpa berkata sedikitpun.
"gue besok harus kerja."
"gue juga harus lembur menggantikan karyawan yang kemarin kerja menggantikan gue."
"bisa kita selesaikan permainan ini?"
lagi lagi semua perkataan gue diabaikan dan masih saja memainkan bibir gue lalu meninggalkan beberapa bekas memerah di leher gue kemudian tertidur tanpa membalas sedikitpun perkataan gue.
rasanya sekalipun menjatuhkan harga diri gue memohon padanya mungkin itu tidak akan terjadi. bukannya tidak bisa mencoba kabur, namun hal itu sangat mustahil jika melihat penjagaan para bodyguardnya dan jendela yang di jeruji besi ataupun melakukan hal gila dengan mengancam orang yang lebih nekat dari gue jika kemauannya sudah bulat.