
"siapa yang lo sebut lex itu? cewek? seneng amat?" tatapan Nikita menyerang gue. matanya sangat sinis mengarah pada gue.
gue menarik nafas lalu membuangnya perlahan sebelum menanggapi dia. lalu menjawabnya. "Alex,selebihnya bukan urusan lo?!"
"Alex? laki laki? terus kenapa senyum kalo bicara sama dia? Lo suka sama dia?jawab Timon!"
"iya,terus kenapa?" jawab gue berbohong. biarin aja dah supaya dia tidak perlu banyak tanya lagi.
"ihh..,brengsek! jawab serius Timon. lo sayang gak sama dia?" Nikita seketika langsung mendekati gue. keringatnya mengucur tiba tiba walau ac mobil sudah nyala.
"iya,seriusan,gue juga sangat sayang,pake banget sama dia,gue juga pengen selalu di sebelahnya" kata gue jadi kepikiran mau mempermainkannya, karena terlalu banyak pertanyaan Nikita yang bagi gue gak penting.
"ih....,Timon! serius brengsek! Lo gak serius,kan kalau lo sayang sama dia?! lo gak gay benaran,kan?jawab brengsek!" tanya dia merengek, tangannya mukul badan gua.
gue tersenyum menatapnya. "Lo mau gue jawab?" akhirnya dia sampai mengungkit tentang gua gay.
"i-iyaa!"pekik Nikita.
"gua jawab. gua seorang gay,puas Lo sekarang." jawab gua semenyakinkan mungkin dan tidak ketawa saat melihat tampang paniknya kayak kucing gendut kesayangan Cynthia.sepupu gue.
mendengar jawaban gua barusan,ekspresi wajahnya langsung berubah kesal kemudian diam tidak berkutik dan menjadi hening. nah...kan begini enak kalau tenang, tidak perlu menjawab pertanyaan yang akan semakin banyak jika gue tidak berbohong.
mungkin karena tidak tahan lagi dengan rasa penasaran yang masih menggebu,dia kembali memastikannya lagi dan mengulangi pertanyaan yang sama. "jawab gue! Lo gak serius kan?"
hehehe...dia bertanya lagi.ternyata rasa penasarannya ini bocah sebegitu gede. rasain tuh harapan lo hilang, gue tidak peduli.
"hah?serius?serius apaan?"gue pura pura bingung tentang pembahasan tadi.
"itu,loh yang Lo bilang tadi."
"yang tadi mana?" tanya gua masih berpura pura bodoh lagi.
"ishh,LO GAK SERIUS KALO LO GAY,KAN?!" Nikita menatap gua sangat kesal. matanya hampir keluar dan yang lebih mengagetkan adalah ketiga bodyguardnya ikutan sama terkejutnya saat menyaksikan drama kami hingga salah satu dari mereka yang mengemudi mendadak injak rem mobil.
"iya deh, gue jawab jujur. nggak."
"baguslah." ia merasa lega,tubuhnya kembali bersandar.
"bagus? maksud gue gak salah lagi."
"kan...lo gitu ah!" Nikita berpaling membelakangi gue sambil memanyunkan bibirnya menghadap luar kaca mobil.
gua tertawa yang tertahan tahan karena berhasil mempermainkannya. jarang jarang gue mendapat kesempatan seperti ini,biasanya dia yang selalu mempermainkan gue.
perjalanan yang dihiasi sunyi berganti menjadi ribut lalu lalang setelah sampai didepan mall.
"woii, Timon.ayo...cepetan."ajaknya menarik tangan gue.
"hah?oh,oke-oke." gua jalan ber-iringan dengan Nikita menggandeng tangan gue. seiring berjalannya gue,mata demi mata terus melirik kearah gue. entah itu melihat gue atau Nikita,yang pasti gue juga merasa risih risih. tapi Nikita malah senyum senyum tidak jelas apa yang sedang dia pikirkan didalam kepalanya. tapi sekali lagi gue mengingatkan diri gue agar segera pergi dari hidupnya.
tanpa terasa gue asik dalam pikiran sendiri,sudah di salah satu toko headphone yang berderet.
"ayo,masuk."
gue mengikuti Nikita masuk kedalam toko tersebut dan dia pergi sibuk memilih ponsel. teringat tentang ponsel,gua jadi kepingin beli. tapi apa daya,uang dari mana gajian aja belum sudah di pecat.
"hei...." panggil Nikita sekali lagi dari sudut ruangan sambil memberi isyarat 'kemari' lalu gue menghampiri dia.
"ada apa."
"ihh..,ketus amat. Lo sini dulu."Nikita menarik gue lagi seenaknya "coba Lo pilih, mana yang menarik menurut Lo." tanya dia dengan senyumnya yang sumringah.
"buat siapa?" tanya gua.
"pilih aja,banyak tanya lo."
"un-tuk!si-a-pa!" eja gua,yang penting gua harus was-was dulu.
"huh,dasar bodoh!aku tanya ke Lo,kita rencananya kesini mau apa?"
"Lo bilang....,mau beli hadiah untuk nenek Lo,kan?"
"itu Lo tau."
"terusss?"
"terus-terus,banyak terus Lo,cepat pilih aja yang mana menurut Lo menarik?"
"terserah Lo aja lah.hmm...yang ini."tunjuk gua pake jari tengah ke salah satu kotak ponsel sebelum gua mengacungkan jari ke mukanya dan pergi keluar meninggalkan dia sendiri.
diluar gua langsung berjalan mencari jalan keluar,tidak butuh waktu lama Nikita menyusul menghampiri,berjalan sejajar dengan gue. dia tidak membawa apapun yang sepertinya tidak jadi di beli.
"Lo mau kemana?"tanyanya.
"pulang."
"pulang kemana."
"rumah teman gua."
"gak..gak boleh dulu. kita belum beli hadiah untuk nenek."
"bukan urusan gue." ketus gue,dia yang berjalan sejajar dengan gua,tiba tiba berhenti namun gue hiraukan.
"woi,brengsek!" teriak Nikita.gue refleks menoleh kebelakang melihatnya. "kita-kan udah sepakat,kalo kita kesini mau ngapain." kata Nikita,wajahnya terlihat seperti menahan rasa marah,sedih,kecewa.
"lalu?" sambung gue tidak memperdulikan ucapannya dan berjalan lagi.
"terus-terus, terus.itu aja yang bisa lo katakan ya? lo gak punya hati tahu nggak?! brengsek, brengsek. timon brengsek!!"pekik Nikita tanpa mempedulikan kerumunan orang di sekitar yang mulai melirik kami berdua.
tidak nyaman banget ketika banyak mata melihat gue,apalagi di teriaki begitu oleh dia. malunya minta ampun. gue berjalan mendekati Nikita,menariknya keluar. "Lo gak tau malu ya? Lo lihat tuh banyak yang melirik kita. ayo keluar." kata gue buru buru memegangi tangannya agar menghindari tatapan bangsat yang bikin gue sangat tidak nyaman.
"woi...Timon brengsek,Lo mau bawa aku kemana?kok malah menjauh dari pintu keluar."ucap Nikita yang membuat gua tersadar.ternyata gue malah menjauh dari pintu ke luar.
tanpa sempat menjawab,secara paksa Nikita langsung gue bawa ketempat yang agak sepi. di tempat yang jarang pengunjung dan juga kebetulan satu toko di lorongnya tutup.
"Lo tau gak,lo itu terlalu menjengkelkan. gue peringati,jangan suruh gue apa yang sudah gue tolak.cewek idiot..." ucap gue menahan kesal tak terbendung.
gue sudah menahan hal seperti ini sejak awal,dia sok memberikan gue motor dan berharap gue senang lalu berterimakasih pada wanita yang seenaknya mempermainkan gue dengan bayaran membiayai hidup gue kemudian sekarang mau memberi gue handphone lagi seolah gue tidak mampu membelinya. dan lagi pula kita tidak memiliki hubungan apapun selain saling menghangatkan di ranjang. gue mengetahuinya bahwa handphone itu dibelinya untuk gue sekalipun dia berbohong. se-gaul apa coba nenek nenek di hadiahi sebuah handphone? mau nge-game?