
"selamat datang,tuan.apa ada yang bisa saya bantu."ucap seorang wanita berpakaian hitam putih yang cukup indah dipandang dengan ramah.
"saya mau bertemu dengan pemimpin anda,maksud saya boss perusahaan anda."balas gue.
"maksud anda?apa anda beritahu namanya?"
"ehm...,"gue berpikir sejenak.siapa yak,namanya.kayaknya dia gak ada kasih tau siapa namanya."mbak,tau... Nikita,orang tua dari Nikita."jawab gue canggung.gak tau nama lagi.
"maksud anda,bapak Wandra? direktur utama?"tanya lagi resepsionis itu.
"ya,si tua sialan itu maksud saya."balas gue spontan.gara gara gue ngomong begituan si resepsionis matanya membelalak.hampir mau keluar tuh,mbak.matanya.
"apa sebelumnya anda sudah ada janji."
bukannya menjawab,gue langsung mengeluarkan kartu nama lalu memberikan ke mba resepsionis.
"sebentar."katanya katanya dan langsung menghubungi memberitahukan lewat telepon.
mulutnya komat Kamit sambil fokus terhadap pembicaraan sebelum akhirnya menanyakan nama gue sambil menatap dengan tatapan bertanya"tuan..."
"Timon."hardik gue.
"baik,terima kasih."ucap mbak resepsionis lalu meletakan telepon."mari,saya antar."
"Muh...oke."
akhirnya gue pergi juga ketemu bapak tua sialan itu.udah pada menumpuk ini pertanyaan yang mau gue tanyakan.walaupun gak semua pertanyaannya bisa gue tanyakan.
"sudah sampai,tuan.saya permisi."katanya lalu pergi.
tok-tok-tok
gue mengetuk pintu biar terlihat sopan.ya,hanya terlihat saja.tapi sebenarnya gue paling gak pengen sopan sama si sialan ini.
"masuk."
gue,pun masuk dan mendapati dia sedang sibuk mengurus dokumen dokumen yang tertumpuk di mejanya.
"duduk sa...."ucapannya berhenti setelah melihat gue yang udah duduk sambil ngangkat kaki kayak nganggap ini rumah gue sendiri tanpa dipersilahkan.
"ada apa kamu nyari saya?"
"oh."dia menanggapi santai."terus,apa yang mau kamu katakan?"
"saya hanya mau nanya,apa masuk bapak memberikan saya ini?"tanya gue.
dia melirik kearah gue sambil masih sibuk dengan tangannya yang bergerak gerak lalu kembali mengalihkannya dan berhenti dengan kesibukannya."kamu sudah mendatangi alamatnya?"
"barusan."
"bagus,berarti kamu juga tau apa maksud saya.jadi dimana letak kesalahannya?"tanyanya lagi yang malah membuat gue semakin kesal.
"dimana letak kesalahannya?Anda menanyakan di mana letak kesalahannya?anda menganggap remeh saya?"hardik gue dengan suara yang sedikit meninggi.
"ya,kalau memang saya mengganggap remeh kamu.kenapa?marah?gak suka?terus..."
"terus? terus...,saya cuman minta anda jangan mencoba meremehkan saya.saya gak butuh rasa kasihan anda "ucapan gue setenang mungkin.gue gak mau lagi bertindak dengan emosi.
"ya,itu terserah kamu.tapi,apa setelah itu,apa yang akan kamu perbuat?kamu kira dengan kamu yang sekarang ini bisa apa?apa bisa kamu memenuhi apa janji kamu?"
"bisa,tapi....."
"mau nunggu berapa tahun?10?15?berapa?"tanyanya lagi menyela perkataan gue.
gue terdiam sesaat.ya,memulai usaha begituan memang gak cukup hanya dengan kemauan aja.tapi juga perlu modal.sedangkan gue kuliah aja kagak,teman sedikit.bisa apa?
kayaknya ini percakapan udah gak bisa dilanjutkan lagi.pikiran gue saat ini belum bisa berpikiran jernih."udah,itu aja yang mau saya katakan.saya pamit."kata gue lalu pergi.
"eits...siapa bilang kamu bisa pergi.pengecut!"seketika langkah gue terhenti dengan ucapannya.dan gue kembali berbalik.
"kamu kira kamu siapa?kamu kira kalau bukan karna Nikita kamu bakal saya ampuni?tidak!pukulan yang kamu rasakan tadi itu kamu kira cukup bagi saya?supaya kamu tau,kalau bukan karena dia,kamu pikir sekarang kamu bisa datang kesini?"ucapnya mendekat ke gue lalu memukul gue.tepat bagian perut.
"..."gue diam merasa kesakitan.suer,nih orang apa kagak ya? betulan kuat banget pukulannya.udah tua juga.
"kalau tidak saya berikan itu ke kamu,kamu bisa menghasilkan apa?"sekali lagi gue dipukul.
"ini yang saya tunggu-tunggu.kamu berani menemui saya.sekali lagi,supaya kamu belajar,disini gak ada Nikita."ucapanya sambil memberikan gue pukulan tepat diperut gue lagi.
"kamu ingat itu!saya tidak menawarkan.tapi itu perintah."katanya lalu kembali ke kursinya setelah mendepak gue dari kantornya.