
Dia tampak berpikir dengan tatapan kosong melihat ke depan. kamar rawat menjadi hening tanpa adanya suara dari gua atau Nikita. wajahnya tampak sedang merangkai kata yang akan dia ucapkan. sementara gue memperhatikan matanya yang terlihat indah dan bersinar bagai berlian. kalau dilihat lihat cewek yang dihadapan gua ini terlihat polos dan sangat manis walaupun tanpa hiasan make up.bentuk tubuhnya juga sangat indah. tapi sayang wajah polosnya itu cuma tipuan.
"kamu ingat gak sejak pertama kali kita bertemu."
"hm.."gua mengangguk. "iya,saat itu Lo hampir dilecehkan. pas sudah gue tolongin gue yang jadi korban pelecehan Lo."balas gue sambil mengingat malam apes itu.
"ih...bukan itu,itu yang kedua.pertemuan pertama Kita itu saat aku nabrak kamu.trus aku bilang 'maaf om' lalu lari buru buru."jelasnya.
"jadi sekarang kenapa Lo gak panggil gua om lagi?kenapa sekarang manggil aku kamu gitu? sok baku Lo." gue menyalip perkataannya. gue malah lebih peduli dengan caranya memanggil gue.
"ihh,diam dulu.aku mau bicara selesai dulu, baru kamu bicara." katanya ketus.
"..." gua diam dan dia mulai melanjutkan.
"setelah aku kabur,gak lama dari situ aku ketangkep orang yang ngejar aku waktu itu.setelah ditangkap aku digiring ke gang tempat kamu nolongin aku itu.aku diciumi,tubuhku disentuh,tapi untungnya kamu datang.jadi aku gak sampai diperkosa." jelas Nikita menatapi gue.
"terus,setelah Lo gua tolongin,kenapa gue yang lama diperkosa?" gue menatap matanya,meminta jawaban secepatnya.
Nikita malah nyengir lalu mengecup bibir gua.
"itu karena kamu sendiri yang bodoh.masa ada cewek yang gak sadarkan diri gak di apa apain,kan bego."jawabnya sambil tersenyum lalu kembali cium bibir gua cukup lama.
ini bocah kenapa semakin semena-mena gitu sih sama gue. padahal waktu itu dia masih ada hormatnya ke gua walaupun sedikit panggilan "om." rasanya dia mengambil keuntungan dari keadaan gue yang kayak gini. coba aja dia berani lakuin ini lagi sesudah gue sembuh. pasti langsung gue toyor kepalanya pakai pentungan satpam.
"terus,asal kamu tau.saat aku lagi dilecehkan waktu itu cuman bisa berharap ada orang yang lewat gang kecil dan gelap itu untuk menolong aku. ternyata kebetulan banget saat itu kamu lewat gang itu. beruntungnya kamu mau nolongin aku. setelah itu aku gak tau apa apa lagi. sampai akhirnya aku sadar dan sudah ada dikamar hotel berdua sama kamu."sambungnya lagi
"..." gue masih diam sambil menyimaknya.
"setelah aku sadar,aku lihat ada kamu juga.aku panik.aku pikir kamu sama aja bakal gunain aku karena aku telanjang. terus aku berpikir dikamar mandi dan periksa, ternyata kamu emang tidak ngapa-ngapain aku."
"kenapa?berharap ya?hahahaha." tawa gua pelan.
"hahahaha,tapi tetap aja kita sudah mencobanya."
"jadi...intinya?"tanya gue sekali lagi.
"sejak saat ngelakuin itu,aku sangat menikmatinya sama kamu." jawabnya.
sesaat gue masih tidak tau mau bicara apa. sampai akhirnya muncul pertanyaan yang cocok."Lo sudah melakukannya berapa kali?" tanya gua.
"dua tapi jalan yang mau ketiga."jawabnya sambil nyengir nyengir.
"dua?sama siapa aja?"tanya gua lagi.
"pertama sama kamu sekali di hotel,dan yang kedua di pesta kawinan sepupuku dan sama elo.."dia berhenti sejenak lalu mengecup bibir gue lagi. "juga.." sambungnya selepas mengecup bibir gua.
"jadi...Lo juga baru pertama kali mencobanya?"
"iya."
"jadi waktu itu Lo masih perawan?"
"Lo bego atau apa sih. jadi kenapa Lo berikan pengalaman pertama Lo untuk gue? seharusnya Lo ngelakuinnya sama orang yang memang betul betul Lo cinta."
"emang iya sih,makanya aku ngelakuinnya sama kamu."ujarnya lagi.
"maksudnya?" tanya gue tidak gak mengerti ucapannya.
dia hanya tersenyum tanpa lalu mencium bibir gue dengan lembut. bahkan untuk mencerna ucapannya cukup lama untuk mengerti ."terus kenapa harus gue? kan lo juga belom coba sama cowok lain. lo kan belom tau gimana rasanya sama cowok lain."
"emang kamu rela."
"kalau lo senang,gua rela kok."jawab gua.
dia tersenyum."kalau gitu aku senangnya kalau sama kamu aja. yang penting kamu rela."balasnya lagi.
"enak aja.kalau itu,gue yang gak rela."balas gua ketus. dia malah terus terusan seenaknya mencium bibir gue.
"tapi kamu bilang asal aku senang kamu rela.ingat! laki laki itu ucapannya dipegang."
"bukan begitu konsepnya bodoh! maksud gue kecuali gue! ah...bodoamat. susah bicara sama anak kecil kaya lo.hahahha..... anak kecil." gue meledeknya.
"siapa bilang aku anak kecil. aku udah umur enam belas tau..."balasnya cemberut.
"anak kecil hahahaha.."ledek gue lagi sambil tertawa. sudah lama rasanya gua gak pernah ketawa selepas ini.
"dasar om-om polos,hahahaha...."dia membalas gue dengan panggilan sialan itu lagi sambil tertawa lepas.
di sela tawa gue manggilnya. "Nikita."
"hahaha om-om...apaan?" tanyanya sambil diselingi ketawanya.
dia yang sedang tertawa dengan mulut terbuka langsung gue cium bibirnya dengan lembut. dia kaget. gue juga gak tau kenapa hari ini gue mengambil inisiatif itu. tapi gue tidak tahan melihat senyum manisnya dan saat cemberut membuatnya sangat menggemaskan.
gue menciumnya cukup lama lalu melepasnya.
"ih...kok dilepas.lagi lagi." dia merengek kayak anak kecil minta tambah uang jajan sama emaknya.
"nggak ada lagi lagi." ucap gue canggung.
"ha..? jadi kenapa kamu cium aku."
"gak apa apa.gua hanya mau lo tanggung jawab kecil aja "
"kalau gitu aku mau tanggung jawab kayak gitu lagi selamanya. cepet cium lagi.tapi lamaan ya" paksa nya sambil mendekatkan mukanya pada muka gue.
gue menahan tawa saat tingkah imutnya yang lagi begini. gue melakukannya lagi dengan lembut,tapi lebih lama dari yang tadi.
gue sadar seharusnya gue marah karena gue pikir dia masih menganggap gue memperkosanya saat itu dan dia melakukan ini untuk hal seperti tanggung jawab namun ternyata dia juga mengetahui bahwa tidak ada yang terjadi. tingkahnya yang membuat gue teralihkan. gue tahu ini salah, gue sudah banyak terlibat dengannya tanpa alasan yang gue ketahui dan kami adalah dua orang asing yang baru bertemu. gue benci mengakuinya, di satu sisi gue menyukai berada pada titik ini namun sisi lain gue tidak bisa melakukan hal ini lebih jauh. sialnya tanpa sadar gue menciumnya dua kali tanpa ia mensyaratkannya. gue terlalu takut untuk mengakui kenyataan yang sialnya terlalu kebetulan ini, dia memiliki paras yang sama dengan pelindung gue.