
oke, setelah memastikan dengan aman kalau Nikita sudah benar benar tidur dengan sangat hati hati tanpa membangunkan dia,gue langsung meluncur seperti biasa.masuk kafe, beres-beres,lalu buka untuk pelanggan yang selalu datang kebanyakan untuk jadikan tempat nongkrong oleh anak anak daerah sini atau bocah SMA habis pulang sekolah.
begini juga bosan.kafe sepi banget dari awal buka sampai sekarang.gue merasa memang seharusnya jangan pikirin buka cafe dulu sebelum punya budget yang mencukupi untuk buat promosi atau kalau sekarang udah buka tapi baru lakuin promosi menjadi terlihat aneh.
walaupun sudah terletak di area yang pastinya bakal di lihat orang orang,tapi kalau memang tidak ngadain promosi orang juga tidak bakal mengenal tentang produk atau menu apa aja yang gue jual.
rencana?sudah ada dari awal gue pikirin.tapi emang modalnya aja yang pas-pasan. gue gak mau menyerah sampai itu aja,hari demi hari gue terus mikirin gila-gilaan hal apa yang pasti narik minat orang atau hanya sekedar tahu saja dan satu hal yang paling penting dengan budget murah,itu udah bagus.
gue langsung telepon Alex,suruh dia kesini tapi katanya dia masih ngantuk.gue paksa dia,tetap juga gak mau sampai akhirnya dia mau tapi bisanya jam sebelas malam.gue sempat komat Kamit karena kelamaan.lagian ngapain gue sampai jam sebelas malam disini? semedi? dan sampai di kesepakatan jam setengah sebelas.
gue tungguin dia sampai berapa jam penuh dengan kebosanan.sesekali memainkan handphone gak jelas, bacain berita tentang internasional,sambil belajar beberapa tenang bisnis di internet lalu diam termenung dan tidak tahu mau ngapa-ngapain. padahal gue rencananya mau bahas tentang ini kafe lalu cepat pulang sambil cari cara dapat modal dari mana,cari tambahan orang dari mana dan pemasok bahan pangan.
lonceng kecil warna silver kembali lagi berbunyi.gue yang udah dari tadi menatapi pintu masuk sudah jelas tahu siapa yang datang.
"lewat tiga puluh menit." kata gue menunjuk ke arah jam dinding hitam di atas kepalanya.
"sorry Mon,gue semalaman gak tidur.ada urusan sama bokap.naik kapal gue,Lo tau sendiri kalau gue gak bisa tidur kalo mabuk laut,kan."
"masalah?"
"bukan,gue di suruh balik ke sana."Alex mengambil bangku dari meja pelanggan dan duduk tepat di depan gue lalu ngeluarin laptopnya.
"terus?"
"yah...gue nolak.gue bilang udah nyaman di sini.lagian di sana gue gak kenal siapa siapa kalo di sini beda.gak sepi,apalagi ada manusia gobloknya keterlaluan kayak elo."
"..."
begitu dia keluarin laptop,gue sudah langsung menebak dalam hati kalau dia bakalan sibuk dulu sama kerjaan dia baru bisa fokus sama topik.jadinya,gue terus tunggu dia sampai selesai dulu.
"bahas apa,Mon."
"udah, tunggu Lo selesai dulu."
"nggak apa apa,gue sekarang udah gak kayak dulu lagi.gue udah jago multitasking sekarang."
"bodo."
sambil nungguin dia,gue kembali mengisi waktu dengan hal hal bosan lainnya.seperti mengelap meja untuk yang kedua kalinya, menggambar manusia lidi di jendela yang berembun,kalau sempat gue masih bisa lagi berkebun.lama amat.
"jadi?"
akhirnya doa gue terkabul dijauhkan dari bosan ini terwujud juga,gue kira bakal kayak gini sampai besok pagi.
gue menepuk pundak Alex lalu mengarahkan dia untuk melihat setiap sudut kafe."Lo lihat ini.lo pandangi sampai Lo puas,kalau Lo punya mata batin coba bantu kasih tahu gue ada setan apa yang membuat kafe ini sepi."
"sebentar...." kata alex. matanya melirik ke sana-sini keseluruhan kafe lalu beralih ke gue.
"ini mah parah mon, ada arwah penjaga biar lo gak dekat dekat sama cewek atau cowok lain."
"lah kok bisa cowok?"
"gak tau. mungkin setannya takut lo di dekati sama yang transgender kali hahaha."
"lo kan tau apa yang harus di lakukan"
"ye..dari awal gue juga udah punya rencana."
"terus...masalahnya?"
"dana."
"oh, sekarang gini aja dulu.coba Lo ketik disini,kayak mana gambaran Lo mau buat ini kafe laku." ucap alex sambil menyerahkan laptop.gue langsung lakuin apa yang dia minta.
"udah?"tanya Alex.gue menyerahkan lagi laptopnya sama dia kemudian dia mengamati.
"hmm... lumanyan,tapi kurang oke menurut gue."ujarnya setelah beberapa saat.
"makanya itu gue manggil Lo."balas gue.
"begini,gue jadi terpikir kalau usaha Lo ini punya potensi,mon.tapi itu tergantung cara Lo memperkenalkan kafenya.gue punya satu masukkan,itu terserah Lo mau memutuskannya kayak mana.pertama,Lo coba buat tiga atau dua menu yang bakal membuat orang tertarik dengan menu utama yang akan Lo jual dari segi harga dan kekomplit-an menunya.ini bukan soal semakin kecil modal dan keuntungan yang ditawarkan tidak jauh beda dengan menu utama,tapi soal seberapa banyak yang akan Lo dapat dari tiap orang keuntungannya walau keuntungannya itu beda tipis.lo tau,kan sedikit demi sedikit jadi bukit.lo harus memikirkan tentang itu.kedua,ini yang paling menggiurkan,Lo buka untuk umum sampai jam berapa yang Lo tentuin sendiri dan jam berikutnya jam dimana untuk orang orang dewasa yang mau minum minuman beralkohol."imbuhnya menjelaskan. sambil menunjukkan gambaran gambarannya.
"hmm...bisa dibilang sempurna juga." ujar gue setuju.
"tapi satu kekurangannya,modal."
"nah,itu dia pokok permasalahannya gue gak buat promosi lebih awal."
"sebentar,gue pikir dulu."Alex menidurkan badannya di meja gue.untungnya pelanggan gue udah pada bubar dan di luar sudah sepi.
"Lo mau tau satu nama yang gue pikirin mungkin bisa membantu Lo?"
hmm...perasaan gue gak enak jadinya kalau Alex sudah mulai tersenyum saat berbicara.semuanya selalu mengandung arti hal yang paling tidak gue inginkan.
"apa?"jawab gue bete.
"tungguin aja.udah gue atur pokoknya,deh."katanya dan gue tidak ingin lagi berkomentar tapi mencoba menebak nebak isi akal bulus dari Alex.maklum,sudah terlalu biasa dia selalu menjengkelkan, walaupun akhirnya membantu.
"oke,Mon.udah clear masalahnya,kan?gue balik dulu.Lo nginap dimana?"
jadi teringat juga.gue sama sekali belum kepikiran mau tidur dimana.balik ke rumah Nikita?ogah,gue pokoknya mau menghindari Nikita dulu sebelum pikiran gue benar benar jernih tentang problem dengannya.
"atau Lo di tempat gue aja?gimana?"sambungnya.
"gue...sini aja."
"loteng?"katanya lagi.
"gak, loteng belom gue beresin."
"oh,yaudah.rileks aja.pelan pelan aja."katanya seolah-olah dia tau apa yang ada dipikiran gue.
yah,mau gimana lagi.sejak gue bisa berdiri sendiri gue pasti berdiri sendiri.gue gak mau terlalu menikmati zona nyaman gue.