I'M YOUR MAN

I'M YOUR MAN
I'AM YOUR MAN 17



entah sudah berapa kali gue melihat Nikita terbangun lalu mencium gue lagi dan kembali tidur. jelas gue tidak bisa menghindarinya di saat keadaan gue yang begitu lemas kesakitan,belum lagi tidurnya begitu gusar menendang nendang kaki gue seperti tidak mengizinkan gue tidur sejenak.


beberapa jam gue tanpa tertidur, kayaknya mata gue sudah merah menahan kantuk gara gara nih cewek peak. dia seenaknya saja tertidur di sebelah gue dan menggangu gue dari tadi. malah gue sembuhnya lama amat, kalau gua masih di tahan juga oleh cewek peak ini yang ada gue mati stress.


lagi lagi dia terbangun, kali ini karena kepala gue yang banyak bergerak namun tetap saja ia melakukan kebiasaan sejak tadi, mencium gua lagi


"kamu laper?"


"hmmm." jawab gue mengangguk.


"oke,aku beli makanannya dulu."


"ya." gua setuju. lalu dia pergi pergi meninggalkan ruang rawat.


"aku lupa."Nikita tiba tiba kembali ke kamar.


"apaan?"tanya gua.dia berjala mendekat.


"ini."Nikita menyentuh bibirnya dengan jari telunjuk.


"hah?"balas gua pura pura gak ngerti. bukannya dari tadi dia mendapatkannya? dia berbalik ke arah gue mendekatkan wajahnya sampai hidungnya menyentuh hidung gue.


"kalau kamu gak bisa mengerti ya udah. aku gak jadi beli makanannya." dia mengancam gue dan berbicara sangat dekat. bahkan saat nafasnya menghembus juga kerasa ke muka gue.


tidak tahu lagi bagaimana untuk mengendalikan sifatnya yang sudah terlalu bodoh. kenapa nih bocah sedikit sedikit selalu mengajukan syarat yang mempersulit gue.


"Lo kenapa gak cari cowok lain aja."gue mengelakkan muka ke samping.


"karna udah ada kamu."jawabnya santai. sedangkan gue jengkel sendiri karena seenaknya mengklaim.


"kenapa harus gue? lo kan lumayan kaya tuh. kenapa gak sewa gigolo aja." ujar gue asal.


"gak mau yah gak mau. lo kok susah banget dibilangin!gm gue maunya cuma lo! bisa gak jangan banyak tanya lagi?! brengsek!" pekiknya keras.


kenapa harus dia yang malah marah? emang gua salah apa? adapun yang harus di salahkan sekarang adalah dia. dia yang membuat gue terperangkap di kelumpuhan ini, dia juga yang membuat gue terlibat sejauh ini dengannya, gue sama sekali tidak menginginkannya.


"apa mau Lo." gue bertanya serius sedikit bersuara berat. rasanya saat ini gue mau meledak setelah terpancing olehnya.


matanya yang marah menatapi gue seketika mengalihkan pandangannya. gua tidak pernah kesal hingga seperti ini. tapi mendengar dia yang menyalahi gue barusan benar benar tidak bisa gue terima. di situasi seperti ini juga lah momen yang pas untuk memutuskan sesuatu yang sudah sejak awal gue inginkan. jadi gua akan meneruskan perkataan gue hingga dia semakin kesal dan terpojok kemudian pergi.


"apa mau Lo." gue mengulangi pertanyaan yang sama lagi.


"gu..aku maunya kamu."


"gue menjamin itu gak akan terjadi! gue bukan barang yang seenaknya lo perlakukan seenaknya! lo tahu kalo gue gak melakukan apapun saat ini, tapi lo nasih aja menfitnah gue sampe gue berakhir di sini sekarang. di mana gue harus berurusan sama bocah gak masuk akal yang selalu keras kepala!" hardik gue memenuhi ruang rawat.


"jawab!"


ia perlahan menunduk lesu lalu berjalan pelan menuju pintu. "tidak ada yang perlu dijawab lagi."


"asal Lo tau.walaupun Lo tetap bersikeras karna GUE yang sekarang mendapat balasan terimakasih dari lo seperti ini. gue juga gak akan pernah iklhas. saat gua udah sembuh! gua gak akan ada lagi toleransi." tekan gua meneriakinya.


"..."gua milih diam tidak menghiraukan.emosi gue udah terlanjur menguasai gua. gue takut jika gue meneruskan perkataan gue semakin tidak terkendali.


"yaudah,aku pergi!." ucapnya sebelum pergi menghentakkan kaki.


tidak lama dia kembali membawa dua kantongan plastik. satu diletakkannya di atas meja sebelah gue berbaring,yang satu ia makan tanpa berbicara.


gue gengsi memintanya menyuapi gue lagi saat gue menjadi lapar melihatnya makan dengan lahap.


kami barusan saja saling berteriak,dan sekarang memintanya menyendokkan makanan ke mulut gue? mustahil jika di ukur dengan rasa gengsi gue.


selesai makan dia mencampakkan bungkus makanannya ketempat sampah dengan kasar lalu menatap muka gue dengan tatapan marah hingga akhirnya suara perut gue yang gak bisa diajak kompromi terdengar olehnya.


seolah kejadiannya tadi tidak pernah terjadi, dia hampir menunjukkan senyumnya setelah tahu gue lagi kelaparan lalu pergi ke kamar mandi.


dia berjalan menuju arah gue, mengambil sebungkus nasi dan duduk di sebelah dengan tampang masih gusar.


"buka mulut."ketus Nikita.


"..."gue terdiam melihat dia mau membantu gue makan. akhirnya gue bisa makan juga.


"buka mulut Lo,atau mau aku paksa."sambungnya lagi.gua juga masih mengabaikan.


Nikita berdiri dengan sendok yang berisi nasi masih dipegangnya lalu membuka paksa mulut gua dengan tangan yang satunya.setelah makanan masuk,gua masih tetap gengsi tidak menelannya.


"telan!"teriak Nikita.


gue menelannya "siapa Lo nyuruh nyuruh gue? Lo gak punya hak maksa gue." gua membalas bersuara lagi.


"Lo kira aku mau suapin Lo? Oga! gua lakuin ini hanya karna gue yang membuat lo begini, karena gue yang memaksa lo, gue juga yang berterimakasih dengan tidak tahu dirinya,jadi cepat buka mulut lo agar cepat sembuh dan pergi! kalau perlu jangan kembali lagi!" teriaknya membalas ucapan gue lebih keras.


"buka!"


"terimakasih." ucap gue namun dia tidak menghiraukannya dan pergi tanpa kembali lagi. mungkin dia kali ini akan pulang.


bagus juga untuk gue, jadi gak perlu lagi harus berbagi kasur dan tidur tanpa menahan rasa sakit akibat gerakannya waktu tidur.


beberapa hari ini terasa membosankan. gue masih belum bisa bergerak, tidak bisa melakukan apapun selain tiduran menonton TV yang di nyalakan perawatan pagi tadi. walau Nikita datang sangat pagi tadi, namun dia tidak berbicara sejak tadi. dia datang hanya untuk memberi gue dan memainkan ponselnya di sofa. tidak seperti biasanya saat dia datang selalu berbuat hal hal aneh lalu menyakiti tubuh gue dengan memeluknya.


"ada masalah?" gue bertanya memecah keheningan.


"gak." jawabnya singkat


"lalu kenapa diam aja kayak banyak masalah? ."tanya gua lagi.


"aku banyak masalah ,apa urusannya dengan lo?nggak ada kan?!" dia menjawab ketus di balik sofa tanpa menoleh. "lagi pula,bukankah ini yang Lo inginkan? menginginkan aku untuk tidak lagi mengusik? sekarang aku tidak mengusik lagi,dan setelah Lo sembuh,lo bisa pergi tanpa gangguan dari aku lagi!" dia melanjutkannya lagi.


gue lupa kalau kami baru semalam bertengkar saling teriak satu sama lain. dengan polosnya gue malah membuka percakapan dan berakhir seperti ini lagi,hening.