
"kenapa?gak nyangka saya berani memperlakukan kamu begini?takut?dasar pecundang."hardiknya membelakangi gue.
dua pengawalnya gue lihatin satu per-satu lalu mengalihkan pandangan ke arah lain lalu menatap ke arah pria paruh baya yang masih kuat kalau memenangi pertarungan tinju.tenaganya gue banget
"gak seberapa.ayo,lanjut lagi,buat aja sampai anda puas."pancing gue berpura pura sok kuat.
"hahaha...kamu kira kamu siapa?kalau bisa ngalahin saya,kamu saya lepas dan tidak lagi mengganggu."balasnya lagi sambil berbalik, lalu berjalan mendekati gue.kayaknya mau mukul gue lagi nih orang tua.
gue panik dong,kali nanti muka gue yang hancur babak belur gara gara di pukuli sama dia tanpa perlawanan, mendingan gue juga membalas.******* emang.
dia maju semakin mendekat,dan gue yang lagi duduk sudah mempersiapkan nyali langsung menyerangnya tanpa di sadari pengawalnya.
"ini untuk kamu yang terlalu a..."
BRAAK....
gue terpukul keras hingga tercampak saat sudah siap dan tinggal hanya memukul bapak tua itu,tapi tanpa gue sadari gerakkan dua pengawal tadi lebih cepat dari gue dan mungkin mereka sudah sadar dengan niatan gue barusan.
"anjing!"teriak gue kesakitan lalu menatap kearah Nikita diluar yang lagi ngintipi kami.
"berdirikan."pinta bapak tua itu ke dua pengawal.
mereka menurut dan mendirikan gue.
"kamu tau apa yang telah kamu perbuat.?"
"ya,saya tahu."
"apa kamu tau,setiap orang tua gak ingin anaknya di rusak?"
"ya."ucap gue sambil menahan kesakitan.
dia mengeluarkan ponsel."Rayla,bawa kemari."katanya pada seseorang yang sedang iya telepon lalu langsung mematikannya.
tak lama setelah itu,muncul seorang wanita yang berumur antara 25 atau 30 tahunan yang berpakaian seperti sekertaris dari luar setelah mengetuk pintu.wanita itu berjalan dengan sopan ke arah bapaknya Nikita lalu memberikan semacam berkas berwana coklat ke dia kau diperintahkan keluar.
"emhh..."dia berdehem saat sedang membaca berkas berkas yang gak gue tau apa itu."Timon ya,..."
gue gak tau apa itu tepatnya,tapi kalo dilihat dari tingkahnya dalam membaca sambil sesekali melirik kearah gue,dia juga menyebutkan nama gue barusan,kayaknya itu berkas gue.dia menyelidiki gue.
"Timontius efraim, ya...emh...."ucapnya lagi lalu fokus.
"tidak buruk....,"berkas tadi dimasukkan kembali ke amplop coklat lalu melemparnya ke lantai."Timon,begini...saya tidak peduli apa latar belakang keluarga kamu dan sehebat apa kamu atau keluargamu,tapi tetap saja kamu melakukan kesalahan.apa kamu tahu itu?"
"ya...saya tahu saya salah karna tidak bisa mengentikan tindakan anak bapak yang bodoh."jawab gue.
"saya mengetahui,apa jawaban kamu dari pertanyaan saya.apa kamu tau itu arti pria sejati?dan,akankah itu kamu?"tanya sambil mendekat ke gue lalu menekan menekan kedua sisi pipi gue dengan jarinya.keras banget,gue aja sampe nahan sakit dari bekas pukulan dia yang tadi ditambah pukulan pengawalnya.
"ya,saya pastikan saya tidak akan menjadi pecundang.saya pasti akan bertanggung jawab apapun itu yang bapak mau."ujar gue yang sudah susah payah nahan sakit di muka tapi malah ditahan sama bapak tua ini.
"hmm....bagus,kamu mengerti apa yang saya maksud."dia melepas tangannya lalu kembali ke kursinya."hal yang semestinya dilakukan hal yang harus dilakukan.apa kamu mengerti apa maksud saya?"
"ya."hardik gue.
"oke,sekarang kamu bisa pergi.tapi,sebelum itu,beri dia hadiah."katanya lalu pergi meninggal gue bertiga dengan pengawalnya.
°
°
gue dihajar berkali kali tanpa henti,semua bagian tubuh disasar bergiliran.hak ada satupun yang tidak kena pukulan,kecuali bagian vital.dan,setelah habis babak belur semuanya badan gue,gue digotong kasar dan diantar sampai depan rumah Alex.
"semoga kamu mengerti apa yang dikatakan bos dan tau tindakan apa yang harus kamu lakukan."kata salah satu pria yang membawa gue setelah mencampakkan gue didepan teras lalu pergi.
ya,gue tau jelas semua dari perkataan bapak tua itu.semua perkataan yang tidak langsung itu hanya bertujuan untuk mengetes kemampuan IQ gue.setelah dia rasa gue cukup mengerti dengan perkataannya,dia melepas gue.
"sakit,Mon?"tiba tiba Alex muncul di depan pintu entah dari kapan dia disitu.gak sadar gue.
"..."
"sini,gue bantu gotong Lo."Alex membatu gue berdiri lalu menuju keruang tamu dan gue langsung dicampakkan gitu aja sama Alex ke sofa.
"aww...,Lex,sakit Lex."ringis gue kesakitan.
"udah tahan,bentar,gue ngambil obat."kata Alex lalu pergi mencari obat.
tak butuh waktu lama tuh anak datang lagi sambil membawa kotak obat ditangan kanan dan juga membawa amplop coklat di tangan kirinya.
"nih,Lo obatin sendiri.setelah itu Lo periksa apa yang ada didalam.gue juga mau lihat."kotak obat diserahin ke gue dan amplop di lempar Alex ke atas meja.
"eh...dari siapa Lex."tanya gue melihat amplop coklat yang lumayan besar dan lumayan tebal juga.
"Lo obatin aja dulu.lo liat Lo udah babak belur gitu,masih aja merhatiin yang lain."
"...."gue diam.
kayaknya ada yang aneh sama Alex.gak seperti biaanya.berawal dari datangnya bapaknya si Nikita yang tadinya kami gue gak tau siapa itu,biasanya Alex yang membukakan pintu, bukan gue walaupun gue lagi dirumahnya.dan lagi gak mungkin bagi gue,Alex gak denger keributan apa yang terjadi dibawah rumahnya tadi siang.dan dia gak datang memastikan apa yang terjadi dibawah.lagi,melihat gue yang babak belur gini dan terkapar di teras rumahnya dia tidak terlihat terkejut kayak biasanya saat kami SMA bareng dan gue habis berantam.
semua yang terjadi hari ini seperti sudah diramalkan sama Alex,malahan waktu dia muncul di depan pintu,yang pertama kali dia tanya adalah "sakit,Mon?"dengan ekspresi santainya.bukan 'lo kenapa min,siapa yang buat Lo kayak gini.' aneh.
sambil mengobati lengann gue yang berdarah dengan Betadine,gue menatapi Alex dalam dalam.dia membalas tatapan gue.dan ekspresi malah ekspresi menahan ketawa.
"Lex,? panggil gue.
"hmm..."balasnya tanpa kata.
"Lo...ngejual gue ya,*******."tebak gue yang udah pasti didalam otak.
"huh..,.heheh....hahahaha.....hahah."seketika tawa dia pecah yang sejak tadi dia tahan."hahaha, sorry Mon,sory."sambung Alex lagi.
"******* Lo Lex."botol Betadine yang ada ditangan gue,gue lempar ke mukanya.untungnya lubang botolnya kecil,kalo nggak pasti menumpahi cairan dimuka Alex.
"tujuan Lo ngejual gue apa?gawat Lo Lex, *******.ngejual gue,ah."
"bukan gitu Mon.lo dengerin gue dulu.sory.bukan maksud gue gitu,tapi ada baiknya Lo tanggung jawab."
"urusan sama apa coba?"
"ya...karna gue sahabat Lo."
"sahabat sahabat,mana ada sahabat ngebiarin gue dipukuli .sakit tau botol cuka."
"heheh,sorry,lah mon.gue punya alasan sendiri.nanti kalo waktunya udah pas Lo gue kasih tau.yang pasti gak bakalan rugi Lo.untung malah."balas Alex lagi lalu berdiri."udah ah.lo rasain aja kenikmatannya Mon.gue cabut dulu,yak."
Alex langsung main pergi aja ninggalin gue.bukannya bantuin,malah ketawa ketiwi.