I'M YOUR MAN

I'M YOUR MAN
I'AM YOUR MAN 20



setelah memastikan Nikita tertidur dan tidak berbuat aneh aneh lagi,Rey pergi dan kembali jam lima sore untuk menjemput bersama dua rekannya.


"Rey.."panggil gua setelah mobil berjalan.


"iya,ada apa tuan."


"lo bisa gak jangan panggil gue tuan."


"ehh, kenapa begitu?"


"begitu aja lo gak tau, kan udah gue bilang jangan lagi. gue bukan tuan Lo. kalau nih anak,baru cocok Lo panggil nona." gue menunjuk Nikita yang sedang tertidur. "kalau gue jangan.panggil aja Timon."jelas gue agar tidak terlalu banyak cincong.


"oh,baik tuan Timon." dia mengangguk sambil menyetir mobil.


"......"


"ada lagi Tuan Timon?"


"kagak,itu aja."jawab menatapnya jengkel.


"baik."


saat lamanya perjalanan gue sempat bertanya sama Rey berapa lama lagi sama. ternyata masih panjang, katanya jarak dari rumah sakit dengan posisi kami sekarang masih satu per tiga untuk sampai ke rumah Nikita. untungnya bocah satu ini lagi tertidur pulas di pangkuan gue, jika tidak pasti bakal bermacam macam tingkahnya yang selalu bikin pusing.


"Tuan Timon." suara Rey memecahkan lamunan gua barusan.


"oh..,ada apa Rey." sahut gua asal.


"maaf sebelumnya saya mau bertanya. anda sebenarnya siapanya nona Nikita?"tanya Rey.


"gue? orang pungutan dia dari jalanan."jawab gua.


"jadi,kalau boleh tau. kenapa nona selalu menahan anda untuk pergi waktu kemarin?"tanya Rey lagi.


oke,disini gue mendengar suaranya yang agak berat ditambah nyebut 'saya-anda' udah kayak seorang pemerkosa diintrogasi sama polisi aja. buat gue jadi gimana gitu. gue itu paling tidak suka kalau di interogasi kayak gini. gue masih ingat tuh,waktu gue sekolah pas SMP, gue jadi tersangka mencuri ponsel teman gue karena dituduh sama orang yang sengaja tidak mau di sebutkan namanya, padahal bisa gue hajar habis habisan tuh orang kalau ketahuan. saat itu gue didesak sampai harus ngaku,gua yang sudah tidak bisa nahan emosi lagi langsung memukuli tuh temen gue yang punya ponsel. disitu gue sangat tidak bisa terkendali.


namun karena gue udah gere,ya gue masih bisa menahan sedikit kegeraman gue yang hampir bernostalgia,lagian dia juga sudah izin.


"sebelum itu,gue tau.Lo ini di pekerjakan sama orang tua Nikita,kan?"


"iya."


"berhubung ini hal yang menurut gue gak bisa hanya gue yang ngasih tau,jadi mendingan lo nanya sama Nikita aja alasannya,terus nanti kalau udah di kasih tau, bagi ke gue juga alasan itu."ujar gua mengelak. gua tau,karena dia diperkerjakan orang tua Nikita,pasti dia akan selalu memberitahukan semuanya tentang Nikita ke mereka.


"oh...baik,baik."Rey mengangguk paham.


"tapi saya masih penasaran,kalian berdua ada hubungan apa sebenarnya sampai bisa melakukan hal seperti itu. pacar?"tanyanya tidak mengorek info tentang kami. ternyata dia masih tidak paham dengan apa yang gue katakan.


"hooooa..."


belum sempat gua ngejawab Nikita terbangun sambil menguap lebar.


"kalian ngomongin apaan sih? ganggu aja orang lagi tidur."


"Lo."jawab gue sekenanya. tapi mungkin karena ngantuk dia tidak mempedulikannya dan beralih pada Rey.


"Rey,sudah sampai?"


"sebentar lagi nona."jawab Rey gugup.mungkin ia takut karena terlalu berani untuk menanyakan tentang hal pribadi Nikita di tambah gue secara terus terang malah berbicara jujur.


"Ohh..."Nikita kembali memejamkan mata, menggolekkan Kepalanya lagi di paha gue. "nanti kalau sudah sampai,bangunin aku ya."


Rey membangunkan Nikita sesampainya di rumah Nikita,gua langsung dibantu oleh rekan-rekan Rey dua orang,gue baru tahu namanya akbar sama bima. mereka memapah gue masih dengan kasar. pas Nikita sudah bangun,eh dia nya malah bersih keras ingin memapah gue sendirian. gue sudah meminta agar di tempatkan di kamar tamu saja dan dia beralasan bahwa rumahnya yang besar gini tidak memiliki kamar tamu tersisa. gua sampai kesal dengan alasan alasan tidak logikanya. dia tahu gue tidak mungkin percaya begitu saja namun tetap kekeh dan tertawa.


"eh bocah,ngapain ke kamar Lo ha?!"


"istirahat."jawabnya bego setelah pura pura mikir dengan mengerutkan dahi sambil senyum senyum ke gua.


"maksudnya,istirahatnya ngapain di kamar Lo,bego,bocah?!"


"issh, gitu aja Lo kagak tau sih.sekarang kita kan sudah suami istri.jadi..ya harus tidur bareng."


"suami istri pala Lo! nikah aja belum tapi sudah bilang suami istri. tuh guling sono lo nikahi jadi suami Lo!" ucap gua sambil mengeplak jidatnya setelah dia ngomong gitu. makin lama pikiran bocah ini makin kagak bener,gue yang kemarin kemarin tidak terlalu menghiraukan perkataannya.


"aduhh,sakit om. kalau nanti jidat aku mundur lima centi gimana? mau tanggung jawab? pokoknya lo harus sembuhi sakitnya,cepat cium dua duanya pipiku lima kali.kalo nggak,aku pijitin tuh kaki pake tang,biar agak lama Lo sembuhnya,terus setelah itu lo jadi gak bisa melawan lagi sama gue deh hahaha."ujarnya senyum senyum membayangkan hal apa yang ada didalam otaknya.


"ogah."balas gua. Nikita membuka pintu lalu kami masuk.


"Ooo,jadi lo maunya gimana? gua yang cium gitu?" Nikita pelan pelan menurunkan tubuh gue ke atas kasur dan membenarkan posisi merebah di atas kasur.


"nggak. udah Lo keluar gih,gue mau langsung tidur, semalaman gue jagain orang sehat di rumah sakit soalnya." ucap gue membicarakan Nikita.


"hehehe....pokoknya gak mauuu."


"hadeh,susah banget ngomong sama lo ya, terserahlah,gue tidur dulu." kata gue saat memejamkan mata.


"mhhmm,aku juga mau mandi dulu baru tidur." tiba tiba Nikita mencium kedua pipi gue sebelum kabur ke kamar mandi sambil membawa handuk. sebentar setelah itu kepala Nikita nongol dari pintu kamar mandi. "Sst..,lo kan belum mandi dari kemarin,mau gak mandi..."


"gak.."ucap gua cepat sebelum dia berbicara lebih banyak.


"huhs..." dia mendengus lalu masuk lagi. gue memejamkan mata lagi.


Alex lagi lagi terlintas di kepala gue untuk sekian kali saat sedang di rumah sakit karena sangking bosannya. tidak tenang? pasti! dari hari pertama kali bekerja gue selalu izin dan tidak pernah kembali. gue cuma tidak enak sama alex.


"aku udah mau siap mandi nih. lo yakin gak mau mandi bareng? aku bantuin. aku juga mau tidur,lo bau tau."suara Nikita dari kamar mandi berusaha mengajak sekali lagi.


"nanti gue mandi sendiri bisa kok."sahut gua kembali.


"kan sulit kalau sendiri."


"biarin,udah ah.gua tidur dulu,lo cepat makanya."


lama hening dalam kamar,bahkan suara gemercik air saja tidak terdengar lagi. gue mengira dia sudah selesai mandi. tidak lama suara langkahnya semakin mendekat ke arah gue. "sini gua bantuin."Nikita menarik tangan gue tiba tiba.


"bantu apaan?"pekik gua terkejut. bagaimana tidak?dia muncul muncul di hadapan gue dengan tampilan terbalut handuk kecil yang kapan saja bisa lepas dan air menetes dari rambutnya. gue ini juga cowok,punya nafsu.kalau tuh handuk tiba tiba jatuh gimana?bisa barabe jadinya.


"bantu antar lo ke kamar mandi."dia cengar-cengir. "Ayuk."ajaknya menarik tangan gue.


gua menurut,lagian gue juga membutuhkan bantuannya untuk memapah gue sampai kamar mandi. paling tidak kata dokter seminggu lagi,itupun harus terus latihan. "oke." gue menyetujuinya.


"tapi Lo gak ikutan kan?" tanya gua lagimemastikan sambil berjalan dipapah Nikita.


"hmmm,tergantung."


"tergantung apanya."


"kalau Lo menggoda aku atau tidak."jawab dia setelah masuk ke kamar mandi.


"gak mungkin gue menggoda lo. sekarang keluar."usir gua setelah di bantu masuk ke bathtub.


setelah air cukup,gua mematikan keran,lalu mengisi sabun yang berada dekat di belakang gue,lalu memejamkan mata.