
"kenapa lo begitu senang?"tanya gue selagi mainin busa di bathtup ngelihat dia senyum senyum sendiri di kursi sebelah gua.dari tadi sampai sekarang masuk kamar mandi senyumnya terus melebar tanpa bersuara.suasana hatinya kayaknya lagi bagus.
"gak apa apa."jawab Nikita setelah sadar dari khayalannya karena suara gue.
"oh." sebenarnya gue penasaran mau bertanya,tapi karena dianya aja tidak bersedia,gue tidak bisa memaksanya. dari pada mikirin dia,mendingan gua mikirin masalah sendiri.
"Lo keluar gih dari sini.gue mau lanjut mandi."pinta gua. tidak tenang rasanya ada mahkluk usil ini berada di sekitar gue saat mandi.
"oke." wajah kewaspadaan gue seketika kaget saat Nikita menurut keluar begitu saja. tanpa syarat.
oke,gue sudah bisa lanjut bersantai dengan tenang. gua menyusun rencana-rencana gua dimasa depan dan memikirkan masalah masalah berjibun gue selama ini. sampai imajinasi gue buyar lagi karena masuknya makhluk hidup berambut panjang,putih,dan juga masih bugil sambil senyum senyum,gua terkejut batin.
"Lo,ngapain Bangs*t?!"kata gua terbata-bata.
bukanya menjawab,dia langsung masuk ke bathtup menimpa gua.
"Mon,gua boleh nanya?"
"tentang?"
"Lo?"Nikita memainkan busa."boleh? tapi Lo jawabnya yang seriusan."
"nggak."
"Lo,punya orang yang Lo sayang nggak.?"
"gue kan udah bilang nggak boleh."
"ihhh,jawab dulu."
"gak."
"baguslah." teriakannya kegirangan sampai gue kaget mengira dia tiba tiba kesambet setan.
"gak boleh maksudnya."
"ihhh,kan Lo resek banget! jawab....!"Nikita mencubit paha gue sakit.
"aw...,sakit bodoh!."teriak gua kesakitan.
"biarin,makanya jawab. kalau nggak aku cabut nih bulu kaki Lo."paksa Nikita yang mulai menjambak jambak bulu kaki gue yang panjang
"aduh sakit,sakit.iya gue jawab."
"yaudah,cepat jawab."
"Lo betulan mau tau jawabannya."
"iya..!"
"ada."
"huff.....oh." tanggap Nikita cemberut.seakan semangatnya hilang bersama harapan."
"kenapa?"
"kenapa,apanya?" jawabnya tidak bersemangat.aaa
"memangnya kenapa."
"gak apa apa." kamar mandi menjadi hening seketika itu. jeda diantara kami tidak ada lagi suara cukup lama sampai dia kembali bertanya.
"namanya Luna Diana,pastinya dia lebih cantik dari Lo.juga lebih baik dari Lo,pokoknya dia gak bisa gue deskripsikan." gue menunduk sambil menjawabnya,mengenang masa masa manis bersamanya yang tidak mungkin gua lupain,dan juga alasan gue memiliki ambisi untuk membalas dendam. tanpa sadar,tangan gue telah memeluk pinggang Nikita sambil menempelkan dagu di pundaknya.
"emang siapa Lo. mantan?emang mantan Lo kenapa?"Nikita mengelus tangan gua.
"ibu gue."jawab gua sekenanya.nikita tertegun,lalu setelahnya keadaan kembali hening.
" maaf, maaf aku bikin Lo sedih.maaf."ujar Nikita mencoba menenangkan gue.
kenapa? kenapa gue bisa dengan mudah memberitahunya tentang hal itu. dia bukanlah orang penting di hidup gue, bibir gue bergerak begitu entengnya mengatakan hal itu. rasa nyaman yang hampir sudah gue lupakan kembali saat gue memeluknya membuat gue mengatakan apapun tanpa memikirkannya.
"gak ada yang perlu gue maafin. lo gak salah."
"aku salah! aku udah mengungkit ibu lo.itu udah salah."
"udah,ini bukan saatnya maaf maaf-an.lagian bukan itu tujuan Lo." gue mencoba membangkitkan mood-nya di saat diri gue sendiri mengenang hal itu,mengecup pundaknya.dia kembali menegakkan kepalanya lalu membalasnya dan keluar tanpa bersuara.
setelah keluar dari kamar mandi,dia menemani gue berlatih sebelum makan malam. dari luar rumah tiga bodyguardnya selalu memperhatikan Nikita termasuk saat dia hendak mencium gue.
"hei."panggil gue setelah menelan makanan.
"mhhh."Nikita masih sibuk dengan makanan dengan tangan satunya memainkan ponsel.
"lihat gue." pinta gue yang dari tadi terus menatapnya. nikita menoleh.seketika gue langsung mengecup bibirnya yang di tempelin nasi.
"Lo...Lo,ngapain!!"pekik Nikita dengan wajah memerah. gue menyeringai puas.
"mulut Lo belepotan tuh."
"ih,Lo kan bisa bilang dulu.pokonya aku harus balas Lo." Nikita langsung segera menyelesaikan makanannya lalu memapah gue yang sudah selesai dari tadi menuju kamar.
"ngapain sih?"
"Lo tau gak tadi ada bibi ngelihat kita?"
"tau.kenapa emangnya?" guemengerutkan dahi.
"maluuuu tau..."Nikita menjerit dan langsung melompat ke pelukan lalu mencium gue sampai terjatuh ke kasur. jeda lama yang hening saat dia melepas ciumannya. kami saling bertatapan canggung.
akhir akhir ini sejak kehadiran Nikita,gue tidak bisa menahan nafsu lagi. tidak seperti biasanya,yang dengan mudahnya menolak tanpa basa basi.
"Nikita,Lo harus tau akibatnya setelah berhasil menggoda gue." seketika dengan susah payah karena kaki gue masih sedikit bisa bergerak,gua langsung membalikan keadaan tubuhnya dan menciumi leher lalu pundaknya. dia hanya mendesah ketika bagian sensitifnya gue sentuh perlahan.
"Lo,harus lembut sedikit."katanya dalam nafas ngos-ngosan. gue tidak mempedulikannya. akal kepala atas gua sudah hilang kendali karena kepala bagian bawah gue.
"apa Lo menikmatinya? ini lo yang minta. jangan pernah menyesali apa yang pernah Lo perbuat."gua melanjutkan menciumi tubuhnya yang terasa manis.
"ya,jika Lo selalu ada di sisiku."dia menikmatinya.
gue masih tidak mengerti mengapa wanita merasa menikmatinya saat melakukan hal seperti ini,padahal sejauh yang gua tahu seharusnya mereka kesakitan. namun gue melihat dia sangat menikmatinya. mungkin gue yang terlalu polos atau terlalu bodoh hingga umur gua yang sudah menginjak dua puluh dua tahun masih sedikit pengetahuan gue tentang hal ini.
entah perasaan apa yang muncul saat ini, rasanya sangat berbeda jauh saat dia memaksa gue. pertama kalinya bagi gue merasakannya hal seperti ini. mungkin ini semacam perasaan orang saling bercinta dengan kemauan yang sama. dan anehnya gue melakukan hal ini bersama bocah SMA yang masih di bawah umur yang dari sorotan siapapun itu tidak layak. gue bisa saja melakukan ini sejak dulu dengan orang lain,namun saat itu gue masih memliki satu satunya janji yang tidak bisa tidak gue tepati dari sekian lainnya.
bukankah saat ini gue juga seharusnya tidak melanggarnya juga? gue paham akan pertanyaan itu yang selalu muncul di kepala gue saat bercinta dengan Nikita dan gue tidak bisa menjawabnya. gue hanya berpikiran munafik untuk hal itu. gue menemukan satu orang lagi yang sama dan terlalu sulit membendung hal itu. gue membenci hal itu, namun tetap saja melakukannya.
"tidurlah,gue gak ganggu Lo lagi."ucap gua setelah melihat wajah lelah Nikita. gue merebahkan badan disebelahnya tapi Nikita duduk dan mencium gua.
"selamat malam."dia kembali tidur.
"selamat malam."bisik gua setelah berhasil memeluk tubuhnya dari belakang.