
BRAAK...!
Iyak,itu salah satu dari bunyi yang sudah terlalu sering gue dengar.suaranya berasal dari depan gue.makhluk berambut hitam panjang tengah berdiri dan tangannya menahan di atas meja kemudian memutar lehernya bersamaan dengan tubuhnya melirik ke arah gue.
gue sempat terkejut,gue kirain dia kali ini seriusan kesambet.ternyata isi pikiran gue yang aneh melulu. tatapan matanya tajam bener,gue aja takut buat menatap balik.lalu dia keluar dari mejanya dan melangkahkan kaki tepat di dekat meja gue berada dan mulai membuka mulutnya.
"gue lapar." ucapnya singkat yang mana malah melegakan pikiran liar gue karena sempat mengiranya sudah mabuk.
"terus hubungan sama gue apa?" balas gue pura pura tidak acuh.
mendapat tanggapan dari gue,dia mendesis lalu melakukan kebiasaannya menghentakkan kaki ke lantai.kuat banget. tidak kebayang kalo gue jadi dia,kakinya yang kurus itu di hentakkan dan menghasilkan suara yang lumayan keras. tapi akibatnya dia jadi berjalan pincang di sebelah kiri. hahaha....sukurin.
"bodoh!"gue bergumam disela sela tersenyum.
"huh."tiba tiba dia berhenti dan memberikan gue tatapan sinis lalu berjalan keluar kafe.langkah demi langkahnya suaranya mendesis.
"ayo."kata gue mengajaknya dalam posisi jongkok di depan.
"gak perlu." dia menolak dan melewati gue.
"ayo!" ucap gue memaksanya. dia tetap tidak memperdulikan gue. padahal niat gue baik loh. mau menggendong dia agar kakinya tidak kesakitan lagi saat berjalan, toh kalau sudah baikan pasti gue turunin.
"aku bilang gak perlu. lagian gak usah sok peduli sama aku. lo itu cuma laki laki brengsek,tau gak."
hadeh,paling malas kalau urusannya berdebat lagi. apalagi tenaga gue sudah terkuras semua karena ngurusin kafe.l ebih tepatnya nungguin pelanggan.
"terserah." tanpa menunggu persetujuan darinya, gua langsung menarik paksa tangannya dan keluar.
"Lo mau bawa aku kemana? aku udah bilang gak usah sok peduli sama aku."
"Timon!"
"Lo bisa gak pelan pelan. sakit tau tangan gue."
gue sengaja menariknya kencang agar dia dian tapi tetap saja ternyata malah membuat dia semakin ribut.
"Lo tadi ngomongnya apa sama gue?"
"ehhm...tapi."
"Nikita,Lo tadi bilangnya apa sama gue?" kata gue sekali lagi supaya tidak berbelit-belit.
"yaudah."
gue menggendongnya paksa dari belakang. membawanya ke tempat bang joki. warung bakso yang pemiliknya sudah terbilang akrab dengan gue sejak SMP. tempatnya terletak jauh dari rumah gue tapi lumayan dekat dari rumah Alex. dulunya bang joki jualan bakso keliling,tapi sejak gue SMA dia sudah buka warung. baksonya? beuuh...paling enak diantara buatan abang abang bakso yang pernah gue cobain. makanya setelah itu gue setiap makan bakso di tempat dia.
"nih,Mon baksonya." akhirnya tiba juga bakso gue. bang joki meletakkan dua bakso dihadapan gue dan Nikita. "kemana aja lo Mon,udah lama Lo gak pernah lagi gue lihat." kata bang joki sambil memperhatikan cewek di depan gue dengan seksama. gue sih hanya tertawa aja ngeliat kelakuan bang joki yang gak pernah berubah sama sekali kalau melihat cewek cantik. tapi Nikita menanggapinya dengan pandangan ingin menabok bang Joki.
"masih ada lagi yang mau lo pesan gak?" dia kembali ke posisi normalnya seperti pelayan-pelayan di restoran.
"gak,gak ada lagi bang. lo layani aja yang lain,banyak tuh pelanggan cewek yang nungguin lo,bang." ujar gue setelah semua pesanan yang sudah gue pesan tadi berada di atas meja.
tidak ada percakapan diantara kami berdua,gue dan Nikita.semua berjalan biasa biasa saja hingga makanan gue habis.gue mengecek ponsel gue,melihat beberapa notifikasi tidak penting lalu memasukkan kembali ke saku celana karena tidak ada yang mau gue lihat.
"bang Jok. gue udah selesai nih." gue memanggilnya melambaikan tangan lalu dengan isyarat jari menunjuk mangkok kosong agar dia segera mengambilnya.
bang joki datang. dia masih terus penasaran denagn Nikita yang sedang menikmati makanannya dengan diam tanpa bersuara sedikitpun. lalu pundaknya gue tepuk pelan.
"napa lo? serius amat ngelihatin dia."kata gue.
"hem,gak.ini...siapa lagi nih cewek yang Lo bawa. pacar.?" bang joki berbisik pelan namun tetap aja kedengaran sama Nikita. sekarang dia memperlambat laju makannya yang sebenarnya juga sudah termasuk lama.
"bukan." balas gue sekenanya.
"jadi?"
"tanggung jawab gue."
entah karena apa bang joki terkejut,tapi dia langsung kembali melirik lagi ke arah Nikita.tentu di sambut lagi dengan tatapannya yang tidak bersahabat. bang joki jadi enggan mau menyapa Nikita.
"terus....mbak Angel gimana,Mon? putus?" bisik bang joki ke gue. gue seketika keselek oleh air yang gue minum.
mendengar namanya saja sudah membuat gue seperti tertikam. hati gue seakan-akan kembali bergetar oleh nama yang seharusnya tidak lagi gue sebut ataupun gue dengar. tapi kini nama itu terdengar lagi di saat hati terdalam gue yang sudah terlalu berat untuk memapah nama itu dan memutuskan perlahan melupakannya. tidak lagi memikirkannya,juga hal yang paling membuat gue teringat akan janji bakal diri sendiri. tidak ada lagi angel kedua ataupun orang kedua dan memikirkan wanita kedua untuk kalinya dalam hal perasaan. tapi,di depan gue sekarang ada seorang wanita yang tanpa sengaja bertemu gue. dengan awal perjumpaan yang dikatakan sopan tapi di tengah tengah kisah terlihat sangat bodoh. bukan tipe gue,dulunya. tapi belakangan dia-lah yang terpikirkan oleh gue. walaupun hanya adegan adegan yang mampu membuat gue jengkel. tapi itu sama saja tetap melanggar janji. seperti kebanyakan janji yang sudah gue bicarakan dalam doa,tetapi akhirnya cuma omong kosong belaka. mungkin terlalu sulit atau gue yang terlalu lemah dalam membentengi hati.terserah,semua telah terjadi.
gue diam cukup lama tanpa menghiraukan ucapan bang joki. lalu,bang joki pergi seolah dia mengerti apa yang sedang gue pikirkan. tersisa gue dan Nikita.dia kayaknya juga sudah selesai makan.
gue mengangkat kepala,melihat ke arahnya dalam dalam yang ternyata juga dia sudah lebih dulu menatap gue. pandangan kami saling bertemu cukup lama. gue membayangkan apa yang sudah terjadi,dan kesan apa yang telah gue berikan untuk Nikita. benar benar bingung.nseperti orang linglung yang menanyakan nama sendiri.tanpa memiliki kesan baik ataupun jelek.anehnya adalah perasaan yang tidak tertentu.
"gue udah siap makan.sekarang gue ngantar lo ke bokap lo. setelah ini jangan pernah temui gue lagi." ucap gue setelah berdiri lalu mengeluarkan ponsel langsung menghubungi bokapnya Nikita.