
satu per-satu mata gue fokus memperhatikan ruangan ruangan yang di tampilkan pada layar. untuk banyaknya ruangan sekolah pasti memakan waktu sangat banyak.
dari belakang satpam itu kembali lagi dengan menepuk pundak gue lalu menawarkan rokok pada gue gue menerimanya.
"Terimakasih." ucap gue lalu dia duduk di sebelah gue. sesekali ia menanyai di sela keheningan saat gue fokus memeriksa semua cctv.
Trrtt....trrtt....
Ternyata Rey, gue mengangkatnya setelah berjalan menjauh dari satpam itu lalu langsung menanyakan posisinya.
"sudah dekat, nona sudah ketemu?" tanya Rey balik.
"belum,tapi gua punya firasat. lo sekarang sama rekan lo datang langsung masuk ke sekolah Nikita."kata Timon.
"baik tuan. kami segera kesana."Rey menurut.
"jangan panggil gue tuan lagi, gue bukan tuan lo."
"baik tuan."
"...."
susah amat dibilangin. keras kepalanya sama aja seperti nona bodohnya. tidak pernah mau mendengarkan sekalipun apa kata orang.
bodo amat mau di panggil apapun, yang penting saat ini gue harus cepat kembali memeriksa cctv lalu menyelesaikan masalah saat ini.
"udah ketemu pak? tidak ada kan?"kata pria dengan suara yang asing terdengar karena ini bukan berasal dari satpam di sebelah gue,sangat berbeda dengan suaranya
"belum." jawab gue kemudian berbalik melihatnya.
PRAK...
pria asing itu menghantamkan sebuah tongkat yang biasa di bawa oleh security saat berpatroli pada kepala belakang gue. rasanya nyawa gue seketika hampir melayang lalu merintih kesakitan.
"ah...breng...sek..." maki gue.
"ahahaha......kenapa?sakit. makanya jangan berani mengusik kami." tidak berhenti pada pukulan itu saja, ia melumpuhkan gue dengan memukul setiap sendi gerak yang ada.
"di..dimana dia?" gue memaksakan berbicara namun tubuh gue sama sekali tidak bisa di gerakkan. saat ingin menggerakkannya rasa sakit yang tidak tertahankan menyiksa gue.
"lo siapanya,ha..? apa hubungannya denganmu atau Lo pacarnya,hahahaha.....dia anak tunggal,gak punya abang kayak lo,gue mengenalnya lebih baik dari lo" teriak pria yang datang dari luar berpakaian SMA.
"lain kali kalo udah diperingati po jangan kembali lagi,sekarang udah tau akibatnya." katanya lalu mengambil linggis dari balik pintu.
PRAK...! PRAK...! PRAK...!
berkali kali dia memukuli gue seenak jidatnya. ini kedua kalinya ada bocah sok jagoan yang berani seenaknya.habis dah gue kali ini, padahal sudah gue sudah memperingati kalau gue akan berakhir konyol jika mengikuti insting gue, tapi tetap saja gue lakukan. kali ini gue beneran bakal mati konyol di tangan bocah.
'hahahhha....puas? sekarang Lo gak akan bisa gerak sampe mati,rasain tuh lumpuh." ia kemudian tertawa bagaikan seorang psikopat.
"sekarang kalian bawa dia ke gudang."pinta bocah SMA itu pada satpam yang berdiri di depan pintu lalu mereka menyeret gue hingga beberapa kali terantuk pada dinding dinding penyangga bangunan.
seolah masih tidak puas menyiksa gue, dia mengikuti dari belakang dan menendang nendang kepala gue berkali kali. wajahnya terlalu gelap untuk terlihat jelas, hanya bagian bawah mukanya yang terlihat. kalau saja ada kesempatan melihat jelas muka bocah sialan ini, pasti gue cari sampai ke ujung dunia.
dengan seluruh tubuh terkulai lemas tanpa bisa bersuara lagi pada ikatan tali yang mereka ikatkan di tangan gue,rasanya semakin sakit.benar benar bocah sialan!
Prakk....!
dobrakan pintu terbanting keras ke dinding. "maaf...tuan,kami terlambat." Ternyata Rey, lalu gue pasrah pingsan setelah mereka datang membantu. .
................
Gue terbangun akibat nafas gue yang sesak seperti tertindih oleh sesuatu yang besar. di atas badan gue terlihat sebuah mahkluk bermata sembab rambut panjang memeluk gue hingga sesak nafas, ia tertidur lelap.
saat ingin membangunkannya agar ia beranjak, namun dia sudah terbangun duduk di paha gue dan membuat seluruh tubuh gue kesakitan.
"AWW...sakit, sakit."
"eh...kamu udah sadar." tanyanya mengusap matanya lalu sedikit meloncat memeluk gue tanpa memperdulikan rintihan gue.
"sakit bodoh! minggir lo. jangan peluk gue. ahh...ANJ*NG." teriak gue kesakitan namun ia juga tidak peduli dan tetap tidak beranjak.
"gak mau. aku mau peluk kamu biar gak bertidak bodoh lagi."
"bertindak bodoh?" gue mencoba meraih jidatnya dengan jidat gue sebagai ganti menepuknya dengan tangan "aw...yang bodoh itu elu!" dan berakhir pelan menyentuhnya akibat rasa sakit tiba tiba di leher gue. dia mengambil kesempatan itu mengecup bibir gue lalu berdiri.
"dokter bilang kamu paling cepat sembuh sebulan." kali ini dia menundukkan duduk di sebelah memegangi tangan gue.
"kata dokter sih gitu,makanya aku yang akan rawat kamu sampai sembuh."
"gue memilih di rawat di rumah sakit. lo bukan dokter,bego."
"gak bisa. kamu harus aku yang rawat. di rumah juga udah ada asisten dokter ayah. jadi gak ada alasan lagi kalau aku bukan dokter kan?"
gue menarik nafas dalam dalam. "Bisa nggak kita akhiri aja semua ini? gue capek tau gak?" ucap gue dalam satu hembusan nafas namun dia seolah tidak peduli dan memanfaatkan kondisi gue yang tidak bisa bergerak mencium gue sambil tersenyum.
"HAhahaha....muka kamu lucu banget kalo lagi pasrah." tawanya puas lalu membenamkan mukanya ke pundak gue.
yang mengherankan dari bocah SMA ini adalah waktu pertama kalinya ia memanggil gue dengan sebutan "om" dan sekarang menjadi panggilan seolah kami dekat.
"gue lapar."
"terus?"
"tolong beliin gue makanan."
"nggak."
"lah..kenapa? gue begini gara gara elu,bodoh! dan gue sekarang lapar. gue juga udah minta tolong! bisa tidak cewek bodoh?"
"kamu mau makan? cium dulu." sebelah pipinya ia sodorkan ke depan muka gue.
"siapa nama lo?"
"NIKITA." jawabnya bersemangat.
"Nikita...boleh gak gue cium pipi lo pake kaki gue?!!! gue laper peak! jangan aneh aneh!"
"yaudah kalo gak mau hehehe..." balasannya sambil memeluk gue lagi dan memamerkan senyumnya tepat depan muka gue.
Cup
tanpa ada pilihan yang bisa gue lakukan gue menuruti mencium pipinya. sesaat ia terdiam lalu memegangi pipi itu.
"kamu barusan ngapain?"
"menurut lo?"
"gak tau."
"gue udah menuruti apa mau lo, bisa gak sekarang gue makan?" jawab gue enggan menjawab langsung.
"nggak terasa,ulangi." pintanya kembali menyodorkan pipi walau sudah jelas jelas itu mengenainya, namun masih saja dia mempermainkan gue.
"oke." gue menurut mengulanginya pada bagian pipinya yang tiba tiba memerah begitu gue menciumnya.
"udah kan?"
"kalau aku jawab gak terasa lagi boleh gak?"
"beliin sekarang!"
"hehehe....iya iya." nikita mengambil handphonenya lalu menelepon orang buat beliin makanan.
"gak lebih dari sepuluh menit. cepetan." ia mengakhiri panggilan dan kembali menggenggam tangan gue lagi.
"dimana lo waktu gue jemput?"
"kenapa?"
"kenapa waktu gue jemput sekolah udah sepi? udah pulang?" tanya gue penasaran.
kemudian dia menceritakan secara garis besar saat menunggu,Nikita di sekap tiba tiba lalu di tempatkan di gudang sebelah ruang cctv. akhirnya gue tau alasan mereka menyerang gue karena bocah laki laki itu, salah satu teman sekelasnya menyekap dan ingin melecehkan Nikita. ia juga di siram minuman beralkohol hingga basah kuyup hingga akhirnya ketiga bodyguardnya datang mengobrak-abrik satu sekolah mencari dia.
"terluka?" Nikita menggelengkan kepalanya "bagus deh." akhirnya gue lega, tidak perlu menanggung tanggung jawab yang bakal ia timpakan terhadap gue jika ia terluka karena menunggu gue terlalu lama. walaupun gue sudah bilang tidak bakal menjemput, tapi pasti dia tidak akan menerima pendapat gue.
"apanya yang bagus,liat sekarang tubuh kamu di penuhi luka! ini yang namanya yang bagus?! pria bodoh!!" ia setengah teriak dibarengi jatuhnya air mata.
"mhhmm...hahaha,gue yang terluka kenapa elu yang nangis, peak?! diaamm bodoh, berisk tau." kata gue tanpa sada tidak ingin melihat dia menangis.
"ketawa lo. gue gak suka lo di lukai saka orang lain!! pokoknya aku harus bales dendam." ujarnya lalu memeluk gue sesuka hati kayak bantal gue seerat eratnya sampai gue merintih kesakitan.