
"lo gak ada otak ya,hah?! bodoh!"pekik gue setelah memojokkan dia di dinding.
"lo yang gak punya otak,lo yang bodoh,pokoknya lo brengsek Timon!"
"apa lo bilang? jelas jelas lo yang teriakin gue brengsek depan banyak orang.bodoh!emang Lo gak punya malu?"
"siapa suruh lo ninggalin aku, lo kan udah janji mau temenin aku kesini. sekarang lo mau pergi? apa namanya kalo bukan brengsek!" ngotot Nikita gak mau kalah dengan memajukan kepalanya yang hanya beberapa Senti jaraknya dengan muka gue.
gua berpikir sejenak,lalu menatap lagi matanya."asal Lo tau,gua udah belasan tahun gak pernah berjanji dengan siapapun sampai detik ini."
"tapi'kan lo mau juga pergi sama aku,berarti kita juga udah sepakat. lagian masalahnya dimana? tiba tiba mau pergi begitu aja,padahal tadi gak ada masalah."tanya Nikita mulai penasaran.
"gak ada,cuma gue lagi malas." gue mengalihkan pandangan, enggan menjawab langsung.
"masa?" Nikita memajukan lagi kepalanya hingga hidungnya bersentuhan sama hidung gue. tanpa alasan gue tiba-tiba jadi gugup. gue pasrah karena tidak bisa menjawabnya dan menemaninya lagi.
"terserah lo aja lah, lo menang." teriak gue setelah berjalan membalikan tubuh. bisa gua tebak,dia pasti tertawa dalam hati Karena berhasil buat gue mengalah lagi. sialnya,hal yang udah gue sepakati tidak banyak berdebat dengan orang lain.kini,baru saja selesai berdebat panjang sama orang lain itu.
dia menyusul gue sedikit berlari dan memeluk tangan gue lagi. senyumnya mekar kembali seperti tidak terjadi apa apa. cepat bener berubahnya.
begitu selesai menemani Nikita ke sana sini akhirnya gue hampir sekarat. untungnya penderitaan ini selesai dan langsung pergi ke rumah neneknya. waktu gue tanya seberapa jauh ke rumah nenek paling tidak sampai saat jam makan siang.
"gue nanti gak ikut masuk." kata gue saat Nikita menunjuk Rumah warna putih di ujung putih di ujung jalan dan halaman luas itu rumah neneknya.
"kita makan siang dulu."
"lo bawain aja makanannya ke luar. emang gue siapa keluarga lo?"
"pacar." Nikita memamerkan deretan giginya pada gue.
"oke, gue balik aja."
"mau balik kemana? rumah?"
"iya,ke rumah teman gue.turunin gue aja,gue bisa pergi sendiri."ucap gue agar lepas permanen dari dia, apalagi lagi gue harus sangat menghindari bertemu keluarganya. ditambah nenek nenek cerewet yang sudah terdata di kepala gue kalau sudah sekali bertanya pasti bakal keterusan dengan pertanyaan lainnya.
"gak,kita ke rumah nenek aku dulu,setelah itu terserah sama lo."
"aduh,bisa gak sih lo mikir sedikit? gue ini bukan siapa siapa lo! gue gak mau di tanyain sama keluarga lo, pusing..."
"tapi lo bisa datang sebagai teman aku."
"emang penting sama nenek Lo?kan enggak,lagian siapa yang mau temanan sama lo.udah ya,gua turun sini aja."
"oh...,jadi gitu. masuk akal juga sih."
"iya-iya.bener gua bilang kan." angguk gua cepat kayak boneka pajangan yang biasanya di mobil. akhirnya dia mau mengerti juga.
"tapi tetap aja harus pergi. karna aku mau kenalin Lo ke nenek."ucap Nikita.
oh....sangat terus terangnya anak ini mempermainkan gua. betul betul sialan!
"dan,aku bisa bilang ke nenek kalau kita udah pernah tidur sama." bisik Nikita pelan.gua menelan ludah setelah mendengar perkataan Nikita.
"oh,emang kenapa? yang ada gue yang rugi karena lo yang nidurin gue." sanggah gua setenang mungkin. jangan sampai dia tahu kalo gua sebenarnya lagi jantungan. bocah sepertinya saja sudah segini parahnya, gimana kalau sampai gue harus berhadapan lagi dengan keluarga besarnya, pokoknya jangan sampai mereka tahu.
"oh,jadi gitu.kita lihat aja nanti."jawab santai Nikita.
gua jadi yakin sama nih anak,pasti dia sedang merencanakan sesuatu yang pasti buat gua kesal semoga kali ini cuma perasan gue saja. yah...walaupun kebanyakan firasat gua biasanya benar,tapi semoga jangan kali ini.
perdebatan panjang kami tanpa gue sadari memakan waktu gue untuk melarikan diri. sekarang gue sudah terlanjur harus keluar dari mobil dengan sambutan neneknya yang sudah menunggu di depan pintu.
"ayo,masuk." tarik Nikita tangan gue kayak bocah yang dipaksa pulang karena ketahuan main pasir.
betul betul nih bocah tengil,sudah gue bilangin jangan ajak gue. begini jadinya. gue merasa canggung di ruang makan. iya,canggung bagi gue sendiri,yang lainnya? makan dengan tenang dan....Nikita malah dengan santainya tertawa tawa dengan keluarganya tanpa mempedulikan keadaan canggung gue. sampai ke detik berikutnya yang membuat gue kelabakan.
"kamu...pacarnya Nikita ya." ucap wanita tua yang berada di kursi utama meja makan.tampilannya biasa saja tapi penuh keanggunan.walaupun sudah tua.
"hmmm,eh...enggak-enggak nek.cuma orang luar aja."jawab gua setelah memelototkan mata pada Nikita sebelum menjawab.
"hmm,nggak kok nenek.dia teman aku."jawab Nikita berikutnya.
"ohh,teman toh.kirain kamu pacarnya."
"hehe.iya nek." semakin bertambah kecanggungan gue jadinya. jika kalau dilihat-lihat neneknya si Nikita ini lumayan ramah juga.tatapannya bersih dan penuh keramahan. tampangnya juga seperti tidak cerewet kayak nenek nenek biasanya. tidak heran Nikita percaya diri membawa gue ke sini.
"tapi kenapa gak pacaran aja? di lihat lihat kalian ini cocok loh. pas jadi pasangan kekasih." ucap nenek sambil bolak balik memandangi kami berdua."iman,coba kamu lihat.mereka serasi kan?"
oh shitt!!!
rasanya pengen menarik kembali ucapan atas pemikiran gue yang tadi.mata gue tertipu oleh nenek tua yang ternyata tidak ada bedanya dengan nenek nenek biasanya. sama sama cerewet!
"iya,kenapa kalian gak pacaran aja?" sambung pria berkumis tebal dan berperawakan tegap tepat berhadapan dengan Nikita. seperti anggota militer.
"hehehe." senyum canggung itu terbentuk dari wajah Nikita. "dianya gak mau itu om." balas Nikita sebelum menatapi gue yang sudah duluan menatap tajam kearahnya.
hadeh! bocah ini lama kelamaan bikin kesal gue aja. bicara sembarangan. kan,jadi susah kalau begini.
"nggak kok nenek,om.sebenarnya aku mau tapi dianya aja yang gak mau. bohong nih dia."ucap gua membolak-balikan fakta. setelah ini dia pasti bakalan nyanggah,dan masuk perangkap gue.
"iya? berarti kamu yang bohong Nikita."
"nggak gitu,nenek, --."
"itu? buktinya,Timon sendiri yang sudah bicara. masa dia bohong?" pembicaraan mulai mengarah ke perangkap. untungnya nenek ikut andil dalam mengarahkannya.
Nikita menatap gue yang sedang menyeringai licik kearahnya. 'ha-ha-ha,main-main-lo-sama-gue!'. begitu pesan dari senyum licik gue ke dia.
Nikita membalas kembali senyum liciknya tidak dari gue yang membuat gue semakin tidak sabaran melihat reaksi mereka semua saat nanti terperangkap ."oh,coba buktikan kalau lo memang suka sama aku?" Nikita tersenyum kembali yang malah membuat gue bingung. "Lo kan gay." Nikita menyelesaikan perkataanya dengan kata penutup ke sialan. gue nyesal sendiri saat jawaban gue di jadikan boomerang olehnya.
fakk! nih anak,malah ngomong gua gay! MAU TARUH DIMANA MUKAK GUE!!!
rupanya gue yang sudah duluan masuk perangkapnya. malah senjata makan tuan lagi.
"heheheh, bercanda lo. mana mungkin gue gay. gak kok nek,om."
"oh,gapapa."ucap om Nikita dengan nada prihatin,yang mana kata "gapapa" dan nada begituan sama saja berarti 'OH,OM BIASA AJA KOK,GAK MASALAH" seriously bastard reality!!
gue adalah orang dengan tipe yang paling menolak rasa kasihan dari orang lain dan akan merasa jengkel pada si bodoh yang satu ini.
pertama,gue di tuduh gay. itu membuat gue jadi mendapat rasa kasihan yang paling gue tidak suka. kedua,kalau orang lain yang nempatin posisi gue sekarang dan dia gay,dia pasti akan menunduk malu bagai pecundang.
"om,gapapa.tapi saya juga ingin ngebuktikan kalo omongan Nikita omong kosong."
"gimana coba."sahut Nikita tidak lupa deng cengiran usilnya.
"mau tau? coba berdiri Lo." Nikita menurut berdiri.
dan.gue langsung melekatkan bibir gue dengan bibir Nikita dan duduk setelah ciuman itu terlepas di hadapan mereka.