
"Lo mulai besok bisa keluar,tapi harus tetap di rawat...kata dokternya Nikita masuk kemudian duduk di sofa.
"oh..oke,makasih."jawab gua antusias.dirumah sakit selama enam belas hari tidak bisa apa apa akhirnya usai juga hari hari penuh kejenuhan ini.
"Lo juga mulai besok sudah bisa latihan mengerakkan kaki tangan lo biar lebih cepat penyembuhannya dan Lo bisa cepat cepat cabut dari hadapan aku." katanya lagi menatapi layar ponsel tanpa menoleh.
"kenapa....,kenapa harus buru buru."anjir! mulut gue bego atau apaan sih? kenapa jadi salah ngomong?!!! ember banget emang nih mulut.
"ya memang! aku emang buru buru tidak ingin melihat Lo."Nikita berdiri masih memegang ponselnya."bukanya ini yang Lo mau? lebih cepat lebih baik!."nadanya yang tidak bersahabat masih seperti semalam.
"oh...baguslah,memang begitu harusnya dari awal!" balas gue tidak mau kalah.
situasinya seperti gue yang memaksa untuk masuk ke dalam kehidupannya dan gue juga yang di paksa pergi.serba salah gue jadinya.tapi bagus deh,memang ini yang gue tungguin.
kini setiap kali bertemu,gue dan dia pasti akan selalu berperang dingin satu sama lain.walupun dia tetap merawat gue ya itu juga karena sudah tanggung jawab dia dari awal.
nikita yang setiap hari gue jumpai saat berpapasan tidak lagi muncul dengan tampang cerianya.dia datang hanya untuk merawat seorang sakit seperti gue.kemudian datang lagi sebelum sekolah,juga saat siang hingga malam dia kembali pulang.seperti saat ini dia sedang mengemasi barang barangnya dan segera pulang.
"aku pulang.lo tidur cepat,jangan nyusahin aku lagi.lebih baik lebih cepat sembuh."ucap Nikita setelah membalikan badan. kata katanya yang terdengar menasihati ini kembali mengingatkan saat gue masih kecil,nasihat dia yang sangat gue cintai.perkataan dari wanita satu satunya gue cintai selalu berhasil membuat gue berhenti memikirkan segala kesusahan apapun yang terjadi. dan kini ada wanita lain yang mampu mengucapkan kata kata kepedulian itu,walupun terdengar acuh tak acuh.
pagi pagi sekali Nikita kembali membawakan bekal lengkap lauk pauknya. dia juga sudah mengenakan pakaian sekolahnya dengan Rey yang menunggu di luar ruang rawat.
dia menyendok paksa makanan begitu gue bangun, padahal gue masih ngantuk loh, masa langsung makan.
"cepatlah segera makan! aku gak punya waktu lagi ngurusin hidup lo."
"biarin,lo harus tetap makan. aku nanti siang jemput Lo, kata dokter sudah bisa pulang,tapi harus terus berlatih menggerak-gerakan tubuh biar gak sakit lagi."
"gak apa apa,nanti aja.aku bisa suruh suster buat bantuin gue."gue menolak suapan yang sekarang sudah berada di depan mulut gua.
"suster?..."Nikita tampak berpikir. "gak...gak boleh! pokoknya harus sekarang.jangan merepotkan mereka."Nikita menggelengkan kepalanya. lucu melihatnya begini,memakai seragam anak sekolah dengan rok putih tidak sampai lutut ditambah kulit putihnya dengan wajah natural dan sikap menggemaskannya yang tidak setuju.
"hmmm,kenapa gak boleh? bukanya itu akan mempermudah Lo?"gue senyum sembunyi sembunyi supaya tidak kelihatan sama dia.bahaya kalau ketahuan,bisa bisa nanti dia ke-ge-e-ran.
dia meletakkan mangkuk berisi bubur di atas meja lalu menunduk.gua aja yang lihat dia menunduk heran.
"Lo ingin aku cepat cepat pergi ya? oke,lo akan segera pergi setelah lima hari .aku gak bakal menggangu Lo lagi." ucapnya tersedu sedu. gue mengiranya itu hanya sebuah ucapan biasa. tidak sampai akhirnya suaranya terdengar jelas dia sedang menangis.
"Lo ta..hu gak? betapa senangnya gue semenjak kehadiran Lo?! Lo pasti gak tahu itu! gue merasa aman semejak lo hadir. lo mungkin akan besar kepala! tapi asal Lo tahu,gue sangat beruntung bisa bertemu Lo saat itu. Lo berbeda sama cowok lainya yang ada diluar sana. disaat Lo tahu gue gat sadar,lo dengan bodohnya tidak melakukan apapun.asal Lo tahu! itu hal yang mustahil dilakukan bila itu orang lain,tapi Lo! malah membiarkan gua tidur nyenyak. gua senang bertemu dengan cowok kaya lo. lo berbeda dengan laki-laki lainnya.tapi apa yang gur dapat? penolakan dari Lo. apa gua se-hina itu untuk lo? kenapa? kenapa Tuhan gak adil dalam hidup aku?aku rasa aku sudah banyak melalui banyak penderitaan.tapi kenapa? kenapa tidak ada habisnya? apa salahku makanya tidak bisa mendapat orang yang mau menyayangi aku!." ucapnya lirih. air mata mengguyur deras wajahnya.
"apakah aku hina di mata Lo makanya Lo gak mau dekat dekat sama aku. lo tahu gak kenapa gue tanpa ragu rela ngelakuin itu dengan lo? lo juga gak tahu!. itu adalah ganti rasa terimakasih atas apa yang udah lo lakuin ke gue! " dia menarik narik kera baju gue sambil menangis tersedu sedu. "asal Lo tahu.itu adalah pengalaman pertama gua! gua gak akan pernah berikan pada siapapun kecuali lo.aku rela ngelakuin apapun buat lo.tapi aku mohon,jangan pergi ninggalin aku di neraka ini.aku selalu terjerat kepanasan dalam neraka yang tidak habisnya siksaan ini.tapi dengan ada Lo.gue merasa ini tidak ada apa apanya di bandingin sama lo." dia masih menarik rusuh kerah baju gue hingga kusut
melihat kondisi dia yang begini buat gua enggan memarahi dia lagi.gua rasa dia benar,dunia ini neraka bagi sebagian orang,gua juga pernah mengalaminya,bahkan gue lebih berpengalaman dari dia.gua tahu apa arti neraka dunia.bahkan rasanya lebih kejam neraka dibanding dia,tapi karena dia masih bocah pasti mentalnya lebih lemah.beda sama gue,gue masih bisa menahannya.
keceriaannya yang biasa dia perlihatkan pada gue ternyata itu hanya sebuah kebahagiaan kecilnya di tengah tengah lautan api.sedikit demi sedikit gue mulai memahaminya walaupun yang sebenarnya gue tidak tahu jelas apa masalah dia.gue yakin dia memang punya masalah karena belakangan ini hari hari gue di penuhi olehnya.tapi satu yang bisa gue pastiin,dia salah satu dari orang yang sanggup menahan neraka nya.
dia terus menerus meneteskan air matanya itu.selagi dia menarik narik kerah,gue langsung memajukan kepala gua,mendekat ke wajahnya dengan cepat lalu mencium bibir Nikita lembut untuk membuat dia sedikit tenang walau sebenarnya masih tidak yakin apakah itu mempan untuknya pada saat ini.
mengesampingkan alasan dia memperlakukan gue semena mena, gue dapat memahami jika dia sangat depresi hingga tidak mempersalahkan hal yang banyak orang jaga.