
cukup lama gua menciumnya,gak nyangka walaupun dia lagi marah tapi saat begini dia juga tidak m berkutik namun itu berhasil membuatnya perlahan tenang dengan menutup mata mengikuti iramanya sebelum akhirnya berontak. "Lo,Lo apaan cium cium gue sih. minggir." ia berteriak mendorong gue hampir jatuh.
"yah,kenapa dilepas?" tanya gua. lalu kembali menjatuhkan kepala di atas bantal.
"apa apaan hah? awas." dia bersiap pergi namun tangan gue menariknya lagi.
"eh...Lo,Lo kok bisa?" wajahnya terkejut seolah yang menariknya hantu.
"apaan? narik Lo? ya bisa lah,kan gue punya tangan."
dia mengangkat kepalanya."bukan...,tapi tangan Lo kok tiba tiba bisa bergerak."
"Lo mau tahu gimana caranya."tanya gua mau mengerjain Nikita. dia mengangguk.
"sini,biar gue bisikkan." gue menariknya mendekat dan mengecup bibirnya.
"itu caranya." bisik gue sebelum terkekeh karena gue mengusili dia.
"ih..,Lo-lo ngerjain aku."dia ngedumel.gua hanya ketawa aja melihatnya lagi cemberut sambil membalik balikkan halaman majalah di sofa.
"Nikita,sini.gua mau ngomong serius." ucap gua memanggilnya dengan nada serius.
"gak mau."
"sini dulu Napa,susah amat ngomong sama Lo dah."
"apa? mau bahas yang kemarin. kan udah aku bilang yang waktu itu.atau Lo gak denger? kalau gitu biar aku ulangi sekali lagi...ak..," omelnya duduk disebelah gue tapi langsung gue tahan pakai jari telunjuk.
"sini,tidur disebelah gua."
"gak mau."
"Lo kok susah amat dibilangin.kemarin kemarin Lo sendiri yang mau meluk meluk gua,sekarang kenapa gak mau?" umpat gua kesal.nih anak susah amat ditebak,kadang macam anak TK dikasih uang jajan nurutnya,kadang juga seperti emak anjing yang anaknya digangguin,galak banget.
"kalau gitu yaudah,gak jadi."ujar gua lagi.
"yaudah."balas nya.
"padahal mau ngomong yang penting banget.tapi dianya gak mau.apa boleh buat." gue bergumam sendiri namun sengaja gue atur volume agar terdengar olehnya.
dia tetap tidak mau mendengarkan dan memilih membaca majah tadi di sofa.sebenarnya gue tahu dia memiliki rasa penasaran namun gue tidak memaksa. paling nanti bakal datang sendiri.
"apaan sih yang mau Lo omongin?" ia bertanya gusar.
rasa penasaran Nikita yang tinggi yang membuat gue berhasil percaya diri tidak menjawab ucapannya. senyum sumringah terbentuk puas di muka gue. dan memancingnya agar mendekat ke arah gue.
"kan,kebiasaan lo nih.suka banget gak jawab pertanyaan gue." dia mulai mengumpat pada gue. sesekali menghentakkan kaki ke lantai seperti kebiasaannya saat kesal dan tidak bisa melakukan apa apa. hingga akhirnya dia kepancing mendekati gue dengan wajah cemberut dan bibir mengerucut. terlihat jelas kekesalannya ke gue.
"cepat.... ngomong gak Lo?kalo gak,gua tekan kaki Lo biar tahu rasa."
"sini...disebelah gua." gua menepuk nepuk kasur yang sudah gue sisihkan untuknya.
"Lo kira gue anak kucing apa? badan Lo gede kayak gini mana muat kalau gue juga disini."
"yaudah,peluk gue."
"nggak."
"aduh...sakit kampret..." gua berteriak histeris kesakitan.gimana gak sakit? dia benar benar menyakiti kaki gue seperti katanya. bahkan tanpa rasa bersalah dia masih bisa cengar-cengir.
"sekarang sudah bisa bicara,kan? ." katanya sedari memeluk gue dalam posisi ke samping.
"lo mau bunuh gue bodoh." gue menoyor kepalanya.
"hahaha,siapa suruh bikin aku penasaran.sakit kan? lain kali aku janji bakal lebih kuat lagi. sekarang cepat ngomong apa yang tadi mau Lo bilang." dia senyum senyum lalu sekali mengecup bibir gue.
antara bodoh atau pelupa, dia malah melakukan sesuatu yang membuat gue selalu heran.padahal barusan dia sedang ngambek sama gue dan sekarang secara tidak masuk akal malah cengar-cengir di pelukan gue dengan leluasa.
"cepat, sekarang sudah bisa bicara,kan?"
"oke..,gua mulai dari hal yang paling awal,ini bisa dibilang pertanyaan mendasar."
"mhhh?"
"udah kelar masalah penculikan itu?" gue membuka pertanyaan pertama pada telinganya tepat di samping mulut gue saat dia memeluk.
"belum,orang yang rencanain ini udah kabur waktu Rey datang. aku juga gak kenal siapa orangnya."
"kok bisa? atau kemarin mata Lo ditutup atau dia yang nutup mukanya?"
"iya,dia nutupin mukanya pakai topeng kayak topeng perampok gitu.warna item."
"oh..." gue sejenak mengingat-ngingat wajah kedua laki laki kemarin. "Kapan gua bisa keluar?"
"nanti sore kita udah bisa pulang,tapi Lo harus latihan agar memperkuat otot otot tulangnya."
"oh,oke oke."gua mengangguk. "tapi masih ada satu lagi. kemarin waktu kita ngelakuinnya di hotel itu lo masih perawan gak?"
"masih." jawabnya santai.
"baguslah." ucap gue lega. walau gue dipaksa minum pil oleh bocah ini,setidaknya gue masih untung.
"apanya yang bagus?"
"itu loh, gue juga masih pertama kalinya gituan,tapi kalau lo,gue gak tau jadi makanya nanya."
"kalau misalnya sudah gak perawan lagi kenapa memangnya?"
"yah rugi lah gua." jawab gua. "masa gue masih perjaka tapi Lo sudah gak perawan. pasti rugi."
"iss...Timon,brengsek!" umpatnya saat mendekatkan wajahnya hingga menyentuh wajah gue.
pertama kalinya gue mendengar dia menyebut nama gue selain 'om', 'lo' , 'kamu' yang selalu berganti ganti tergantung suasana hatinya. jika dia mengatakan 'lo' saat dia marah dan mengatakan 'kamu' saat dia sedang tidak marah. untuk sebutan 'om' gue kira dia hanya salah sebut, namun dia sengaja mengatakannya agar gue marah. itu yang gue pelajari tentangnya dari cara menyebut. dan menyebut nama gue langsung gue masih tidak tahu dalam kondisi apa dia saat ini, tidak seperti biasanya saat senang atau girang.
"hahahaha." gue tertawa ngakak dengan sebutan konyol yang berkali kali sudah gue dengar keluar dari mulutnya. "tapi nikmat juga ya." kemudian gue menggodanya lagi.
"ahh...dasar cowok brengsek." teriaknya menggelengkan kepalanya di leher gue dan menggigit telinga gue sampai merintih kesakitan.
Dia manis saat seperti ini,apalagi jika malu malu. mendekap gue sangat erat, satu kali gue mengecup lehernya hingga membekas. kakinya melebar memiting kaki gue sambil perlahan tangannya melewati celah bantal dan melingkarkan tangannya di leher gue dan mulai mengangkat kepala lalu mengendalikan mulut gue secara penuh.
di sela pengambilan nafas dari arah luar Reybmasih berjaga menyaksikan atraksi nona nya yang begitu agresif dan tersenyum seakan mengatakan 'maafkan nona gila saya, harap maklumi.' lalu membelakangi pintu menutupi kaca tembus pandang itu dengan badan gedenya.